
Saat di perjalanan Arga tidak pernah sesekali menanyakan kesehatan Nenek nya kepada Nina.
Bagaimana keadaan Nenek nya, bagaimana sehari-hari Nenek nya, bahkan Arga juga tidak menanyakan apakah selama ini Nenek nya baik-baik saja.
Semua itu tidak ada sedikitpun yang Arga tanyakan kepada Nina.
Yang ada Arga hanya berdiam diri dan menatap lurus ke arah jalanan.
Sedangkan Nina merasa sangat bersalah telah mengikuti perintah Desita dan sudah membohongi Arga yang mengatakan Nenenk nya sedang sakit keras.
'Maapkan aku tuan Arga, jika ini semua tidak demi ibu ku, aku tidak akan mau mengikuti perintah dari nyonya Desita,' batin Nina.
"Nina."
Arga memanggil nama Nina, sehingga sang empu merasa kaget dan menatap ke arah Arga.
"Iya tuan ada apa.?"
"Jangan panggil aku tuan Nina, aku bukan majikan kamu lagi.!"
"Maapkan aku tuan, sudah terbisa dengan panggilan itu."
"Usahakan jangan panggil aku dengan sebutan itu Nina,!" apakah kamu bisa.?
"Iya kak, akan aku coba."
"Terdengar lebih baik Nina."
"Apa ada yang kakak tanyakan kepada ku.?"
"Bagaimana kabar ibu mu Nina, apakah beliau sehat dan baik-baik saja.?"
Nina jadi terdiam saat Arga mulai menanyakan kabar ibu nya.
Nina adalah anak dari seorang pelayan dari mansion Arga.
__ADS_1
Namun karena sudah tua, jadi ibu Nina berhenti bekerja.
Karena Arga melihat sang Nenek selalu sendiri tanpa ada teman, apa lagi Nenek Arga sering tiba-tiba sakit, jadi Arga memutuskan kepada Nina, untuk merawat Nenek nya dan menjadikan Nina sebagai asistan peribadi Desita.
Semakin hari kedekatan Desita semakin baik.
Bahkan Desita sudah menganggap Nina sebagai cucu nya sendiri.
Kemana pun Desita pergi, Nina selalu ikut.
Jadi tidak salah jika Nina banyak mengetahui apa saja yang Desita lakukan dan rencana apa saja yang Desita susun, termsuk untuk tetap menjodohkan Arga kepada anak sahabat nya.
"Keadaan ibu semakin memburuk kak, ibu harus menjalani cuci darah setiap bulannya."
"Kenapa Nenek tidak membantu Nina, apakah Nenek sudah menjadi miskin.?"
"Apa maksud kakak.?"
"Kenapa Nenek tidak mengobati ibu kamu sampai sembuh, Nenek kan banyak uang.!"
"Nenek sudah merawat ibu ku kak, bahkan Nenek juga mengerjakan seseorang yang selalu menjaga ibu."
Setelah itu keheningan kembali lagi di antara Arga dan Nina.
Hingga tidak terasa mobil yang membawa Nina dan Arga sampai di depan perkarangan rumah sakit.
Arga dan Nina turun bersama, dan mereka berjalan untuk mencari tempat keberadaan Desita, yang katanya sedang sakit parah.
Setelah Arga dan Nina sudah di depan pintu kamar rawat Desita.
Nina yang meminta untuk menunggu di luar saja, namun permintaannya itu di tolak Arga.
Tanpa persetujuan dari Nina, tangan Nina di tarik Arga sampai masuk ke dalam ruangan Desita.
Semua orang yang berada di sana sangat terkejut saat melihat kedatangan Arga.
__ADS_1
Dan Arga pun juga sangat terkejut, karena yang di pikir Arga Nenek nya sendirian, namun ternyata di dalam ruangan itu ada beberapa orang yang tidak Arga kenali.
"Arga kesini, peluk Nenek,!" ucap Desita dengan suara lemah.
Arga berpikir dengan keras, ada apa ini semua, kemana Andi,?" hanya itu saja yang ada di dalam pikiran Arga.
Arga mendekat ke arah dimana Desita berbaring.
Dengan hati bercampur bahagia, sedih, dan juga bingung, Arga memeluk Nenek nya, hingga tangis Desita pecah.
"Apakah kamu tidak merindukan Nenek.?"
"Aku sangat merindukan kamu Nek, apa kabar Nenek.?"
"Seperti ini lah keadaan Nenek, kamu terlihat kurusan dan hitam,?" apa yang kamu lakukan di desa itu, apa kamu bahagia di sana.?
Belum sempat Arga menjawab pertanyaan dari Nenek nya, tiba-tiba ada seseorang yang memotong pembicaraan Arga.
"Wah Nenek, apakah ini calon suami ku, ini mas Arga kan.?"
Degggggggggg
Jantung Arga seakan berhenti berdetak, saat mendengar tutur kata perempuan yang berbadan tinggi dan langsing, bodi semok, berisi dan padat, pay*dara yang sedikit menjembul, seakan-akan mau keluar dari pembungkusnya.
"Iya ini Arga, cucu Nenek."
"Arga kenalkan ini Acnes dia adalah anak jeng Wina dan pak Nicollas," kamu pasti tahu kan Arga siapa pak Nicollas.?
"Apa-apan ini Nek, apakah ini semua dari rencana Nenek.?"
"Jika tidak seperti ini, mana mau kamu pulang dan menemui Nenek,!" apakah kamu mau menjadi cucu durhaka.?
"Aku bahkan tidak habis pikir dengan cara berpikir Nenek," bagaimana bisa selalu memaksakan apa kehendak Nenek, tanpa memikirkan bagaimana perasaan aku.!
Arga kembali menatap wajah perempuan yang ada di samping nya, seakan Arga meminta penjelsana dari Nina.
__ADS_1
"Maapkan aku kak hiks hiks hiks, jika aku tidak menuruti kemauan Nenek, maka aku akan di pecat dan pengobatan ibu ku akan di cabut oleh Nenek."
Arga meremas rambutnya dengan kasar, seolah-olah Arga tidak habis pikir dengan pola pikir Nenek nya.