Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 89 I love You


__ADS_3

Bab 89


I love You


(POV Author)


"Kemana lagi kita Hon?" Tanya Indah.


"Ketempat yang aku bilang sebelumnya tadi."


"Oh, oke..."


Mobil pun melaju membelah jalan ibu kota. Roy tampak senang hingga ia terus saja memamerkan senyum manisnya.


Duh bisa diabetes aku. Batin Indah.


"Senyum terus ya Hon."


"Iya sayang, habisnya tidak menyangka aku sudah menikah denganmu. Rasanya seperti mimpi..., Awww! Kok di cubit Ney?"


"Sakit Hon?"


"Dikit...."


"Itu tandanya kamu tidak bermimpi kan Hon."


"Senangnya main cubit-cubitan, coba sesekali *****-******* gitu Ney."


"Mau kamu itu Hon."


"Sudah suami istri, bahkan pengen lebih malahan."


Sesaat keduanya terdiam, larut dalam pikiran masing-masing. Apa yang di ucapkan Roy membuat Indah tersadar, bahwa tidak selamanya ia bisa menghindar.


Indah berusaha meyakinkan dirinya, bahwa pernikahan keduanya ini tidaklah sama dengan pernikanan pertamanya. Apalagi cara Roy memperlakukannya berbeda dengan Heru dulu.


Dulu Heru memang perhatian dan mesra, tapi Heru tidak pernah melarang Indah untuk tidak mengeluarkan uang sendiri, atau memanjakan Indah dengan materi yang dia punya.


Berbeda dengan Roy. Tak sekalipun ia ingin wanita yang di cintainya bersedih dan kesusahan. Roy berusaha menyenangkan hati wanitanya dengan segala kemampuannya.


"Kalau kamu mau memintanya, insyaallah aku siap kapan saja Hon." Ucap Indah tiba-tiba.


Tanpa pikir panjang, Roy langsung menepikan mobil yang ia kendarai secara mendadak. Untung saja jalan itu lenggang hanya ada satu dua kendaraan yang lewat.


"Ada apa Hon?" Tanya Indah bingung dan raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran melihat sang suami.


Dengan gerakan cepat, Roy tiba-tiba menyambar tengkuk Indah dan mendaratkan ciumannya di bibir sang wanita yang telah sah menjadi istrinya.


Mata Indah sontak membulat, namun wanita itu tidak menolak. Ia membiarkan saja suaminya ingin melakukan apapun padanya.

__ADS_1


Perlahan dengan lembut Roy me*lu*mat bibir Indah. Saat ada celah mulut Indah terbuka, Roy pun memperdalam ciumannya.


Kaku, namun tetap lembut dengan naluri yang bekerja secara alami, Roy terus menciumi bibir isterinya. Walau pun Indah sudah pernah menikah, namun untuk melakukan ciuman seperti sekarang ini Indah tetap merasa gugup. Apalagi ini pertama kalinya ia melakukannya dengan lelaki lain selain Heru.


Perlahan Indah mulai membalas hingga napas ke duanya mulai memburu.


"Roy...." Indah menahan dada Roy, melepaskan ciuman mereka dengan napas terengap-engap mencari udara di sekitarnya.


"Hehehe, maaf Ney. Aku terlalu memaksa ya."


Wajah Indah memerah, ia tidak sanggup menatap wajah suaminya yang kian membuat degub jantungnya menjadi tak beraturan.


Roy mengusap lembut bibir Indah yang terlihat ada bekas jejak pertemuan saliva mereka.


"Kita lanjutkan lagi perjalanan?" Tanya Roy.


Indah pun mengangguk setuju. Jika mereka lebih lama lagi bertahan di situ, bisa-bisa orang yang melihat akan menilai mereka berbuat asusila di pinggir jalan.


Setengah jam kemudian mereka pun tiba di sebuah hunian komplek. Namun perumahan bisa dikatakan tergolong dalam kelas menengah ke atas. Rumah berlantai 2 dengan halaman minimalis membuat Indah kagum sekaligus bingung. Rumah itu tampak sepi tanpa penghuni.


"Yuk masuk!" Ajak Roy. Ia pun menunggu sang istri mengagumi rumah itu terlebih dahulu.


"Ini rumah siapa Hon? Tanya Indah yang matanya masih tidak lepas memandang desain rumah modern minimalis dengan paduan warna putih dan coklat muda.


"Rumah kita kamu suka Ney?"


"Loh, kita tidak tinggal bareng Umi, Abi ya Hon?"


Mereka pun melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah.


Indah sedikit terkejut melihat perabotan yang tidak asing baginya. Ia langsung terpesona akan interior dalam rumah yang sudah di lengkapi funiture baru yang ia pilih waktu itu.


"Ini funiture dan perabot yang kita beli waktu itu?"


"Iya Ney, kamu suka?" Tanya Roy yang datang mendekat dan memeluk Indah dari belakang, lalu mencium leher Indah dari samping.


Jantung Indah kembali berdegub dengan kencang. Darahnya berdesir dan hasratnya mulai tumbuh.


"Hon..."


"Hmm..."


Roy tidak mampu menjawab hanya bergumam ria. Detak jantungnya telah menggebu-gebu sejak ciuman mereka di dalam mobil. Di tambah lagi mereka sedang berada di tempat yang sangat mungkin untuk memadu kasih. Apalagi mereka belum melakukannya sejak dari malam pertama menikah.


Hasrat kedua insan manusia itu mulai menguasai hati dan pikiran. Detak jantung mereka bersahut-sahutan seperti berlomba berdetak paling kencang.


Napas Roy yang berhembus di leher Indah terasa begitu hangat menyentuh jiwa kesepiannya selama ini. Pelukan manja Roy membuat Indah merasa dirinya sebagai wanita yang paling di inginkan oleh lelaki itu.


"Roy...."

__ADS_1


Suara Indah yang mendayu memanggil namanya, membangkitkan sesuatu di bawah sana. Membuat napas Roy memulai bergemuruh dan memburu.


Indah tahu dari pengalamannya, jika seorang lelaki sudah seperti itu, pasti na*fsu sedang menguasai pikiran dan hati lelaki. Apalagi Indah juga merasakan sesuatu yang menonjol menyentuh bo*ko*ngnya.


"Ikut aku." Ajak Roy segera melepaskan pelukan, lalu menggenggam tangan Indah untuk mengikuti dirinya naik ke lantai atas.


Menaiki tangan menuju lantai dua, ada sebuah kamar utama yang sangat luas dengan pemandangan dari balkon yang dapat melihat deretan rumah-rumah yang sama dengan rumah milik mereka. Dan tentu saja ranjang empuk dengan ukuran king size sudah terpajang menunggu untuk di gunakan.


"Ney...."


Suara mendayu Roy mulai memberat. Wajahnya sudah sangat menginginkan Indah.


Lelaki itu perlahan semakin mendekati Indah hingga wajah keduanya bertemu dan pangutan bibir pun mulai tercipta.


Deru napas keduanya mulai memburu seakan mereka takut akan hilangnya waktu. Mata keduanya terpejam saling menikmati bibir lembut nan basah sambil bertukar saliva.


Tangan Roy mulai bergerilya mengelus, mengusap bahkan menekan tubuh Indah saat hasratnya semakin tak tertahan. Perlahan lelaki itu menggiring istrinya menuju tempat tidur tanpa melepaskan pangutan mereka.


Lidah mereka saling menjelajahi rongga mulut, membelit lidah lawan dan bertukar mengecap saliva dengan me*l*um*at bibir, seakan-akan mereka tidak merasa puas bahkan semakin haus dan ingin meminta lebih.


Perlahan tapi pasti, tangan Roy mulai membuka satu persatu pakaian yang Indah kenakan. Meraba kulit mulus Indah di setiap sentinya. Lalu merebahkan tubuh sang istri yang kini hanya mengenakan pakaian dalam saja.


Tatapan penuh cinta Roy terhadap Indah semakin membuai Indah yang kini telah pasrah untuk melakukan apa saja yang di minta suaminya.


Roy membuka satu persatu pakaiannya. Hingga pada bagian bawah, sesuatu yang tampak tegang sedari tadi menyebul keluar menampakkan kepala jamur. Jamur itu seakan-akan baru saja merdeka dapat menghirup napas dengan bebas hingga ia semakin tumbuh dan tumbuh.


Walah Indah tersipu memerah namun tidak dapat mengalihkan pandangannya pada batang tegak berdiri yang siap menerjang badai ga*ir*ah asrama.


Tidak menutupi hasratnya yang kini tanpa malu-malu sudah menguasai hati dan pikirannya. Bagaimana tidak, walau Indah sudah menikah dan menjalani kehidupan pernikahan selama hampir 2 tahun, tapi Indah jarang menyalurkan rasa keinginan batin yang kesepiannya karena mantan suami yang bekerja di kota lain.


"Sayang... Aku mulai ya... Ajari aku kalau salah. Kabari aku kalau kamu suka. Biar aku tahu bagaimana cara terbaik membahagiakanmu..."


Tatapan sayu penuh hasrat kedua insan itu saling menatap penuh cinta untuk memulai penyatuan.


Ya, tidak dipungkiri lagi, Indah sudah merasa yakin cinta telah tumbuh di hatinya untuk suaminya, Roy.


Bukit kembar terpampang jelas tanpa selai benang pun kini. Hutan tropis yang tampak rapi mulai mengeluarkan mata air dari dalam doa yang lembab dan basah.


Indah mengangguk tanda ia telah siap lahir batin. Roy pun mulai menjalankan aksinya dengan insting naluriyah alami yang menuntunnya menjajahi setiap jengkal tubuh Indah. Mengecup tiap bagian tubuh dan meninggalkan jejak kepemilikan disana. Membenamkan wajahnya pada bukit kenyal milik Indah dan mengulum dan memainkan pentolan coklat yang sedari tadi menegang dan menarik untuk di e*mu*t.


"Mmhh... Roy..."


Roy semakin suka mendengar suara de*s*a*ha*n Indah yang memanggil namanya mesra. Lelaki itu semakin ingin mendengar dan mendengar lagi de*s*ah*an itu dengan permainannya yang semakin liar.


"Aaahh, mmhh...."


Sampai di pusat inti kenikmatan yang sejak tadi menunggu tanpa henti mengalirkan cairan bening untuk menyapa batang tumpul berkepala jamur yang juga sedari tadi melirik sang goa.


"Sudah siap, sayang....?"

__ADS_1


Indah mengangguk mantap. Roy pun mulai mengarahkan bazooka miliknya yang meronta-ronta karena ingin segera membombardir milik Indah. Dan menyatuan pun dimulai dengan mereka melakukannya.


Bersambung...


__ADS_2