Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 53 Bertemu Wanita Di Mini Market


__ADS_3

Bab 53


Bertemu Wanita Di Mini Market


(POV Author)


Indah meregangkan otot-ototnya yang terasa lemah akibat tamu bulanan yang rutin datang di tiap bulannya. Moodnya saat ini sedang tidak baik-baik saja mungkin karena bawaan ia sedang datang bulan.


Hari ini rasanya Indah ingin izin tidak masuk kerja sehari. Tapi ia teringat akan temu janjinya dengan Fandi yang sudah direncanakan tempo hari. Mau tidak mau Indah bersiap untuk bertemu kliennya Fandi di sebuah kafe di jalan Xy.


Indah memakai baju casual sesantainya dengan makeup tipis yang ia poleskan di wajahnya. Memasuki pelataran parkir dengan sepeda motornya, Indah merapikan kembali dandanannya. Dirasa cukup rapi, baru lah dengan percaya diri ia masuk ke sebuah kafe.


Indah menemukan Fandi bersama seseorang sudah duduk manis menunggu kedatangannya.


"Assalamualaikum, selamat siang Pak Fandi."


"Waalaikumsalam, oh siang Bu Indah. Sudah datang, mari silahkan duduk. Perkenalkan ini istri saya Mira."


"Oh, loh? Mbak yang waktu itu ya yang di mini market?"


Spontan Indah mengenali wajah wanita itu karena memiliki ciri khas yaitu ada tahi lalat di dagunya.


"Oh iya, wanita yang baik hati menolong saya waktu itu!" Seru si wanita yang bernama Mira, istri dari Fandi.


Indah dan Mira saling berkenalan dan berjabat tangan.


"Terima kasih loh, atas bantuannya waktu itu." Ujar Mira.


"Bukan apa-apa Mbak, pas kebetulan saya ada di sana."


"Oh, sudah saling kenal rupanya." Kata Fandi.


"Ini loh sayang, yang aku ceritakan waktu itu. Wanita baik yang sudah menolongku." Ujar Mira antusias.


"Tapi ada lagi yang perlu kamu ketahui sayang, Bu Indah ini wanita yang aku ceritakan waktu di Surabaya dulu itu."


"Loh, dunia ini sempit sekali ya?" Ujar Mira.


"Benar Mbak Mira. Berkat bantuan dan pertolongan Pak Fandi, alhamdulillah saya bisa ada disini sekarang."


Pembicaraan pun menjadi santai karena telah mengenal satu sama lain. Apalagi beberapa insiden yang berhubungan dengan mereka sehingga pembicaraan mengalir begitu saja.


"Jadi Dek Indah di kota ini tinggal sendiri ya?" Tanya Mira.


"Benar, Mbak." Jawab Indah sambil tersenyum.


"Kalau begitu mulai hari ini kita bisa berteman agar Dek Indah tidak merasa sendirian."


"Wah, dengan senang hati Mbak." Jawab Indah antusias.


Indah dan Fandi akhirnya kembali fokus pada obrolan penting di pertemuan itu. Indah menjelaskan tahap-tahanan pembangunan yang sudah berjalan dan untuk ke depannya. Mira mendengarkan dengan seksama dan tidak memotong pembicaraan mereka.


"Semoga saja di musim penghujan nanti tahap yang saya jelaskan tadi sudah selesai agar tidak memakan waktu lama. Biasanya kalau sudah musim penghujan akan susah melakukan pengecoran." Jelas Indah kepada Fandi.


"Benar. Semoga saja lancar tanpa halangan."


"Oh ya Pak, anda mengenal Roy?" Tanya Indah memberanikan diri.


"Ada apa dengan Roy? Apa dia berbuat ulah?" Tanya Fandi.

__ADS_1


Timbul rasa tidak enak dalam hati lelaki itu mengingat bagaimana respon Roy pertama kali mengenal Indah.


Indah terkekeh, sebelum menjawab.


"Tidak Pak, saya hanya ingin tahu saja apa dia benar teman Pak Fandi."


"Benar dia teman saya. Maafkan kalau dia ada berbuat salah kepada Bu Indah. Sejujurnya, kadang saya cukup khawatir di buatnya dengan sifatnya yang suka blak-blakan." Ungkap Fandi.


"Oh, benar sepertinya dia memang seperti yang Pak Fandi katakan."


"Tapi bagaimana Bu Indah bisa mengenalnya?"Tanya Fandi penasaran.


"Kebetulan kami bertemu tanpa sengaja di sebuah rumah makan padang, dan dia langsung menembak saya."


Setelah berkata demikian, Indah menyeruput es jeruknya.


"Apa?!!" Ucapan serempak suami, istri itu sedikit nyaring karena terkejut mendengar penuturan Indah.


"Hahahaha, sayang temen mu itu benar-benar deh. Dulu Rahma sekarang Dek Indah." Ujar Mira tak mampu menahan tawanya.


Fandi tidak dapat menutupi malunya di hadapan Indah.


"Jadi apa sekarang Dek Indah sudah menerima Roy?" Tanya Mira penasaran.


"Takut saya Mbak."


"Hahaha..." Lagi-lagi Mira tak bisa menahan tawanya.


Indah ikut terkekeh melihat tawa Mira yang begitu pecah.


"Aduh... Maaf Dek Indah. Kelakuan Roy itu memang terkadang bikin saya ketawa. Dulu sebelum Dek Indah, dia juga pernah begitu sama sepupu saya Rahma. Tapi hubungan mereka harus terputus kala Rahma sudah berpulang ke Rahmatullah."


"Tidak apa-apa, itu sudah lama terjadi. Mungkin sudah 3 tahun yang lalu." Jelas Mira.


"Pada dasarnya dia itu baik. Cuma memang ya kalau tidak terbiasa dengan sifatnya itu, orang jadi berpikir aneh tentang dia."


"Iya, saya juga sempat berpikir seperti itu." Kata Indah jujur.


"Tapi, bukankah Bu Indah sudah menikah?"


"Oh, benarkah?! Berarti teman mu itu sudah berbuat salah loh, sayang." Ujar Mira mengingatkan.


"Aku sudah pernah mengingatkannya sayang." Ujar Fandi kepada isterinya.


Indah hanya tersenyum melihat suami isteri itu begitu peduli padanya.


"Saya sudah bercerai dengan mantan suami saya."


"Oh, maafkan kami." Ujar Mira.


"Tidak apa-apa Mbak. Itu memang kenyataannya."


"Berarti Roy punya kesempatan dong." Kata Mira lagi.


Indah hanya menanggapinya dengan senyuman. Untuk lebih jauh hubungannya dengan Roy, wanita itu juga tidak dapat memastikan seperti apa. Karena dia sendiri masih belum menginginkan sebuah hubungan yang cukup dekat.


Mendekati waktu Ashar mereka pun saling berpamitan karena urusan pekerjaan pun sudah selesai. Namun Mira dan Indah saling bertukar kontak karena Mira ingin sesekali mengajak Indah hangout berdua.


***

__ADS_1


Sementara itu, ditempat yang berbeda.


Wina masih dirawat di Rumah Sakit dengan penjagaan suster disana. Sudah seminggu Wina mengurus dirinya sendiri dan sesekali di bantu oleh suster jaga.


Sedangkan Ratih semakin menempel pada Hendra. Bahkan ia perlahan mulai menanyakan kapan Hendra akan melamarnya.


Hendra yang dicerca pertanyaan itu bingung mau menjawab apa. Pasalnya kini ada tiga wanita yang hadir di hidupnya. Pertama tentu saja isteri sahnya. Kedua dan ketiga adalah Ratih dan Wina.


Sebelum ada Wina, Hendra memang berniat menjadikan Ratih istri kedua dengan pernikahan siri. Namun setelah ada Wina, hatinya mulai terbagi dan ia begitu sayang melepas keduanya.


Walau Ratih tidak berpengalaman seperti Wina, namun kepemilikan Ratih masih sangat sempit dan Hendra merasa sensasi yang berbeda disana. Sedangkan Wina, wajahnya yang aduhai membuat Hendra terlena. Wina mampu memuaskan dirinya meski mereka tidak melakukannya dengan penyatuan.


Dilema, itu yang di rasakan Hendra sekarang ini.


"Sayang, kita mini market sana yuk! Ada yang ingin aku beli."


"Dimana sayang?" Tanya Hendra.


"Mini market di ujung jalan sana. Mau ya?"


"Ya sudah, yuk!"


Hendra mengikuti keinginan Ratih untuk pergi membeli keperluan gadis itu.


Mereka menaiki sepeda motor Ratih agar tidak lelah berjalan. Sesampai di mini market suasana tampak lenggang. Ratih pun memilih barang-barang yang ia inginkan.


"Kamu pilih-pilih saja. Aku mau melihat barang di sebelah sana." Ujar Hendra.


"Iya sayang."


Ratih dan Hendra pun berpencar.


"Mas ngapain kamu disini?!" Tanya seorang wanita yang tiba-tiba menghampiri Hendra.


Hendra begitu terkejut melihat kedatangan wanita itu. Ia tidak menyangka istrinya menghampirinya di sana.


"Kamu sama siapa Mas?" Tanya istrinya lagi sambil melihat kesana dan kemari seperti mencari seseorang.


"Aku hanya singgah membeli minyak rambut sayang, kebetulan aku sedang lewat dijalan ini." Kilah Hendra beralasan yang kebetulan ia sedang memegang minyak rambut di tangannya.


Ratih yang bertubuh kecil terlindungi oleh rak-rak pajangan mendengar sedikit keributan di sudut lain. Gadis itu segera bersembunyi ketika mendengar suara Hendra yang sedang berbicara dengan seseorang dan memanggilnya dengan sebutan sayang.


"Jangan bohong Mas! Kamu pasti sedang dengan seseorang kan?! Mana dia Mas?! Mana dia?!"


Mendadak kaki Ratih gemetar dengan wajah memucat. Jantungnya berdebar-debar ketakutan.


Mati aku kalau sampai ketahuan oleh istri si Papa! Jadi benar dia isteri Mas Hendra yang kesini mencariku tempo hari? Batin Ratih cemas.


Lagi-lagi Ratih mengintip perlahan dan mulai menjauh sedikit demi sedikit menuju toilet yang tidak berada jauh darinya.


"Aku sendiri sayang, mobil tadi di bengkel tidak jauh dari sini. Kebetulan minyak rambutku habis, jadi aku mampir sebentar sebelum pulang." Lagi-lagi Hendra berkilah.


"Naik apa?!"


"Ya naik ojol lah, tapi karena sudah ketemu kamu disini kita pulang bareng ya sayang..."


Hendra menggiring istrinya menuju kasir untuk membayar belanjaannya. Tangan satunya tidak lepas menggenggam jemari istrinya. Hendra takut istrinya tiba-tiba melepas diri dan mencari Ratih di setiap sudut mini market itu. Pasalnya, kekasihnya Ratih masih ada di dalam sana dan ia yakin sedang bersembunyi.


Ratih langsung melorot duduk di lantai dengan helaan napas panjang keluar dari mulutnya, ketika mobil istri si Papa mulai menjauh dari mini market. Untuk ke sekian kalinya, nasib baik masih menghampiri Ratih.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2