Nara

Nara
Ketakutan Aluna


__ADS_3

Setelah menceritakan semuanya kepada Arkana, bahwa saat ini dirinya dalam keadaan bahaya. Apalagi Aluna yang sempat dikejar-kejar oleh anak buah Alex, karena menolak keras untuk melayani nafsu s*x Alex. Hal tersebut membuat Aluna merasa sangat  ketakutan jika sedang berada diluar rumah.


Sedangkan Arkana, yang awalnya ingin memberikan tempat tinggal di samping Cafe nya, menjadi ragu. Dan masih mempertimbangkan, jika suatu saat anak buah Alex, datang secara tiba-tiba.


"Yasudah, kembalilah ke kamarmu! Ini sudah larut malam," ucap Arkana, kepada Aluna.


Aluna menurut saja, apa yang diperintahkan oleh Arkana. Sebab saat ini Aluna tidak memiliki siapa-siapa lagi selain Arkana. Walaupun Aluna 100%  belum percaya kepada Arkana, namun Aluna tidak memiliki keberanian selain bersembunyi di belakang Arkana.


Sedangkan Arkana melihat kepergian Aluna  menuju kamarnya, merasa sedikit kasihan kepada gadis tersebut. Namun jika Arkana kembali mengingat wanita yang dulunya pernah meninggalkan dirinya, membuat Arkana jadi terbayang-bayang kepada Aluna saat ini.


"Aku harus apa? bagaimana aku bicara kepada papah. Bagaimana bisa aku Satu Atap bersama dengan gadis yang baru aku kenal beberapa jam ini.


Tidak ingin berpikir berlarut-larut, Arkana merebahkan tubuhnya di sofa ruang tengah. Arkana yang sebelumnya tidak pernah berbaring di tempat ini, merasa sedikit tidak enak sebab seharian penuh dirinya bekerja di cafe namun alhasil bukannya menikmati kasur yang empuk melainkan merasakan kerasnya sofa.


Sedangkan Aluna tidak dapat memejamkan Matanya saat ini. Bayangan-bayangan saat Alex ingin menjamah tubuhnya, membuat Aluna merasa ketakutan jika suatu saat Alex dapat menemui Aluna, dan apa yang dia takutkan akan menjadi kenyataan.

__ADS_1


Hingga pukul 04.00 pagi, Aluna tidak dapat tertidur dengan pulas bayangan-bayangan ketakutan Aluna, membuat Aluna terbangun dan ingin mengambil air minum ke dapur.


Saat Aluna menuruni anak tangga, Aluna melihat Arkana yang meringkuk kedinginan, yang masih tidur pulas di atas sofa ruang tengah.


Walaupun Aluna baru mengenal Arkana, namun Aluna yakin jika Arkana adalah laki-laki yang baik dan mampu saat ini melindungi dirinya dari kejamnya hidup.


Aluna kembali lagi naik ke atas, untuk mengambilkan selimut buat Arkana. Saat Aluna ingin menyelimuti Arkana tiba-tiba Aluna dibuat terkejut. yang saat itu Arkana terbangun karena ada sentuhan sedikit dari tangan Aluna.


"Maafkan aku Tuan, hanya saja Aku ingin memberikan selimut ini. aku tidak bermaksud apa-apa kepada Tuan. Maafkan aku," ucap Aluna, yang merasa ketakutan jika Arkana akan marah kepadanya.


"Terima kasih sudah memberikan selimut tebal ini kepadaku, namun jika aku sudah terbangun aku sulit sekali untuk tidur lagi," jawab Arkana kepada Aluna.


"Maaf Tuan, jika aku membangunkan tidurmu. hanya saja aku tadi ingin ke dapur untuk mengambil air minum. namun aku tak tega, karena diriku Tuan jadi seperti ini. Seharusnya Tuan tidur dengan nyenyak. Namun karena aku Tuan jadi tidur seperti yang sedang menahan sakit.


"Jangan merasa bersalah! Nanti aku pikirkan kembali bagaimana caranya agar aku bisa tidur dengan nyenyak. Biarkan saja untuk malam ini." jawab Arkana.

__ADS_1


Aluna tertunduk lemah sebab Aluna tidak mengerti apa yang sedang dibicarakan Arkana. Aluna berpikir jika Arkana akan mengusir dirinya dari Apartemen ini.


Di lain tempat


Semalaman penuh Arga duduk di Atas Sajadah. Matanya tak dapat tidur dengan nyenyak. sebab bayangan-bayangan Nara, selalu terlintas di dalam pikirannya.


Sungguh Arga, saat ini merasa sangat kehilangan dan merasa kesepian. namun Arga tidak berniat untuk menggantikan Nara, dalam hatinya. Biarlah hidupnya seperti ini. Arga lebih memilih untuk tersiksa seperti ini daripada harus menggantikan Nara di hatinya dengan wanita lain.


Usianya yang tidak muda lagi. Arga tidak memiliki siapa-siapa Selain anaknya. Anak hasil buah cintanya bersama dengan Nara.


Walaupun Arga memiliki banyak orang terdekat namun mereka hanya menghibur untuk sesaat, tidak seperti keluarga yang selalu ada di saat senang dan susah.


Arga kembali menatap bingkai foto yang terlihat Nara, sedang tersenyum manis. Arga mengusap lembut pigura tersebut. 


"Sayang, yang tenang di sana, doakan Mas dari sana agar, Mas selalu merasa bahwa kamu selalu ada di sisi Mas. Percayalah tidak ada satupun yang akan menggantikan dirimu. hanya kamu selamanya menjadi orang terakhir di dalam hati ini," Guman Arga, yang berbicara sendiri.

__ADS_1


__ADS_2