
Bab 82
Sah
(POV Author)
"Jadi Umi setuju Mi...?" Tanya Roy dengan mata berbinar dan penuh harap.
"Umi ikut kata Abi saja." Elak sang Umi yang tampak grogi isi hatinya ketahuan.
"Bi....?"
Kini giliran Abinya yang di tatap memohon oleh Roy.
"Apakah Bapak yang akan menikahkan putri Bapak sendiri?" Tanya sang Abi.
Roy tersenyum mendengar pertanyaan sang Abi kepada calon Bapak mertuanya.
"Ya, Pak. Tadinya, saya yang akan menikahkan putri semata wayang saya."
Abi, manggut-manggut.
"Jika Bapak berkenan sekali lagi, untuk menikahkan putri kesayangan Bapak dengan anak lelaki kami, maka saya sebagai Abi dari Roy, ingin meminang anak Bapak untuk di jadikan menantu dalam keluarga kami."
Pak Abdul dan Ibu Sumi saling pandang mendengar permintaan orang tua Roy. Mereka tampak berpikir sebelum menjawab permintaan itu.
Walau mereka belum lama mengenal Roy dan hanya terjadi dalam pengenalan singkat beberapa hari, tetapi di mata mereka Roy adalah anak yang baik.
Dan Roy sendiri yang mendengar apa yang baru saja Abinya katakan, membuat lelaki itu tampak senang dengan senyum terus terukir di wajahnya. Sedangkan Indah, hatinya berdesir mendengar permohonan Abinya Roy. Ia sungguh merasa beruntung calon mertuanya tidak pilih-pilih soal cari menantu asalkan anaknya mencintai pasangannya.
Indah melihat ke arah Ibu dan Ayahnya yang masih terdiam sesaat dan juga menoleh ke arahnya. Ayah dan Ibunya mengisyaratkan tanda tanya kepada Indah, apa yang akan menjadi keputusannya.
Indah mengangguk pelan. Ia tidak pun mungkin menolak karena saat ini pun harusnya dirinya menikah dengan Fandi yang sudah membatalkan pernikanan itu sendiri. Selain itu, Indah sendiri tak menolak kehadiran Roy yang sudah mulai mengisi hatinya. Dalam hati Indah, ia berharap ini adalah jalannya menuju kebahagian yang ia cari di kota ini.
"Mari kita nikahkan anak-anak kita Pak." Ujar Pak Abdul.
"Alhamdulillah..." Jawab Abi, Umi, Teguh dan juga Roy tentunya.
"Mari Pak." Jawab Abi bersemangat.
"Bang, Mas kawinmu mana Bang?" Tanya Teguh pelan memandang sekeliling tidak ada benda yang menarik seperti sebuah maskawin.
Roy pun ikut memandang, ia baru teringat ia tidak menyiapkan Mas kawin karena pernikahan ini adalah pernikahan dadakan atas insiden yang di buat adik sahabatnya, Fandi.
Umi Roy yang melihat kedua anaknya celingukan merasa yakin Roy memang benar-benar tidak menyiapkan mas kawinnya.
"Kamu ini bagaimana sih Roy?!" Sang Umi bersiap bangun mendekati putranya namun Roy segera mengangkat tangannya untuk menghalau serangan Uminya.
"Umi sabar Umi, Umi jangan KDRT mulu dong, ntar Roy lapor ke KPAI nih."
"Lapor sana, kamu sudah tua, KPAI pasti nolak kamu mentah-mentah!"
Sungut Umi kepada putranya, Roy yang memang paling bandel di antara putranya yang lain.
Roy menggeledah tubuhnya sendiri, mencari-cari apa yang bisa ia gunakan sebagai mas kawin dalam pernikahannya ini. Ia pun teringat ada dua ATM dalam dompetnya.
__ADS_1
"Ini saja Pak, mas kawinnya. Dalamnya ada 350 juta. Bisa kan Pak? Bi?" Tanya Roy memandang kedua pria paruh baya bergantian setelah memberikan ATMnya dari dalam dompetnya yang memiliki tabungan dengan jumlah yang ia sebutkan tadi.
"Indah....?" Tanya sang Ayah kepada putrinya.
Indah mengangguk menunduk.
"Baiklah. Kemarilah Nak..." Ujar Ayah Indah, Pak Abdul meminta Roy untuk duduk kembali di samping Indah.
Atas keputusan bersama dan di hadiri orang tua, keluarga serta beberapa saksi pernikanan, Pak Abdul pun menikahkan anaknya Indah kepada Roy.
"SAH!!"
Suara bergema dalam ruangan oleh beberapa orang saksi yang mengatakan sah ketika ijab kabul di sebutkan tanpa halang dan syarat telah terpenuhi.
"Tabarakallah..."
Pak Abdul lalu melanjutkan doa-doa untuk ke dua pengantin serta semua yang hadir dalam ruangan itu.
Senyum bahagia semua orang menyambut kedua pengantin baru itu termasuk juga keluarga dari Fandi yang masih ada beberapa orang di sana. Mereka tadinya juga merasa tidak nyaman dengan keluarga Indah yang mungkin merasa terluka dan tidak di hargai gara-gara ulah Siska. Namun akhirnya mereka turut senang Indah menemukan jodohnya.
Roy mencium punggung tangan Abi dan Uminya yang di ikuti Indah. Umi memeluk Indah yang kini sudah menjadi menantunya. Lalu Roy dan Indah juga mengalami Pak Abdul yang kini menjadi Ayah mertuanya.
"Nak Roy, tolong perlakukan anak Ayah degan baik. Jaga dan bimbing dia yang kini menjadi tanggung jawabmu. Tapi, bila mana Nak Roy, sudah tidak mencintainya dan tidak sanggup untuk hidup bersamanya lagi, tolong jangan sakiti anak Ayah, tapi kembalikanlah ia secara baik-baik sebagaimana Nak Roy memintanya kepada kami."
"Baik Ayah, Roy berjanji akan berusaha membahagiakan Indah."
Indah yang mendengar ucapan dua lelaki kesayangannya itu tak sanggup menahan air mata, hingga air mata itu jatuh begitu saja tanpa di minta.
Setelah sungkeman kepada orang tua selesai. Roy dan Indah menyambut uluran tangan yang mengucapkan selamat kepada mereka.
Umi menunggu sampai orang terakhir yang menyalami anak dan menantunya. Kemudian ia mendekat kepada mereka berdua, di ikuti Teguh.
"Oh, buat resepsi lagi ya Mi?"
"Iya dong, biar tetangga dan kerabat serta teman-teman mu juga pada tahu kamu sudah nikah. Masa mau bujang terus, ya kasihan dong mantu Umi." Jawab Umi.
"Sebenarnya lebih fokus ke temen arisan Umi sih Bang, Umi kan capek di tanya mulu kapan punya cucu, ya gak Mi?" Sela Teguh.
"Hilih, kamu itu sok tahu aja." Bantah Umi.
"Kan aku pernah denger Mi, waktu nganterin Umi arisan."
"Jangan di dengerin ya Indah, dapet mantu aja Umi dah seneng. Umi kira anak Umi seleranya dah beda."Ujar Umi dengan lirikan mautnya terhadap Roy.
"Astagfirullah, Umi. Ucapan doa loh Mi..." Ujar Roy panik.
"Kan cuma kira Bang..." Bela Teguh untuk Uminya. "Tadinya pun pemikiran aku sama kayak Umi. Habisnya Abang sok gaya nolak wanita yang Umi jodohkan. Kirain gak doyan wanita lagi Bang." Ujar Teguh lagi.
"Diem kamu! Kapan kamu balik lagi ke Jakarta?"
"Ya masih lama lah Bang, baru juga mulai libur semesternya." Ujar Teguh.
"Bagus! Kalau gitu, kamu bantu Abang ngurus EO buat resepsi."
"Yaaah, aku liburan ini Bang...."
__ADS_1
Roy tidak merespon keluhan Adiknya. Ia sibuk menyalami satu persatu keluarga dan kerabat yang yang hendak pamit lebih dulu.
"Sah, juga kita" Bisik Roy di telinga Indah membuat wanita itu seketika memerah.
Rona bahagia tak bisa menutupi pancaran yang terlihat nyata. Tak hanya binar yang berpendar indah namun kebahagiaan mereka tak kalah sinarnya ketika senyum bahagia terukir dengan indahnya di setiap wajah yang merona.
Setelah itu mereka semua menikmati jamuan makanan yang sudah di persiapkan.
"Roy, kamu dapet istrimu orang mana?" Tanya sang Umi.
"Asalnya Kalimantan Mi." Jawab Roy sambil mengamati istrinya yang sedang makan di sampingnya.
"Loh jauh ternyata. Lalu disini tinggal dengan siapa?"
"Saya tinggal di mess kantor, Bu." Jawab Indah sambil tersenyum.
"Jangan panggil Ibu, panggil saja Umi sama seperti Roy dan Teguh, ya..."
"Iya, Bu...eh, Umi..."
"Lalu Ayah dan Ibumu menginap di mana?" Tanya Umi lagi.
"Umi kepo deh..." Sela Teguh.
"Hus, diam kamu!" Sergah Umi.
Indah dan Roy saling tatap, kemudian Indah mengalihkan pandangan menatap Ibu mertuanya.
"Tadinya, bila menikah dengan Mas Fandi, Ayah dan Ibu akan tinggal di rumah ini sementara sampai hari kepulangan ke Kalimantan."
" Oalah, tapi ini rumahnya Fandi kan? Kalau begitu setelah ini, pulang saja ke rumah kami ajak Ayah dan Ibumu serta keluarga dari Kalimantan, Insyaallah masih banyak kamar bisa di tempati." Ujar Umi.
Indah melihat ke arah Ayah dan Ibunya.
"Ape tak merepotkan besan?" Tanya Ibu Sumi buka suara.
"Tidak ada yang di repotkan kok, besan. Apalagi untuk menyambut orang baru yang masuk dalam keluarga kami. Saya dan juga Abi dengan senang hati menerima kehadiran besan sekeluarga." Tutur Umi dengan senyuman yang tidak pernah lepas dari wajahnya.
"Bapak, Ibu, beserta keluarga. Jika berkenan mampirlah di gubuk kami." Kali ini Abi Roy yang buka suara.
"Bagaimana ini Pak." Tanya Bu Sumi kepada Pak Abdul.
"Bila memang diperkenankan, maka kami pun dengan senang hati akan menerima ajakan besan." Ujar Pak Abdul.
"Alhamdulillah..." Jawab Abi dan Umi serempak.
Bu Sumi memeluk Indah dari samping.
"Sukorlah Nak, nampaknye kau dapat mertue yang baek. Mak pon jadi tenang. Semoge Roy bise bahagiekan engkau." Kata Bu Sumi lirih yang mungkin hanya di dengar Indah yang berada di sampingnya.
"Aamiin, Mak."
Acara pernikahan itu berakhir dengan tawa dan rona bahagia semua orang.
Kta tidak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam hidup kita kedepannya. Kita hanya mampu berencana, tapi Tuhanlah yang mengatur segalanya.
__ADS_1
Dan harus kita sukurin bahwa, Tuhan tidak akan membiarkan umatnya melalui cobaan di luar batas kemampuan. Bersabar, berserah diri dan tetap optimis menjalani hari adalah langkah utama menghadapi sebuah ujian. Dan tetaplah menjadi orang baik, walau kita dalam keadaan tidak baik-baik saja.
Bersambung...