
Dewi sangat rajin merawat Arga, sehingga dengan cepat Arga pulih dari sakitnya. Dua hari menginap di tempat Dewi, membuat Arga merasa sangat nyaman berada dalam keluarga sederhana ini.
"Terima kasih Dewi, sudah merawatku dengan baik. aku sudah lama tidak sakit seperti ini, dulu setelah istriku meninggal keadaanku sungguh sangat rapuh, namun aku berusaha kuat demi anakku. namun entah kenapa mungkin usiaku sudah tidak muda lagi sehingga tubuhku mulai berkurang kesehatan," ucap Arga kepada Dewi.
"Sama-sama, aku ikhlas membantu jangan merasa sungkan kepadaku! Aku senang jika Tuan juga merasa senang," jawab Dewi kepada Arga.
Saat ini Arga berpamitan kepada Dewi, Ibu dan adik Dewi. Namun tak lupa Arga juga memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada Ibu Dewi. namun niat baik Arga ditolak baik, karena keluarga Dewi merawat dengan ikhlas tanpa ada maksud dan tujuan lain.
"Tolong terima Ibu, aku ikhlas memberikannya. Jangan berburuk sangka anggap saja ini rezeki buat keluarga kalian," ucap Arga kepada Ibu Dewi.
"Kami ikhlas Tuan, tolong hargai niat baik kami. kami masih memiliki rezeki lain, berikanlah kepada yang lebih membutuhkan. sebab Dewi masih mampu bekerja untuk membiayai kebutuhan kami sekeluarga," jawab Ibu Dewi.
Tidak ingin membuat keluarga Dewi merasa tersinggung, Arga terpaksa mengambil kembali uang tersebut dan memasukkan ke dalam kantongnya. Arga benar-benar sangat berterima kasih sudah mengijinkan untuk beberapa hari menginap di rumah ini.
dengan cepat Arga, menaiki Mobilnya, dan tak lupa melambaikan Tangan tanda perpisahan.
__ADS_1
"Bosmu itu sangat baik Dewi, namun kebaikannya jangan kita salah gunakan. bersyukur kamu selalu dikelilingi oleh orang-orang baik," ucap Ibu, kepada Dewi.
"Iya Ibu, Tuan Arga memang baik. Selain itu dia juga asik dalam masalah bercanda, namun dia juga seorang lelaki kesepian yang telah lama ditinggal istrinya pergi untuk selamanya."
"Maksud kamu Tuan Arga dikhianati oleh istrinya," tanya ibu, kepada Dewi.
"Tidak Ibu, istri Tuan Arga telah meninggal dunia beberapa tahun yang lalu, sebab itu Tuan Arga selalu merasa kesepian dan Butuh hiburan. Banyak wanita-wanita di luar sana yang menawarkan untuk menjadi pengganti istri Tuan Arga, namun hal itu selalu ditolak dengan Tuan Arga, karena bagi beliau tidak ada satupun wanita yang mampu menggantikan sosok Ibu Nara di hatinya."
"Nara? Ibu pernah mendengar nama itu, tapi Ibu lupa dimana ibu pernah mendengar," ucap Ibu Dewi.
"Mungkin bukan Nara yang Ibu maksud," jawab Dewi.
***
Di lain tempat
__ADS_1
Arkana yang beberapa hari tidak mendapat kabar dari ayahnya, merasa sangat khuatir. sebab telepon Arga juga tidak aktif sehingga membuat Arkana sulit untuk mengetahui keberadaan ayahnya.
"Tuan kenapa anda seperti banyak pikiran? Apa yang anda pikirkan? Apa ada sesuatu?" Tanya Aluna yang memberanikan diri untuk bertanya kepada Arkana.
"Tidak apa-apa, beberapa hari ini aku kepikiran Ayahku saja. Handphone beliau pun tak aktif sehingga aku merasa cemas dengan keadaannya," jawab Arkana.
"Kenapa tidak menghubungi orang terdekat saja? Siapa tahu bisa mengetahui keadaan beliau," ucap Aluna.
"Sudah, dan semuanya tidak mengetahui keberadaan Ayahku," jawab Arkana, yang terlihat sangat cemas.
Aluna pergi meninggalkan Arkana ke dapur, mengambilkan air putih untuk menenangkan pikiran Arkana saat ini.
"Minumlah dulu Tuan, aku yakin tidak akan terjadi apa-apa. Doakan saja yang terbaik buat Ayah," ucap Aluna.
Arkana terdiam saat Aluna, menyebut Ayahnya dengan sebutan Ayah. Namun hal itu tidak terlalu dipikirkan Arkana. "Terimakasih," jawab Arkana, setelah mengambil air tersebut ditangan Aluna.
__ADS_1
"Sama-sama Tuan," jawab Aluna.
Maaf gaes lama terus update nya 🥲🙏🙏