
Bab 80
Menikah
(POV Author)
Fandi beranjak dari tempat tidur. Ia mengunci pintunya terlebih dahulu agar tidak kecolongan lagi seperti sebelumnya. Kemudian ia kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari sisa-sisa perzinahan yang ia lakukan malam tadi.
Fandi berniat membawa gelas itu pada kenalannya yang bekerja di Rumah Sakit besar di kota itu. Ia ingin mematahkan jika pemikiran salah tentang kandungan minuman yang di buat oleh Siska untuknya.
Fandi tiba di Rumah Sakit setelah janjian kepada sahabatnya melalui telpon genggam. Sampai di sana ia langsung menuju ruangan sahabatnya dan memberikan gelas yang ia yakini ada sesuatu disana. Gelas itu sengaja tidak di bersihkan oleh Fandi agar bisa di cek melalui laboratorium ada kandungan apa saja di sisa-sisa yang ada.
"Tolong ya, hasilnya kalau bisa secepatnya." Ujar Fandi kepada sahabatnya.
"Tenang bro, akan ku usahakan besok sudah keluar."
"Terima kasih, aku mengandalkanmu Bro."
"Luka di tanganmu itu, apa tidak ingin sekalian di obati?" Ujar si sahabat.
"Oh, tadi aku sudah mengobatinya sementara."
"Sepertinya akan parah kalau di biarkan. Sebaiknya ke UGD saja, aku akan meminta perawat disana untuk mengobati luka tanganmu."
"Apa separah itu?" Tanya Fandi dengan wajah serius.
"Lebih baik mencegah dari pada semakin parah bukan?"
"Oh, aku kira lebih baik mencegah dari pada mengobati." Wajah Fandi berubah santai.
"Hehehe, itu bila belum terjadi Bro."
"Baiklah, aku tidak mungkin menolak saran salah satu Dokter terbaik disini." Ujar Fandi.
Fandi dan sang Dokter yang merupakan sahabatnya melangkah menuju UGD untuk menerima pengobatan.
Kepalan tinju Fandi yang terluka akibat menghantam cermin di dinding kamarnya di bersihkan, kemudian di beri salap lalu di perban oleh perawat dan di awasi oleh si Dokter.
Mengingat penyebab luka di tangannya, Fandi kembali berang terhadap Siska, adiknya. Ia tidak menyangka Siska akan berbuat nekat seperti itu.
Fandi hanya tahu Siska adiknya itu wanita yang tumbuh dengan sikap sedikit manja dan periang namun tetap rajin untuk membantu pekerjaan rumah, apa pun itu.
"Thanks Bro." Ujar Fandi setelah luka selesai di obati oleh ahlinya. Fandi pun lalu pamit kepada sahabatnya itu.
Walau besok adalah hari pernikahannya akan di gelar, Fandi cukup lega mendengar jawaban dari sahabatnya yang bekerja di Rumah Sakit ternama di kota itu. Besok, ia akan mengetahui benar atau tidaknya kecurigaannya terhadap minuman yang di suguhkan oleh Siska, Adik angkatnya.
__ADS_1
Fandi kemudian melanjutkan jadwal yang sudah ia rencanakan hari ini, yaitu memastikan Event Organizer (EO) yang bertanggung menyiapkan acaranya. Dari mulai dekor, baju, sampai kering yang di tangani oleh mereka. Walau bukan acara mewah dan hanya di hadiri oleh keluarga saja, tapi Fandi tetap mengadakan EO untuk acara sakral itu.
Rumah sudah di hias, baju-baju drescode sudah di antar ke penggunanya masing-masing untuk di pakai besok. Semua sudah beres sesuai rencana dan kesepakatan. Tinggal melaksanakannya esok hari.
Indah beserta keluarga sementara akan tinggal di rumah Fandi malam ini, dan sampai setelah mereka menikah nanti. Dan Fandi akan datang dari rumah orang tuanya beserta keluarganya.
***
Hari yang di tunggu pun tiba. Indah tampak cantik dengan balutan kebaya putih dengan rambut yang di gelung dan di hiasi dengan Jamang. Ia mengunakan makeup dengan warna natural yang tampak alami dan bersahaja namun tetap cantik terlihat di wajahnya.
Para keluarga yang menghadiri sudah duduk rapi menunggu Ijab Kabul di bacakan.
Duduk di sebelah Fandi membuat Indah sedikit gugup dan berdebar-debar. Padahal ini bukan kali pertama ia menikah. Tapi tetap saja, menghadapi peristiwa sakral seperti ini, dirinya tidak sanggup mengatasi debaran jantungnya yang berdegub dengan keras.
"Sudah siap?" Tanya Pak Abdul yang akan menikahkan mereka.
Fandi mengangguk. "Siap Pak."
Di saksikan oleh beberapa orang dari pihak keluarga Fandi dan tentunya Indah sendiri, maka acara itu pun akan di mulai.
Baik Indah maupun Fandi, mereka sama-sama menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.
Suasana sunyi seketika. Hanya terdengar deru kipas angin dan batuknya seseorang yang mungkin tidak dapat menahan rasa gatal di tenggorokannya.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau Fandi bin Ali Muhammad dengan anak saya yang bernama Indah Pertiwi dengan mas kawinnya berupa satu set perhiasan emas dibayar tunai".
"HENTIKAN!!!"
Teriak Siska sekeras-kerasnya hingga menggema satu ruangan
Semua orang yang hadir disana terkejut bukan main dan melihat ke arah pemilik suara. Mereka mulai berbisik-bisik melihat ke arah Siska.
"Ada apa ini Siska?" Tanya Ibu Naima, orang tua angkat yang sudah membesarkan dirinya.
Wanita paruh baya itu kebingungan dengan sikap anak perempuannya yang tiba-tiba berteriak ingin Ijab Kabul itu di hentikan.
"Aku tidak setuju pernikanan ini di gelar! Mas Fandi harus bertanggung jawab atas diriku karena ia sudah menyentuhku malam tadi!"
Sontak semua orang yang ada di ruangan itu terkejut dan mulai riuh.
"SISKA!!" Kali ini suara Fandi yang menggelegar seisi ruangan.
"Kenapa Mas, kamu malu mengakui perbuatanmu semalam?"
"Ade ape ini, Yah?" Tanya Ibu Sumi mendekat kepada Pak Abdul yang bingung dengan perdebatan kedua kakak beradik itu.
__ADS_1
Pak Abdul memberikan kode kepada istrinya untuk diam dan menyimak apa yang sebenarnya terjadi. Bu Sumi pun paham, dan lalu menyimak apa yang terjadi.
"Fandi apa itu benar?" Tanya Ibu Naima dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Bu, tiba-tiba saja pagi tadi dia sudah ada di kamarku. Dan aku sendiri bingung mengapa dia begitu lancang masuk ke kamarku di saat aku sedang terlelap." Jelas Fandi.
"Mas, jangan mengelak! Bagaimana pun semua sudah terjadi dan aku ingin kamu tanggung jawab!" Desak Siska.
Drama keluarga itu di saksikan oleh banyak orang. Pak Abdul tampak menunduk dan menghela napas berat. Orang tua paruh baya itu tampak sudah tidak ingin menikahkan Fandi dengan Indah walau lelaki itu ingin hutang janjinya terpenuhi.
Indah sendiri tampak malu, apalagi ia mendengar dengan jelas apa yang di ucapkan Siska tadi, sudah pasti pernikahan ini mungkin akan di batalkan.
"Nak Fandi. Sebaiknye selesaikan dulu masalah yang sedang Nak Fandi hadapi. Biarlah Indah di kembalikan kepada Bapak." Ujar Pak Abdul yang menyembunyikan kekecewaannya.
"Fan, sepertinya kamu harus melepaskan janjimu dan Indah. Biar Indah menjadi tanggung jawabku. Karena sepertinya ini waktuku." Ujar Roy menimpali sebelum Fandi sempat membalas ucapan Pak Abdul.
Fandi menatap Roy yang menatapnya serius. Lalu lelaki itu menghela napas panjang dan menunduk dalam.
"Baiklah. Maafkan aku Bro, Indah. Pak Abdul dan Ibu Sumi, maafkan saya." Ujar Fandi lalu berdiri.
Pria itu memberikan peci yang ia kenakan kepada Roy, lalu berjalan mendekati Ibunya dan Siska.
"Fandi! Apa maksudnya ini?!" Tanya Bu Naima menaikkan oktafnya merasa belum mendapat jawaban dari anak-anaknya.
"Ayo, Bu kita bicara di luar. Dan kamu...! Ikut aku!!" Perintah Fandi kepada Siska dengan tatapan tajamnya.
Riuh, ruangan yang walau hanya di hadiri oleh keluarga-keluarga terdekat itu menjadi ramai karena kejadian yang tidak pernah mereka saksikan sebelumnya.
Namun Roy tidak mau membuang kesempatan. Apalagi dengan kejadian ini, baik Indah maupun orang tuanya pasti merasa malu. Roy beranjak dari duduknya. Lalu pemuda itu menggantikan Fandi duduk bersanding dengan Indah. Sontak saja hal itu membuat semua orang yang hadir di sana terkejut termasuk Indah dan orang tuanya.
"Pak, Bu, ijinkan dan restui saya menikah dengan Indah. Saya mencintainya lahir dan batin." Ujar Roy tulus dengan tatapan serius dan membuat kedua orang tua Indah kembali terkejut.
Sepertinya hari ini penuh kejutan bagi orang-orang yang hadir di ruangan itu.
Pak Abdul dan Bu Sumi saling pandang. Dua paruh baya itu seakan di landa kebingungan.
"Saya mencintai Indah, dan Indah tahu itu." Ujar Roy kembali meyakinkan kedua orang tua Indah.
"Indah..." Kata Pak Abdul memanggil anaknya untuk meminta penjelasan.
Indah tak mampu berkata apa-apa, saat ini ia terlalu malu untuk mengangkat wajahnya di hadapan semua orang. Entah itu malu karena pernikahannya gagal atau malu setelah gagal dan langsung di ajak menikah lagi oleh orang yang berbeda. Hanya anggukan kepala yang dapat membenarkan apa yang Roy katakan.
Pak Abdul menarik napas dalam, sebelum menjawab permintaan Roy.
"Nak Roy....."
__ADS_1
Bersambung...