
Setelah Nara dan Baby Arkana sudah tertidur pulas.
Arga mencium kening Baby Arkana dan juga Nara.
"Terimakasih sayang, sudah bertahan demi Papah," ucap Arga menium keing Baby Arkana dan setelah itu mencium kening Nara.
Merasa sudah cukup aman, meninggalkan anak beserta istri nya.
Arga keluar dari kamar tamu, dan berpapasan dengan Mang Ujang.
"Mang tolong titip anak dan istri saya!"
"Apa Den Arga mau Mang antar?"
"Tidak perlu Mang! seperti nya lebih enak aku pergi sendiri dan menggunakan motor saja," jawab Arga.
Mang Ujang kaget dengan ucapan dari Arga.
Tak biasa nya Arga meminta untuk naik motor.
Biasa nya Arga selalu anti kalo masalah debu dan polusi, namun sekarang ini Arga sangat berbeda.
"Sudah Mang, jangan kaget begitu! aku sudah terbiasa kena debu dan polusi," ucap Arga.
"Tapi Den?"
Mang Ujang tak dapat lagi berbicara, karena Arga sudah mulai menjalankan motor nya, untuk menuju rumah sakit.
Saat di perjalanan, tak pernah terpikir sama sekali di benak Arga.
Memang benar dulu nya dia paling anti kalo masalah debu dan polusi.
Namun setelah memilih hidup dan tinggal bersama Nara, Arga merasa kehidupannya banyak sekali yang berubah.
Terkadang Arga lebih banyak bersyukur dan menikmati apa yang ada.
Setelah beberapa menit, akhirnya Arga sampai di Rumah Sakit.
Arga melihat ada Nina yang saat itu sedang membeli sesuatu di halaman rumah sakit.
"Nin, kenapa di sini?" ucap Arga kepada Nina.
Nina yang saat itu merasa diri nya di panggil, menengok ke belakang.
Dan betapa terkejutnya Nina, saat melihat Arga yang beberapa bulan ini tidak pernah dia lihat.
Nina juga bingung melihat perubahan Arga sekarang, jauh berbeda dengan Arga yang dulu.
"Nin, kenapa bengong?" ucap Arga mengulang kembali pertanyaannya.
"Kak tolong pukul aku, atau apalah! apa sekarang ini aku sedang mimpi?" ucap Nina kepada Arga.
Arga merasa tertawa dengan sikap Nina seperti ini.
Nina sekarang tidak pernah berubah dengan Nina yang dulu, sama-sama lucu, pikir Arga.
Bukannya memukul Nina, tapi Arga malah merangkul Nina dan membawa nya masuk ke dalam.
"Aaaaaaaaa kak Arga!!!!! aku tidak mimpi kak, ini kak Arga kan?" ucap Nina.
"Tidak mimpi, sekarang aku adalah nyata," jawab Arga kepada Nina.
Tiba-tiba Nina meneteskan air mata nya, seperti nya banyak hal yang tidak Arga ketahui, selama kepergian nya ini.
"Ada apa Nin? apa semua nya baik-baik saja?" ucap Arga.
"Apa aku boleh memeluk mu kak? apa kak Nara tidak akan marah?" jawab Nina.
__ADS_1
Arga merentangkan tangannya bahwa saat ini Nina boleh memeluk diri nya.
Dalam pelukan Arga, Nina menangis tersedu-sedu.
Menumpahkan semua isi dan perasaannya selama ini.
Tak ada yang perduli kepada diri nya, tak ada yang kasihan melihat miris nya kehidupan yang Nina jalani.
"Ibu ku meninggal kak, aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi," ucap Nina kepada Arga.
Sedangkan Arga merasa hati nya tersayat-sayat, saat mendengar ungkapan yang Nina katakan.
"Bagaimana bisa Nin? bukankah Nenek sudah membiayai kesehatan ibu?" jawab Arga.
"Setelah kejadian hari itu, dimana kak Arga menghilang, dan kak Andi juga tiba-tiba menghilang," Nenek marah besar kepada ku Kak, sampai-sampai Nenek tidak melanjutkan lagi biaya untuk kesehatan Ibu ku, ucap Nina.
"Ya Tuhan, kenapa Nenek jahat sekali Nin?" bukankah Andi menghilang itu karena Nenek juga, dan aku menghilang itu karena wanita yang pernah ingin Nenek jodohkan bersama ku, jawab Arga.
"Maksud Kak Arga adalah Acnes?"
"Iya Nin, saat aku ingin pergi dari Rumah Sakit, tiba-tiba Acnes menghampiri ku," dan kami sempat berdebat, namun tiba-tiba aku tidak sadarkan diri lagi, setelah aku sadar, aku sudah berada di sebuah gudang kosong.
"Ya ampun, dasar Acnes si**an!"
"Sekarang setelah Ibu kamu tidak ada lagi, kamu ngapain?" ucap Arga.
"Aku ikut jaga toko pakaian Kak, dan itu pun di ajak oleh Mbak Melani," jawab Nina yang menundukkan kepala nya.
"Kenapa kamu? apa merasa tak enak hati setelah menyebut nama Melani?" ucap Arga.
"Maaf kak."
"Tak apa, itu adalah pilihan kamu!" aku sudah tidak ada masalah kepada Melani maupun Siska, kami baik-baik saja dan saling memaafkan.
"Benarkah itu Kak?" berarti kalian berteman sekarang?
"Oh iya aku paham kak."
Setelah itu Nina mengajak Arga menemui Desita yang saat ini sedang berada di ruangan ICU.
"Nenek benaran sakit parah Nin?"
"Iya Kak, Nenek mengalami kelumpuhan dan susah bicara," Nenek juga tidak mau makan lagi, dan kata Dokter hanya menunggu waktu nya atau menunggu mukjijat dari Tuhan saja.
"Kenapa kamu mau merawat Nenek?"
"Karena aku tak punya siapa-siapa lagi Kak," walaupun Nenek jahat kepada ku, setidak nya banyak kebaikan yang pernah Nenek berikan kepada keluarga ku, jawab Nina.
Setelah mereka sampai di muka ruangan ICU, Arga melihat jelas, jika saat ini Nenek nya sedang terbaring lemah di atas ranjang Rumah Sakit.
Banyak alat-alat di sekujur tubuh Desita, yang membuat hati Arga sedikit merasa bersedih dan bersalah
"Ayo Nin temani aku masuk!" ucap Arga yang menarik tangan Nina untuk masuk ke ruangan Desita.
Setelah Arga berada di dekat Desita, Arga tak mampu menahan kesedihannya, saat melihat sang Nenek seperti ini.
"Nek, Arga datang, Nenek cepat sembuh ya!" ucap Arga.
Tiba-tiba mata Desita terbuka.
Desita melihat jelas saat ini Arga datang bersama Nina, bukan dengan Nara.
"A-Arga," ucap Desita dengan suara berat nya.
"Iya Nek, ini Arga."
Ada air mata ketulusan di kelopak mata Desita, dan Arga cepat-cepat menghapus air mata itu.
__ADS_1
"Jangan menangis Nek! aku akan merawat Nenek," ini kan yang Nenek mau?
"Ma-maapkan Nenek Arga, Ne-nenek sa-salah."
Suara Desita mulai melemah, tangannya mulai sangat dingin.
"Aku sudah memaafkan Nenek, jangan bersedih lagi Nek!" mulai sekarang Nenek harus cepat sembuh, sekarang ada yang menunggu Nenek di rumah, Nenek selama ini ingin cucu buyut kan? sekarang dia ada di mansion Nek.
"Cu-cu bu-buyut?" ma-mana? ma-mau lihat.
"Kak seperti nya tidak ada harapan lebih lama lagi! lihat kak tangan nya sangat dingin, keadaannya mulai melemah!" apa kita harus membawa Kak Nara dan anak Kakak ke sini? ucap Nina.
"Seperti nya iya Nin, coba kamu minta Mang Ujang mengantar Nara ke sini!" ucap Arga.
Nina pergi ke luar untuk menghubungi Mang Ujang, setelah sambungan terhubung, Nina meminta kepada Mang Ujang untuk mengantarkan Nara dan Baby Arkana ke Rumah Sakit.
Arga yang masih duduk sambil menatap wajah sang Nenek merasa sangat bersalah.
Selama ini Arga telah meninggalkan sang Nenek sendirian, namun jika Arga menuruti keinginan Nenek nya, mungkin dosa sang Nenek akan semakin banyak.
Arga tidak dapat memilih antara Nara dan Nenek nya.
Namun keadaan memaksa Arga untuk memilih.
Arga juga tak sanggup, jika saat itu Arga memilih Nenek nya daripada Nara.
Arga tak sanggup membayangkan jika saja saat Nara melahirkan hanya seorang diri tanpa suami.
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka, Nara bersam Baby Arkana masuk ke dalam ruangan tersebut.
Sebelumnya sudah meminta izin kepada Dokter, jika saat ini keadaan Nenek nya mulai menurun, dan sang Nenek meminta untuk bertemu langsung kepada cucu buyut nya.
"Sayang, maaf kalo Mas meminta mu tengah malam begini untuk kesini," ucap Arga menyambut kedatangan Nara.
"Tidak apa-apa Mas."
Nara dan Baby Arkana mendekat ke arah dimana Desita sedang berbaring lemah.
"Nek Nara dan Baby Arkana nya sudah datang," ucap Arga memanggil sang Nenek.
Tiba-tiba mata Desita kembali terbuka, melihat wanita yang pernah dia lukai dan di husir dari mansion.
"Ma-maapkan Ne-nenek," ucap Desita dengan suara lemah nya.
"Tidak apa-apa Nek, aku sudah melupakan semua nya," cepatlah sembuh Nek, biar kita bisa berkumpul lagi dan Nenek bisa bermain dengan cucu buyut Nenek, ucap Nara dan meletakkan Baby Arkana di samping Desita.
Desita melihat dengan jelas, wajah lucu dan mungil, sangat mirip sekali dengan Arga waktu kecil.
Tanpa terasa Desita kembali meneteskan air mata nya.
Sungguh menyesal sekali Desita, pernah menyia-nyiakan wanita sebaik Nara, demi memaksakan ego nya, dan menghukum sang Cucu untuk memuskan ego nya.
Kini Desita baru sadar, kenapa Arga telah memilih istri nya, di banding diri nya yang merawat sedari kecil.
Tak pernah salah, karena wanita pilihan Arga memang yang terbaik, sangat terbaik daripada pilihannya sendiri.
"Nenek cepat sembuh! biar bisa bermain bersama Baby Arkana," ucap Nara.
"Nenek suka? dia mirip kan Nek seperti aku lagi kecil?" Nenek ingat kan betapa repotnya Nenek menjaga aku saat kecil, aku nakal kan Nek, tapi Nenek tetap sayang kepada ku.
"Dan Nenek tahu? Baby Arkana sangat nakal Nek, dia sering bangun di tengah malam, bahkan kami sering repot saat dia bangun," tapi apakah Nenek tahu? kami tidak pernah mengeluh, bahkan membiarkan dia menangis sendirian, ucap Arga.
"Cepatlah sembuh Nek! biar aku tak kerepotan untuk mengurus 2 baby sekaligus," apakah Nenek tahu? aku sering kerepotan jika 2 baby ku bangun bersamaan, dan mereka sama-sama merengek minta jatah mereka, ucap Nara yang tertawa terbahak-bahak.
"Kau mengadu kepada Nenek, sayang? awas ya kamu akan aku hukum!" jawab Arga.
Desita kembali tersenyum, saat melihat sang cucu bersama istri nya tersenyum dan tertawa bagia.
__ADS_1
'Se simpel itu kah kebahagiaan mereka? ya Tuhan, aku sangat berdosa telah meminta mereka untuk berpisah, sekarang aku baru sadar ternyata pilihan cucu ku tak pernah salah,' bahkan dia juga memberika cucu buyut yang selama ini aku nantikan di keluarga Danuarta, batin Desita.