Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
111 Naninu


__ADS_3

Bab 111


Naninu


(POV Author)


Sudah 3 hari Indah terbaring lemah di kamarnya. Setiap pagi ia mengalami morning sickness yang ia sendiri pun bingung, apa sebenarnya sakitnya. Saat sore dan malam hari, Indah merasa sehat. Namun bila memasuki waktu pagi hingga tengah hari, badannya sangat-sangat lemah, nafsu makannya menurun, bahkan ia merasa sangat malas untuk melakukan kegiatan.


Umi sang mertua sungguh sangat baik hati. Selama Indah sakit, Umi terus datang ke rumah anaknya dan melayani menantunya, sampai membuatkan makanan kesukaan sang menantu.


Tapi anehnya, wajah Umi tidak terlihat marah atau tidak suka. Senyumnya selalu merekah setiap kali melihat Indah . Wanita paruh baya itu tidak merasa direpotkan. Bahkan ia terlihat sangat bahagia.


"Assalamualaikum..." Salam Roy menyapa semua orang yang ada di rumahnya.


"Waalaikumsalam...."Jawab Indah, Umi, dan juga Teguh nyaris serempak.


Indah beranjak dari duduknya yang tengah menonton drakor bersama Uminya. Ia mendekat pada sang suami, mengambil tas kerja Roy lalu mencium punggung tangan suaminya. Dan Roy pun membalas dengan ke*cup*an sayang di pucuk kepala istrinya.


"Gimana keadaanmu Ney, masih sakit?" Tanya Roy sambil melingkarkan tangannya di pinggang sang istri sambil berjalan menuju sofa ruang keluarga.


"Masih, begitulah Hon. Hanya di waktu pagi saja sampai menjelang siang."


"Lebih baik bawa Indah ke dokter saja Roy." Saran Umi ketika keduanya sudah berada di antara semua keluarga.


"Baiklah, malam ini kita ke dokter ya. Tolong jangan bantah, Ney. Kamu sudah aku biarkan selama 3 hari dan tidak kunjung baik juga. Aku akan semakin bersalah kalau sampai kamu kenapa-napa." Ujar Roy menatap sendu istrinya.


Indah mengangguk seraya tersenyum.


"Mandi dulu ya Hon, habis itu kita makan bersama. Sebentar lagi Abi kesini nyusulin Umi."


"Iya. Kamu dah mandi Ney? Mandi bareng yuk!"


"Sudah Hon, sebelum kamu pulang aku sudah mandi siap-siap nyambut kamu. Tidak enak rasanya, suami pulang kerja capek-capek malah di sambut dengan bau asem." Jelas Indah.


"Yah, padahal kan seru kalau kalau mandi bareng."


"Besok pagi aja ya?" Ujar Indah, namun dengan cara berbisik di dekat Roy.


Indah merasa malu obrolan mereka di dengar oleh Umi dan Teguh. Padahal bisikannya pun masih terdengar oleh ibu mertuanya dan juga Teguh.


"Gak apa-apa, abaikan saja. Kita kan bukan makhluk bumi ya Mi? Kita cuma numpang disini." Nyinyir Teguh pada pasangan bucin itu.


"Enak aja. Kamu saja yang alien, Umi tetap manusia. Tidak mau lah Umi di samakan dengan alien yang buruk rupa." Ujar sang Umi menyanggah ucapan Teguh.


"Yah, Mi. Perumpamaan doang Mi."


"Tidak elit, perumpamaan mu Guh... Guh."


"Ck, salah lagi."


"Kamu sampai kapan libur Guh?" Tanya Roy kepada Adiknya.

__ADS_1


"Besok sudah balik Bang." Jawab Teguh.


"Lah, kok cepet? Kok tidak ngasi tahu Umi sebelumnya?" Sewot Umi.


"Nah, salah lagi. Kenapa memangnya Mi?"


"Ya Umi mau bikinin lauk buat bekal kamu disana dong."


"Gak usah repot Mi, disana aku gak akan kelaparan asal masih ada duitnya."


"Ck! Umi mau buatin sambal goreng kesukaanmu. Kata kamu, sambal goreng Umi tiada duanya."


Teguh terdiam. Matanya penuh haru menatap Uminya yang ternyata masih begitu sayang dengan masih memikirkan dirinya.


"Umiii..."


Teguh memeluk Uminya, haru.


"Dih, udah gede masih mewek aja." Ujar Umi yang di peluk oleh Teguh.


"Awas, ini Oma acu!" Ujar Aditya bereaksi ketika Teguh memeluk erat sang Umi.


"Eeehhh... Akhirnya cucu Oma ngomong juga!" Seru Umi bahagia. "Minggir Guh!"


"Dih, Lo gak bisa ya gak ganggu momen Gue sama Umi, Cil?" Sewot Teguh.


"Omaaa...." Panggil Aditya dengan mulut jebew nyaris menangis.


"Aww, aduh...!"


Teguh meringis kesakitan mendapat tapak tangan dari Umi di punggungnya.


"Bully anak kecil Umi laporin kamu ke KPAI!"


"Umi aku juga laporin nih, KDRT mulu."


"Lapor aja! Umi potong uang jajanmu."


"Dih Umi, aku juga masih anak-anak Mi." Protes Teguh dengan bibir manyun.


"Anak-anak apaan? Di kasih wanita malah sudah bisa produksi anak kamu." Sewot Umi.


"Hehehe, kalau itu jelas Mi, kan panggilan alam."


Roy dan Indah hanya bisa terkekeh melihat perdebatan yang tidak ada habisnya itu.


"Ney, aku mandi dulu. Setelah itu kita makan baru pergi periksa kamu."


"Iya Hon. Aku siapkan dulu baju mu. Mi, Indah ke kamar dulu ya." pamit Indah kepada ibu mertuanya.


"Ya sayang." Jawab Umi.

__ADS_1


Indah dan Roy pun melangkahkan kaki menuju kamar mereka.


Baru saja pintu kamar di tutup, Roy langsung menyambar bibir Indah yang sedari tadi menggoda imannya untuk menjamah.


Indah sempat sentak terkejut, namun akhirnya ia pun menikmati pangutan suaminya. Keduanya saling balas membalas. Saling membelit lidah dan bertukar saliva. Sampai napas mereka mulai berubah memburu dan dada berdebar-debar akan gemuruh api cinta berbungkus hasrat bi*r*a*hi yang mulai melanda.


"Mandi sekali lagi ya Ney? Bareng aku." Pinta Roy ketika kening mereka saling bertemu untuk memberi jeda Indah mengatur napasnya.


Indah mengangguk dengan pipi yang sudah bersemu merah.


Keduanya lalu masuk ke kamar mandi dan melakukan olah TKP di sana.


Hampir satu jam Roy dan Indah tidak keluar dari kamarnya. Abi mereka sudah datang dan semua sudah bersiap untuk menikmati makan malam mereka malam itu.


"Guh, panggil Abang mu gih. Keburu dingin ini nasinya." Ujar sang Umi.


"Iya Mi."


Teguh beranjak dari duduknya dan melangkah menuju kamar Abangnya.


"Tok... Tok... Tok...!"


"Bang, Umi ngajakin makan. Abi udah dari tadi datang." Kata Teguh dari luar pintu.


Tidak ada yang mendengar panggilan Teguh yang tersamarkan oleh suara gemericik air serta le*ngu*ha*n yang keluar dari bibir keduanya ketika puncak asmara baru saja mereka raih bersama.


"Tok... Tok...Tok...!"


"Bang, masih hidup gak?"


Kali ini suara Teguh terdengar oleh keduanya setelah kran air shower di matikan.


Roy dan Indah terdiam, seraya mempertajam pendengaran mereka. Wajah Indah mendadak tegang oleh suara Teguh.


"Ney, kok dia tahu tongkat jamurku lagi hidup?" Tanya Roy.


"Tidak tahu Hon. Apa pintu tadi tidak kamu kunci?"


"Kunci kok. Apa kedengaran ya? Padahal sudah hidupin air buat kamuflase."


Kedua pasutri itu tampak bingung dan merasa malu andai benar Teguh mendengarkan jeritan asmara mereka.


Sementara Indah dan Roy di landa kebingungan, Teguh sudah kembali ke meja makan.


"Sudah kamu panggil?" Tanya Umi memastikan.


"Sudah Mi, gak kedengaran suara apa-apa. Entah masih hidup apa pingsan Abang."


"Hush! Ucapan itu doa loh GUh." Sergah Umi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2