
Bab 100
Kemelut Di Rumah Sakit
(POV Author)
Nuning duduk disamping ranjang pasien. Ia terus menatap Almira yang tampak tertidur dengan tangan yang terinfus. Setidaknya masa kecemasan sudah lewat, meski Almira masih memejamkan matanya.
Nuning mengusap-ngusap lembut tangan mungil itu. Tidak dapat ia bayangkan bagaimana sakitnya balita itu menghadapi kejang-kejang seperti tadi.
"Kamu sudah sarapan Ning?" Tanya Fandi yang sedari tadi duduk di sofa sambil memainkan ponsel pintarnya untuk menjadwalkan ulang rencana kerjanya hari ini yang terpaksa harus di pending karena mengurus Almira.
"Sudah Pak. Bapak belum sarapan? Apa mau saya pergi belikan?"
"Tidak usah. Kamu tolong jaga saja Almira sebentar ya. Cepat kabari kalau terjadi apa-apa."
"Baik, Pak."
Fandi lalu keluar ruangan mencari kantin Rumah sakit untuk sarapan sejenak sambil mengurus pekerjaan lewat ponsel pintarnya.
Nuning kembali menatap Almira. Balita yang tidak dapat merasakan kasih sayang Ibunya itu membuat hati Nuning terenyuh. Perlahan ia mengusap kepala Almira lalu mendaratkan ciumannya ke kening balita itu.
Nuning berjanji dalam hatinya, akan mengasuh Almira dan membesarkan balita itu sebaik-baiknya jika ia terus di beri kepercayaan untuk mengasuh balita itu.
"Tak.. Tak... Tak.. Tak..."
Suara ketukan heels beradu di lantai ruangan itu membuat Nuning menoleh kepada wanita yang berjalan mendekati ranjang Almira. Nuning cukup dibuat terkejut melihat siapa yang datang dan tersenyum sinis padanya.
"Non Siska?"
"Minggir kamu! Aku mau duduk." Perintahnya.
Nuning segera berdiri dan sedikit memberi ruang pada Siska yang mungkin datang ingin menjenguk Almira.
Siska hanya mengamati sekilas Almira, tanpa bertanya balita itu sakit apa. Kemudian ia mengeluarkan ponselnya lalu berselfi dengan Almira yang masih terbaring lemah.
Siska ngetikkan sesuatu di layar ponselnya sambil tersenyum, baru lah setelah itu ia beranjak dan berpindah duduk di sofa.
"Belikan aku jus mangga, aku ingin sekali minum jus itu." Perintah Siska yang tetap asik memainkan gawainya tanpa sedikitpun menoleh Nuning.
Nuning menghela napas. Ia pun hendak beranjak meninggalkan ruangan itu. Namun ia teringat kembali pesan Fandi untuk menjaga Almira, Nuning jadi mengurungkan niatnya membelikan jus untuk Siska.
Mengingat bagaimana Siska yang tidak terlalu peduli mengurus Almira. Nuning tidak mau terjadi apa-apa dengan Almira dan tentunya ia akan merasa bersalah dengan Fandi kalau sampai terjadi sesuatu hal pada Almira karena keteledorannya.
Nuning mendudukan dirinya di kursi dekat ranjang Almira. Ia mencoba mengirimkan pesan kepada Fandi tentang apa yang Siska minta.
Nuning : Maaf Pak, Non Siska ada disini. Dia meminta saya untuk pergi membeli Jus mangga. Apa boleh saya meninggalkan Almira sebentar?
Detik berganti menit, pesan Nuning belum juga di balas oleh Fandi. Hanya centang abu-abu berganti biru saja tanda pesan itu telah di baca.
" Kok belum gerak juga kamu?! Dasar pemalas!" Sarkas Siska menatap tajam Nuning karena permintaannya belum di turuti.
"Sebentar Non, saya menunggu balasan pesan dari Bapak."
Siska mendadak berdiri dan menatap tajam Nuning.
"Lancang kamu bertukar pesan dengan majikanmu!!"
__ADS_1
Siska tampaknya tidak senang dengan apa yang baru saja ia dengar. Ia pun berjalan mendekat dan merampas gawai milik Nuning yang sedang di pegang oleh wanita itu.
Nuning tersentak. Ia tidak menyangka Siska akan berbuat kasar seperti itu.
"Non....."
"Diam kamu!!"
Nuning tidak jadi meneruskan kata-katanya. Ia hanya bisa pasrah melihat Siska mengutak-atik gawainya.
"Oh, jadi kamu yang selalu melapor ternyata! Maumu apa huh?!!"
"Aww!!"
Nuning kesakitan karena Siska tiba-tiba menjambak jilbab yang di kenakannya hingga anak-anak rambutnya mulai terlihat.
"Non, jangan Non! Saya minta maaf..."
"Enak saja sudah berbuat baru minta maaf!! Begini nih kelakuan pembantu dikasi hati minta jantung!!"
"Ampun Non, saya bukan ingin mengadu. Tapi Bapak selalu minta untuk di laporkan apa saja yang terjadi di rumah. Awww!! Sakit Non, tolong lepaskan..."
Nuning mulai meringis kesakitan karena jarum pentul yang mengikat jilbabnya menggenai dagu bagian bawahnya.
"Rasakan ini!!"
Bukannya melepaskan, Siska semakin menjadi menarik jilbab Nuning hingga jilbab itu nyaris saja terlepas dan memperlihatkan rambut Nuning.
Tidak hanya itu, Siska juga membanting gawai milik Nuning ke lantai hingga gawai itu pecah berderai.
Kerumunan orang-orang yang berada di depan pintu ruangan mengundang perhatian Fandi yang menyusuri jalan di lorong Ruma Sakit hendak menuju kamar anaknya dirawat. Iya semakin mempercepat langkahnya manakala mendengar suara jeritan Nuning dan juga Siska yang saling beradu dalam ruangan terdengar di telinganya. Fandi mencoba menerobos kerumunan itu dan segera melangkah masuk ke dalam ruangan.
"Apa-apaan ini?! Hentikan Siska!!" Perintah Fandi ketika melihat keduanya sudah saling jambak.
Langkah jenjang kaki Fandi menghampiri mereka lalu melerai mereka berdua. Fandi menarik Siska dan mencoba melepaskan tangannya dari jilbab Nuning.
Sebelum akhirnya Fandi berhasil memisahkan mereka, Siska lebih dulu berhasil menarik jilbab Nuning hingga rambut hitam panjang bergelung itu terlihat sempurna.
"Plakk!!"
"Kamu!!"
Ternyata Nuning tidak tinggal diam jilbabnya di buka paksa. Ia mendaratkan tamparan di pipi Siska karena wanita itu telah membuka auratnya.
Tampak Nuning menahan emosinya hingga raut wajahnya memerah. Nuning hanya diam dan menatap Siska dengan tajam.
Fandi yang melihat itu segera melepaskan jasnya dan menutupkannya di kepala Nuning. Tentu saja hal itu semakin membuat Siska berang dan mencoba kembali mendekati Nuning untuk menyakiti wanita itu.
Tubuh Siska ditahan oleh Fandi yang memegang kedua lengannya. Cengkeraman yang begitu kuat hingga cukup membuat Siska meringis minta dilepaskan.
"Lepaskan Mas! Sakit!"
Siska terus memberontak agar terlepas dari cengkeraman Fandi. Tapi tetap saja usahanya itu sia-sia karena ia kalah tenaga dari Fandi.
"Eheg.. Eheg... Ooeekkk... Oeekkk!!"
Almira terbangun. Nuning segera menghampiri balita itu dan mengecek suhu tubuhnya dengan punggung tangannya. Di susul ekor mata Fandi yang melihatnya.
__ADS_1
Nuning menghela napas lega karena sepertinya Almira hanya terbangun karena keributan yang sedang terjadi.
Fandi yang melihat laut wajah Nuning nampak lega ikut merasa tenang.
"Rapikan dulu jilbab mu Ning."
"Baik, Pak."
Nuning memungut jilbabnya yang terjatuh di lantai oleh Siska. Ia pun segera ke kamar mandi di dalam ruangan itu untuk mengenakan lagi jilbabnya. Fandi melepaskan Siska, lalu Ia pun mendekati anaknya untuk mengecek keadaan Almira. Sedangkan Siska, wanita itu kesal, bersungut dan menggerutu melihat Fandi begitu memperhatikan Nuning.
"Krekk!!"
Tanpa sengaja Fandi menginjak sesuatu dilantai. Ia melihat kebawah dan baru menyadari telah menginjak smartphone milik seseorang. Fandi melihat ada beberapa pecahan casing ponsel itu juga bertebaran di di sekitar. Ia berasumsi bahwa ponsel itu telah lebih dulu dibanting oleh seseorang.
Siska kembali duduk di sofa dengan santainya. Ia merasa tidak bersalah telah membanting ponsel pintar milik Nuning.
Fandi meraih handphone itu dari kakinya. Ia membolak-balikkan handphone, mengamati ciri benda pipih itu dan mencari tahu milik siapa ponsel yang telah hancur itu.
"Maaf Pak, bisa saya minta handphonenya milik saya Saya ingin mengambil SIM card-nya." Ujar Nuning yang telah selesai mengenakan jilbabnya kembali.
"Ini milikmu?" Tanya Fandi meyakinkan asumsinya jikalau handphone itu telah dihancurkan oleh Siska.
"Iya Pak."
Fandi membuang nafas kasar lalu melihat tajam ke arah Siska yang begitu santai tidak mengubris percakapan keduanya malah asik berselancar ria dengan gawainya meski raut kesal di wajahnya belum juga pudar.
"Mau apa kamu kesini?" Tanya Fandi datar terhadap Siska.
"Aku mau jenguk ponakanku yang akan menjadi anak sambungku nantinya."
Fandi bergerak menuju pintu ruangan. Ia baru tersadar bahwa masih ada orang-orang yang melihat perdebatan mereka. Setelah menutup pintu, Fandi menoleh lagi ke arah Siska dan memandang tajam wanita itu.
"Rupanya kamu masih belum bisa membedakan mana kenyataan dan mana hanya angan belaka. Lebih baik kamu pulang, Almira pun tidak membutuhkan kehadiranmu di sini karena sudah ada pengasuhnya. Nuning."
Siska mengepalkan kedua tangannya hingga kuku-kukunya memutih.
"Aku tidak akan pulang jika kalian hanya berdua saja di sini!" Jawab Siska sambil melirik sinis ke arah Nuning.
"itu bukan urusanmu cepat pulang atau ku seret paksa kau keluar!!"
"Seret saja, aku tidak takut! Karena kamu tidak akan berani, aku tahu kamu pasti menyayangiku. Apalagi di dalam rahimku ada bayimu, calon bayimu Mas!"
Merasa di tantang kali ini Fandi tidak tinggal diam. Sedari tadi ia mencoba menahan tapi rupanya Siska berhasil nenyulut api dalam dirinya. Fandi mengambil langkah lebar, mencengkram lengan Siska lalu menyeretnya keluar dari ruangan itu.
"Lepaskan aku Mas?! Kamu jangan kasar! Aku sedang mengandung anakmu."
Fandi tidak memperdulikan ucapan Siska, Ia terus memaksa Siska untuk keluar, menyeret wanita itu seperti menyeret kambing untuk masuk ke dalam kandang.
"Tega kamu Mas! Aku sudah mengandung anakmu. Lepaskan aku Mas, sakit...! Lepaskan tanganku!"
Mendekati pintu tubuh Siska sedikit didorong agar berhasil mengeluarkan wanita itu dari ruangan. Siska terhuyung dan segara membalikkan tubuhnya menatap Fandi dengan rasa kecewa sekaligus marah dalam hatinya.
"Awas saja kamu Mas!!"
Fandi tidak peduli dengan ancaman Siska. Ia pun segera menutup pintu ruangan kamar VIP anaknya.
Bersambung...
__ADS_1