Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 69 Makan Siang Bertiga


__ADS_3

Bab 69


Makan Siang Bertiga


(POV Author)


Beberapa hari pun terlewati. Indah tetap seperti biasa melakukan aktifitasnya sehari-hari yaitu bekerja. Kesibukan luar biasa yang sedang ia lakoni membuatnya lupa akan pesan sang Ayah untuk Fandi.


"To, nanti kamu coba cek berkas yang di kirim bagian logistik proyek jembatan ya. Kalau ada yang ganjil lapor ke saya."


"Siap Bu Indah. Tapi Bu..."


"Ya, To...?"


"Bapak ganteng apa kabarnya ya Bu? Sudah tiga hari saya tidak melihatnya."


"Kamu kenapa nanya-nanya To?"


"Kangen Bu, kalau Ibu tidak bisa mengungkapkan biar saya saja mewakili."


"Anto!!"


Anto langsung ngibrit balik ke ruangannya setelah berhasil membuat wajah Indah memerah. Lelaki yang berusia lebih muda 2 tahun itu memang senang mencandai atasannya, Indah.


"Triing...! Triing...!"


Di sela-sela kesibukannya itu, gawainya pun berdering. Tertera ada nama Roy di sana. Panjang umur lelaki itu, baru saja Anto dan Indah menyinggung dirinya.


"Assalamualaikum..." Salam Indah.


"Waalaikumsalam, Indah. Sibuk?"


"Tidak juga. Ada apa?"


"Makan siang nanti aku jemput ya, ada Fandi juga."


"Bertiga?"


"Iya bertiga."


Indah teringat akan pesan sang Ayah yang belum di sampaikan kepada calon suami kontraknya.


"Baiklah, ada sesuatu juga yang ingin aku sampaikan kepada Mas Fandi."


"Oke sayang, see you dua jam lagi. Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam..."


Indah menyentuh dadanya yang berdebar-debar tiap kali ia mendengar Roy memanggilnya 'sayang'. Ia melihat kesana dan kemari takut kalau-kalau ada yang melihat wajahnya yang mungkin sedang memerah saat ini.


"Masih dua jam lagi. Tenang lah jantungku." Gumam Indah pada angin.


Indah lalu fokus kembali untuk menyelesaikan separuh dari pekerjaannya agar tidak menumpuk kelak. Apalagi ini sudah mendekati akhir bulan yang tentu saja laporan-laporan kerja harus segera di kirim ke kantor pusat.

__ADS_1


"Li, kemarin berkas yang di kirim Pak Rusli sudah kamu cek?" Tanya Indah menghampiri bawahanya di sebelah ruangannya.


"Sudah Bu, langsung saya serahkan kepada Pak Sugeng." Jawab Seli.


"Oke, tinggal konfirmasi berarti ya Li?"


"Iya Bu."


Indah mengangguk, mendengarkan jawaban Seli yang sesuai dengan prediksinya. Ia pun kembali ke ruangan dan berkutat dengan sisa berkas yang masih ada di atas meja kerjanya.


Tidak terasa waktu berlalu hingga Roy kembali menelpon Indah agar bersiap ia jemput dan mengajaknya makan siang bersama.


"Assalamualaikum, maaf menunggu lama."


Salam Indah dan berbicara pada dua lelaki yang ada dalam mobil yang telah menunggunya di parkiran. Indah lalu duduk di jok belakang. Roy menyetir mobil ditemani Fandi yang duduk di sampingnya.


"Waalaikumsalam..." Jawab Fandi dan Roy.


"Tidak lama Indah. Kamu mau duduk disini? Biar Roy bisa menggenggam tanganmu. Hehehe..."


"Ih, Mas Fandi." Sungut Indah yang mulai memerah pipinya. Lekas wanita itu melihat ke luar jendela agar kedua lelaki di hadapannya tidak semakin menjaihilinya. Sedangkan Roy terkekeh menanggapi guyonan Fandi.


"Kita jalan ya, makan dimana ini?" Tanya Roy.


"Coba kamu tanya Indah, aku ngikut aja Bro." Jawab Fandi.


"Dia jangan di tanya Bro. Pasti milih masakan nusantara."


"Wah, sudah hafal sekali kamu dengan kesukaannya."


Indah hanya bisa mendengar tanpa berani menjawab celotehan dua pria yang ada di hadapannya. Jika saja bisa menghilang, Indah ingin menghilang saja dari hadapan mereka berdua. Bagaimana tidak, Indah harus bisa menahan diri, dirinya terus saja di candai oleh mereka.


Dan mereka pun tiba di sebuah rumah makan Padang, tempat dimana Roy dan Indah memulai kisah mereka. Fandi melangkah duluan di susul Indah di tengah dan Roy paling belakang. Kemudian mereka duduk di meja yang sama dan memesan makanan dengan cara di hidangkan.


"Kamu ingat di meja itu Indah?" Tanya Roy menatap meja yang kebetulan kosong yang letaknya tidak juga terlalu di tengah.


Bagaimana Indah bisa lupa, rumah makan dan meja dimana Roy mengajaknya pacaran setelah berkenalan 5 menitan.


"Ada apa dengan meja itu?" Tanya Fandi penasaran.


"Aku di tolak untuk pertama kalinya disana Bro." Ujar Roy memasang tampang pura-pura memelas.


"Oh, aku ingat. Rupanya saat itu ya."


"Nah iya, setelah aku di tolak, dikau datang dan kita membahas pekerjaan."


"Hahaha..." Fandi tidak bisa menahan tawanya.


"Wah, pantas kamu mengajak kesini. Ada kenangan manis rupanya. Jadi ceritanya aku obat nyamuk ya?"Ujar Fandi.


"Bukan gitu Mas." Kilah Indah merasa tidak enak dan dengan cepat menginjak kaki Roy di bawah meja.


"Awww!!" Rintih Roy terkejut dan mengerutkan keningnya meringis karena lumayan sakit.

__ADS_1


"Kenapa Bro?"


"Tidak apa-apa Bro, sepertinya tadi ada induk semut yang menggigit di kaki." Kilah Roy sambil menatap Indah gemas.


Sesaat Indah melotot ke arah Roy mendengar ia disamakan dengan induk semut.


"Ada-ada saja." Ujar Fandi sambil melirik Indah dan Roy bergantian. Ia tahu kedua sahabatnya sedang mode cinta bersemi. Namun yang satunya di pendam, dan satunya koar-koar tanpa malu.


Kemudian makanan pun datang dan satu persatu mulai di hidangkan di meja mereka. Mereka pun mulai menyantap masakan yang selalu di minati hampir seluruh rakyat Indonesia.


"Tadi kamu mau ngomong apa Indah? Waktu aku mengajak mu makan siang bersama, kamu sempat mengatakan ada yang ingin kamu bicarakan." Ujar Roy mengingatkan.


"Oh,iya itu. Begini Mas, aku sudah mengabari Ayah perihal rencana pernikahan kita." Ujar Indah kepada Fandi.


"Ayahmu di kampung?" Tanya Roy.


"Iya." Jawab Indah kepada Roy. "Aku menceritakan semua rencana kita, termasuk nikah kontrak." Ujar Indah lagi menatap Fandi.


"Uhuk... Uhuk...!"


"Uhuk... Uhuk... Uhuk...!"


Roy dan Fandi keduanya terdesak dan akhirnya terbaru-batuk saling bersahutan mendengar ucapan Indah.


Indah terlihat biasa saja setelah barucap. Namun kedua lelaki itu tampak terkejut dan tidak menyangka Indah akan sepolos ini.


"Sungguh kamu bilang begitu? Ayahmu pasti marah sekali." Ujar Roy.


"Tidak. Ayahku tidak marah padaku. Entah kalau itu Mas Fandi, Karena Ayah mau bicara dengan Mas Fandi."


Fandi merubah posisi duduknya sedikit tegak dan menatap serius pada Indah.


"Kita akan ke Kalimantan untuk membahas mengenai hal ini kepada orang tua mu Indah. Disini, aku lah yang menjadi kerumitannya. Maka dari itu, aku harus menghadapi kedua orang tuamu sebagai bentuk tanggung jawabku."


"Maksudnya, aku juga ikut pulang Mas?" Tanya Indah.


"Boleh aku ikut?" Roy menimpali.


"Dasar bucin." Kata Mas Fandi melirik ke arah Roy.


"Aku kan juga ingin mengenal calon mertuaku di masa depan." Kilah Roy.


"Carilah waktu untuk cuti. Kita akan menemui orang tua mu bersama."


"Ya Mas. Bagaimana kalau setelah 100 hari Almarhum Mbak Mira saja. Bulan-bulan itu belum ada proyek yang aku tangani."


"Boleh, kamu atur saja. Dan kalau bisa sekali lagi aku minta bantuanmu Indah. Sampaikan pada orang tuamu kita akan kesana setelah 100 hari kepergian Almarhumah."


"Baik Mas."


Rencana pun sudah di susun. Tinggal melaksanakan sesuai apa yang sudah di rencanakan.


"Ting! Ting! Ting!"

__ADS_1


Notif pesan di gawai Indah berbunyi secara beruntun. Sepertinya ada banyak pesan yang masuk ke handphonenya. Indah mengulur waktu untuk membaca pesan itu. Ia menuntaskan makan siangnya, baru lah ia mulai membaca isi pesan Wa nya.


Bersambung...


__ADS_2