
Bab 58
Sebuah Permintaan
Roy malajukan mobilnya begitu panggilan telpon di tutup.
Aku tidak berani bertanya karena takut mengganggu konsentrasinya yang sedang menyetir dalam keadaan panik. Walau Roy tidak mengatakan apapun padaku apa yang ia bicarakan dengan Mas Fandi, aku yakin telah terjadi sesuatu pada rekan kerjaku itu yang sekaligus telah menjadi temanku.
Aku pun mulai merasa cemas dan berdoa semoga saja tidak terjadi apa-apa pada Mbak Mira dan Mas Fandi.
"Kamu jangan cemas ya..." Ujar Roy yang melirik ke arahku.
Dia sendiri terlihat cemas tapi berusaha menenangkan diriku. Aku semakin takut rasanya, jadi membayangkan yang tidak-tidak.
Di depan jalan tampak keramaian kendaraan yang berjalan pelan bahkan ada yang berhenti. Entah kenapa jantungku semakin berdebar-debar dengan ujung jari yang mulai terasa dingin.
Aku mulai panik ketika melihat mobil yang aku kenal menepi secara asal-asalan dan tampak pecahan body mobil berserakan di lantai jalan. Jantungku seakan luruh di tempat ketika melihat wajah Mas Fandi yang panik dan menangis dengan pelipisnya yang mengeluarkan darah.
"Astagfirullah..., innalillah..." Lirihku sedih sekaligus terkejut.
"Kuatkan hatimu." Ujar Roy dengan nada sendu yang langsung menggenggam tanganku yang dingin begitu tahu aku panik dan ketakutan.
"Kuatkan hatimu." Ujar Roy kembali sebelum kami keluar dari dalam mobil.
Aku mengangguk meski mata sudah berkaca-kaca dan menetes tanpa di minta.
"Ya Allah, Mas Fandi..."
Suaraku mulai bergetar melihat pemandangan yang tadi aku bayangkan ternyata benar-benar terjadi. Dan langkahku langsung terhenti dengan kedua tangan menutup mulutku melihat Mbak Mira masih terjebak di dalam mobil yang ringsek.
Kakiku mendadak lemas, dan aku terhuyung mundur kebelakang. Nyaris saja aku jatuh kalau Roy tidak segera menangkapku dengan sigap.
"Kembalilah ke mobilku dan tenang dirimu." Ujar Roy sambil mengusap punggungku, memberikan kekuatan pada hatiku untuk menerima kenyataan yang ada.
Roy dengan cepat membantu orang-orang yang berusaha mengeluarkan Mbak Mira dari dalam mobil. Aku hanya mampu memandang dari balik kaca mobil Roy dengan mulut yang tak henti berdoa untuk keselamatan Mbak Mira dan bayi yang ada dalam perutnya.
Kecelakaan maut yang hanya aku lihat di berita televisi, atau media sosial kini nyata tampak dengan sangat jelas di ke dua mataku. Kecelakaan yang menimpa sahabat-sahabatku yang nyaris membuatku pingsan di tempat itu juga.
Mobil Ambulans beserta mobil Polisi datang dan langsung mengamankan lokasi yang mulai menyebabkan kemacetan.
Banyak orang yang berhenti untuk membantu namun ada pula yang menjadikan ke dukaan orang lain untuk sebuah konten yang menghasilkan uang.
Beberapa handphone tampak mengacung ke depan dan atas di pegang oleh empunya. Entah itu untuk berbagi informasi atau menambah koleksi kontennya, yang jelas keberadaan mereka cukup menganggu karena berdesakan-desakan hingga membuat ruang lingkup orang-orang dan petugas yang menolong menjadi tidak leluasa untuk bergerak.
__ADS_1
"BAAAMM!"
Suara keras besi jatuh menghantam jalan.
Dengan usaha banyak orang, mobil Mas Fandi berhasil di tarik mundur dari himpitan peti kemas yang tumbang dan menimpa bagian depan mobilnya hingga ke bagian kaca.
"Ya Tuhan..., Mbak Mira!"
Aku nyaris saja berteriak melihat tubuh lunglai Mbak Mira yang berlumuran darah di gotong masuk ke dalam Ambulans.
Mas Fandi ikut masuk ke dalam Ambulans, sedangkan Roy kembali ke dalam mobilnya dan segera menyusul mobil Ambulans yang sudah mulai jauh melaju di depan.
Aku menangis tanpa suara, hati ku begitu pedih dan pilu mengingat sahabat yang sudah ku anggap Kakak sendiri sedang berjuang melawan maut.
Tubuhku bergetar menangis sesunggukan karena tak mampu menahan kesedihan hati yang melanda. Aku masih bisa tahan di hina, atau di bully dan di aniaya tapi aku tidak kuat bila harus kehilangan orang-orang yang aku sayangi.
"Tenanglah, ada aku disini." Ujar Roy sambil mengusap lembut kepalaku.
Aku tahu hatinya pasti sedih sama seperti apa yang aku rasanya. Tapi wajahnya yang berusaha untuk tetap tenang tak bisa membuat hatiku langsung tenang karena kondisi Mbak Mira yang masih belum mendapat pertolongan.
Tidak ada yang tahu musibah kapan akan terjadi. Tidak ada yang ingin mendapatkan musibah jika saja boleh memilih. Tapi takdir yang ditentukan oleh yang Maha Kuasa harus kita jalani.
"Triiiing...! Triiiing!"
"Siapa?" Tanyaku ketika Roy masih belum mengangkat panggilan itu.
"Fandi, dia video call."
Aku pun ikut menjadi bingung. Bukankah Mas Fandi sedang berada di dalam mobil Ambulans bersama Mbak Mira? Untuk apa dia melakukan panggilan video?
"Aku angkat telpon dulu." Ujar Roy.
Aku mengangguk.
Roy pun menepikan mobilnya di pinggir jalan lalu mengangkat panggilan video itu.
"Berikan telponmu pada Indah, istriku ingin berbicara padanya."
Tanpa basa basi dan lupa mengucapkan salam, Mas Fandi mengatakan bahwa Mbak Mira ingin berbicara denganku.
Roy memberikan handphonenya untuk dipegang olehku. Aku pun mengambilnya dan memposisikan handphone itu di tengah agar Roy juga bisa melihatnya.
Disana di dalam layar, tampak wajah Mas Fandi sudah di banjiri dengan air mata sambil mengusap lembut kepala Mbak Mira sang istri yang sebagian sudah di basahi dengan darah.
__ADS_1
Aku menegang memandang langsung Mbak Mira dalam kondisi seperti itu. Dadaku bergemuruh menahan sakit dan pilu melihat orang-orang yang kusayangi terluka di depan mataku.
"I.. Indaah..."
Suara parau Mbak Mira yang pelan nyaris saja tidak terdengar olehku begitu ia melihat wajahku di layar video.
Suara yang nyaris tidak keluar dan memaksakan diri untuk berbicara padaku membuat aku terenyuh, hingga hatiku bagai tersayat sembilu melihat perjuangannya menahan sakit yang belum tentu aku bisa menahannya.
"Saya Mbak..." Jawabku dan menghapus jejak air mata yang mengembun mengaburkan penglihatanku kepada Mbak Mira.
"A.. ku mau k.. ka.. mu ber.. janji satu hal.., ber...sama Maaas.. Fandi."
Deg,
Entah apa yang ingin di katakan Mbak Mira membuatku aku tegang dan berdebar-debar. Apakah ini suatu pertanda permintaan terakhir? Tidak, Mbak Mira harus optimis bisa di tolong dan sehat kembali.
"Sayang...."
Mas Fandi tampak tak kuasa menahan tangisnya hingga air matanya meleleh di pipi walau tanpa suara.
"De.. ngarkan akuu.. Mas. Apa pun ya.. ng ter.. jadi selam.. matkan bayii... kitaaa. Dan I.. Indah, menikahlah...deng...ngan Mas Fanndii..."
Deg,
Aku terdiam. Air mataku seketika terhenti sejenak mendengar ucapan Mbak Mira yang masih terdengar jelas walau terbata-bata. Lidah ku kelu seakan mati rasa. Bahkan darahku terasa seperti mendapat sengatan listrik hingga aku seperti mengalami sport jantung.
"Sayang... jangan seperti itu." Ujar Mas Fandi lembut kepada isterinya.
Aku yakin Mas Fandi pasti tidak menyangka Mbak Mira akan berkata demikian, tapi ia juga tidak bisa bersikeras karena kondisi Mbak Mira yang sangat memperihatinkan.
Lalu aku harus bagaimana? Bagaimana aku bisa menolak keinginan wanita yang mungkin saja ini adalah permintaan terakhirnya?
Tidak mungkin aku menikah dengan suami sahabat yang ku anggap Kakak sendiri. Tidak mungkin aku menikah tanpa sedikit pun rasa cinta di hati.
Aku melirik ke arah Roy, siapa tahu lelaki itu memiliki solusi. Namun lelaki itu menjatuhkan kepalanya di stang bulat dengan mencengkeram kuat setir mobilnya. Sepertinya Roy pun tidak bisa menghalangi walau dia sangat ingin.
"Ku... mohon Indaaah..."
Lagi-lagi Mbak Mira meminta dengan rintihan suara yang memilukan hati. Hatiku yang tak kuasa melihat kesakitan seperti itu sungguh merasa dilema.
Tuhan, aku harus menjawab apa?
Kira-kira selanjutnya apa yang terjadi ya pembaca?
__ADS_1
Bersambung...