Nara

Nara
Kesedihan Arga


__ADS_3

Tepat pukul 3 pagi, Arga terbangun dari tidur nya.


Arga melihat ke arah dimana saat ini Desita tertidur lemah.


Namun ada hal yang membuat perasaan Arga menjadi ganjal, alat monitor yang berhubung ke seluruh tubuh sang Nenek, tiba-tiba tidak berjalan lagi.


Saat Arga mendekat, betapa terkejutnya Arga, melihat memang benar nyata.


Arga mulai mencek denyut nadi sang Nenek, dan betapa terkejutnya Arga.


Sang Nenek sudah tiada.


Desita meninggalkan dunia dalam keadaan tidur lelap.


Dengan cepat Arga menekan tombol penghubung.


Dan tepat saat itu juga, para Dokter yang tugas malam dan para perawat pada berdatangan.


Suasana ruangan ICU kian memanas, mencek seluruh tubuh Desita untuk mengetahui apakah masih ada denyut nadi.


Namun harapan itu menghempaskan Arga ke sanubari.


Arga sudah kehilangan sang Nenek yang selama ini menjadi penyemangatnya.


Sehingga Arga di kejutkan oleh suara sang Dokter, yang mengatakan Desita telah meninggal dunia, dalam keadaan tertidur.


"Maaf Tuan Arga, kami pihak Rumah Sakit turut berduka cita sedalam-dalam nya, bahwa Nenek anda telah meninggal dunia." ucap Dokter yang menangani keadaan Desita.


Runtuh sudah harapan Arga, air mata yang dari tadi dia tahan, akhirnya menetes juga tanpa berhenti.


'Maafkan Arga Nek, Arga banyak salah kepada Nenek, Arga sudah menjadi cucu yang durhaka dan tidak bisa membahagiakan Nenek.' ucap Arga dalam tangis nya.

__ADS_1


Tiba-tiba Arga teringat akan andi.


Arga meraih handphone nya dan menghubungi nomer telepon Andi.


"Ya ada apa?" ucap Andi yang baru terbangun dari tidur nya.


Sekarang ini Andi sedang menjaga sang istri, karena Laila di nyatakan hamil.


Usia kandungan nya menjalani satu bulan.


Namun keadaan Laila sangat lemah, yang di haruskan Dokter untuk banyak istirahat.


Terkadang di tengah malam Laila selalu muntah-muntah, dan tubuh nya akan tumbang lagi.


"Nenek meninggal! Aku hanya ingin menyampaikan berita ini kepada mu." ucap Arga.


"Innalillahi wa inailaihi rojiun." jawab Andi dengan suara serak nya, yang menahan genangan air mata yang dia tahan.


"Aku hanya menyampaikan saja!" ucap Arga.


Telepon tertutup.


"Ada apa Mas?" ucap Laila.


"Nenek meninggal sayang, sekarang aku harus kerumah sakit untuk menemani Arga, maaf sayang aku minta tolong Saras untuk menemani kamu ya." jawab Andi.


"Iya Mas hati-hati!" ucap Laila.


Sebelum pergi, Andi mengecup kening Laila dan mengusap perut rata yang di dalam sana ada buah cinta Andi dan Laila.


Setelah itu Andi pergi meninggalkan Laila yang sendirian, untuk menemui Saras.

__ADS_1


Tok tok tok


"Saras buka pintu nya!" ucap Andi yang memanggil Saras.


Hingga panggilan ke tiga kali, akhirnya Saras terbangun.


Dengan keadaan mata masih tertutup, Saras membuka pintu kamar nya.


Dulu kamar Saras adalah ruangan bekerja Andi.


Namun sekarang ruangan itu sudah menjadi kamar Saras.


Sedangkan Ruangan kerja Andi sekarang berada di dalam kamar nya.


Karena apartemen itu hanya memiliki dua ruangan, sehingga Andi harus mengalahkan sedikit ruangan kamar nya berbagi dengan ruangan kerja.


"Tolong jaga kakak mu, aku mau ke Rumah Sakit! Nenek meninggal." ucap Andi kepada Saras.


"Innalillahi, baik kak aku akan jaga kak Laila! kakak tenang saja." jawab Saras.


Setelah itu Andi pergi meninggalkan apartemen nya dan melajukan mobil nya ke Rumah Sakit.


Setelah beberapa menit akhirnya Andi sampai dan menuju ke ruangan ICU.


Ternyata di sana sudah ada beberapa anak buah Arga dan juga Arga.


"Maaf aku terlambat." ucap Andi kepada Arga.


"Tidak apa-apa aku mengerti." jawab Arga.


"Nenek dimana sekarang? kapan bisa di bawa ke mansion?" ucap Andi kepada Arga.

__ADS_1


"Kemungkinan jam 6 pagi, baru bisa membawa jenazah Nenek." jawab Arga.


Setelah selesai di bersihkan jenazah Desita di bawa mobil ambulance untuk menuju ke kediaman Desita.


__ADS_2