
Suapan, demi suapan Adit lakukan. Namun tetap saja dalam Makannya Adit selalu teringat akan Masakan buatan Tiara.
Ingin bertanya kepada Bi Darmi, ada rasa tak enak hati. Karena ini sudah malam, Adit tidak ingin mengganggu orang yang sudah beristirahat.
Ingin sekali menghubungi nomor Ponsel Tiara, namun sayang nya Adit tak memiliki.
'Aku yakin sekali, jika ini adalah masakan Tiara. Tapi Tiara nya dimana? Apakah Ibu berbohong bahwa Tiara bukan pulang Kampung, melainkan dipindah ketempat ini. Tapi buat apa Ibu memindah Tiara? Bukankah Tiara tidak memiliki salah.' Batin Adit, yang sangat berperang dengan pikirannya sendiri.
Setelah selesai makan. Adit mencuci Piring bekas dirinya makan. Namun Adit kembali dibuat penasaran, saat mendengar suara seseorang sedang batuk, hingga berulang-ulang kali.
Hal itu membuat Adit semakin yakin, jika di Villa ini ada seseorang. Dan keyakinan Adit, sangat berharap jika itu adalah Tiara, bukan orang lain.
'Masa iya Tiara ada di Villa ini? Terus kalo bukan Tiara siapa lagi? Kenapa Ibu memperbolehkan orang lain masuk kedalam Villa.' Batin Adit, yang semakin bersangka-sangka buruk.
Saat Adit tiba di depan Kamar, yang sedang ditempati Tiara. Tiba-tiba ada seseorang yang sedang mengigau memanggil nama Ibu, berulang-ulang kali. Hingga Adit sangat yakin, jika di dalam sana Adalah Tiara, bukan orang lain.
Saat Adit ingin membuka Handel Pintu, Pintu tersebut ternyata tidak terkunci. Membuat Adit, semakin leluasa untuk bisa segera masuk dan menyakinkan jika didalam itu memang benar-benar Tiara, bukan orang lain.
Adit terperangah, saat benar-benar melihat sosok yang beberapa hari ini dia Rindukan. Sosok yang mampu membuat Adit, berharap jika memang harus menikah, maka Adit ingin meminta kepada Ibu nya, bahwa sosok Tiara lah yang dia inginkan.
Adit berjalan mendekat ke arah Ranjang, yang saat ini Tiara Tiduri.
Sedangkan Tiara merasakan tubuhnya sangat lemas, bahkan untuk sekedar membuka Mata saja, rasanya sangat tidak mampu sekali.
Saat Adit mulai ingin membangunkan Tiara, tiba-tiba tubuh Tiara menjadi menggigil. Adit cepat-cepat menyentuh dan ternyata saat ini Tiara sedang kena Demam tinggi.
"Tiara.. Tiara… Tolong bangun dulu!" Ucap Adit, yang mencoba untuk membangunkan Tiara.
Hingga beberapa kali Adit membangunkan, perlahan Mata Tiara terbuka. Dan tatapan Sayu, yang pertama kali Adit lihat.
"Tuan, apakah benar ini Anda? Aku tidak sedang bermimpi kan, Tuan?" Tanya Tiara, yang masih belum sadar, jika saat ini yang sedang bersama dirinya memang benar-benar Majikan nya.
"Iya Tiara, ini memang benar aku Aditya. Kamu Demam Tiara, biar aku bawa ke Rumah Sakit ya." Pinta Adit, kepada Tiara. Karena Adit sangat khuatir dengan keadaan Tiara saat ini.
"Aku tidak apa-apa Tuan, Jangan khuatirkan aku. Istirahat sebentar juga akan sembuh Tuan." Jawab Tiara, yang masih dalam keadaan sangat lemah.
__ADS_1
Tidak ingin Tiara, sakit parah. Adit segera pergi ke Dapur untuk mengambil Air Kompres, agar suhu panasnya segera menurun.
Tidak membutuhkan waktu lama, Adit datang dengan membawa Beskom kecil yang berisi Air Hangat untuk mengkompres Kening Tiara.
"Maaf Tuan, aku sudah merepotkan mu." Ucap Tiara dengan tulus kepada Adit.
"Tidak apa-apa Tiara, yang penting kamu cepat sembuh. Karena saat ini hanya ada kita berdua sehingga, aku harus merawat kamu sampai sembuh." Jawab Adit. Padahal ini hanya akal-akalan Adit saja, agar dirinya bisa dekat dengan Tiara.
Entah kenapa Adit merasa ingin sekali memiliki Tiara. Walaupun saat ini tidak ada cinta, namun perasaan nyaman itu seketika tumbuh, saat Tiara merawat dirinya yang sedang sakit.
"Tiara, apakah saya boleh bertanya?" Ucap Adit kepada Tiara.
"Silahkan Tuan, mau bertanya apa?" Jawab Tiara.
"Bagaimana bisa kamu berada di sini? Apalagi kamu tidak berpamitan kepada Saya." Ucap Adit, sesuatu yang menjadi pikirannya dari tadi, membuat dirinya merasa lega, jika Tiara bisa menjawabnya.
"Saya tidak tahu Tuan, Ibu Arini meminta saya untuk bekerja di sini. Walaupun saya juga merasa bertanya-tanya. Namun karena ini adalah tugas saya, apa boleh buat Tuan. Karena pagi-pagi sekali saya dipinta Ibu untuk segera berkemas dan saat itu juga saya ingin berpamitan kepada Tuan, tapi kata Ibu, biarkan Ibu saja yang memberi tahukan." Jawab Tiara dengan jujur.
"Apakah kamu betah di sini Tiara?" Tanya Adit kepada Tiara.
Adit terdiam saat Tiara mengatakan tidak betah karena tidak adanya Ziel di sini. Adit merasa sangat senang, ada yang benar-benar sayang kepada Ziel.
"Yasudah istirahat dulu! Saya tinggal sebentar ya, saya akan kembali lagi kesini untuk menemani kamu." Ucap Adit, dan langsung meninggalkan Tiara sendirian.
Di lain tempat.
"Ibu, bagaimana kalo Tuan Adit, tidak lagi pulang? Kasihan kan Bu, Den Ziel." Ucap Ayu, yang merasa gelisah, sebab Ayu sempat mendengar ucapan Adit sebelum meninggalkan tempat pemilihan Sayembara tadi.
"Dia sudah dewasa! kemanapun dia mau, saya sebagai orang tua tidak akan melarang, siapa tahu Adit, menemukan jodoh nya di sana." Jawab Arini, yang merasa kurang suka dengan pertanyaan oleh Ayu.
Sebab Arini, mengetahui bahwa Ayu, juga memiliki perasaan kepada Adit. Arini sangat mengetahui sipat-sipat Asisten Rumah Tangga nya itu.
"Den Ziel, tidak apa-apa Ibu?" Ucap Ayu yang mencoba bertanya lagi. Sebab Ayu, belum mendapatkan jawaban yang menurut dirinya merasa puas.
"Buat apa kamu mengurusi keluarga kami? Ziel itu dari kecil sudah bersama dengan saya! Jadi tanpa Adit dia sudah terbiasa." Jawab Arini yang merasa sikap Ayu, sudah berlebihan.
__ADS_1
"Maaf Ibu, kalau begitu saya pamit undur diri dulu." Ucap Ayu, yang tidak ingin jika membuat masalah kepada Majikannya itu.
"Iya silahkan." Jawab Arini.
Setelah Ayu pergi. Tiba-tiba Ziel datang menghampiri Arini, yang masih terlihat sedang ngomel-ngomel.
"Nenek kenapa? Kenapa Nenek marah-marah kepada Bibi Ayu." Tanya Ziel, yang melihat muka Nenek nya seperti orang yang lagi marah.
"Tidak apa-apa, Nenek hanya kesal saja. Apakah kamu mau telepon Bibi Tiara?" Ucap Arini kepada Ziel.
"Boleh Nenek." Jawab Ziel, yang merasa sangat senang sekali.
Saat Ziel dan juga Arini, sudah berada di dalam kamar. Arini mulai menghubungi nomor telepon Tiara.
Saat Arini mulai menghubungi Tiara, namun Tiara tak kunjung mengangkat panggilan telepon tersebut. Hingga Telepon ke Lima, akhirnya sambungan terhubung dengan suara seorang Laki-laki.
"Ada apa Ibu?" Ucap Adit, yang sedang mengangkat sambungan Telepon dari Ibu nya.
"Adit, apakah itu kamu? Kenapa kamu bisa ditempat Tiara?" Tanya Arini, yang merasa sangat bingung.
"Seharusnya aku yang bertanya kepada Ibu, kenapa Tiara, jadi Ibu pindah ke Villa? Bukankah selama ini kerja Tiara bagus disana." Tanya balik Adit, kepada Ibu nya.
"Ibu, punya alasan Adit. Biarkan saja Tiara disana, dan Ibu harap jangan sampai ada yang mengetahui keberadaannya." Jawab Arini, yang membuat Adit merasa semakin bingung.
"Kenapa Ibu, bisa berpikir seperti itu? Apakah ada sesuatu yang Ibu sembunyikan." Ucap Adit kepada Ibu nya.
"Nanti akan Ibu jelaskan, Sekarang Ibu mau tahu, mana Tiara dan kenapa jadi Handphone Tiara ada di kamu." Tanya Arini.
"Tiara sedang sakit, jadi aku yang membantu untuk merawat dirinya." Jawab Adit.
"Baiklah, tolong jaga dia! Ibu tutup dulu sambungannya." Ucap Arini.
"Baik Ibu, Selamat Malam, tolong jaga Ziel ya Ibu." Pinta Adit.
"Baik Adit."
__ADS_1