
Sore harinya cuaca sangat tidak mendukung, hujan di luar sana sangat deras. Sehingga membuat Dewi terjebak untuk segera pulang.
Sebenarnya Dewi sudah berjanji kepada adiknya untuk pulang tepat waktu. Dewi juga tidak bisa menerjang derasnya hujan sehingga Dewi memutuskan untuk bertahan di cafe tersebut.
Namun dari kejauhan Dewi tidak menyadari kalau Arga, sedari tadi memperhatikan dari kejauhan. Arga, sangat merasa kasihan dengan keadaan Dewi saat ini.
Dewi memiliki adik yang saat ini sedang sakit-sakitan. Sedangkan Ibunya sudah tua dan juga sering tidak sehat.
Arga berjalan menghampiri Dewi yang saat itu berdiri di depan kaca untuk menunggu hujan reda. "Apa yang kamu lihat? Hujan di luar tidak akan berhenti.
"Iya tuan saya sangat berharap jika hujan di luar sana akan segera berhenti. Karena saat ini saya sudah memiliki janji kepada adik saya untuk segera pulang. Namun ternyata saya mengingkari janjinya," jawab Dewi dengan perasaan sangat sedih.
"Tunggulah hujan sedikit reda, nanti akan aku antar kamu pulang," ucap Arga.
"Jangan tuan, saya bisa pulang sendiri. Saya tidak enak dengan yang lainnya. Mereka pulang sendiri-sendiri dan menerjang hujan deras, namun saya merasa enak-enakan diantar tuan.
"Tenang saja tidak usah merasa tidak enak hati. Sebab mereka pulang rela hujan-hujanan karena mereka semua memiliki pasangan. Sedangkan kamu siapa yang ditunggu? Angkot pun tidak akan ada yang lewat dalam keadaan hujan lebat seperti ini
"Baiklah Tuan semoga hujannya cepat berhenti," jawab Dewi.
10 menit menunggu, akhirnya hujan sedikit reda. Arga mengambil kemejanya dan menutup pintu cafe. Saat ini hanya mereka berdua yang berada di cafe itu.
Ini adalah pertama kalinya Dewi menaiki mobil mewah, sebelumnya Dewi hanya merasa bermimpi Agar suatu saat ada seorang laki-laki yang mengantarkan dirinya pulang menaiki mobil. Namun hari ini Semua menjadi kenyataan.
Sebelum pulang Arga mampir ke sebuah toko kue. Arga turun dari mobil, menggunakan payung. Tak lupa Arga juga mengajak Dewi untuk turun agar tidak menunggu terlalu lama berada di dalam Mobil.
__ADS_1
Dewi menurut saja apa yang diperintahkan oleh Arga, baginya Itu semua tidak membuat dirinya rugi.
Dewi meneguk salivanya dalam-dalam melihat berderetan macam-macam kue dan rasanya terlihat sangat enak sekali. Hal itu dapat Arga lihat jika saat ini Dewi sangat menginginkan kue. namun Dewi tidak berani untuk mengatakannya itu.
Setelah selesai membeli beberapa kue Arga, mengajak Dewi untuk segera keluar dan masuk ke dalam mobil. Hingga mobil melaju dengan kecepatan sedang. Hujan masih sangat deras sehingga Arga tak berani laju-laju.
Tidak beberapa lama akhirnya Arga dan juga Dewi, sampai di depan rumah, yang tak begitu besar. Rumah sederhana dan terlihat bangunan sangat tua.
Dewi mengajak Arga untuk masuk ke dalam rumahnya karena cuaca kembali hujan deras lagi. "Masuk dulu Tuan, akan aku buatkan teh hangat. karena Tuan terlihat juga dalam keadaan basah," ucap Dewi kepada Arga.
Arga tidak menolak dan masuk ke dalam mengikuti Dewi dari belakang.
"Assalamualaikum Ibu, maaf Dewi pulang terlambat. di luar hujan sangat deras sehingga tidak dapat mencari angkot," ucap Dewi yang meminta maaf pada ibunya.
"Tidak apa-apa Ibu, mengerti sekali ini siapa Dewi," tanya Tuti kepada Dewi.
Setelah itu Dewi meninggalkan ibunya dengan Arga yang masih berada di ruang tamu. Dewi masuk ke dalam untuk membuatkan Arga teh hangat serta mengambilkan handuk agar sedikit memberi kehangatan di tubuh Arga.
"Kenalkan Bu, nama saya Arga, Bos nya Dewi. Maaf saya terlambat mengantar Dewi, karena diluar hujan sangat deras," ucap Arga, yang merasa tak enak hati.
"Justru saya sangat berterima kasih, sudah mau mengantarkan Dewi, pulang dengan selamat. Maaf tuan Arga rumahnya sangat kecil, maklumlah rumah tua."
"Tidak apa-apa Ibu, ini lebih baik daripada tidak memiliki tempat berteduh sama sekali," jawab Arga.
Tidak lama setelah itu Dewi datang yang membawakan teh hangat beserta handuk untuk Arga saat ini.
__ADS_1
"Ini Tuan hangatkan dulu tubuhmu! Dengan teh hangat. ini juga handuk untuk mengurangi sedikit basah baju tuan," ucap Dewi kepada Arga.
"Terima kasih Dewi," jawab Arga.
Tak terasa Arga sudah sangat lama berada di rumah, hujan di luar semakin deras tidak ada tanda-tanda berhenti turunnya hujan. Apalagi hujan beserta badai yang kemungkinan sulit sekali menembus pandangan jalan.
Dewi merasa sangat ragu untuk menawarkan kepada Arga, untuk malam ini, nginep di rumahnya. Namun Dewi merasa tak tega jika dalam keadaan seperti ini Arga harus pulang.
"Maaf tuan kalau saya lancang. Tapi keadaan di luar sana sangat deras, apalagi disertai dengan badai. Aku dengar tadi dari tetanggaku bahwa di perempatan jalan yang kita lewati tadi ada sebuah Pohon tumbang. Jika tuan tidak keberatan aku ingin menawarkan malam ini menginap dulu di tempatku. Besok pagi tuan bisa pulang," ucap Dewi kepada Arga.
Apa yang dikatakan oleh Dewi memang benar. saat ini dirinya tidak dapat menerjang arus hujan sehingga tidak membutuhkan waktu lama Arga mengiyakan permintaan dari Dewi untuk menginap sementara malam ini.
"Terima kasih Dewi, sudah mau memberi tumpangan untuk malam ini," ucap Arga.
"Sama-sama tuan."
Dewi mengajak Arga untuk menuju ke dalam kamarnya, sebab tidak mungkin Dewi membiarkan Arga tidur di ruang tengah.
"Maaf tuan kamarnya sangat kecil, Apalagi aku tidak memiliki kasur seempuk milik Tuhan di rumah. Tapi aku harap malam ini Tuan dapat tidur dengan nyenyak," ucap Dewi kepada Arga.
"Terima kasih Dewi, ini semua sangat cukup buat diriku, tidak perlu berpikir aneh-aneh, aku tidak pernah memandang seperti itu yang kamu pikirkan."
Sebelum tidur Arga memutuskan untuk membersihkan dirinya. Karena tidak memiliki pakaian untuk berganti baju, Dewi memberikan pakaian almarhum ayahnya.
"Semoga ini muat ya Tuan, karena aku tidak memiliki baju laki-laki di rumah ini, selain pakaian almarhum ayahku," ucap Dewi.
__ADS_1
Perlakuan Dewi kepada Arga, sangat baik. Dewi sangat memperhatikan kesehatan Arga, karena Arga lumayan basah. Itu semua karena dirinya.