
Setelah saling bermusyawarah, jenazah Desita akan di bawa langsung ke pemakaman umum.
Saat di perjalanan, Andi selalu menguatkan Arga, agar bisa lebih bersabar dalam melewati semua ini.
"Sabar Arga! Kita sama-sama telah kehilangan Nenek, jadi aku harap lebih baik kita berdoa agar di lapangkan kubur nya dan surga menanti nya." ucap Andi kepada Arga.
"Aku merasa bersalah kepada Nenek, selama ini sudah menjadi cucu durhaka." jawab Arga.
"Tidak ada yang salah di sini Arga! Tindakan kamu sudah benar, andai aku juga ada di posisi kamu, mungkin aku akan melakukan hal yang sama."
Setelah lama di perjalanan, akhirnya mobil ambulance yang membawa jenazah Desita sampai di pemakaman umum.
Ternyata di sana sudah ada yang menunggu, yaitu Siraj dan Tora.
Mereka selalu memantau keadaan Desita, terutama Siraj.
Sampai sekarang cinta nya tidak akan pernah luntur oleh apa pun kepada Desita.
Kini hanya bisa mengingat semua kenangan yang masih tersisa, antara diri nya dan Desita di masa lalu.
Arga hanya melihat ke arah Siraj dan Tora, tanpa mau menyapa.
Tak lama setelah itu rombongan mobil yang membawa Nara, Nina, dan Heny juga datang.
Namun Nara tidak membawa Baby Arkana.
Baby Arkana di titipkan kepada penjaga di mansion, karena tidak mungkin harus membawa ke pemakaman.
__ADS_1
"Yang sabar Nak Arga." ucap Heny kepada Arga.
"Iya Bu, maafkan Nenek saya jika selama ini beliau ada salah." jawab Arga.
Pemakaman berjalan dengan lancar, serangkai doa para pelayat terlontar untuk Desita.
Tetlihat jelas di mata Siraj, kesedihan yang sangat mendalam.
Seumur hidup nya berharap bisa bersama dengan Desita, namun kenyataan yang paling pahit ketika Desita meninggalkannya untuk selama nya.
Setelah semua nya pada meninggalkan makam Desita.
Berbeda dengan Arga yang masih betah berada di dekat pusara sang Nenek.
"Maafkan Arga Nek, Arga sudah menjadi cucu yang tidak berbakti kepada Nenek, tenanglah di sana Nek! aku akan selalu merindukan Nenek." ucap Arga.
"Tidak apa-apa Mas, ayo kita pulang." jawab Nara.
Setelah beberapa menit akhirnya Arga dan Nara sampai mansion yang sangat besar di kediaman Danuarta.
Arga melihat seisi mansion tersebut, banyak kenangan-kenangan manis bersama sang Nenek.
Di sana juga ada Nina, Andi dan juga Laila.
"Turut berduka cita sedalam-dalam nya Mas Arga." ucap Laila kepada Arga.
"Terimakasih Laila." jawab Arga.
__ADS_1
Arga meminta semua para penghuni yang berada di mansion ini untuk berkumpul.
Setelah semua nya pada berkumpul.
"Maaf jika saya mengganggu waktu kalian, saya atas nama cucu Nenek Desita, meminta maaf sedalam-dalam nya, jika selama ini Nenek saya ada berkata kasar, atau membuat kalian kecewa.
"Kini beliau sudah tenang di alam sana, dan teruntuk semua nya setelah ini saya minta kepada Andi untuk mengurus semua nya." ucap Arga.
"Kenapa aku? kan kamu cucu Nenek." jawab Andi.
"Maaf Andi aku tidak bisa, aku sudah lebih nyaman berada di Desa, dimana nanti nya aku ingin anak ku berada di lingkungan yang penuh kesederhanaan! bukankah kita saudara! jadi ini adalah hak mu juga, untuk anak dan istri kamu kedepannya." ucap Arga.
Andi mendekat ke arah Arga, dan Andi langsung memeluk tubuh Arga.
Selama ini Andi memang sangat dekat dengan Arga, mereka berdua selalu saling ada di saat susah dan senang.
"Terimakasih Arga, aku tak tau harus membalas kebaikan mu dengan apa?" jawab Andi.
"Tidak perlu balasan! Jagalah ini semua, dan bangunlah semampu kamu, dan rajinlah beramal dengan harta ini, setidaknya kita membantu mengurangi dosa Nenek dan Kakek." ucap Arga.
Setelah semua nya pada berkumpul, Arga berpamitan kepada semua orang yang ada di rumah ini, untuk segera pulang ke Desa.
Karena Arga mendapat kabar, bahwa anak buah nya memerlukan Arga di cafe.
Walaupun Andi tidak setuju, namun Arga tetap kekeh dengan kemauannya.
Sedangkan Heny masih tinggal di mansion.
__ADS_1
Heny akan pulang ke Desa, setelah tujuh hari wafat nya Desita.