
"Maaf lama, siapa yang telepon tadi? Apakah penting?" Tanya Arkana, kepada Aluna.
"Maaf Tuan, aku tidak tahu siapa yang menelpon, tadi cuman yang aku tahu sepertinya seorang bapak-bapak dan Terdengar sangat penting," jelas Aluna.
"Ya sudah ini sangat larut malam, kamu tidur saja! Aku akan pergi keluar," dan langsung meninggalkan Aluna yang sendirian di dalam kamar.
Sedangkan Arkana menuju ruang tengah untuk membaringkan tubuhnya yang sudah sangat lelah. Arkana mencoba menghubungi kembali sang penelpon tadi dan ternyata itu adalah Arga.
'Ada apa Papah mau hubungi aku, sepertinya sangat penting sekali," batin Arkana.
Hingga sambungan telepon terhubung, dengan cepat Arkana menanyakan takutnya ada masalah yang terjadi di sana. "Iya Pah, ada apa Papah menghubungiku? Apa ada sesuatu," tanya Arkana yang terdengar sangat kuatir.
"Tidak apa-apa, hanya saja Papa hanya ingin mengetahui bagaimana keadaan gadis itu? Apa kamu tinggal bersama dengannya? Dan Kenapa tiba-tiba kalian jadi satu kamar apa jangan-jangan-"
__ADS_1
Pertanyaan Arga, terhenti setelah Arkana menjelaskan apa yang menjadi keraguan Papahnya.
"Papah mana mungkin aku berbuat jahat kepada perempuan. hanya saja Apartemen ini ada satu kamar dan tidak mungkin dia aku suruh tidur diluar. karena kamar mandi juga hanya ada satu jadi aku numpang mandi di kamar itu," jelas Arkana yang membuat Arga tertawa keras.
"Hei memangnya papah bisa kamu bohongi? Papah bukan anak kecil yang tidak mengerti bagaimana, dan apa yang terjadi jika perempuan dan laki-laki satu atap. apalagi kalian berada di dalam satu kamar. tadi Papah tanya kepada Aluna, dia mengatakan kamu lagi mandi. nah malam gini mandi apaan?" Ucap Arga, yang membuat Arkana mati kutu.
"Ya ampun Papah, bagaimana bisa tidak percaya kepada anaknya sendiri? Papa lebih percaya kepada gadis itu daripada aku. bagaimana bisa aku berbuat hal sejahat itu kepada perempuan, sedangkan aku sangat trauma dengan yang namanya perempuan," jelas Arkana.
"Papah yang sabar. aku percaya papah pasti kuat, jangan pikirkan aku. aku pasti bisa mengatasi semuanya. tentang masalah perasaanku biarlah seiringnya berjalan waktu," ucap Arkana.
"Terus setelah ini apa yang kamu kamu lakukan terhadap perempuan itu? Apakah kalian akan tetap tinggal bersama dalam satu atap?" tanya Arga.
"Entahlah pah, aku juga merasa bingung. namun sepertinya aku akan mencari Apartemen baru lagi. karena perempuan itu dalam keadaan masalah besar dan sekarang dia dicari oleh para mucikari dan ibu tirinya," jawab Arkana.
__ADS_1
"Kenapa bisa seperti itu? Ini sangat tidak benar. kamu harus menjaganya Arkana! jangan sampai ada orang yang menemui keberadaan dirinya. sebab papah yakin saat ini dia hanya memiliki kamu dan tidak ada lagi orang lain yang dia miliki," ucap Arga.
"Baik papah akan aku lakukan apa yang papah minta. sekarang yang terpenting jaga kesehatan papah. jika ada apa-apa cepat hubungi aku! Aku tidak ingin menjadi anak durhaka dan tidak menyelamatkan orang tuanya," jawab Arkana.
"Okelah boy, akan selalu papah ingat," ucap Arga yang langsung menutup sambungan teleponnya.
"Papa ada-ada saja, bagaimana bisa ia berpikir aku sejahat itu. memangnya aku laki-laki macam apa, yang bisa dengan mudahnya terpancing oleh perempuan," gerutu Arkana, yang berbicara sendiri.
Setelah itu Arkan merebahkan tubuhnya di sofa seperti malam tadi. "ini sangat melelahkan, rasanya sangat sakit berada di tempat ini, aku tidak bisa berlama-lama seperti ini," ucap Arkana dan mulai terlelap dalam tidurnya.
Sedangkan Aluna mondar-mandir di dalam kamar. Aluna tak dapat tertidur pulas, karena Aluna terpikir akan susahnya Arkana, yang tidur diluar dan pastinya sangat kedinginan.
Hingga pagi menjelang, Aluna baru merasa tertidur pulas. namun tak lama setelah itu pintu kamar ada yang mengetuk dari luar. "Ada apa sih, ini aku masih ngantuk sekali," ucap Aluna yang berjalan sambil membuka pintu kamar.
__ADS_1