Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 52 Insiden Yang Di Sengaja


__ADS_3

Bab 52


Insiden Yang Di Sengaja


(POV Author)


Para tetangga berkumpul mendengar jeritan Bu Yarsih yang sudah mirip toa. Semua yang melihat keadaan Wina terkejut dan langsung mencoba menolong wanita itu dengan membawanya ke rumah sakit. Sebuah mobil milik warga berupaya memberikan pertolongan dengan mengangkut wanita itu.


Wina terus merintih kesakitan sepanjang perjalanan menuju rumah sakit. Bu Yarsih yang mendampinginya cemas akan keadaan calon cucunya itu terus saja merapal doa-doa yang ia hafal. (Tumben ya)


Sampai dirumah sakit, Wina langsung mendapatkan penanganan oleh beberapa dokter spesialis yang berhubungan dengan keadaan Wina. Mereka berkumpul mengelilingi ranjang besi dan memeriksa keadaan Wanita itu.


"Keluarga pasien?" Tanya salah seorang Dokter mencari diantara beberapa orang yang mengantar Wina.


"Saya Ibu mertuanya."


Bu Yarsih maju di antara kerumunan orang-orang.


"Pasien harus segera di operasi untuk menyelamatkan bayi dan Ibunya." Kata sang dokter yang baru saja keluar dari ruang IGD.


"Lah, biaya gimana ini Dok?"


"Masalah administrasi Ibu bisa urus di depan bagian administrasi ya Bu."


"Ta.. Tapi?!"


"Bu Yarsih?" Panggil seorang perawat yang memotong pembicaraan Bu Yarsih dan Dokter tadi.


"Ada apa lagi suster?"


"Pasien yang bernama Ibu Wina meminta dilakukan operasi untuk penyelamatan. Soal biaya katanya dia akan membayar sendiri."


"Oh, ya sudah. Cepat lakukan operasi, selamatkan cucu saya!"


"Ibu silahkan isi data dulu di bagian administrasi ya, kami akan tetap mengoperasi pasien." Ujar perawat tadi.


Bu Yarsih menurut saja dan mengisi data disebuah kertas formulir.

__ADS_1


Operasi pun dilakukan. Dan Bu Yarsih menunggu kursi tunggu dengan harap-harap cemas. Ratih duduk di samping Ibunya dengan tubuh yang gemetar tanpa sepengetahuan Ibunya. Sejak Wina jatuh dan mengeluarkan darah, gadis itu hanya berani melihat Wina di pojokan dengan jantung berdebar-debar.


Tidak ada rasa menyesal dalam diri Ratih telah melakukan kejahatan terhadap Wina. Gadis itu hanya takut bila sang bayi yang di kandung Wina meninggal dunia. Bayi itu sangat di harapkan oleh Ibunya. Ia hanya ingin Wina yang mati bukan si bayi.


Namun sayangnya Ratih lupa akan satu hal, bahwa usia kandungan Wina belum mencapai 7 bulan sehingga sepertinya sang bayi harus lahir dengan prematur.


Setelah 3 jam berlalu akhirnya dokter yang mengerasi Wina telah keluar dari ruang operasi. Melihat sang Dokter berjalan mendekat, Bu Yarsih segera berdiri dan menghampiri Dokter itu.


"Gimana cucu saya Dok?


Raut wajah Bu Yarsih diselimuti gelisahan ketika bertanya kepada sang Dokter.


Dokter menghela napas berat saat akan menjawab pertanyaan Bu Yarsih.


"Kami memiliki kabar baik dan buruk. Kabar baiknya, Ibunya berhasil kami selamatkan, tetapi kami tidak dapat menyelamatkan si bayi karena bayi itu lahir sebelum waktunya. Dan menyebabkan gangguan fungsi organ seperti jantung dan otak. Jantungnya sang lemah hingga ia tidak mampu bertahan. Itu kabar buruknya, maafkan kami. Kami sudah berusaha yang terbaik yang kami bisa." Ujar Dokter tulus.


"Tidak Dok, cucu saya! Itu tidak mungkin Dok!"


Bu Yarsih tidak dapat menerima kalau ia harus kehilangan cucunya. Wanita paruh baya itu menangis sesunggukan di peluk oleh Ratih.


Ratih memutuskan pulang bersama Ibunya tanpa menjenguk Wina. Rasa sakit hati terhadap wanita yang telah merebut si Papa darinya membuat Ratih tega memperlakukan Wina dengan kejam.


Ya, Wina di Rumah Sakit mengurus dirinya dengan mengandalkan suster yang ada di sana. Meminjam handphone milik suster jaga, ia mencoba menghubungi kekasihnya Hendra. Beruntung Wina hafal nomor kekasih gelapnya itu. Ia pun menceritakan apa yang sudah terjadi kepada dirinya.


"Mas, pergilah ke rumah dan temui Ratih. Kemudian masuklah ke kamarku di bawah sarung bantalku ada buku rekening berserta kartu ATMnya. Lalu ambilkan juga handphone ku di dalam tas yang terakhir kali aku pakai bertemu dengan Mas."


"Baiklah, kamu jangan khawatir. Besok Mas akan kesana dan mengambil apa yang kamu minta sayang."


"Terima kasih Mas."


Panggilan pun di akhiri. Wina lalu mengembalikan handphone milik suster yang sudah di pinjamkan padanya.


Wina yang masih menahan sakit ditubuhnya pasca operasi, menangis sendiri. Tidak ada orang terdekat yang merawat dan menjenguknya. Dalam hati wanita itu timbul kebencian yang teramat sangat terhadap keluarga suaminya.


Wina masih penasaran bagaimana lantai kamarnya bisa licin hingga menyebabkan ia tergelincir dan jatuh. Karena seingatnya, ia meninggalkan kamarnya dalam keadaan bersih dan rapi. Jadi tidak mungkin ia meninggalkan rumah itu ketika lantai kamarnya sendiri masih kotor.


Wina berpikir dengan keras dan mencurigai ada yang sengaja menjatuhkan cairan di depan pintu kamarnya bagian dalam.

__ADS_1


Kalau di pikir itu adalah tindakan Ibu mertuanya, sepertinya tidak mungkin karena wanita paruh baya itu paling tidak mau sesuatu terjadi, apalagi sampai membahayakan calon cucunya. Jadi satu-satunya orang yang pantas di curigai di rumah itu adalah Ratih. Wina yakin Ratihlah penyebab ia kehilangan bayinya.


Keesokan harinya.


Hendra datang berkunjung ke rumah Ratih setelah janjian bertemu gadis itu disana. Tentu saja kedatangan Hendra disambut hangat oleh Ratih. Bahkan Ratih tak segan-segan menyuruh Ibunya pergi untuk meninggalkan rumah itu agar dirinya lebih leluasa bersama Hendra.


Bu Yarsih yang diberi uang sejumlah tiga ratus ribu rupiah dengan senang hati menutup warung dan pergi menikmati semangkok bakso di ujung jalan rumahnya. Wanita paruh baya itu tidak mengetahui kalau calon menantu kesayangannya itu akan berkunjung ke rumahnya.


Ratih sengaja duduk di teras menunggu kedatangan Hendra. Begitu melihat mobil yang sangat ia kenali, bibirnya tersenyum lebar menyambut kedatangan pujaan hati.


"Kenapa duduk di luar?"


"Sengaja nungguin Papa. Masuk yuk!"


Hendra yang lengannya sudah di gandeng Ratih mengikuti saja langkah gadis itu. Ratih tidak sungkan-sungkan langsung membawa Hendra ke masuk ke kamarnya.


"Sayang mau minum apa?" Tanya Ratih.


"Apa saja sayang."


"Oke sayang, kalau begitu tunggu sebentar ya. Mungkin akan sedikit lama karena perut ku tiba-tiba saja mulas."


"Santai saja sayang, aku tidak akan kemana-mana."


"Baiklah."


Ratih mendekat pada Hendra lalu mencium bibir pria itu dengan lu*ma*tan-lu*ma*tan lembut sebelum akhirnya menghilang dari balik pintu.


Kesempatan itu tidak di sia-sia oleh Hendra. Pria itu segera beranjak menuju kamar Wina yang berada tepat disebelah kamar Ratih.


Tidak sulit menemukan barang-barang yang diminta oleh Wina karena Wanita itu memberi tahu secara jelas dimana letaknya. Begitu menemukan Buku rekening, ATM serta handphone milik Wina, Hendra segera memasukan barang-barang itu ke dasbor mobilnya.


"Dari mana sayang?" Tanya Ratih yang melihat Hendra baru saja memasuki pintu rumahnya.


"Ngambil hape ketinggalan di mobil sayang. Yuk..." Ujar Hendra lalu merangkul bahu Ratih yang sedang membawa segelas kopi kembali masuk ke kamar gadis itu.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2