
Bab 115
Melahirkan
Derajat wanita begitu mulai karena mereka bertaruh nyawa untuk memberikan keturunan.
***
Walau pernah mengalami ini sebelumnya, tetap saja aku merasa takut dan kesakitan yang luar biasa.
Peluh membasahi tubuhku yang berjuang untuk melahirkan anak kedua kami. Namun entah kenapa proses kali ini begitu menyakitkan hingga membuat aku tidak berdaya dan kehabisan tenaga.
"Ayo Bu, lagi dorong yuk! Tarik napas pelan-pelan, isi tenaga lagi ya. Yuk kita mulai lagi..."
Instruksi sang Dokter aku ikuti, tapi tetap saja aku lemah tak berdaya.
"Sayang sakit banget ya?" Tanya Roy yang setia mendampingiku untuk memberikan kekuatan.
Wajahnya menatapku sendu mengisyaratkan kesedihan dan kecemasan seperti Ia juga merasakan kesakitannya sepertia apa yang kurasakan.
Air mataku mengalir. Semua rasa sakit dan melihat wajah khawatir suamiku tidak dapat membuatku menahan air mata ini. Sesekali Roy menghapus peluh di keningku. Genggaman tangan kami semakin kuat bila mana rasa sakit itu kembali hadir.
"Hoon...."
Aku mencoba memanggil suamiku. Sungguh kekuatan dan tenagaku sudah nyaris tak bersisa.
"Dokter, bisa saya minta operasi saja? Saya sudah tidak tega melihatnya kesakitan seperti ini."
Aku mendengar suamiku meminta operasi kepada dokter yang melayaniku. Apakah aku akan di cesar? Namun jawaban itu belum aku dapatkan karena tiba-tiba aku merasa sangat lelah hingga pandang mata dan pendengaranku mulai tidak bekerja.
***
"Sayang..."
Sayup-sayup ku dengar suara Umi memanggil ku. Usapan hangat dan lembut dari tangan yang mulai keriput itu menyadarkan aku perlahan dengan aku yang mencoba membuka mata.
"Alhamdulillah sudah sadar."
Senyum bahagia Umi terlihat jelas di mataku. Aku melihat di sekeliling hanya ada keluarga ku saja yang ada dalam ruangan itu. Apakah aku sudah melahirkan? Karena sudah pasti ini bukanlah ruangan bersalin. Lalu dimana suamiku?
"Miii...."
Ah, aku masih sangat lemah. Bahkan tubuhku terasa remuk redam. Mencoba memanggil Umi, namun suara ku nyaris saja tidak terdengar. Ingin bertanya bagaimana proses lahiran anak kedua ku, serta dimana suamiku berada.
"Alhamdulillah, kamu sudah punya anak lengkap sayang. Bayimu laki-laki, sedang di adzankan Roy di ruang anak-anak."
Aku bernapas lega. Ternyata anakku telah lahir ke dunia dan berjenis kelamin laki-laki. Hanya anggukan pelan dariku merespon ucapan Umi.
Aku pun mengistirahatkan tubuhku setelah mendengar kabar baik itu.
"Sebentar, Umi telpon besan dulu biar tidak terlalu khawatir disana." Ujar Umi.
Aku mengangguk.
Umi lalu mengeluarkan benda pipih dari dalam tasnya. Kemudian memencet sesuatu di sana dan terdengar panggilan pun mulai terhubung.
"Halo, Assalamualaikum... Besan."
__ADS_1
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh, Besan. Bagaimane kabar anakku Besan?"
"Alhamdulillah Besan, ini sudah sadar jadi tidak perlu khawatir lagi di sana. Coba lihat ini, tapi masih belum bisa bicara banyak, Besan. Mungkin masih lemah."
Umi mengarahkan kameranya ke arahku dan lebih mendekat padaku.
"Kau tak ape Nak?"
"Ye Mak..." Jawabku pelan.
"Syukorlah, Alhamdulillah. Emak nak kesanak, tapi kate Ayah Engkau cakap, sekalian nak pegi Umroh dengan mertue engkau nanti je la baru kesane."
"Iye Mak. Tak ape. Mak ngan Ayah sehat ke?"
"Alhamdulillah, Mak dan Ayah Engkau sehat. Dah tu, usah dolok banyak cakap. Istirahat dolok."
"Iye Mak."
Setelah itu Umi dan Emak tampak asik bercengkerama lewat telepon pintar itu.
Roy dimana ya? Apa masih di ruang anak? Bagaimana ya rupa anak kedua ku? Ku harap tampan seperti Papanya.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Panjang umur suami dan anakku. Baru saja hati ini bertanya soal mereka.
"Sudah sadar Ney?" Tanya Roy sambil berjalan mendekat ke arahku dan menggendong si kecil.
"Iya Hon." Jawabku mengangguk pelan dan tersenyum menyambut dua lelaki yang aku cintai dan sayangi.
"Aku ingin mendekapnya Hon."
"Tentu sayang."
Tubuhku ku miringkan perlahan. Dan Roy pun meletakkan putra kami yang bernama Virandra di sampingku.
Putih dan tampan, mirip sekali dengan Papanya dan seseuai harapanku. Ah, aku jadi bucin terhadap dua lelaki yang hadir di hadapanku ini.
Tiga hari pasca melahirkan aku keluar dari Rumah Sakit. Tinggal sementara di rumah mertua, hari-hari ku jalanani menjadi seorang ibu dengan dua anak. Rumah mertuaku menjadi ramai oleh suara anak-anak. Bahkan Abi tidak pernah lagi pulang sore dari toko bangunan demi bermain dengan cucu-cucu kesayangannya.
Lalu suatu hari di waktu sore menjelang senja...
"Assalamualaikum..., kejutan!!"
"Waalaikumsalam...." Jawab kami semua yang ada di ruang keluarga kecuali, Roy yang belum pulang.
"Om Teguuuuh...!"
Teriak Kirana dan Aditya menyambut Om kesayangannya pulang. Kirana pun langsung minta di gendong oleh Teguh.
"Om pulang lama kan?" Tanya putri cantikku.
"Tiga hari sayong..."
"Tiga hari itu, lama apa sebentar Om?" Tanya Kirana kembali.
__ADS_1
"Coba tanya Adit, lama gak?" Jawab Teguh malah menyuruh Aditya yang menjawab.
"Lama tidak Bang?"
"Tiga hari itu, kamu bobok malamnya 2 malam." Jawab Aditya atas pertanyaan Kirana.
Kirana yang masih sangat kecil dan lugu mencoba menghitung dengan jarinya.
"Kiran turun dulu ya, Om mau salam sama Oma." Ujar Teguh tanpa menunggu jawaban dari Kirana, ia menurunkan putri kecilku.
"Umiiii....."
Lelaki berbadan besar tinggi kelakuan bocil manja pada Umi itu, langsung memeluk ibu mertua.
"Kangen...." Ujar Teguh.
Umi membalas pelukan hangat putranya sambil mengusap punggung lebar lelaki itu. Badannya kini sudah mirip Roy, atletis yang di gandrungi kaum hawa seperti diriku. Mungkin Teguh sudah rajin olah raga hingga ia tidak gemuk seperti dulu. Seperti suamiku yang rajin olah raga bersamaku. Ah....
"Ngapain pulang?" Tanya Umi setelah melepaskan pelukan mereka.
"Dih Umi solehut masih aja jutek banget ma anaknya yang ganteng sekelurahan." Sewot Teguh.
"Tidak sekalian sekecamatan Guh?" Tanyaku sembari menyapa dan terkekeh melihat kelakuan Ibu dan anak itu.
"Dih Kak In, gak enak sama Abang dong. Ntar di kira saingan." Jawab teguh seraya mendekat dan mencium punggung tanganku.
"Mana saingan baru?" Tanya Teguh lagi.
"Saingan opo toh Guh?" Jawab Umi.
"Hehehe, ada itu di box, Guh. Lagi tidur..." Kataku.
"Cuci tanganmu dulu Guh, baru samperin dia." Ujar Umi.
"Iya, iya, Umi bohay solehut."
Teguh menuju wastafel yang ada di pojokan dan mencuci tangannya dengan sabun yang telah di sediakan. Setelah itu, baru lah ia mendekati Virandra.
"Ish, kok ganteng juga sih?! Bener-bener nambah saingan aja." Ujar Teguh lalu mengambil Viran dari dalam Box dan menggendongnya.
"Duh, ngapain kamu pake gemesin gini cih..." Ujar Teguh kembali dalam mode gemas.
Adik suamiku itu duduk di samping Uminya, sambil menimang Viran.
"Guh, sudah beres urusan Firmamu?" Tanya sang Umi.
"Dikit lagi Mi. Ini Teguh pulang karena klien Teguh sedang ada disini. Dia sibuk banget sampai Teguh yang harus nyamperin dia. Jadi sekalian aja Teguh pulang Mi."
"Tahun depan Umi jadi loh Guh pindah ke Kalimantan. Kebetulan Abang mu juga lagi proses buka kantor cadang di sana."
"Jauh dong kalau aku mau nyamperin Umi."
"Sama aja jauhnya, Jakarta - Makassar, Jakarta-Pontianak apa bedanya Guh?"
"Rumah ini gimana Mi? Gak sayang ada kenangan Almarhumah Abang disini."
"Yang sudah tiada cukup di kenang dalam hati dan selalu mengirimkan doa untuknya. Jangan dipersulit hidup kita ini dan dia disana dengan keberatan kita melepas sesuatu yang harus kita lepas." Ujar Umi.
__ADS_1
Bersambung...