Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 57 Musnah Harapan


__ADS_3

Bab 57


Musnah Harapan


(POV Author)


Bu yarsih tidak sanggup melerai keduanya. Wanita paruh baya itu bahkan sempat terdorong mundur ke belakang karena berusaha memisahkan Ratih dan Wina.


"Loh Ada apa ini? Kalian kenapa? berhenti-berhenti!!"


Hendra tiba-tiba sudah ada di dalam rumah itu. Ia berusaha memisahkan keduanya dengan memeluk salah satu dari mereka. Hendra memeluk Wina sedangkan Ratih di peluk oleh Ibunya.


Wina tersenyum seringai karena ia yang dipeluk oleh Hendra. Sedangkan Ratih wajahnya tampak masam karena. menahan kesal melihat adegan di depan matanya.


"Lepas Bu! Biar ku hajar perempuan itu!" Bentak Ratih kepada Ibunya.


"Sudah hentikan Ratih!" Ujar Hendra sambil bergerak memposisikan dirinya di tengah-tengah mencoba menghalangi agar tidak terjadi lagi pertikaian di antara dua wanita gelapnya.


"Biar Mas, biar ku jambak rambutnya sampai rontok!"


"Hentikan Ratih! Apa kamu tidak malu di lihat tetangga?!" Ujar Hendra yang melihat ke arah Ratih dan juga tetangga yang mulai mengintip-ngintip di depan, mencari tahu apa yang terjadi.


"Sayang, katakan sejujurnya padaku! Kalian tidak ada main di belakangku kan?!"


Tidak peduli di lihat orang banyak, Ratih menanyakan apa yang mengganjal dalam hatinya dengan tatapan mengintimidasi ke arah Hendra.


Deg,


Hendra gelagapan atas pertanyaan Ratih. Dirinya terus memandang Ratih dan Wina secara bergantian.


"Katakan Mas, kamu sudah janji akan menikahi aku!" Ratih berkata sambil memeluk lengan kiri Hendra yang dekat dengannya. Memaksa pria itu hanya untuk dirinya.


"Bagaimana dengan aku?" Tanya Wina dengan wajah sendu sambil mengikuti apa yang Ratih lakukan, yaitu memeluk lengan Hendra di sebelah kiri pria itu.

__ADS_1


Hendra menegang di antara dua wanitanya. Apalagi sejak tadi Bu Yarsih menyimak untuk mengetahui apa yang terjadi sebenarnya.


"Mas Hendra milikku! Sana kamu! Dasar perebut milik orang!" Sarkas Ratih yang lupa akan perbuatannya sendiri.


"Kita lihat siapa yang lebih di cintai Mas Hendra!" Ujar Wina sekaligus mengakui hubungannya dengan Hendra.


Hendra semakin kebingungan memilih di antara keduanya. Yang satu nikmat yang satu menggairahkan. Keduanya memperebutkan Hendra dengan sama-sama saling menarik tangan kiri dan kanan.


Tentu hal itu memicu kekesalan bagi setiap mata yang memandang karena Hendra yang bisa di bilang hampir menuju setengah abad perebutkan dua wanita, yang satu masih muda yang satu cantik jelita.


"Jadi kamu macari Wina dan Ratih bersamaan?!" Tanya Bu Yarsih dengan mata melotot ke Hendra setelah mengetahui apa yang terjadi. Wanita itu tampak tidak menyukai apa yang Hendra lakukan.


Kali ini Hendra terdiam tak berkutik. Bahkan mata yang tadi terlihat kebingungan kini membulat dengan sempurna setelah tanpa sengaja melihat seseorang yang berusaha masuk dengan menerobos beberapa orang yang menghalangi di depan pintu rumah itu yang tak lain adalah istrinya.


Lengkap sudah penderitaan Hendra yang tersudutkan oleh wanita-wanita yang ia sayangi. Hendra ketakutan melihat kehadiran istrinya di hadapannya. Hendra yang terciduk di depan mata, berusaha mencari alasan untuk menjawab pertanyaan istrinya. Pria itu pun menggerakkan tangannya untuk melepaskan diri dari Wina dan Ratih. Spontan Ratih melepaskan lengan Hendra, begitu pula Wina.


"Sa.. Sayang....!" Ujar Hendra dengan suara nyaris tak terdengar dengan wajah memucat.


"Oh, ternyata benar feeling ku sejak kemarin aku memantau daerah ini. Dan kamu Mas, seperti ini ternyata kelakuanmu dibelakang ku!" Kata sang istri murka.


"Apa?! Mau buat alasan?!" Tanya sang Istri dengan wajah garang kepada Hendra.


"Dan kalian berdua! Begitu bangganya kalian memperebutkan suami orang dan di tonton seramai ini. Apa kalian tidak punya malu lagi?! Oh, salah aku bertanya seperti itu. Tentu saja kalian tidak punya malu demi mencapai tujuan kalian!" Sarkas Istri Hendra kembali berbicara sambil memandang tajam penuh kebencian kepada Ratih dan Wina silih berganti.


"Hei, jaga ucapanmu terhadap anakku!" Ujar Bu Yarsih tidak terima.


"Ibu sudah tua, seharusnya Ibu lebih paham mana yang salah dan benar, dan juga didik anak Ibu lebih baik lagi, jangan mendukung perbuatanya merebut suami orang!" Kali ini Bu Yarsih yang kena mental diceramahi di depan banyak orang.


Wanita paruh baya itu mencebikkan bibirnya seolah-olah ia tidak berbuat salah. Sungguh Bu Yarsih terlalu silau dengan harta dunia yang ia lupa bahwa harta itu tidak akan pernah di bawa mati. Bahwa kelak ia hanya memakain kain kafan sebagai bekal diri tidur di peristirahatan abadi.


"Sayang, maafkan aku. Ini hanya salah paham! Aku hanya mampir untuk melerai perkelahian mereka saja."


Masih saja Hendra berusaha membela dirinya. Wajahnya tampak memelas di hadapan istrinya. Kemana kepercayaan dirinya selama ini? Menciut begitu kedoknya terungkap sekaligus.

__ADS_1


"Uuuuu.... Apaan melerai?!" Celetuk salah satu warga yang menyaksikan.


"Iya, ya... Jelas-jelas ketahuan selingkuh masih mau ngeles aja." Sahut yang lainnya.


"Sudah Bu, jangan percaya sama mulut buaya!" Provokasi seorang penonton.


Beberapa tetangga yang menyaksikan pun tampak kesal dengan ucapan Hendra. Apalagi selama ini mereka sudah curiga kalau Hendra sudah memiliki istri.


"Aku dengar apa yang gun*dik-gun*dik mu katakan Mas. Bahkan aku sudah lama menaruh curiga padamu! Tuhan sangat berbaik hati menunjukan semua ini padaku. Dan kamu Mas, akan aku pastikan kita segera bercerai." Kata Sang Istri berbicara kembali.


"Tidak, sayang...maafkan aku. Mereka yang menggodaku dan mengejar-ngejar aku!"


"Mas!!" Ucap serempak Wina dan juga Ratih yang tidak terima Hendra melimpahkan semua kesalahan kepada mereka.


Baik Wina maupun Ratih terlihat kesal dengan sikap Hendra yang ternyata begitu takut kepada istrinya.


Sang istri menyunggingkan senyumnya. Jelas sekali terlihat disini suaminya Hendra pembohong ulung.


"Apapun alasanmu Mas, tidak berarti lagi di mataku karena aku telah menyaksikannya sendiri. Dan kalian ambil saja lelaki busuk itu! Karena aku telah membuangnya ketempat sampah seperti kalian!" Sarkas Istri Hendra.


Wanita itu hendak melangkah pergi, namun kemudian ia berbalik kembali seperti ada yang terlupa.


"Oh ya, kalian ingin mobil Hendra? Rumahnya? Atau isi dompetnya? Perlu kalian ketahui. Semua mobil rental atas namaku! Rumah, tanah, juga atas namaku! Rekening Hendra aku yang mengisinya namun sepertinya sekarang tidak lagi karena usahaku mulai sekarang akan aku jalankan sendiri. Tinggal pusaka warisan leluhurnya, ambil saja! Aku tidak butuh!!"


Istri Hendra pun berlalu pergi sambil mengeluarkan gawainya dan menelpon seseorang untuk mengurus perceraiannya.


Hendra mendadak lemas hingga ia melorot dan terduduk di lantai. Ia tertegun seakan-akan shyok mendengar apa yang baru saja di ucapkan oleh istrinya. Habis sudah harta yang selama ini ia nikmati akan di tarik kembali oleh sang istri kaya yang di nikahi Hendra penuh perjuangan.


"Ja..jadi, yang kaya bukan Mas Hendra tapi istri Mas Hendra?!" Tanya Ratih terbata-bata.


Tidak hanya Hendra, Ratih pun ikut shyok karena apa yang mereka angankan musnah seketika. Bahkan Wina tampak terkejut dan terlihat berpikir keras bagaimana nasibnya kedepannya.


Menurut para pembaca, apakah Wina tetap bertahan dirumah itu sebagai istri Heru atau meninggalkan rumah itu dan mencari mangsa baru?

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2