Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 7 Pulangnya Mas Heru


__ADS_3

Bab 7


Pulangnya Mas Heru


Setelah kembali dari kampung beberapa hari yang lalu, aku melakukan aktifitas seperti biasanya. Pergi bekerja sedikit melupakan masalah rumah tanggaku dengan Mas Heru. Walau terkadang air mata ini masih jatuh tanpa di minta tapi aku mulai mampu untuk melepas Mas Heru dari hatiku.


Hari minggu adalah hari aku beristirahat dari pekerjaan ku selama seminggu. Aku ingin memanjakan diri dengan melakukan kegiatan yang menyenangkan bagiku. Di mulai dari berbelanja ke pasar membeli bahan-bahan makanan yang nanti akan aku olah menjadi masakan yang aku sukai.


"Belanja Bu Indah?" Sapa salah seorang tetangga ku yang kebetulan sepertinya ia juga hendak kepasar.


"Eh, iya Bu Rika. Belanja juga ya?" Tanyaku.


"Iya, Bu. Stok bahan sudah mulai habis nih. Hehehe..."


"Oh, saya juga kehabisan stok bahan."


"Wah, kebetulan bisa belanja bareng nih." Ajak Bu Rika


"Boleh." Kataku mengiyakan.


Kami pun berjalan beriringan menuju pasar. Dari sekian banyak tetangga, Rika ini tidak banyak bicara menurut ku. Aku menyukai karakternya yang tidak terlalu ingin tahu dengan urusan orang lain. Usia nya mungkin seumuran dengan ku. Jadi rasanya tidak begitu canggung untuk berbicara santai dengannya.


Kebetulan pasar di daerah rumah kami tidak lah jauh. Hanya keluar dari gang, dan berjalan kaki sekitar 8 menit kami pun sudah sampai di pasar. Kami berpisah di tengah-tengah pasar karena mencari bahan makanan yang berbeda. Cukup banyak aku berbelanja hingga ku rasa kulkas ku akan penuh dengan stok makanan.


Aku pun pulang dengan kedua tangan penuh membawa belanjaan. Dengan perasaan riang aku mulai memasak beberapa jenis makanan kesukaan ku. Hari minggu ini aku akan menikmati waktu liburku dengan sepenuh hati.


Tidak terasa dua jam berkutat di dapur akhirnya masakan selesai juga. Masakan-masakan itu ku susun rapi di meja makan. Kemudian aku pun mandi untuk membersihkan diri sebelum menikmati makanan yang aku masak.


***


Tubuh sudah wangi dan segar saatnya aku menikmati masakan ku, begitulah pikirku. Namun sepertinya keinginan ku harus tertunda karena dari dalam rumah terdengar suara ketukan pintu di depan tanda seseorang datang ke rumahku.

__ADS_1


"Tok...Tok...Tok...!"


"Siapa?" Tanyaku sambil membukakan pintu rumah.


"Assalamualaikum Indah."


Mulutku terasa mengatup rapat untuk menjawab salam yang di ucapkan oleh Mas Heru. Tamu tak di undang datang pagi ini dengan wajah santai tanpa dosa. Senyum palsu terukir manis di wajahnya, seakan-akan aku akan menerima kehadirannya dengan penuh suka cita. Darahku mulai mendidih, apalagi melihat Mas Heru datang dengan istri mudanya yang bergelayut manja di lengan Mas Heru. Hilang sudah selera makan ku.


"Waalaikumsalam. Mau apa kemari?" Jawabku ketus tak sudi berbaik hati pada tamu yang memberi luka di pagi ini.


"Indah, apa begitu caramu menyambut suami mu?" Tanya Mas Heru merasa tidak senang. Matanya tajam melihat ke arahku.


"Apa Mas ingin aku bergelayut manja seperti dia menyambut mu Mas? Jangan harap!" Sarkasku sambil melirik tajam kepada wanita yang sok polos itu.


"Mas...., tuh kan mbak Indah pasti tidak mau terima aku." Rengek sang gu*ndi*k kepada Mas Heru.


Apa? Mbak Indah? Sejak kapan aku menjadi kakaknya?! Dengan wajah di buat cemberut sok polos, gundik itu mencoba mengambil simpati Mas Heru. Begitu muak aku melihatnya.


"Sabar sayang, Indah sedang mencoba berdamai dengan hatinya untuk menerimamu." Ujar Mas Heru dengan tatapan lembut terhadap istri sirinya.


"Mas, sudah aku katakan aku ingin surat cerai dari mu!" Kataku mulai kehabisan kesabaran.


"Ck! Tidak ada perceraian di antara kita! Cobalah untuk menerima takdir mu Indah. Aku akan memperlakukan kalian seadil-adilnya." Kata Mas Heru manatapku tajam.


"Sekalipun kamu berusaha adil tapi kamu melukai hatiku Mas. Dan itu tidak adil bagiku."


"Kamu hanya dalam keadaan emosi. Pikirkan dari segi positifnya Indah." Mas Heru masih berusaha meyakinkan aku.


"Apa sisi baiknya buatku Mas? Melihat kemesraan kalian? Melihat suamiku di peluk wanita lain dan bahkan berbagi ranjang? Apa kamu pikir aku senang melihat itu Mas? Bagaimana jika kamu juga berbagi istri dengan pria lain? Apa kamu sanggup melihatnya?!"


"Cukup Indah! Tidak lazim seorang suami berbagi istrinya kepada orang lain!" Ucap Mas Heru setengah berteriak.

__ADS_1


Aku menelan salivaku. Baru kali ini Mas Heru membentakku.


Wina tampak tersenyum mengejek melihat Mas Heru murka padaku. Padahal aku tahu dalam hatinya pasti senang bila aku berpisah dengan Mas Heru.


"Jadi hanya istri yang lazim berbagi suami kepada wanita lain? Silahkan Mas menambah istri 2 atau 3 lagi tapi aku tidak termasuk salah satunya. Aku ingin kita bercerai! Dan keputusanku sudah bulat." Ucap ku menatap tajam Mas Heru.


Tatapan mata kami bertemu, berbeda dengan dulu. Dulu kami saling menatap mesra, namun kini tatapan Mas Heru seperti perintah yang tidak ingin di tolak. Sedangkan aku menatap Mas Heru penuh kekecewaan dan kebencian.


"Minggir!"


Perintah Mas Heru sambil sedikit mendorong tubuhku untuk masuk ke dalam rumah. Wina yang masih selalu memeluk lengan Mas Heru tersenyum sinis ketika mereka melewati tubuhku dan langsung duduk di sofa ruang tamu rumahku.


Tuhan, tolong kuatkan tubuh dan hatiku untuk menghadapi manusia yang keras kepala seperti Mas Heru ini. Rasanya aku sudah tidak sanggup lagiĀ  menghadapi mereka.


"Buatkan aku kopi!" Perintah Mas Heru.


"Mas aku ingin jus buah." Pinta istri siri Mas Heru dengan manjanya yang membikin aku mual.


"Dan jus buah juga untuk Wina."


Aku diam mematung tidak ingin membuatkan mereka minuman karena aku tidak menginginkan kehadiran mereka.


"Aku masih suamimu Indah, turuti perintahku!" Lagi-lagi Mas Heru membentakku.


Sungguh aku terluka melihat sikap Mas Heru. Mau tidak mau aku membuatkan mereka minuman sebagai bakti terakhir ku yang masih berstatus istri Mas Heru.


"Mas aku kebelet, mau ke belakang dulu ya?"


Terdengar suara Wina minta ijin sama Mas Heru. Dan ia pun langsung menyusul langkah kaki ku menuju dapur yang mana terdapat kamar mandi tidak jauh dari tempatku berada.


Sekilas mata kami bertemu tatap. Pandangan kebencian terpampar jelas dalam sorot mata wanita itu. Lagi-lagi bibirnya tersungging ke atas memberikan senyum mengejek padaku.

__ADS_1


"Ternyata tidak sebaik yang Mas Heru ceritakan. Kalau mau cerai ya cerai saja. Aku pun tidak mau berbagi. Apasih yang di lihat Mas Heru darinya? Cantikkan juga aku." Celoteh Wina dari dalam kamar mandi yang membuat kuping ku panas rasanya.


Bersambung...


__ADS_2