
Seminggu sudah berlalu, akhirnya Arga dan Nara pulang ke negara tempat kelahirannya.
Seperti rencana awalnya, Arga berpura-pura hilang ingatan dan mengalami kelumpuhan pada kaki kiri dan kanan nya.
Dan Arga juga hanya mengingat sekitar dua tahun belakangan.
Sedangkan Desita nenek Arga, sudah terbebas dari tawanan Siraj.
Namun saat ini Desita merasa sangat bingung, jika Arga bertanya tentang ke tiga istri-istri nya.
Saat ini Arga dan Nara, beserta anak buah nya yang selalu mengawal kemana saja Arga melangkahkan kaki nya, termasuk mengantarkan Arga ke tempat mansion yang sudah beberapa bulan dia tinggalkan.
Setelah perjalanan menempuh berjam-jam lama nya, akhirnya pesawat jet peribadi Arga mendarat dengan selamat.
Arga dan Nara di sambut hangat oleh Andi dan beserta anak buah lain nya, yang sudah lama menunggu.
Sekitar 40 menit, akhirnya mobil yang di kendarai oleh Andi, yang di tumpangi oleh Arga dan Nara, sampai di mansion besar.
Mereka hanya bertiga saja saat di dalam mobil, namun di belakang masih banyak anak buah Arga yang mengikuti sampai ke mansion dengan selamat.
Terlihat jelas, semua penghuni mansion tersebut sudah berkumpul di depan pintu, dan di sana juga ada Heny dan Desita.
Namun yang membuat Arga sedikit merasa bersedih, saat Andre tidak bisa lagi untuk bersama nya.
"Selamat siang tuan Arga," ucap semua para maid di mansion itu.
"Siang," jawab Arga dengan singkat.
Terlihat jelas di mata Arga, perubahan postur tubuh Desita yang mulai berubah, tidak seperti pertama kali Arga meninggalkan mansion tersebut.
"Selamat siang cucu ku," ucap Desita memeluk erat tubuh Arga, hingga Desita meneteskan air mata nya.
"Nenek baik-baik saja.?"
Desita menatap haru wajah cucu nya, cucu yang selama ini selalu dia kekang, selalu dia atur sesuka hati nya.
Bahkan bayangan-bayangan Desita memaksa Arga untuk menikahi ke tiga perempuan sekali gus dalam waktu yang bersamaan.
"Nenek baik sayang," apa kabar juga kamu, bagaimana di sana.?
"Aku baik nek, dan di sana juga aku sangat betah."
"Apakah kamu tidak merindukan nenek mu ini.?"
"Aku sangat merindukan kamu nenek, bahkan aku juga selalu memikirkan kabar mu di sini.?"
Degggggg
__ADS_1
Kata-kata terakhir Arga, membuat hati Desita sedikit tersentil.
Begitu jahat nya diri nya selama ini, kepada cucu satu-satu nya.
"Ayo kita kekamar, biar nenek antar.!"
"Nenek tidak perlu repot-repot," bukankah aku memiliki tiga istri, kemana dia nek.?
Pertanyaan ini yang membuat Desita sangat terjebak.
Bahkan bibir Desita sangat kelu, untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan dari Arga, yang tidak bisa Desita jawab.
"Tuan, biarkan saya yang mengantar anda,!" jangan banyak berpikir dulu, ucap Nara.
"Maap Fara, aku ini sudah memiliki istri," bahkan dalam keadaan aku seperti ini, seharusnya mereka bertiga menyambut kedatangan aku, bukan tidak ada hadir seperti ini.
Istri macam apa mereka, yang hanya ingin ke mewahan saja, namun di saat aku dalam keadaan seperti ini mereka pada menghilang.
Desita sangat terpojok, kata-kata Arga sangat menusuk relung hati nya.
Bagaikan di tampar dengan sangat keras.
"Benar kata Fara, kamu lebih baik istirahat dulu,!" kamu baru pulang, istirahatlah dulu sayang.!
"Nek, bukankah ke tiga istri-istri ku itu setiap hari nya bersama nenek,?" apakah nenek tidak mengatakan kepada mereka, bahwa aku pulang hari ini.?
Bukankah jujur itu lebih baik, daripada menyimpan segala kebohongan, yang akhirnya jika meledak akan menimbulkan bau-bau yang tidak sedap.
Arga menyunggingkan senyum nya, yang hampir tidak terlihat oleh orang-orang yang berada di tempat itu.
"Fara, bawa aku kekamar,!" tolong juga pijet kaki aku yang terasa sakit ini.
Akhirnya Nara membawa Arga ke dalam kamar peribadi milik Arga.
Awalnya Desita merasa sedikit aneh, sebab selama ini tidak ada yang berani masuk ke dalam kamar Arga.
Namun dengan mudahnya Arga mengajak pelayan itu masuk ke dalam kamar, tanpa ada beban sedikit pun di dalam hati Arga.
Heny yang mengerti tatapan Desita, yang seperti sedang bertanya-tanya, memberi sedikit alasan yang membuat Desita sedikit percaya.
"Mungkin tuan Arga sudah terbiasa saat berada di negara S, jadi mereka tidak memiliki rasa sama-sama canggung."
Setelah mengatakan itu semua, Heny pergi meninggalkan Desita, yang masih berperang dalam pikirannya.
Setelah Arga masuk ke dalam kamar nya bersama Nara.
Arga cepat-cepat memeluk erat tubuh Nara.
__ADS_1
"Sayang maapkan mas ya, sudah membawa-bawa kamu ke dalam rencana konyol ini."
"Tidak apa-apa mas, aku mengerti," dan aku harap semoga cepat selesai semua nya, dan terungkap semua yang masih menganjal.
"Iya sayang, doa kan terus,!" agar kita cepat-cepat meninggalkan tempat ini, dan memulai hidup sederhana dengan keluarga kecil kita.
"Aminnn mas, aku selalu mendoakan yang terbaik buat kamu," tapi aku masih sedikit bingung mas.?
"Bingung kenapa sayang.?"
"Apakah kamu betah, hidup sederhana di desa,?" sedangkan kamu sudah terbiasa hidup dengan semua kekayaan ini mas.?
Arga menoel-noel pipi Nara, yang terlihat sangat berisi.
Karena kehamilan nya ini membuat Nara mudah sekali laper, sehingga membuat tubuh nya semakin berisi dan di bagian benda-benda pavorit Arga juga terlihat semakin hari, semakin menggoda iman Arga.
"Banyak hal yang masih belum kamu ketahui sayang, termasuk tentang kehidupan aku selama ini."
"Apa saja mas, aku penasaran.?"
"Nanti kamu akan mas ajak, ke tempat yang selama ini dimana jati diri mas sesungguh nya."
"Maksud mas Arga.?"
"Orang lain pasti memandang diri ku selalu penuh dengan ke mewahan, namun siapa sangka, di balik ke mewahan ini semua hanya menyiksa diri ku."
Apalagi, saat di rumah ini ada ke tiga mantan istri ku, membuat aku merasa muak untuk pulang ke tempat ini.
"Terus mas Arga pulang nya kemana, jika tidak ke tempat ini,?" Nara semakin di buat penasaran, jiwa ke ingin tahuan nya semakin memuncak.
"Nanti kita akan pergi ke tempat itu sayang," bersabarlah dulu, jangan terlalu banyak berpikir.
"Iya mas aku mengerti, maapkan aku mas."
"Tidak apa-apa sayang," ayo sini, mas pengen lihat anak mas, hari ini dia tidak rewel kan sayang.?
Arga mengusap-usap perut yang masih terlihat sangat rata, namun cepat atau lambat perut itu akan terlihat sangat jelas, saat waktu nya tiba.
"Tidak rewel mas, dia sangat mengerti saat berdekatan dengan papah nya."
"Apa lagi malam tadi kan sudah papah tengokin ya sayang,?" nanti papah tengokin lagi ya, biar si dede nya tidak rewel lagi sama mamah ya sayang.
"Ihh itu sih mau kamu mas."
"Tapi kamu juga menikmati nya kan sayang,?" kamu ke enakkan muka. nya.
Dan mereka sama-sama tertawa dan saling berpelukan.
__ADS_1
Maap ya gaes, aku sedikit terlambat up nya 😊😊🙏🙏🙏