
Bab 40
Di Penjara
Suasana kantor hari itu seperti biasanya, cukup lenggang karena nyaris semua karyawan sibuk di balik meja kerjanya. Namun ketenangan itu berakhir setelah kedatangan Wina dan mantan Ibu mertua yang menjerit menangis histeris sambil mengumpat diriku dengan segala ucapan kasar bahkan sebutan binatang pun tak segan-segan mereka keluarkan.
Keadaan kantor menjadi riuh dan semua orang yang mengenalku tampak mulai berbisik-bisik. Ini sudah tidak bisa dibiarkan.
Aku mendatangi mereka sebelum atasan menegurku dan merasa tidak nyaman karena mereka telah mengganggu karyawan lain yang sedang bekerja.
Halaman menjadi tempat kami berbicara setelah Pak satpam mengusir mereka karena telah berbuat keributan.
"Kamu benar-benar wanita jahat, tega menyiksa wanita yang sedang hamil! Dimana hati nuranimu hah?!!" Mantan Ibu mertua menatap benci padaku.
"Ada apa ini?!" Tanyaku merasa tidak berbuat salah dan kesal di tuding yang macam-macam.
"Ada apa, ada apa?! Dasar wanita sok polos kamu! Kamu kan yang melaporkan Heru?! Dia menjual rumahnya sendiri bagaimana bisa dia di tuduh mencuri?!"
Oh, sepertinya Mas Heru sudah di tangkap oleh petugas kepolisian. Baguslah! Kalian akan lihat bisa apa aku yang sudah kalian rendahkan dan kalian manfaatkan selama ini.
Tapi saat ini, aku harus menghadapi lagi masalah yang tidak akan ada habisnya dengan orang-orang yang tidak akan bisa mengerti mana yang benar dan mana yang salah.
Aku menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Baiklah, jika ini yang kalian mau!
"Silahkan berbicara dan membela diri di persidangan nanti. Dan bersiap saja, aku tidak akan berhenti sampai disini. Kalian yang menguras habis kesabaranku maka itu berarti kalian sudah siap menerima segalanya."
"Apa maksudmu wanita jahat?!" Tanya Wina menatap tajam padaku.
"Jaga ucapanmu! Apa kamu merasa sudah menjadi manusia paling baik tanpa dosa?" Sarkas ku kepada Wina. Jika tidak mengingat dia sedang hamil, sudah ku jambak dia.
"Diam kamu Indah, Wina wanita baik-baik, bahkan dia bisa mengandung cucuku!"
"Wanita baik-baik tidak akan mencari pasangan yang sudah memiliki isteri. Wanita baik-baik tidak akan menghancurkan rumah tangga orang lain. Dan tidak hanya wanita baik-baik yang bisa hamil, bahkan wanita dengan kotoran menumpuk di hati dan tubuhnya pun bisa hamil bukan?!" Sarkasku melirik ke Wina.
"Kamu?!!"
Wina tampak berang mendengar ucapanku sambil menunjuk wajahku. Aku tidak gentar sedikit pun menghadapi mereka jika secara pribadi. Tapi aku paling malas jika mereka menimbulkan keributan di tempat umum seperti ini.
"Jangan sibuk mengurusi orang lain, urus saja diri kalian yang sebentar lagi akan merasakan hasil dari apa yang kalian tuai selama ini. Dan Ibu yang semakin tua, ingat umur! Jangan silau terhadap harta orang lain! Ingat ada hutang yang harus di bayar. Jangan pura-pura lupa apalagi tidak berniat untuk membayar!" Sarkasku kepada mantan Ibu mertua akan hutang kepada orang tuaku demi kanaikan jabatan Mas Heru dan menyelesaikan kuliah Ratih anaknya.
Keduanya terdiam, namun tatapan mereka terlihat semakin benci padaku.
"Pak, jika ada tamu seperti ini lagi jangan di biarkan masuk, sekalipun tampilan mereka mentereng!" Ujar ku kepada Pak Satpam yang terus mengamati dan tidak jauh berada dari ku.
"Baik Bu."
"Triiing....! Triiiing...!"
Handphoneku tiba-tiba berdering, aku melihat ada nama Pak Sandi di layar gawaiku. Aku pun melangkah menjauh dari mereka. Karena telpon dari Pak Sandi lebih penting dari mereka.
"Mau kemana kamu?! Urusan kita belum selesai!"
"Halo selamat siang Pak."
__ADS_1
"Halo, selamat siang Bu Indah. Saya mau mengabarkan, pihak kepolisian telah berhasil menangkap Pak Heru. Apa Bu Indah ada waktu untuk ke kantor polisi bersama Saya?"
"Bisa Pak. Saya akan segera ke sana dan kita bertemu di sana saja."
"Baik Bu Indah."
Telpon pun berakhir. Aku kembali ke ruang kerja ku untuk mengambil tas dan sekalian meminta ijin kepada Pak Adam untuk urusan di luar kantor.
Mantan Ibu mertua dan Wina yang terus berteriak memanggil dan mencaci maki diriku di usir paksa oleh petugas keamanan kantor ini.
Heran saja dengan mereka. Sudah ada contoh yang salah akan di hukum tapi masih saja berlagak benar dan menganggap dirinya tidak bersalah.
"Selamat siang Pak." Sapaku kepada Pak Adam setelah mengetuk pintu ruangannya.
"Indah, silahkan masuk." Ujar Pak Adam.
"Terima kasih Pak."
Aku lalu duduk di kursi depan meja Pak Adam.
"Ada perlu apa Indah?" Tanya Pak Adam.
"Begini Pak, saya mau ijin pulang awal hari ini karena ada sedikit urusan pribadi yang sangat mendesak."
"Berhubungan dengan keributan di lantai bawah tadi?"
"Benar Pak." Jawabku tertunduk malu.
"Baik Pak, terima kasih."
Alhamdulillah, Pak Adam selalu pengertian dan tidak mempersulit bawahannya. Ijin langsung saja di setujui tanpa banyak pertanyaan.
Cukup diam dan tahu saja. Sungguh sikap yang bijak tidak ingin mengetahui lebih banyak permasalahan orang lain. Terkadang manusia suka lupa akan dirinya sendiri. Begitu ingin tahu urusan orang lain dan mengucapkan kata-kata untuk merespon apa yang ia dengar dan hingga mereka tidak sadar telah melukai perasaan orang lain.
Tidak membuang waktu, aku segera beranjak menuju kantor Polisi setelah berpamitan dengan atasanku Pak Adam.
Walau hatiku berdebar-debar menghadapi masalah untuk pertama kalinya sampai ke jalur hukum, aku berusaha untuk tetap tenang dan fokus dalam berkendara.
Delapan belas menit perjalanan, tibalah aku di kantor Polisi dimana Mas Heru di tahan.
"Selamat siang Bu Indah." Ujar Pak Sandi menyapaku yang telah tiba lebih dulu.
"Siang Pak."
"Mari, kesebelah sini." Ajak Pak Sandi kesebuah ruangan dimana ada beberapa Polisi juga disana.
"Jadi apa rencana Ibu masih tetap sama dengan kemarin? Sepertinya Pak Heru sedang menangis di dalam selnya sekarang.
"Tidak Pak. Saya berubah pikiran dan ingin membatalkan niat saya untuk mencabut gugatan terdapat Mas Heru. Saya ingin menambahkan laporan, bahwa tadi malam telah terjadi kekerasan fisik yang di lakukan Mas Heru terhadap saya. Ini buktinya!"
Aku memperlihatkan pipiku yang di sebelah kiri yang masih ada jejak memar disana.
"Mungkin sudah mulai memudar, tapi saya punya fotonya setelah di tampar oleh Mas Heru."
__ADS_1
Aku membuka galeri ponselku dan menunjukan foto wajahku dengan pipi yang memerah setelah di tampar Mas Heru.
"Jadi anda sudah yakin akan memenjarakan Pak Heru." Tanya Pak Sandi menunggu kepastian.
"Ya, saya ingin dia di hukum sesuai kejahatan yang sudah di perbuat."
"Baik, tolong di proses hukum Pak." Ujar Pak Sandi kepada petugas Kepolisian.
Aku menarik napas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan.
"Bisa saya bertemu sebentar dengan tersangkanya Pak?" Tanyaku pada petugas Polisi disitu.
"Bisa, anak buah saya akan mendampingi Ibu."
Aku mengangguk tanda paham dan setuju.
Aku pun di antar ke ruangan bagian lain dalam kantor Polisi itu. Dan duduk di sebuah kursi yang telah di sediakan. Tidak lama kemudian Mas Heru di bawa keluar, wajahnya begitu kusut dan terlihat sangat memprihatinkan bagi orang yang tidak mengenal siapa dirinya yang sesungguhnya.
"Indah, kenapa kamu begitu kejam Indah? Apa kamu tidak mencintaiku lagi?" Tanya Mas Heru memelas.
Kalimat yang diucapkan Mas Heru begitu mual didengar oleh telingaku. Bisa-bisanya dia masih mempertanyakan cintaku yang sudah terkubur mati olehnya.
"Tidak ada cinta di antar kita Mas!" Jawabku datar.
"Tapi aku masih mencintaimu Indah. Apa tidak bisa kamu memaafkan aku dan memulai lagi seperti dulu."
"Cukup omong kosongmu Mas!! Dengarkan aku baik-baik! Cintaku sudah mati saat mengetahui perselingkuhanmu. Rasa kemanusiaanku telah pergi karena sifat serakahmu. Aku tidak akan mencabut tuntutanku dan akan ku pastikan hidupmu hancur dan menderita sebagaimana dengan apa yang pernah kurasakan. Ini pembalasan dari ku untukmu Mas!!"
"Jangan kejam begitu Indah bagaimana dengan nasib keluargaku? Istri dan calon anakku?!"
"Aku tidak peduli! Sebagimana kamu tidak peduli padaku, maka aku pun sama!"
"Kamu masih bisa meminta kepada Ayahmu! Tanahnya masih banyak yang bisa di jual. Sedangkan aku, aku tidak punya apa-apa selain rumah dan pekerjaan."
"Lalu apakah karena Ayahku banyak tanah kalian pantas menginjak dan memanfaatkanku? Apa karena Ayahku banyak tanah lalu aku kalian aniaya dan pantas untuk menderita?! Sungguh picik kamu Mas!"
Dadaku bergemuruh dengan napas naik turun karena emosi terhadap Mas Heru.
Mas Heru terdiam, ia mulai memasang wajah memelasnya lagi.
Semakin lama berbicara dengan Mas Heru, maka semakin lama pula waktu ku terbuang sia-sia menghadapi orang sepertinya.
"Selamat menikmati hukumanmu Heru Kurniawan!" Kataku langsung bangkit berdiri dan meninggalkan Mas Heru.
"Indah..., tolong aku Indah! Indah......!"
Bersambung...
*Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **
Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏
Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊
__ADS_1