Nara

Nara
Jati Diri Arga Sebenarnya


__ADS_3

Saat pagi hari, Nara mendorong kursi roda Arga sampai ke meja makan.


Di sana sudah di tunggu oleh Desita.


"Pagi nek," ucap Arga menyapa Desita.


"Iya pagi juga, nyenyak tidur nya.?"


"Kurang nyenyak nek, semalaman penuh aku minta Fara untuk memijat kaki ku,!" bohong Arga.


"Wah ternyata kamu bisa mijet juga.?"


"Sedikit nyonya."


"Nek, dari kemaren kenapa aku tidak lihat Andre, kemana dia,?" ucap Arga mengalihkan pembicaraan nenek nya dengan Fara.


Deggggggg


Tiba-tiba mulut Desita terasa kelu, saat pertanyaan Arga yang mulai ingin bertanya lebih jauh.


"Andre sedang pulang kampung."


Kata-kata itulah yang akhirnya keluar dari mulut Desita.


Berapa banyak lagi kebohongan yang akan keluar dari mulut Desita.


"Maap nek, hari ini aku mau pergi ke kantor," sudah lama aku tidak melihat keadaan kantor.


Tiba-tiba muka Desita kembali terlihat sangat pucat.


Entah apa yang akan terjadi jika Arga bertemu dengan Andre nanti nya.


"Sebaiknya kamu istirahat saja,!" bukankah kamu baru sembuh dari sakit.


"Aku akan pergi bersama Fara nek, jadi dia akan selalu menjaga aku, ucap Arga.


Setelah selesai sarapan pagi nya, Arga memutuskan untuk segera pergi bersama Nara.


Bukan pergi ke kantor, melainkan Arga mengajak Nara ke suatu tempat, dimana yang akan memperlihatkan jati diri nya.


"Bos kita ke kantor apa mau ke suatu tempat,?" ucap Andi yang sekarang menjadi supir mobil Arga.


"Kita ke tempat biasa nya saja.!"


Setelah Andi mengetahui tujuan mereka sekarang, Andi tidak banyak bertanya lagi kepada Arga.


Setelah satu jam di perjalanan, akhirnya Andi, Arga, dan Nara sampai di sebuh warung sederhana yang menjual nasi uduk dan lalapan.


Andi dan Arga langsung turun dari mobil nya, dan menuju masuk ke dalam warung makan tersebut.


"Permisi bu, pesan nasi uduk nya 200 bungkus ya.!"


"Eh si aden," ucap ibu tersebut yang mengenali Andi dan Arga.

__ADS_1


Sedangkan Nara hanya diam saja melihat interaksi mereka bertiga yang sangat saling mengenal.


Tidak memakan waktu lama pesanan nasi uduk nya sudah selesai, dan Arga memberi uang kepada penjual tersebut dan segera meninggalkan tempat warung itu.


Namun Nara masih diam, tidak juga ingin bertanya untuk apa nasi tersebut.


Setelah mereka bertiga sampai di tempat lampu merah, tiba-tiba Arga turun sendiri dan membawa satu kantong besar nasi uduk.


Dari arah yang berbeda, tiba-tiba segerombolan anak-anak kecil, orang dewasa dan orang tua yang adalah pengemis, dan pemulung, ikut mengejar saat Arga turun dari mobil.


"Ayo kita turun juga, apa kamu masih mau dalam mobil,?" ucap Andi.


"I-iya kak," ucap Nara yang merasa panik.


Andi dan Nara, juga membawa beberapa kantong pelastik yang berisi nasi uduk, dan membagikan nya kepada para pengemis dan pemulung tersebut.


'Seperti nya mereka sudah saling kenal,' batin Nara.


Selain memberikan nasi uduk tersebut, Arga juga memberikan anflok yang sudah dia isi dari rumah.


Setelah selesai berbagi-bagi kepada anak-anak dan orang tua jalanan.


Andi, Arga, dan Nara kembali menuju mobil nya, untuk melanjutkan lagi perjalanan mereka.


Nara juga masih terdiam, tidak ingin bertanya apa-apa terkecuali Arga yang menjelaskan nya sendiri.


Tidak lama setelah beberapa menit, akhirnya mobil yang mereka tumpangi berhenti kembali di sebuah bangunan tidak terlalu besar, namun cukup nyaman dan membuat betah saat berada di tempat ini.


"Kakak Arga, kakak Andi," ucap beberapa orang anak kecil yang pergi berlari menghampiri Arga dan Andi bersamaan.


"Kami kangen sama kakak."


"Kakak juga sangat kangen kepada kalian," ibu mana.?


"Ibu ada di sini nak Arga," ucap seorang wanita paruh baya, yang datang dan menghampiri Arga dan Andi.


Arga dan Andi bersalaman kepada ibu paruh baya tersebut, dan Nara juga melakukan hal yang sama.


"Tumben kalian datang kesini membawa perempuan cantik,?" ucap ibu paruh baya tersebut.


"Kenalkan bu, dia istri saya,!" nama nya Nara, dan Nara ini ibu Fatimah penjaga panti asuhan ini.


Nara dan ibu Fatimah saling bersalaman, mengenalkan diri mereka masih-masing.


"Istri,?" ucap Fatimah yang merasa bingung.


Arga menjelaskan semua nya kepada ibu Fatimah, dan juga menjelaskan tentang perpisahan nya dengan ke dua istri nya, dan akan segera menceraikan juga istri satu nya lagi.


Dan Arga juga menceritakan awal pertemuan nya dengan Nara, dan berakhir pernikahan.


"Mungkin ini adalah cara Allah untuk menemukan jodoh mu yang sebenarnya nak," ucap Fatimah kepada Arga.


"Iya bu, dan doa kan agar rumah tangga kami selalu bahagia," jawab Arga.

__ADS_1


"Doa ibu selalu menyertai mu nak," yang terpenting selalu bersyukur dan jangan pernah berubah , tetaplah seperti Arga yang dulu dan sekarang.


"Iya bu, terimakasih untuk saran dan doa nya."


Fatimah kembali melihat ke arah Andi yang sendari tadi juga hanya mendengarkan pembicaraan mereka.


"Kamu juga kapan menikah, jangan lama-lama sendiri nya,!" ucap ibu Fatimah.


"Iya bu, rencana nya jika masalah Arga sudah selesai," aku juga akan mencari teman hidup ku, jawab Andi.


"Yakin lo tahan,?" ejek Arga kepada Andi.


"Lah gue kan sahabat terbaik lo, gue mau masalah lo cepat selesai,!" dan gue akan membantu seperti rencana kita dari awal, ucap Andi kepada Arga.


Arga dan Andi saling berpelukan.


Dan pemandangan itu tak luput dari penglihatan Nara.


Arga dan Adi yang biasa nya terlihat sangat tegas dan dingin, ternyata mempunyai sifat hangat dan saling memperdulikan.


***


Dari pagi sampai siang, Siska selalu muntah-muntah, kepala nya terasa sangat sakit dan pusing.


Berasa diri nya berputar-putar.


Tidak lama setelah itu Siska terjatuh dan tidak sadarkan diri.


beberapa menit kemudia Mariam yang berniat untuk meberikan makanan dan obat buat Siska, di buat terkejut saat tidak menemui Siska yang berada di dalam kamar.


Mariam kembali mencari ke dalam kamar mandi, dan betapa terkejutnya saat Mariam melihat Siska yang terkapar di lantai kamar mandi yang terllihat pucat dan tidak sadarkan diri.


Mariam berlari ke arah luar dan mencari pertolongan.


Setelah Mariam menemukan beberapa penjaga rumah tersebut dan cepat-cepat pergi ke arah kamar Siska, untuk membantu membawa Siska ke rumah sakit.


Tidak lupa juga, Mariam menelepon Tora agar cepat-cepat pergi ke rumah sakit dan mengatakan bahwa Siska pingsan di dalam kamar mandi.


Tora yang sibuk dengan rapat meeting nya, terkejut saat mendapat kabar dari Mariam, bahwa anak semata wayang nya pingsan di dalam kamar mandi.


Cepat-cepat Tora menunda rapat meeting tersebut dan segera pergi menemui Siska.


Walaupun Tora sedikit keras kepala, namun rasa sayang nya kepada anak semata wayang nya itu, tidak pernah berubah.


Setelah ibu Siska meninggal, sampai sekarang Tora tidak pernah lagi mengenal yang nama nya wanita, walaupun banyak yang mencoba menggoda Tora, namun hati nya tidak pernah goyah.


Bagi Tora kebahagiaan Siska adalah kebahagiaan nya juga.


Namum sikap nya berubah saat kesalahpahaman itu terjadi kepada Diat orang tua Arga.


Sampai sekarang yang ada hanya ke bencian dan ingin balas dendam, sehingga menjadikan Siska sebagai alat pembalas dendam nya.


Dengan menjodohkan Siska dengan Arga, sehingga memudahkan nya untuk menghancurkan keluarga Diat.

__ADS_1


Maapkan author yang baru bisa up gaes 🤭🤭


__ADS_2