
Bab 104
Boom Waktu Menunggu
(POV Author)
"Ney, maaf aku tinggal dulu ya, ada hal penting yang harus aku urus dengan Fandi."
"Ada apa Hon? Ini sudah malam."
"Siska dilarikan ke rumah sakit."
"Apa? Sakit apa?"
"Tidak usah terlalu cemas. Hanya luka kecil di kakinya."
"Kita tidak jadi ini ninaninu ini ya?"
"Hehehe... jadi sayang. Tapi nanti, setelah aku pulang. Mumpung ada kesempatan, kami tidak akan melewatkannya begitu saja."
"Hmm...,baiklah. Tapi janji ya, setelah pulang nanti kamu akan cerita apa itu."
"Iya sayang...aku janji, aku akan menceritakan semuanya. Aku pergi dulu ya, biar pulang tidak kemalaman. Kamu jangan tidur dulu Ney, biar kita bisa ninaninu. Hehehe..."
Indah merona, dan hanya mengangguk sambil tersenyum simpul menanggapi ucapan suaminya.
Setelah melabuhkan ke*cu*pan di kening istrinya, Roy pun pergi menuju Rumah Sakit dimana tempat Fandi berada.
Dalam perjalanan Roy menghubungi dokter kenalannya yang bernama Zainal. Ia meminta dokter itu untuk melakukan serangkaian tes DNA terhadap bayi yang di kandung Siska.
"Bisa kan Bro?"
"Tentu saja bisa. Tapi kenapa harus diam-diam seperti ini?"
"Kami takut ia akan memberontak dan menolak karena wanita ini sangat keras kepala dan bisa berbuat sesuatu yang nekat."
"Baiklah. Aku tunggu di rumah sakit."
"Aku tidak jauh lagi, sebentar lagi akan sampai."
Panggilan pun akhiri dan Roy kembali fokus menyetir agar segera sampai ditujuannya.
Begitu tiba di rumah sakit Roy langsung bertemu Zainal di ruangannya bersama Fandi tentunya. Mereka pun membicarakan rencana tes DNA yang mungkin tidak akan disadari oleh Siska.
"Aku akan kembali ke ruangan. Aku takut dia akan curiga jika terlalu lama."
"Oke Bro serahkan saja kepada kami." Ujar Roy sambil mengacungkan jempol tangan kepada Fandi.
Fandi mengganggu lalu meninggalkan kedua Temannya di dalam ruangan itu
"Dari mana sih Mas, kok aku ditinggal sendirian?" Tanya Siska dengan wajah merengut dibuat-buat.
"Aku menemui dokter untuk meminta melakukan check up keseluruhan juga terhadap calon bayi, takut terjadi apa-apa dengan bayi itu." Jawab Fandi datar.
"Oh soo sweet sekali kamu Mas, ternyata kamu juga memperhatikan bayi kita."
__ADS_1
Siska tampak senang Fandi memperhatikan dirinya. Seulas senyum bahagia terbit di wajahnya. Wanita itu tidak tahu saja, bahwa Fandi telah merencanakan sesuatu terhadap dirinya.
"Permisi, kita obati dulu luka di kakinya ya Bu?"
Seorang perawat berkata sambil memasuki ruangan bersama dua rekan perawat wanita yang lainnya.
"Silakan suster." Jawab Fandi.
Perawat-perawat itu mulai membersihkan luka di kaki Siska. Kemudian mengobati dan memberikan perban untuk menutupi lukanya.
"Selamat malam."
Kemudian seorang dokter datang. Dokter yang sangat dikenali oleh Fandi.
"Besok pagi kita akan melakukan serangkaian tes ya Bu, untuk kesehatan ibu dan juga janinnya. Takut terjadi apa-apa. Mengingat apa yang baru saja Ibu alami berdasarkan cerita Pak Fandi." Ujar sang Dokter.
"Baik Dokter." Jawab Siska dengan senyum wajahnya.
"Sudah dibersihkan suster? Lukanya sudah diobati?" Tanya sang Dokter kepada perawatnya.
"Sudah Dokter."
"Baiklah Bapak, Ibu, kami permisi dulu. Silahkan beristirahat."
"Ya, Dokter terima kasih." Jawab Siska sedangkan Fandi hanya menganggukkan kepala.
"Mas kamu temenin aku di sini kan? Kamu jagain aku kan?" Tanya Siska dengan manja.
"Ya, istirahatlah. Aku akan tidur di sofa."
Beberapa waktu berlalu, saking senangnya Siska, ia jadi susah tidur. Melihat Fandi yang ada di depan matanya, timbul ide Siska untuk lebih bermanja lagi dengan Fandi
"Mas sudah tidur?"
Fandi yang awalnya sudah tertidur mendengar suara Siska terpaksa membuka matanya.
"Hmm..."
"Aku susah tidur Mas, debaynya pengen di elus." Ujar Siska manja.
Fandi yang dalam hatinya kesal bukan main terpaksa menahan diri demi mencapai tujuannya. Dengan wajah datar Fandi mendekati ranjang Siska dan duduk di dekatnya.
"Sini Mas, elus...." Ujar Siska spontan menarik tangan Fandi dan meletakkannya di perut wanita itu.
Fandi mengelus namun wajahnya di alihkan ke lain. Ia tidak mau menatap Siska yang tersenyum senang permintaannya di turuti.
"Aku lelah, mau istirahat." Ujar Fandi langsung bangkit dan beranjak menuju sofa.
"Loh, baru juga semenit Mas." Sewot Siska.
Namun pria yang sama sekali tidak tertarik dengan keinginan Siska itu mengabaikannya begitu saja.
***
Keesokan harinya.
__ADS_1
Siska menjalani serangkai tes yang mengatasnamakan cek up kesehatan menyeluruh seperti apa yang di katakan Fandi tadi malam.
Siska sama sekali tidak curiga, apalagi Fandi selalu menemaninya melakukan beberapa pemeriksaan itu.
Sampai sore hari ketika mereka pulang kerumah, Sikap Fandi masih juga ramah. Walau tanpa senyum, setidaknya Fandi tidak berkata-kata yang menyakiti hatinya.
"Mas kamu tidak tidur di sini saja?" Tanya Siska.
"Tidak. Almira membutuhkan ku dirumah."
"Kamu masih mempekerjakan wanita itu?!"
"Jangan ajak aku berdebat. Apa kau ingin pernikahan kita batal?!" Ancam Fandi.
"Tidak Mas. Ya sudah..." Jawab Siska dengan wajah Merengut.
"Kalian sudah pulang?" Sapa sang Ibu sambil berjalan keluar dari kamarnya dan mendekati anak-anaknya.
"Ya Bu, aku pulang ya."
"Ya, hati-hati. Siska, masuk!"
"Aku cuma mau nganterin Mas Fandi aja kok Bu."
"Tidak malu kamu kelihatan perutmu yang mulai membesar itu?! Cepat masuk!" Perintah sang Ibu.
Dengan menghentakkan kakinya Siska masuk ke dalam rumah sambil menggerutu.
Memastikan Siska sudah masuk ke kamarnya, Bu Naima lebih mendekati lagi ke arah Fandi.
"Bagaimana kondisi janinnya Fandi?"
"Tidak apa-apa Bu, tapi ada hal yang harus di perhatikan. Sepertinya Siska butuh ke psikiater."
"Kenapa dia?"
"Masih belum terlalu parah, baru tahap awal. Sepertinya mentalnya terkena obsesi. Dan juga Bu, aku sudah melakukan tes DNA terhadap bayi yang di kandung Siska dirumah Sakit tadi. Hasilnya akan keluar seminggu lagi."
"Kamu serius dengan apa yang kamu lakukan Fan?"
"Ya Bu. Dan bila terbukti bayi itu bukan anakku, aku tidak akan menikahi Siska meski pesta sudah di gelar. Karena pesta pernikahan itu untuk ku dan Nuning."
"Lalu bagaimana dengan Siska?" Tanya Ibu Naima khawatir dan bingung.
"Aku akan menyuruh orang untuk mencari tahu siapa yang telah menghamili Siska."
Bu Naima membuang napas berat. Mau dipaksa bagaimana pun jika memang bayi itu bukan anak Fandi tentu Fandi akan menolak dengan keras.
"Ya sudah lah kalau begitu. Pastikan kamu menemukan orang yang sudah merusak Siska. Dan suruh dia bertanggung jawab."
"Tentu, Bu. Sekarang aku pulang dulu ya, kasihan Almira di tinggal dari kemarin dengan Mbok Nah."
"Ya sudah. Hati-hati."
Fandi mengangguk, lalu masuk ke mobilnya dan perlahan meninggalkan rumah ibunya.
__ADS_1
Bersambung...