
Setelah selesai sholat Isa, Arga yang masih berada di Musholla ingin cepat-cepat pulang ke rumah.
Tidak sabar untuk cepat-cepat bertemu dengan dedek bayi.
Namun para bapak-bapak menahan Arga, untuk sekedar mengobrol bersama.
"Loh Pak Arga, ngapain mau pulang cepat-cepat! duduk dulu di sini Pak Arga!"
Arga menghebuskan nafasnya dengan kasar.
Niatnya ingin pulang cepat-cepat, tidak sabar lagi ingin segera bermesraan bersama istri tercinta nya.
"Oh tidak Pak, takut istri nunggu saja," jawab Arga.
"Wah Nara itu pengertian Pak Arga! tidak mungkin kalo dia marah-marah sampai Pak Arga pulang terlambat." ucap Pak Deny.
"Iya Pak Arga tenang saja! oh iya malam jumat ini di rumah saya loh Pak Arga arisan nya." ucap Pak Ari.
"Benarkah Pak! Isnsya Allah saya akan datang Pak," jawab Arga.
Jam menunjukan pukul 9 malam, akhirnya para bapak-bapak pada bubar untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Dengan melajukan motor matic nya, sehingga tidak memakan waktu lama akhirnya Arga sampai di rumah nya.
Sebelum masuk, Arga membuka pintu dengan kunci serap nya.
Pintu rumah terbuka, dan Arga kembali menutup pintu rumah dengan rapat.
Arga berjalan menuju kamar nya, terlihat Nara sudah tertidur lelap.
Arga mengganti pakaian nya dan mencuci kaki, muka, dan tidak lupa menggosok gigi nya.
Setelah selesai, Arga yang hanya mengenakan celana pendek dan terlihat jelas perut sixpack nya yang indah.
Perlahan-lahan Arga berbaring di sebelah Nara, Arga juga melihat wajah indah istri nya yang tertidur lelap ini.
'Wanita ini yang akan melahirkan keturunan aku kelak,' batin Arga tersenyum.
Arga terus mengelus-elus kepala Nara, sehingga membuat sang empu menjadi terganggu tidurnya.
Emmmmmmhhhhh hoammmm, Nara menguap.
__ADS_1
Arga dan Nara saling pandang, dan tangan Nara mengelus-elus pipi Arga yang kini banyak di tumbuhi bulu-bulu kecil.
"Mas kenapa baru datang?" ucap Nara kepada Arga.
"Maaf sayang Mas terlambat, tadi bapak-bapak di musholla mengajak Mas berbicara."
"Tidak apa-apa Mas aku mengerti."
"Sayang boleh kan?"
Nara menganggukan kepala nya, pertanda mengizinkan bahwa Arga boleh mendapatkan hak nya malam ini.
Arga mulai melakukan kewajibannya sebagi suami untuk memberi nafkah batin.
Sedangkan Nara sangat menikmati sentuhan-sentuhan dari tangan lembut milik Arga.
Mereka saling memberi kepuasan, karena selama 1 bulan lebih mereka sama-sama kehausan akan belaian kasih syang.
Des*han den erangan terdengar jelas dari mulut Arga dan Nara.
Apalagi saat ini Arga melakukan dengan lembut agar tidak menyakiti istri dan anak yang ada di dalam perut Nara.
Arga sedikit menaikan ritme nya, masih sama agar tidak menyakiti anak mereka.
Hingga permainan panas mereka selesai jam 2 malam.
"Terimakasih sayang," ucap Arga yang mencium kening Nara dengan sayang.
"Sama-sama Mas," jawab Nara.
Mereka mulai memejamkan mata nya dan saling berpelukan.
Namun ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Tiba-tiba handphone Arga berdering pertanda ada panggilan masuk.
"Siapa Mas malam-malam gini telepon?" ucap Nara kepada Arga.
"Mas juga tidak tahu sayang."
Setelah Arga mengangkat sambungan telepon tersebut.
__ADS_1
"Iya ada apa An malam-malam telepon?"
"Gawat!!!! Ini gawat," jawab Andi terdengar gelisah.
"Kenapa? bicara yang benar!"
"Selama aku di kurung, dan kamu juga di kurung oleh Acnes," ternyata penyusup banyak yang masuk ke dalam perusahaan, sehingga banyak kerugian yang hilang.
"Para investor juga membatalkan kerja sama nya dengan perusahaan kita."
Arga memijat kepala nya yang sedikit berdenyut.
Seharusnya saat ini Arga sudah harus tidur, namun mendengar berita seperti ini membuat kepala Arga terasa sangat pusing.
"Sabar Mas," ucap Nara kepada Arga, yang masih terdengar jelas oleh Andi.
"Nenek bagaimana Andi?"
Walaupun Nenek Desita selalu jahat dan egois, namun Desita tetaplah Nenek Arga.
Arga tidak pernah melupakan semua jasa dan kasih sayang yang sudah Nenek nya berikan selama ini.
"Nenek syok saat mendengar kabar bahwa perusahaan mengalami hampir bangkrut."
"Biarkan saja Nenek saat ini seperti itu! biar Nenek lekas sadar dan menyadari semua kesalahnnya selama ini!" masalah perusahaan biarlah mengalmi setengah kebangkrutan! perbaiki yang masih bisa di perbaiki.
"Baik."
"Dan satu lagi, mulai saat ini sepenuhnya kamu jaga perusahaan itu!" aku akan mundur dan tidak lagi ikut bergabung di perusahaan itu."
"Bagaimama bisa? kamu adalah pewaris tunggal satu-satu nya!" seharus nya saat ini juga kamu bangkit lagi!
"Maaf Andi, bukannya dulu papah mu dan papah aku adalah sahabat!" mereka berdua bersama-sama membesarkan perusahaan itu, walaupun itu adalah milik kakek ku."
"Maaf Arga, aku hanya membantu!" jika saat ini kamu menyerah dengan perusahaan itu, biarlah aku yang membangunnya kembali, namun masalah pemilik nya, itu tetaplah kamu, bukan aku!
"Terserah kamu saja! urus semua nya! dan tolong tetap awasi Nenek!"
"Baik."
Sambungan telepon terputus, Arga menghelai nafas kasar, memikirkan masalah yang terus pada berdatangan.
__ADS_1