
Bab 73
Restu
(POV Author)
"Untuk itu, saya datang kemari meminta ijin kepada Bapak, untuk menikahi Indah, putri Bapak."
Hening setelah Fandi menyampaikan maksud dan tujuannya.
Terdengar tarikkan napas Pak Abdul yang menambah kegugupan Fandi di kala itu. Pria itu terus menunggu dan menatap serius calon mertuanya.
"Baiklah Nak Fandi. Bapak pun tak bise menolak kalau Indah sendiri dah setuju begitu pula Nak Fandi ingin menunaikan tanggung jawab. Bapak akan ke sana menikahkan kalian. Tapi Bapak juga memiliki syarat!"
"Apa itu Pak?" Tanya Fandi ketar-ketir.
Pak Abdul mengambil jeda dengan menarik napas panjang.
"Jangan sakiti anak Bapak. Sebagaimana kamu meminta baik-baik, maka jaga dan hargai dia serta lindungi dia. Dan bertanggung jawablah atas janjimu."
Fandi menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan. Ada kelegaan dalam dirinya karena sang Bapak hanya meminta hak yang wajar di lakukan oleh setiap calon menantu yang akan membawa anak orang hidup bersamanya.
"Insya Allah saya akan melakukannya Pak. Kami mengambil keputusan dalam keadaan sadar, dan bila sudah menjadi tanggung jawab saya, maka Indah akan saya perlakukan sebagaimana Bapak memperlakukan indah dengan penuh kasih sayang. Saya tahu dalam agama kita tidak ada yang namanya nikah kontrak. Dan saya pun tidak menganggap itu adalah pernikahan kontrak. Namun saya dan Indah akan menjalin pernikahan itu sampai Indah menemukan kebahagiannya sendiri. Dan saya siap melepaskannya."
Apa maksudnya ucapan Mas Fandi? Apa isi kontraknya berubah dan ia menunggu Roy melamarku maka ia akan bercerai dari ku? Batin Indah bertanya-tanya.
Pak Abdul tidak terlalu mengerti dengan kata-kata terakhir Fandi. Namun orang tua itu mengangguk mendengar jawaban Fandi. Lelaki paruh baya itu mengambil cangkir kopinya, dan meresapnya perlahan.
"Baiklah. Kapan rencana kalian?" Tanya Pak Abdul.
"Bulan November setelah 4 bulan sepuluh hari kepergian istri saya Pak."
"Bapak akan kesana." Ujar Pak Abdul.
"Terima kasih Pak. Saya akan mempersiapkan semua keperluan Bapak. Bapak tinggal bawa diri saja. Jangan di tolak Pak, ini bentuk tanggung jawab saya." Ujar Fandi.
"Baiklah."
Baik Fandi, Roy dan Indah serta orang-orang yang ada di ruangan itu semua bernapas lega. Setelah itu mereka berbicara santai hingga malam beranjak larut, dan pada akhirnya memutuskan untuk beristirahat di kamar masing-masing.
***
Keesokan harinya.
__ADS_1
Sebelum adzan subuh berkumandang, Indah dan Ibunya sudah lebih dulu bangun. Mereka bahu membahu membersihkan rumah dan membuat sarapan untuk penghuni rumah yang bertambah jumlahnya karena kedatangan tamu.
Setelah adzan berkumandang, satu persatu penghuni kamar keluar dan hendak melakukan sholat subuh di masjid terdekat. Indah dan sang Ibu memilih sholat di rumah saja.
Awan gelap perlahan berganti langit kebiruan di lengkapi dengan sinar matahari yang muncul di sebelah timur. Embun tipis di pagi itu mulai mencair di terpa hangatnya sang mentari pagi.
Baik Roy dan Fandi sama-sama sudah bersih dan wangi. Mereka pun menyempatkan diri bercengkerama dengan Pak Abdul dan tetangga yang menghampiri.
Berbeda dengan Indah yang terus terngiang dengan ucapan Fandi tadi malam. Ia masih menerka-nerka ucapan Fandi yang lain dari isi perjanjian kontrak yang mereka buat. Indah berpikir ia harus membicarakan soal ini lebih lanjut kepada Fandi agar jelas.
Fandi dan Roy memutuskan melihat-lihat sekitar kampung di temani Indah. Melihat ada kesempatan untuk membicarakan apa yang mengganjal di benaknya, Indah pun memutuskan untuk berbicara sambil mengenalkan kampung halamannya.
"Mas, aku ingin bertanya soal tadi malam." Tutur Indah setelah ketiganya menjauh dari rumah.
"Apa itu?" Tanya Fandi.
"Sepertinya, apa yang Mas katakan pada Ayah tidak ada dalam isi perjanjian kontrak kita."
"Benar, aku baru merubahnya tadi malam. Dan aku juga sudah membahas ini bersama Roy setelah meminta ijin kepada Ayahmu." Ujar Fandi santai.
Indah melihat ke arah Roy untuk memastikan ucapan Fandi. Dan tatapan matanya itu di sambut anggukan kepala oleh Roy.
Oh ternyata begitu. Jadi hanya aku saja yang baru tahu. Batin Indah
Walau masih bingung, Indah mengangguk merespon penjelasan Fandi.
"Kita tetap menikah sesuai permintaanmu yaitu Siri." Kata Fandi kembali.
"Apa tidak apa-apa Mas?" Tanya Indah.
"Justru itu akan mempermudah dirimu kelak jika ingin berpisah. Indah, aku sadar istriku dan diriku ini sudah menjadi beban untukmu."
Fandi membuang napas berat, berjalan sambil tertunduk. Lelaki itu mengenang kembali momen-momen terakhir bersama istrinya.
Memang tidaklah mudah melupakan orang yang sangat kita cintai. Apalagi kepergiannya takkan bisa kembali lagi. Bahkan jika merindukannya pun hanya bisa berharap ia hadir di dalam mimpi.
Indah hanya mendengarkan tanpa ingin menyanggah ucapan Fandi. Dirinya pun sudah pernah menjelaskan masalah ini berulang kali.
Roy menepuk bahu Fandi, mencoba menguatkan lewat tangannya.
"Bagaimana kalau kita ke kota? Aku akan meminjam mobil Uwak(Paman). Roy bisa menyetirnya, dan aku akan mengarahkan."
"Ya, kamu memang harus membawa kami jalan-jalan mengelilingi kota kelahiranmu Indah."
__ADS_1
"Tapi ingat, jasa study tour tidak murah loh..." Canda Indah.
"Hehehe, tenang saja. Aku akan membayar mahal nanti." Ujar Roy sambil tersenyum.
Beberapa anak gadis desa tampak tersipu memperhatikan Roy. Mereka berbisik-bisik sesama mereka sambil melirik ke arah Roy.
Tidak heran jika wajah tampan Roy menjadi daya tarik di antara mereka bertiga. Dan itu tidak luput dari perhatian Indah.
"Ini kebun Ayah, di tanamani ubi dan bermacam sayuran lainnya. Tanah ini Ayah pinjamkan kepada warga yang tidak punya pekerjaan. Tidak ada pungutan sewa, tapi mereka kadang membagi hasil panen kepada Ayahku." Jelas Indah mengalihkan sedikit rasa kesalnya.
"Ayahmu, juragan tanah ya?" Tanya Fandi.
"Untuk di kampung ini, iya. Ayah mendapat banyak warisan dari orang tuanya, juga Ibuku mendapat warisan dua bidang tanah dari kakek ku dulu."
"Wah, padahal kamu termasuk golongan berada. Tapi kenapa masih harus bekerja jauh sampai ke Makassar?" Tanya Fandi.
"Supaya bisa bertemu dengan ku Bro." Jawab Roy sumringah.
"Hehehe, benar juga." Jawab Fandi sambil terkekeh.
Indah hanya bisa tersipu menanggapi ucapan Roy.
"Tapi serius, kenapa kamu milih kerja yang jauh Indah?" Tanya Fandi lagi.
"Aku hanya ingin mencoba suasana baru."
"Apa mungkin setelah perceraianmu dulu?"
"Ya, kurang lebih seperti itu."
Selanjutnya mereka duduk sejenak di pondok yang biasa di gunakan para pekerja kebun untuk beristirahat. Fandi mendekati orang yang sedang menyemprot tanaman cabai dan berbincang mengenai tanaman yang sedang di budi dayakan itu. Sedangkan Roy menemani Indah duduk sambil melihat ke arah Fandi dan pekerja lainnya.
Lalu menjelang siang Indah mengajak kedua pria itu jalan-jalan menikmati kota Pontianak. Tempat pertama yang mereka tuju adalah Istana Kesultanan Kadariah Pontianak. Mengenalkan sejarah berdirinya kota Pontianak.
Istana Kesultanan Kadariah dibangun dari tahun 1771 sampai 1778 masehi. Sayyid Syarif Abdurrahman Al-qadrie adalah sultan pertama yang mendiami istana tersebut.
Lalu Indah membawa lagi dua pria tersebut ketempat wisata yang lain yaitu ke makam Batu Layang dan terakhir ke Tugu Khatulistiwa.
Cukup lelah berkeliling, akhirnya mereka memutuskan mengisi tenaga singgah di sebuah kafe yang menyediakan menu masakan ciri khas kota itu.
Namun ada sesuatu yang menarik perhatian Indah dan membuat Indah penasaran di kafe itu. Seorang pelayan wanita muda yang sangat ia kenal sedang bekerja melayani pengunjung tanpa sadar kehadiran Indah disana. Tubuhnya terlihat kurus dan kusam serta seperti kelelahan.
Bersambung...
__ADS_1