Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 90 Candu Baru


__ADS_3

Bab 90 Candu Baru


(POV Author)


Keduanya terbaring lelah dengan keringat bercucuran. Yang satu haus belaian kasih sayang karena lama kesepian, dan yang satu baru pertama kali sehingga merasa ketagihan ingin lagi dan lagi. Dan mereka pun melakukannya dengan mencurahkan seluruh isi hati.


"Makasih Ney sayang..."


Roy mengusap keringat di pelipis Indah, lalu mencium keningnya dengan lembut.


"Maaf ya Hon, kalau kamu tidak puas denganku."


"Kenapa bilang begitu? Apa karena kamu janda?"


Indah mengangguk di dalam dekapan Roy.


"Coba lihat aku Ney?" Pinta Roy.


Indah pun menengadahkan wajahnya melihat wajah suaminya yang walau di selimut keringat pun masih tetap tampan malah semakin seksi di matanya.


"Justru aku mau tanya, kamu janda apa bukan?"


"Kenapa begitu?" Indah bingung.


"Tadi aku ragu-ragu mau coblos, makanya aku melakukannya pelan-pelan. Tadinya ku kira bisa langsung coblos, ternyata milikmu begitu rapat Ney."


Wajah Indah memerah. Suaminya tampannya sungguh santai berkata absurd seperti itu.


"Aku janda Hon, tapi jarang di jamah waktu pernikahan dulu." Jawab Indah malu-malu.


"Tidak apa Ney, toh di luar sana banyak yang berstatus gadis namun rasa janda. Kamu tidak perlu malu karena kamu benar-benar mantan janda."


"Mantan?" Indah kembali bingung.


"Iya lah, kan kamu istri aku sekarang."


Indah mengeratkan pelukannya, mencium wangi tubuh suaminya yang perlahan kini mampu memberikan ia rasa aman, nyaman, dan ketenangan.


"Jangan gerak-gerak Ney, nanti yang di bawah bangun lagi."


"Lepas saja kalau gitu ya Hon?"


"Jangan Ney, biar saja begini. Sekali lagi ya Ney, habis itu kita cari makan. Cacing di perutku menjerit tapi bambang bawah lebih sulit di ajak kompromi."


Indah terkekeh. Ia pun mengangguk mengiyakan.


Surga dunia yang baru di kecap oleh Roy membuat lelaki itu terus mendominasi permainan hingga Indah pasrah dan menyerah. Tubuh terasa remuk, pinggangnya terasa mau putus namun semua itu sebanding dengan kebahagiaan dan kesenangan yang ia rengkuh.


Keduanya lalu mandi bersama dan pasti sambil-sambil icip-icip lagi dan lagi.


Senyum merekah dengan rona bahagia terpancar di wajah dua insan yang di mabuk asmara setelah menikah. Tatapan mesra keduanya mengiris hati para jomblo yang membaca.


Baik Roy maupun Indah kini sama-sama merasa tidak ingin kehilangan pasangan yang mereka cintai. Indah berjanji dalam dirinya akan memberikan yang terbaik untuk suaminya, begitu pula Roy yang berjanji dalam dirinya akan mencintai Indah seorang sampai maut memisahkan mereka.

__ADS_1


Keduanya tiba di sebuah restoran seafood sesuai keinginan Indah yang ingin menikmati kepiting dan lobster. Menuju meja di bagian tengah sedikit ke belakang, Roy menarik kursi untuk mempersilahkan istri tercintanya untuk duduk. Kemudian ia pun duduk di depannya.


Menu yang di pesan datang, baik Indah maupun Roy sama-sama menikmati makan malam mereka dengan porsi lebih banyak dari biasanya. Maklum saja, karena mereka baru saja melewati olahraga surga dunia.


"Ney sayang, apa kamu ingin menunda kehamilan?"Tanya Roy tiba-tiba.


Indah menghentikan aktifitas makannya.


"Kenapa Hon, apa kamu ingin kita menunda memiliki momongan?"


"Tidak Ney, aku siap kapan saja jika Tuhan mengijinkan kita untuk membesarkan anak."


Indah tersenyum mendengar jawaban suaminya. Dalam hati ia juga memiliki keinginan yang sama.


"Kita berdoa saja Hon, semoga kita segera memiliki momongan."


"Jangan lupa usahanya Ney, duh jadi pengen lagi.." Ujar Roy dengan wajah mesumnya.


"Astaga Hon..."


Wajah Indah pun memerah. Ia langsung teringat apa yang tadi mereka lakukan di rumah barunya.


"Hon, kamu sudah mengabari Mas Fandi tentang Mbak Nuning?"


"Oh ya, nyaris saja lupa. Untung kamu ingatkan Ney, makasih ya sayang. Bentar aku telpon Fandi dulu."


Indah mengangguk. Ia melanjutkan makannya yang masih bersisa sambil menunggu Roy menelpon Fandi.


"Waalaikumsalam. Ada apa Bro?"


"Aku sudah menemukan Baby sitter untuk Almira. Dia kakak sepupuku namanya Mbak Nuning. Kapan kamu mulai mempekerjakannya?"


"Besok sudah boleh Bro, pagi-pagi langsung saja datang kerumahku sekitar jam 7 pagi sebelum aku berangkat ke kantor."


"Oke, aku akan segara mengabari Mbak Nuning."


"Oh ya, bagaimana keadaan Tante Naima?"


"Alhamdulillah, hari ini sudah di perbolehkan pulang."


"Oh, sukurlah."


"Besok kita ketemu di kantor. Sebelumnya, Thanks ya, Bro sudah sering nolongin."


"Sama-sama, Bro. Bukan masalah. "


Panggilan pun di akhir setelah mereka sama-sama mengucapkan kata salam.


Habis ini kita ke mess kamu ya. Kita ambil semua barang-barang kamu. Dan sepeda motormu kembalikan saja ke kantor."


"Iya, Hon."


Selesai makan mereka menuju mess sesuai rencana. Tidak banyak barang yang di angkut, karena Indah pun memang hanya memakai barang yang sudah di siapkan dari kantor.

__ADS_1


"Hanya ini?" Tanya Roy melihat dua buah koper dan satu tas ransel berisi laptop dan berkas-berkas kantor.


"Iya, Hon."


"Ya sudah. Kita langsung pulang saja ya ke rumah Umi. Kamu pasti lelah. Kamu bisa istirahat sampai makan malam nanti, karena setelah itu, kita akan lembur bersama."


Indah tidak menjawab. Namun rona merah di pipi tidak dapat di tutupi dan Roy tersenyum gemas melihat istrinya.


Mobil kembali melaju membelah jalan ibu kota. Energi Roy seakan tidak ada habisnya pergi kesana dan kesini. Ia tetap bersemangat menunggu malam tiba.


Masa pengantin baru memang masa indah dan masa ingin selalu menempel berdua. Tautan jemari tidak pernah lepas dari ke duanya sesampai dirumah.


"Guh, bantuin angkat koper Kakakmu ya? Nih kuncinya." Roy memberikan kunci mobil kepada Teguh yang membukakan pintu rumah untuk mereka.


"Kak Indah habis dari mana memangnya? Pasti Abang bikin Kak Indah kabur kan? Bilangin Umi ah..."


"Sok tahu kamu! Itu barang-barang Ney sayang dari mess di angkut kesini."


"Masa cuma koper doang?"


"Ya emang cuma koper. Udah sana, angkutin!"


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..." Jawab Roy Teguh dan Indah serempak.


"Kok awal pulang Mi?" Tanya Teguh.


"Umi cuma pulang sebentar habis itu balik lagi ke toko. Kamu anterin Umi ya, pake mobil Roy aja, kecil enak nyalip."Ujar sang Umi yang terlihat buru-buru.


"Dih Umi, Teguh bukan pembalap Mi main nyalip-nyalip kendaraan." Protes Teguh.


"Itu kamu mau kemana?" Tanya Umi mendengar kunci sentral lock mobil di pencet.


"Angkutin koper Kak In, Mi."


"Bagus deh sekalian kamu olah raga. Badan mu udah mulai berlemak gini. Di potong juga ogah, mengandung kolesterol tinggi."


"Dih Umi, gini-gini aku udah turun 8 kilo loh, Mi."


"Masa sih, tidak begitu kelihatan Umi lihat."


"Aku rajin olah raga, Umi aja yang gak tau."


"Kapan kamu olah raganya?"


"Ya emangnya harus bilang-bilang, Mi? Umi tuh, yang harus banyak olah raga juga. Cuma olah raga napas sama buang ke*nt*ut doang, ya mana bisa langsing Mi."


"Dasar anak sableng!" Greget Umi.


"Lari ah, sebelum kapak naga geni keluar." Ujar Tegur langsung ngacir mengambil koper Indah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2