
Dinginnya malam membuat siapa saja ingin memakai baju panjang dan selimut yang hangat. Begitu juga dengan Nara malam ini. Sweater hangat dan celana pendek tengah melekat ditubuhnya.
"Mah Nara ke minimarket sebentar ya" Ucapnya seraya menutup pintu rumah.
"Iya,jangan pulang larut malam"
Sesampainya disebuah minimarket…
"Eh Nara,emang ya kalo jodoh pasti selalu ketemu. Mo beli apa lu, ambil aja gua yang bayarin" Goda Rendi yang tiba-tiba didepannya.
"Apasi Lo,gak dimana-mana selalu ganggu gw"
"Kalo gw gak ganggu lu,pasti lu bakal kangen gw,yaa kan? Hehehe"
"Halah,shit."
"Gw anterin pulang yak,udah malem juga nih,ntar lu kenapa-napa"
"Gak usah, makasih."
"Bener nih? Kalo ada apa-apa dijalan gw gak tanggung jawab ya"
Setelah mantap memutuskan untuk menolak ajakan Rendi,Nara kembali berfikir untuk kedua kalinya. Yang dikatakan Rendi ada benarnya, kebetulan ia tidak membawa mobil ke minimarket. Alhasil,mau tidak mau ia menerima ajakan Rendi.
"Yaudah gw mau" jawab Nara dengan terpaksa.
"Yesss! Ayo ikut gw,kita ke mobil" Ajak Rendi.
Saat diperjalanan hanya alunan musik dan suasana hening yang mendominasi. Rendi sesekali bertanya dan hanya dijawab singkat atau bahkan deheman saja.
"Gw gaktau sampai kapan lu bakal cuek ke gw kaya gini,tapi gw bakal buktiin suatu saat lu bakal bawel ke gw"
"Ngomong apasi lu,yang jelas dong kalo ngomong"
"Itu gw uda ngomong yang jelas anjay,lu nya aja yang gak konek" Kesal sang Rendi.
Nara tidak mau membalas perkataan Rendi,karena ia tau jika ia meladeninya maka akan semakin kacau suasana.
"Gw denger lu suka maen game ya?" Tanya Rendi untuk memecah keheningan
"Hmm"
"Game apaan?"
"Mobile Legend"
"Ohh ML,gw juga maen tuh,kapan-kapan maen bareng lah"
"Iye"
__ADS_1
"Nah dah sampe titik tujuan, sesuai aplikasi ya mba hehehe,bayarnya pake OVO aja" usil Rendi sambil membukakan pintu mobil nya untuk Nara.
"Apaansi garing banget lo"
"Yaelah iya dah terserah lu aja, yang penting gw bisa nganterin lu pulang"
"Makasih yak" Sahut Rendi mengisyaratkan agar Nara mengucapkan kalimat itu pada dirinya,namun tak mendapat renpod darinya.
"Hati-hati, jangan lupa berdoa sebelum tidur,jaga kesehatan ya!" Teriaknya sebelum Nara menutup pintu rumahnya,dan Nara hanya menganggukan kepala.
Hari ini ntah mengapa mata Nara mulai mengantuk lebih awal dari biasanya. Setelah menaruh barang belanjaan yang ia beli tadi,Nara langsung menaruh tubuhnya diatas kasur.
Ia menatap langit-langit kamarnya. Ada banyak hal yang ia pikirkan. Mau kuliah atau kerja setelah lulus nanti,mau ngambil jurusan apa seandainya kuliah, bagaimana masa depannya nanti. Dan masih banyak lagi.
Ketika ingin memejamkan mata, tiba-tiba terdengar notifikasi dari handphone nya. Ia penasaran,siapa yang larut malam seperti ini me-WhatsApp dirinya. Padahal notifikasi dari grup nya sudah ia bisukan.
Rendi : P
Rendi : Ini gw Rendi
Rendi : Udah tidur ya?
Nara: G,blm tdr.
Rendi: Tidur sono,tar telat lagi, biar gak manjat pagar lagi,hehehe.
Rendi: Eh gak,canda helah. Jangan marah dong:*
Nara: Garing sumpah.
Rendi: Yaudah maaf, Sono gih tidur. Good night,bye:*
Read
Hari yang cerah dengan awan yang cukup bagus dipandang. Pagi ini Nara tidak terlambat,karena semalam ia tidur lebih awal dari biasanya.
Ting!
Suara yang berasal dari hp nya berhasil membuat Nara beranjak dari tempat tidur nya. Dan mengambil benda tersebut dari nakas.
Rendi: Morning:)
Read
Rendi: Yah diread lagi,yauda sono siap-siap. Bentar lagi gw jemput
Nara: Gak usah,gw bisa ke sekolah sendiri.
Rendi: HARUS MAU.
__ADS_1
Rendi: Udah sono mandi terus sarapan. See you…
Read
Srek
Suara sepatu yang menuruni anak tangga mulai terdengar. Dengan wangi parfum khas-nya,Nara menuju meja makan untuk sarapan.
"Besok papa ada meeting diluar kota, kemungkinan dalam waktu seminggu papa gak ada dirumah" Ucap laki laki tersebut dengan suara beratnya.
"Kok mendadak pah? Gak jadi jalan bareng keluarga dong kita" balas mama Nara dengan wajah kecewanya.
Tok tok tok!
"Bentar mama bukain pintu dulu,kalian abisin sarapannya"
"Pagi tante,saya Rendi. Pacarnya anak tante,hehehe"
Kalimat itu yang diucapkan Rendi ketika ada seseorang yang membukakan pintu, tanpa berfikir panjang,ia mengucapkan hal itu dengan santai seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ohh kamu pacarnya Nara. Silahkan masuk nak" sambut mamanya.
"Silahkan duduk, jangan sungkan,anggap saja seperti rumah sendiri"
"Ehh iya om"
"Mah, bikinin sarapan buat temannnya Nara juga ya,papa mau berangkat, takut terlambat nanti"
"Pacarnya pah,bukan temennya heheh" Bisik nya dengan usil.
"Apansi mah, pagi-pagi udah ngelantur aja" Gerutu Nara dengan mulut yang terisi roti.
"Anak papa udah besar ya ternyata,oh ya kamu jagain anak saya yang bener ya. Awas kalo sampe kenapa kenapa"
"Siap om!" Jawab Rendi dengan antusias,seolah bahwa papanya mendukung hubungan dirinya dengan Nara. Kesempatan emas baginya kali ini.
Sesampainya disekolah,semua pasang mata tertuju pada dirinya. Nara berfikir apakah ada yang salah pada penampilan nya hari ini. Oh ya,dia lupa bahwa hari ini ia datang ke sekolah bersama seorang Rendi.
Rendi merupakan teman Nara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah pertama. Bisa dibilang, Rendi telah lama menyukai Nara, walaupun Nara sama sekali tidak merespond perasaannya. Ia sampai sekarang masih setia menunggu Nara.
Terkadang orang yang disekitar Nara heran, mengapa bisa Nara menolak seorang Rendi yang sama sekali hampir tidak memiliki kekurangan.
Selain itu,Rendi juga termasuk dalam jajaran mostt wanted di sekolahnya.
"Masuk kelas, belajar yang bener. Jangan mikirin gw terus hehehe" Ucap Rendi sambil mengelus rambut Nara.
"Otak gw juga gak mau mikirin lu kali,cih"
"Yaudah iya deh, semangat belajarnya"
__ADS_1