
Bab 83
Ternyata Benar
(POV Author)
Dalam kehidupan selalu ada dua sisi yang berbanding terbalik. Seperti hitam dan putih, langit dan bumi, kaya dan miskin maupun suka dan duka.
Semua telah di atur pada waktunya dan tidak memandang tua maupun muda
Di saat Roy dan Indah sedang memulai rasa suka akan kebahagiaan yang menghampiri, sementara Fandi sedang menjalani kemelut dalam keluarganya.
Akibat ulah Siska sang Adik angkat, Ibu mereka sekarang sedang di opname akibat serangan jantung. Untungnya masih serangan jantung ringan.
"Ini pertama dan terakhir kamu mengakibatkan Ibu sakit seperti ini. Tapi, kalau sampai terjadi lagi, aku tidak segan-segan mengusirmu dari rumah!" Ancam Fandi.
"Apa salahku mengatakan kebenaran Mas, kalau kita sudah tidur bersama?"
"Itu tanpa disengaja Siska! Sudah berapa kali aku katakan padamu, hentikan!! Tidak ada gunanya kamu memaksakan perasaanmu padaku. Karena sekalipun aku tidak pernah menganggapmu lebih dari adik. Dan satu lagi aku katakan padamu, bahkan aku sudah tidak ingin menggapmu adik!!".
"MAS!!"
Ini Rumah Sakit, kecilkan suara kalian!" Sergah Nurma, Bibi mereka.
Fandi mendengus napas kasar. Siska benar-benar menguras emosinya. Jika saja Siska lelaki, tentu saja bogem mentah sudah mendarat di wajahnya. Sayangnya Fandi bukan tipe lelaki yang menyakiti wanita dengan tangannya.
"Kalian benar-benar bikin malu keluarga! Terutama kamu Siska! Apa harus kamu berteriak di depan semua orang seperti tadi?!"
"Tapi Bi, kalau aku tidak mengatakan saat itu, Mas Fandi pasti menikah dengan perempuan itu!"
"Dia punya nama Siska! Dan dia wanita baik-baik, kenapa kamu membencinya?!" Tanya Fandi berang.
"Karena dia merebut kamu dariku, Mas!"
"Cukup Siska!!"
Fandi yang sedari tadi menahan geram sudah merasa berada di ambang batas. Sorot matanya tajam memandang wanita yang baru ia ketahui sangat keras kepala.
"Triiing...! Triiing....!"
Handphone Fandi berdering. Mengalihkan kekesalan dua anak manusia yang saling adu mulut.
Nama Dokter Irvan yang tertera di gawainya, membuat Fandi dengan cepat mengangkat panggilan itu dan sedikit menjauh dari Siska.
"Assalamualaikum..." Salam Fandi.
"Waalaikumsalam... ,Bro hasil lab sudah keluar. Kamu mau aku mengantarkannya atau bagaimana?"
"Kebetulan aku ada di Rumah Sakitmu Bro. Aku akan segera ke ruanganmu."
"Baiklah, aku tunggu."
Fandi melirik Siska sepintas dengan tajam. Lalu melihat ke arah sang Bibi yang sepertinya penasaran dengan siapa yang menelpon.
__ADS_1
"Bi, titip Ibu sebentar ya, telpon aku bila ada apa-apa. Aku ada sedikit urusan dengan sahabatku di Rumah Sakit ini."
"Baiklah."
Fandi pun memulai melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan dimana Ibunya di rawat.
"Mas, tunggu! Aku ikut!" Ujar Siska dan hendak ngejar langkah Fandi.
Fandi berbalik badan dan menatap Siska dengan berang.
"Selangkah lagi kamu maju, ku pastikan semua bajumu aku lempar keluar rumah!!" Ancam Fandi tak main-main.
Siska membeku, ia terpaksa menghentikan langkahnya tiba-tiba. Tak ingin apa yang di ucapkan Fandi menjadi kenyataan, apalagi setelah baru pertama kali melihat wajah lelaki yang dicintainya itu menatapnya bengis.
Dengan wajah kesal, wanita itu terpaksa balik lagi ke ruangan di mana Ibu Naima di rawat. Dengan jalan menghentakkan kaki, Siska membelakangi Fandi.
Langkah panjang kaki Fandi pada akhirnya membawa lelaki itu pada sebuah ruangan yang sudah pernah ia masuki. Dokter Irvan sedang duduk di kursinya dan memeriksa hasil pemeriksaan pasien-pasiennya hari ini.
"Oh, duduk Bro. Ada apa kamu sampai Ke rumah Sakit? Padahal tadinya aku akan menyuruh kurir mengantarkannya padamu." Ujar Dokter Irvan sambil tersenyum.
"Ibuku belum lama masuk ke Rumah Sakit ini karena serangan jantung." Ungkap Fandi.
"Oh, benarkah. Lalu bagaimana hasil pemeriksaannya?"
"Untunglah hanya serangan jantung ringan."
Dokter Irvan tampak menghela napas lega. Sekalipun ia bekerja sebagai Dokter dan mendapatkan penghasilan dari pasien-pasien yang datang, namun Dokter Irvan tidak pernah berharap, orang-orang jatuh sakit apalagi keluarga, atau kerabat yang ia kenal.
"Sukurlah, dan ini... hasil lab yang kamu tunggu."
"Bisa kamu jelaskan Bro?"
"Tentu. Dalam sisa cairan yang menempel di dinding gelas itu di temukan kandungan obat tidur serta sedikit perangsang. Dari mana kamu mendapatkan gelas ini Bro?"
"Apa efek sampingnya?" Fandi tidak menjawab pertanyaan Dokter Irvan, malah ia mengajukan pertanyaan lagi."
Kamu tetap tertidur tapi libido mu tetap naik."
"Apa mungkin bisa melakukan..., maksudku hubungan badan?"
"Bisa saja, asal pasanganmu yang berkerja untukmu. Kamu tinggal terima beres. Hehehe, apa ada kejadian semacam itu?".
Lagi-lagi Dokter Irvan mencoba bertanya.
Fandi membuang napasnya dengan kasar. Kesal karena apa yang di tanyakan sahabatnya telah terjadi padanya.
"Siska memberiku wedang jahe dalam gelas itu."
Dokter Irvan tertegun mendengar ucapan Fandi. Pria itu dengan cepat mencerna lalu menyimpulkan dengan bukti yang ada di depan mata.
"Jadi, kamu dan adikmu..." Ucapan Dokter Irvan menggantung seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja ia ketahui.
"Terima kasih untuk bantuanmu, Bro. Aku akan mentraktirmu lain waktu." Ujar Fandi mengalihkan bahasan yang sedang tidak ingin ia bahas.
__ADS_1
"Tentu saja, Bro. Sekalian mendengarkan kisah tragismu ini." Ujar sang Dokter dengan tersenyum nyengir.
Fandi membawa hasil lab itu, lalu melipat dan memasukannya ke dalam saku celananya. Ia pun segera kembali ke ruangan Ibunya di rawat.
Apa yang Fandi perkirakan benar terjadi, lelaki itu segara menyusun rencana untuk menghindari Siska bila perlu memberikan efek jera kepada adik angkatnya itu.
Ibu Naima terbangun ketika Fandi memasuki ruangan rawat itu. Tatapan sang Ibu masih bingung dengan sesekali melihat ke arah Fandi dan Siska.
"Fandi..." Panggil sang Ibu lirih.
Wanita itu belum bisa berbicara normal karena dadanya masih terasa nyeri walau tidak separah sebelumnya.
"Bu, jangan banyak bergerak. Apa yang Ibu rasakan? Masih sakit? Fandi panggilkan Dokter ya?"
Bu Naima menggeleng pelan.
"Ibu sudah tidak apa-apa. Fandi... Tolong jawab Ibu dengan jujur Nak, apa kamu dan Siska..."
"Ibu tidak perlu memikirkan apa yang terjadi. Aku tidak memiliki hubungan apa-apa, itu hanya sebuah kesalahan yang tidak berarti apa-apa. Anggap saja aku pernah berpacaran lalu putus." Ujar Fandi dengan santainya.
Setelah bukti di tangannya, ia lebih merasa percaya diri kalau dirinya tidak bersalah. Bahkan jika boleh dikatakan, Siska lah yang me*mper*ko*sa dirinya. Miris bukan.
"Mas, mana bisa seperti itu, pokoknya kamu harus tanggung jawab!!"
"Tentu saja bisa. Apa yang harus aku pertanggung jawabkan? Bukan aku yang melakukannya pertama kali, bahkan kau pun belum tentu hamil."
"Mas!!"
"Hentikan kalian!! Apa kalian tidak kasihan dengan Ibu kalian?" Tanya Bi Nurma.
"Perlu Ibu tahu, dia memasukan sesuatu ke dalam wedang jahe yang dia berikan padaku. Dan aku memiliki bukti yang mempu membawamu ke penjara!!"
Wajah Siska berubah pias. Tubuhnya terasa kaku dan lidahnya seakan tak mampu untuk berkilah.
"Fan..."
"Jangan membelanya Bu, kita mungkin selama ini sudah di tipu dengan sikap manisnya. Dan aku tidak menyangka, ternyata selama ini kita telah membesarkan seekor ular!!" Sarkas Fandi yang langsung merobek hari Siska.
Siska terdiam, ia sangat kecewa. Bahkan matanya langsung mengembun dan air mata mulai jatuh tanpa bisa ia tahan. Wanita itu begitu terluka dengan ucapan Fandi yang begitu tega mengatainya dengan sebutan 'ular'.
"Kamu jahat Mas!"
Siska melangkah keluar dari ruangan itu, dan dengan setengah berlari ia berusaha segera menjauh dan perdu dari Rumah Sakit itu.
Dalam hati ia masih berharap Fandi mau mengejarnya dan membujuknya untuk tetap tinggal. Sayangnya semua di luar ekspektasi Siska. Bahkan bayang-bayang Fandi pun enggan muncul menghampirinya.
Siska mendadak menjadi benci, benci karena Fandi tidak dapat menjadi miliknya.
Siska yang terlena akan kebaikan dan kasih sayang Fandi sebagai seorang kakak, menjadi jatuh cinta sekian lama tanpa bisa memiliki sang Kakak.
Siska masih belum mampu menerima keadaan hingga ia membenci kenyataan yang terjadi dalam kisah cintanya. Sungguh wanita yang tidak bersyukur dengan segala yang ia punya. Ia lupa bagaimana keluarga itu menemukan dirinya.
Bersambung...
__ADS_1
"