
"Buu… obatnya udah diminum?" Tanya anak gadisnya sambil membuka pintu kamar.
"Ibu?" Fira sedikit khawatir karena ibu nya tak menjawab.
"Bangun yuk,minum obat dulu" Ucapnya sambil membangunkan sang ibu.
Badannya mulai kaku, dengan seluruh tubuh yang mulai pucat,Fira membantu ibu nya untuk duduk. Nafas yang mulai terengah-engah membuat ia takut terjadi sesuatu pada ibunya.
"Nih bu,minum yang banyak ya supaya ibu cepet sehat"
"Ibu berharap ketika nanti ibu udah gak bisa nemenin kamu lagi,kamu jangan membenci papa ya. Kalian tetap seorang ayah dan anak,bukan orang asing"
"Loh kenapa Fira harus nurutin kemauan ibu yang ini? Papa udah bikin ibu sakit kaya gini dan Fira harus tetep baik smaa papa? Gak mungkin bu"
"Semua udah takdir,bukan salah papa"
"Fira gak bakal maafin papa segampang itu bu" Bantah nya sambil memalingkan wajah.
Curiga karena ibu nya yang tak bicara lagi dan tiba tiba tertidur membuat Fira memeriksa kondisi ibunya. Dan ternyata…
"Buuu bangunnn, jangan tinggalin Fira"
"Fira benci papa!"
Isak tangis mulai mendominasi kamar, air mata yang seolah-olah tidak ada habisnya terus keluar untuk orang yang ia sayang didunia ini. Ibu nya menjadi alasan untuk ia tetap melanjutkan kehidupan.
"Duh sial gw mimpi kejadian itu lagi" Fira terbangun dari tidurnya karena suara alarm berbunyi nyaring.
"Ra kantin yuk" ucap Rendi yang tiba-tiba saja muncul dijendela samping Nara.
"Sumpah kaya setan tau gak si lu"
__ADS_1
"Hahaha,kaget ya,yaa maaf" bujuknya pada perempuan yang sedang melepaskan earphone ditelinga nya.
Hari ini Rendi berniat untuk mengajak Nara ke kantin bersama nya.
"Gw pesenin dulu,lu tunggu sini ya"
Ting!
Suara notif dari line Rendi membuat Nara penasaran.
'Pagi Rendi'
"Nomor nyasar?" batinnya sambil membuka hp Rendi.
"Kenapa? tanya Rendi sambil membawakan dua buah jus alpukat.
"Hm gpp"
"Sumpah ini gaktau siapa,gak kenal gw Ra"
"Yaudah si santai aja"
Rendi terdiam sejenak,bukan kah hubungan mereka sudah cukup lama. Hampir tiga bulan mereka bersama dan ia rasa semua murid disekolah tau bahwa mereka pacaran. Lalu siapa yang berani membuat ulah seperti ini.
"Mau gw anterin ke kelas gak?"
"Gak usah" jawab Nara sambil menengguk tegukan terakhir jusnya.
"Gw harap lu gak salah paham,gw gak tau ini siapa. Jangan marah ya"
"Siapa juga yang marah"
"Ya takutnya"
__ADS_1
"Hati-hati ke kelas nya" teriak Rendi pada gadis itu sambil menatap bahunya.
Suara sepatu casual Nara menjadi satu satunya sumber suara saat ini. Kali ini Nara pulang dengan berjalan kaki,sudah lama ia tidak jalan seperti ini.
"Nih pake…" Rendi menawarkan satu headset nya,sebuah isyarat untuk Nara mendengarkan lagunya.
"Kenapa gak bilang gw, biar gw anterin pulang" Ucap Rendi pada perempuan di sampingnya dan hanya mendapat jawaban geleng kepala dari Nara.
"Masih marah soal yang tadi?"
"Gak"
"Terus kenapa?"
"Gapapa"
"Bener nih?"
"Hm"
"Yaudah gw minta maaf, sebagai permintaan maaf,gw bakal ngelakuin sesuatu"
Nara hanya menaikan alisnya,ia tak mengerti apa yang akan dilakukan laki laki itu.
"DEMI BAPAK NYA KHONG GUAN YANG BELOM KETEMU, SAMPAI KAPAN PUN AKU CUMA SAYANG KAMU" Teriak Rendi dijalanan yang untung nya sepi.
"Berisik ren,malu maluin aja nih"
"Yaa maaf gw cuma mau coba bikin pacar gw seneng"
"Seneng apanya,malu mah iya" Kesal Nara sambil mempercepat langkahnya.
"Kok ditinggalin gw nya…" Rendi berusaha menyamai langkah kaki Nara.
__ADS_1