
Bab 55
Rumah Tangga Fandi Dan Mira
(POV Author)
Mira beranjak bangun di pagi itu setelah. meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Wanita itu membasuh wajahnya terlebih dahulu sebelum menuju dapur rumahnya.
Rumah tampak rapi dan bersih. Bahkan sarapan sudah tersedia di meja makan. Siska adik iparnya duduk manis menyeruput teh herbal sambil melihat siaran televisi. Wanita itu seakan-akan tidak menyadari kehadiran Mira di ruangan itu.
Ruang keluarga menyatu dengan ruang dapur, dan hanya bersekat mini bar saja. Sambil menikmati acara televisi, orang juga bisa melihat apa saja yang dilakukan orang lain di meja kompor tanpa api itu.
Segelas kopi untuk Fandi suaminya sudah siap di meja makan. Namun tidak ada minuman untuknya di meja itu. Mira lalu membuka lemari untuk mengambil susu ibu hamil yang biasa ia minum. Dengan perlahan ia meracik minuman itu untuk dirinya sendiri.
Sambil mengaduk minumannya, Mira menghela napas panjang. Dalam pikirannya, terlihat jelas ada sesuatu yang tidak di sukai Siska padanya. Mira. Mendapatkan perlakuan diskriminasi di rumahnya sendiri. Apalagi Siska seperti tidak menyukai kehadirannya di rumah itu.
Mira meminum susu yang telah ia buat perlahan sambil memperhatikan Siska. Siska sesekali melihat ke arah jam dinding di depannya, kemudian meletakkan minuman herbalnya. Gadis itu beranjak dari duduknya, melangkah perlahan menuju kamar Mira dan suaminya.
Mira mengerutkan dahinya, lalu meletakkan gelasnya dan mengikuti Siska yang telah masuk ke kamarnya.
Siska terlihat membuka lemari pakaian Fandi dan mengambil setelan baju untuk di pakai kerja oleh pria itu hari ini. Baju-baju itu di letakkan di atas kursi rias beserta kaus kaki dan sepatu yang pas dengan setelan baju di dekat kursi.
"Kamu tidak perlu melakukan itu Siska. Aku bisa menyiapkan pakaian Kakakmu." Ujar Mira sedikit menegur.
Rasanya kurang etis bila Siska yang menyiapkan. Apalagi masuk tanpa permisi seolah-olah kamar itu mikirnya.
"Aku sudah terbiasa dari dulu menyiapkan keperluan Mas Fandi." Ujar Siska dengan santainya tanpa menoleh ke arah Mira.
"Terima kasih kamu begitu memperhatikan Kakak mu Sis, tapi sekarang sudah ada aku dan ini juga merupakan kewajibanku sebagai seorang isteri."
Siska terdiam tanpa berkata apa-apa lagi. Ia pun segera keluar dari kamar itu setelah urusannya selesai.
"Ada apa sayang?" Suara parau Fandi yang baru saja bangun tidur tampak bingung melihat sekelebat bayangan Siska baru saja melintasi pintu dan sang isteri yang berdiri di ambang pintu kamar mereka.
Mira mendesah pelan, lalu melangkah mendekati kursi riasnya dan memasukan baju pilihan Siska ke dalam lemari pakaian Fandi. Mira kemudian memilih setelan baju lain dan meletakkannya di kursi.
"Adikmu tadi masuk ke kamar Mas. Dia menyiapkan baju kerja untukmu."
"Oh, dia sudah terbiasa melakukannya ketika kita belum menikah."
"Tadi aku mengajarinya, untuk membiasakan diri tidak lagi menyiapkan pakaianmu karena sudah ada aku istrimu."
__ADS_1
"Ya, itu benar. Terima kasih sayang, Siska masih polos. Jadi dia butuh bimbingan untuk tahu mana tugasnya dan mana yang bukan."
"Mandi dulu Mas, bajumu sudah aku siapkan. Setelah itu kita sarapan bersama."
"Baiklah sayang."
Fandi menuruti kata istrinya dan segera masuk ke kamar mandi. Mira pun membereskan tempat tidur setelah Fandi tidak lagi berbaring disana.
Setelah rapi keduanya turun menuju meja makan untuk sarapan bersama. Siska sudah duduk manis di samping kanan kursi Fandi berseberangan dengan kursi Mira yang berada di samping kiri Fandi. Begitu melihat kehadiran Fandi, ia menarik kursi untuk Kakaknya itu.
"Terima kasih Siska."
"Sama-sama Mas." Jawab Siska sambil tersenyum.
"Kamu yang masak semua ini sayang?" Tanya Fandi kepada Mira isterinya.
"Bukan aku sayang, tapi Siska." Ujar Mira yang tidak ingin mengakui hasil kerja orang lain menjadi miliknya.
"Oh..." Ujar Fandi sambil melihat ke arah Siska.
Yang dilihat pun tersenyum sambil tersipu malu.
Mira hanya bisa memperhatikan sikap adik iparnya itu sambil mendes*ah pelan. Sebagai sesama kaum wanita, Mira sangat paham arti tatapan Siska dan sikapnya itu terhadap suaminya Fandi.
Mira memutar bola mata jengah. Ia semakin kesal dengan sikap Siska yang tidak menghargai dirinya.
"Mas aku ke kamar dulu. Tiba-tiba perutku terasa mual." Ujar Mira beranjak dari duduknya.
Fandi yang baru saja makan sesuap sendok langsung menghentikan makannya dan mengikuti langkah Mira menuju ke kamar mereka.
"Kenapa sayang? Kamu sakit? Aku antar ke dokter ya?" Ujar Fandi sedikit cemas.
"Aku tidak apa-apa Mas, hanya butuh istirahat. Kapan kamu akan berbicara dengan Adikmu Mas? Lebih cepat akan lebih baik menurutku. Kasihan Ibu disana sudah di tinggal selama seminggu sendirian."
"Baiklah, aku akan segera bicara padanya."
"Aku tidak mengerti apa yang adikmu cari di rumah minimalis ini. Padahal rumah Ibu sangat luas, pasti butuh banyak tenaga untuk membersihkannya. Tapi dia malah rajin membersihkan rumah ini. Padahal aku sendiri pun bisa." Keluh Mira kepada suaminya.
Fandi menghela napas panjang. Ia menjadi tahu kalau Mira saat ini sedang kesal kepada Siska adik angkatnya.
"Istirahatlah, apa kamu ingin aku membawakan makananmu kesini?"
__ADS_1
"Tidak usah Mas. Aku akan mandi setelah ini dan pergi menemui Indah."
"Ya sudah, aku berangkat kerja dulu."
"Mas sarapan?"
"Nanti mas makan di jalan sama sebelum ke kantor."
"Baiklah Mas."
Mira menyalami suaminya dan mencium punggung tangan Fandi. Fandi pun mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang. Setelah itu Fandi turun hendak berangkat kerja.
"Mas, sarapannya tidak di habiskan?" Tanya Siska menghentikan langkah Fandi.
"Kebetulan Siska, ada yang mau aku bicarakan."
"Ada apa Mas?"
"Pulanglah kerumah, temani Ibu. Mas rasa kamu sudah cukup lama disini." Ujar Fandi.
"Ck, pasti istri Mas itu mengadu sama Mas ya?" Gerutu Siska.
"Jangan salah paham. Dia juga senang kamu berada disini. Tapi untuk saat ini kamu sudah terlalu lama meninggalkan Ibu. Pulang lah dulu kapan-kapan main lagi kesini."
"Ck!"
Siska berdecak kesal sambil menghentakkan kaki tanpa berpamitan dengan Fandi, ia menuju kamarnya.
Fandi menggelengkan kepala melihat sikap Siska. Ia pun segera keluar rumah dan menghidupkan mobilnya yang ada halaman kecilnya.
"Mas, tunggu!"
Siska berteriak kepada Fandi agar tidak menjalankan mobilnya terlebih dahulu.
Tergesa-gesa Siska menyeret koper kecilnya dan masukannya ke bagasi mobil. Kemudian gadis wanita itu duduk di depan menemani Fandi.
"Mas anterin aku dulu ke rumah Ibu ya?"
Fandi menghela napas. Tanpa bicara ia pun menyalakan mobilnya menuju ke rumah Ibunya.
Siska sesekali melirik sesekali ke arah Fandi sambil tersenyum. Ia merasa senang bisa berdua saja semobil dengan Fandi.
__ADS_1
Bersambung...