Nara

Nara
Hari yang melelahkan


__ADS_3


Setelah belajar sekitar 8 jam. Akhirnya waktu yang ditunggu-tunggu, yaitu jam pulang telah datang. Rasa lelah itu kini mulai terasa.


Bagi Nara, mendengar kan penjelasan guru hanya membuat dirinya pusing tujuh keliling.


Menurutnya lebih baik jika ia belajar secara otodidak, membaca dan memahami materi misalnya.


Cara seseorang untuk menjadi pintar bermacam-macam. Semua orang berhak memilih cara yang membuat nya nyaman untuk belajar. Bukan karena terpaksa.


Satu lagi,jangan mengukur apalagi membandingkan kemampuan berpikir kalian dengan orang lain,semua punya kelebihan dan kekurangan nya masing-masing.


'Hasil yang berbicara, usaha yang bergerak.'


"Ayo naik,gw anterin lo pulang hari ini" Rendi yang tiba tiba saja datang mengangetkan Nara yang sedang melamun.


"Gak,gw dijemput"


"Sopir lo nanti gw suruh pulang,Lo bareng gw"


"Mak bapak gw aja gak ngatur ampe segini nya. Lah lu dateng-dateng gak jelas"


"Sekali aja lu nurut sama gw,gak bisa apa?"


"Gak"


Getaran yang berasal dari sakunya berhasil memberhentikan keributan yang terjadi. Nata langsung memeriksa sebuah benda kecil tersebut.


"Iya halo pak"


"Maaf non,tadi saya udah jalan buat jemput non. Tiba-tiba ban mobilnya kempes. Non pulang naik taksi atau angkutan umum gapapa kan?"


"Oh gitu,iya pak gapapa"


"Maaf ya non sekali lagi"


Walaupun Nara berkata tidak apa-apa pada supir pribadinya tersebut,ia tetap kesal. Kalau tidak dijemput Rendi pasti akan memaksa nya lagi untuk pulang bareng.


"Heh,ngelamun aja"


"Hah apaan"


"Lo yakin gak mau bareng?"

__ADS_1


"Gw naik taksi aja"


Tanpa disadari, rintik hujan mulai berjatuhan. Cuaca seperti tidak mendukung dipijak Nara. Seolah alam memaksa untuk ia pergi bersama Rendi.


"Gw gak tau nih hujan bakal deres atau gak" Kodenya agar Nara menerima tawarannya.


"Yaudah gw bareng." Dengan nada yang cukup terpaksa.


"Nih, pake jaket gw. Ntar kalo lu sakit gw abis sama papa lu"


"Pegangan,gw mau ngebut, mumpung hujannya belum terlalu deras"


Saat ini yang bisa Nara lakukan hanya pasrah dan mengikuti semua yang diucapkan Rendi,selain malas berdebat ia juga tau pasti tidak akan ada habisnya.


Hari itu cukup ajaib. Untuk pertama kalinya Nara balik bersama seorang cowo sebayanya. Sifat dinginnya yang melewati batas membuat siapapun yang mendekati nya pasti akan menjauh,tapi berbeda dengan Rendi.


"Santai dong bawa motor nya. Mau mati ngajak-ngajak"


"Disuruh pegangan gak mau,salah lu lah"


"Bacot, keburu deres ujannya"


Krekkk…


Dibuka pintu pagar dengan sisa tenaganya. Ntah mengapa hari ini,lemas sekali rasanya. Dikala guru menerangkan Nara hanya menaruh kepalanya diatas meja. Ocehan guru pun menambah pusing di kepalanya.


"Siang juga. Ayo masuk nak Rendi. Nara siapin minum buat Rendi. Mama mau keatas sebentar"


"Mau minum apa lu?"


"Terserah,asal lu yang bikin"


"Duduk dulu"


Nara melanjutkan langkahnya menuju dapur untuk membuatkan minuman Rendi.


"Nih minumnya"


"Air putih?"


"Lu bilang katanya terserah,gw ambil apa yang didepan mata gw aja"


"Gw baru tau arti kata terserah dimata perempuan selama ini. Yaudah gw minum." Rendi berusaha mencoba menahan rasa jengkelnya. Ia sudah terbiasa dengan sikap Nara yang seperti ini.

__ADS_1


Keadaan di ruangan ini menjadi hening,yang terdengar hanyalah suara handphone Nara yang sedang memainkan sebuah game


'welcome to mobile legend'


"Mending lo istirahat. Gak capek apa main game terus? Liat muka lu udah kek mayat idup"


"Bawel lu,gw lagi fokus nih"


"Ini tombol apa si, hehehe" Usil nya yang mencoba menggangu Nara.


"Rendi diem. Gw lagi ngerank nih!"


Mendengar suara tinggi Nara yang mencoba menghentikan malah semakin membuat nya ingin menggangu.


"Balikin hp gw, apaansi gak lucu tau gak"


"Gw balikin,asal lu berhenti main game dan istirahat"


"Ya tapi…"


"Tapi apaa lagi?"


"ITU GW LAGI NGERANK RENDI"


"Biar gw yang lanjutin,cara main gw juga lebih pro dari lu"


"Halah_-"


Nara ingat bahwa Rendi pernah mengikuti turnament game yang dimainkan nya sekarang. Perkataan yang di katakannya ada benar nya juga.


"Yaudah" pasrah Nara seraya berjalan pelan menaiki anak tangga.


"Nanti kalo gw selesai main,hp lu gw taro diatas meja"


"Hm"


"Kalo mau balik nanti pamit ke mama gw aja,gw mau istirahat dulu"


"Siap Bu bos!"


Satu persatu anak tangga mulai dinaiki Nara. Di lantai atas rumahnya terdapat 2 kamar,kamar dirinya dan abangnya.


Untuk membedakan antara kamar Nara dan abangnya cukup mudah,hanya dengan melihat warna dari pintu mereka masing-masing.

__ADS_1


Nara bercat abu-abu dan abangnya hitam.


"Gak biasanya hari ini capek kaya gini,mau ngapa-ngapain aja gak ada tenaga" ucapnya dalam hati sambil menaruh tubuhnya diatas kasur.


__ADS_2