
Bab 97
Kehadiran Siska
(POV Author)
Sementara Roy dan Indah sedang menikmati kampung halaman, Nuning di kejutkan dengan kahadiran Siska di rumah Fandi dan mencoba menjadi penguasa di rumah itu dengan mengatur ini dan itu.
Siska datang kerumah Fandi di saat lelaki itu telah berangkat kerja. Ia mengambil alih kuasa dirumah itu dengan dalih calon istri Fandi karena sedang mengandung anaknya.
"Almira biar aku yang urus. Kamu bantu Mbok Nah saja di belakang!"
"Tapi, tugas saya mengasuh Almira." Jawab Nuning.
"Kamu bantah aja ya?! Kamu disini ini bekerja, jadi harus patuh sama majikan! Tahu diri dong!"
"Neng..." panggil Mbok Nah kepada Nuning sambil mengusap lengannya secara lembut.
Nuning menghela napas, ia pun mengikuti langkah Mbok Nah menuju dapur.
"Apa benar wanita itu calon istri Bapak, Mbok?"
Mbok Nah melihat kesana kemari sebelum menjawab pertanyaan Nuning.
"Ssttt... Pelan-pelan aja ngomongnya."
Nuning lebih mendekat pada Mbok Nah.
"Non Siska itu Adiknya angkatnya Bapak. Dan dia ngejar-ngejar Bapak, meski Bapak menolaknya terus."
"Tapi tadi katanya lagi mengandung anaknya Bapak, Mbok."
"Waktu Non Indah hampir menikah sama Bapak, Siska gagalin pernikahan mereka dengan alasan Bapak sama dia sudah tidur bersama. Dan itu membuat Ibu anfal sampai kena serangan jantung."
"Astagfirullah, Innalillah..."
"Neng sabar ya, ikuti saja apa maunya. Nanti tunggu Bapak pulang baru nunggu keputusan Bapak bagaimana."
"Baik Mbok."
"Nuniiiing!!"
Baru saja Nuning hendak membantu Mbok Nah mencuci Sayur-sayuran yang habis di beli di pasar, suara teriakan Siska nggelegar seisi rumah di susul tangisan Almira.
"Ada apa ya?" Tanya Nuning kepada Mbok Nah, bingung.
__ADS_1
"Susulin saja ke lantai atas Neng. Ini biar Mbok yang kerjain."
"Iya Mbok."
"Nuniiiing, capet!! Budeg ya Lo?!!"
Nuning bergegas menaiki tangga dengan langkah lebar sampai melewati dua anak tangga sekaligus, saking ingin cepat-cepat mendatangi kamar dimana teriakan itu berasal.
Meski ngos-ngosan, Nuning berusaha tenang dan menghampiri Siska.
"Ya Non, ada apa?"
"Almira pup, cepat bersihkan!" Perintah Siska di depan pintu sambil melipat tangan di dada.
"Iya, Non."
Dengan segera Nuning mendekati Almira dan membersihkan pup bayi lucu itu. Setelah bersih, Nuning mencoba menggendong Almira untuk menenangkan bayi itu yang sedari tadi masih belum berhenti menangis.
"Kenapa sayang? Apa kamu lapar?" Tanya Nuning pada Almira, meski bayi itu tidak dapat menjawab.
Nuning memeriksa botol-botol susu di atas nakas yang sudah di sediakan isinya, tinggal di seduh dengan air hangat. Namun botol-botol itu masih utuh seperti tak tersentuh.
"Non, kenapa Almira tidak di kasih susu? Sepertinya dia haus." Tanya Nuning.
"Mana aku tahu dia sudah minum susu atau belum. Cepat kasih sana!"
Begitu susu diberikan, Almira dengan kencang menyedot botol susu. Bayi itu tampak sangat kehausan atau mungkin sudah kelaparan. Nuning menjadi tidak tega, apalagi ia takut Almira menjadi kenapa-kenapa karena tanggung jawab Almira diberikan Fandi kepadanya.
Bagaimana ini? Kasihan sekali Almira. Wanita bernama Siska ini tidak benar-benar mengasuh Almira. Padahalkan dia tantenya. Apa aku coba ajukan diri lagi ya mengasuh Almira? Aku tidak yakin wanita ini telaten mengasuh Almira. Baiklah, akan aku coba. Batin Nuning.
"Almira, biar saya asuh saja ya Non? Kasihan sampai kelaparan begini." Ujar Nuning mengajukan diri meminta mengasuh Almira kembali.
"Enak saja! Kamu mau mencari perhatian Mas Fandi kan?! Iya kan?!"
Astagfirullah, maksudnya apa mencari perhatian si Bapak?! Aku disini cuma ingin kerja, itu saja. Batin Nuning.
"Maaf Non. Saya disini bekerja, tidak ada niat sampai kesana. Saya tulus menyayangi Almira, dan ingin mengasuhnya dengan kemampuan terbaik saya yang saya punya." Jelas Nuning apa adanya.
"Tidak perlu! Kamu datang saja ketika aku panggil. Sana pergi! Bantu Mbok Nah. "
Kesekian kali Nuning menghela napas. Apalah daya kekuatan pengaruhnya yang hanya seorang pekerja di rumah itu. Ia lalu meletakkan kembali Almira dalam box bayi. Lalu dengan berat hati, ia pun meninggalkan Almira di asuh Siska kembali.
Tidak di pungkiri Nuning tampak sedih tidak bisa mengasuh Almira hari ini. Apalagi ia sudah menyayangi bayi itu dengan tulus.
"Kenapa Neng?" Tanya Mbok Nah begitu melihat Nuning mendekatinya.
__ADS_1
"Almira pup dan juga kalaparan Mbok. Sejak tadi rupanya Almira tidak di kasih susu oleh Non Siska. Kasihan Almira Mbok."
"Tega bener Non Siska. Apa kita coba nelpon Bapak saja ya Neng. Lagian setahu Mbok, Non Siska itu dilarang datang ke rumah ini."
"Yang bener Mbok? Ya sudah saya coba telpon Bapak apa kirim pesan saja ya Mbok, takut Bapak sibuk?"
"Iya, Neng coba saja."
Nuning pun mencoba mengirimkan pesan kepada Fandi, mengatakan Siska melarangnya mengasuh Almira.
Pesan itu sudah di krim, centang dua namun masih abu-abu. Nuning kemudian melanjutkan membantu Mbok Nah, sembari menunggu balasan dari tuan besarnya.
"Nuniiiiing....!"
Kembali teriakan nama Nuning menggema dalam rumah itu. Nuning yang sedang mencuci piring segera melepaskan pekerjaannya, mengelap tangannya, lalu setengah berlari mendatangi Siska yang berada dalam kamar Almira. Nuning takut terjadi sesuatu terhadap Almira. Untuk itu ia segera mengambil langkah seribu untuk mendatangi kamar Almira.
"Ada Apa Non, Almira kenapa?"
Peluh keringat membanjiri pelipis Nuning meski tertutup dengan Jilbabnya. Nuning mencari tahu keadaan Almira meski belum mendapatkan respon dari Siska. Ia segera mengintip, mencari tahu sedang apa bayi lucu itu.
"Sini kamu! Pijit kakiku!"
Haah? Dalam hati Nuning mencelos mendengar perintah Siska. Mau tidak mau ia pun mendekat pada Siska dan memijit kaki wanita itu yang sedang asik berselancar dengan gawainya.
"Ingat ya, jangan coba-coba mendekati Mas Fandi atau kamu akan tahu akibatnya. Dalam rahimku ini sedang tumbuh benihnya."
Apa iya, Bapak berani melakukan perbuatan seperti itu kepada adiknya sendri. Atau wanita ini terlalu mengada-ada? Batin Nuning bertanya-tanya.
"Brum!" dari balkon yang terbuka terdengar sekilas suara mobil di lantai bawah.
"Itu pasti Mas Fandi!"
Senyum senang menghiasi wajah Siska mendengar suara datangnya sebuah mobil ke rumah itu.
"Awas kamu!"
Siska yang ingin segera bebas bergerak mendorong tubuh Nuning hingga wanita itu tersungkur di lantai. Ia tidak peduli Nuning menatapnya kesal. Wanita itu langsung mengambil Almira dari dalam Box, lalu menggendongnya untuk menyambut kedatangan Fandi.
Nuning perlahan mencoba bangkit dan beranjak dari kamar itu, mengikuti langkah Siska di belakangannya. Ia takut Almira kenapa-kenapa.
"Mas...!" Sapa Siksa dengan senyum sumringah sambil menggendong Almira.
"LANCANG KAMU SISKA !! SIAPA YANG MENGIJINKAN KAMU MASUK KE RUMAH INI !!"
Suara nyaring Fandi mengejutkan semua orang yang ada dalam rumah itu termasuk Almira yang langsung menangis.
__ADS_1
Bersambung...
.