
Bab 113
Nambah Saingan
(POV Author)
Bulan berganti bulan, perut sudah Indah semakin membesar. Usia kandungannya sudah memasuki 7 bulan. Persiapan menyambut calon bayi pun sudah dilakukan.
Roy dan Indah sudah menyiapkan kamar serta barang-barang untuk calon anak mereka. Syukuran 7 bulanan pun diselenggarakan dengan mengundang keluarga dan tetangga terdekat. Pemeriksaan tiap bulan pun rutin dilakukan dan dokter mengatakan bahwa kandungan sehat dan baik-baik saja. Tinggal menunggu waktu kelahiran, dan berharap proses persalinan nanti lancar tanpa kendala.
Buah kesabaran yang selama ini dilakukan oleh Indah dengan perlahan akhirnya ia mulai menikmatinya. Suami yang begitu perhatian bukan karena menginginkan uang ia dapatkan dengan bonus wajah tampan nan rupawan.
Keluarga yang dulu memperlakukannya dengan kasar, kini di ganti dengan keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Indah merasa menjadi wanita yang paling beruntung dan paling bahagia saat ini.
"Hati-hati Ney..." Ujar Roy waspada ketika Indah berusaha menuruni anak tangga di rumah mertuanya.
"Makasih ya Hon. Maaf kamu jadi telat kerja hari ini."
"Tidak apa-apa Ney. Aku sudah minta ijin masuk jam 9 selama kamu belum lahiran."
"Apa Mas Fandi tidak marah?" Tanya Indah.
Roy terkekeh.
"Usaha itu milik kami berdua Ney, modal bersama. Jadi kamu tidak perlu khawatir."
"Indah, susu mu sudah Umi buatin. Minum dulu selagi masih hangat." Ujar sang Umi ketika Indah dan Roy tiba di ruang keluarga.
"Makasih Umi."
"Mi, aku mau pindah kamar aja. Kasihan Indah harus turun naik tangga, bahaya." Ujar Roy.
"Tapi itu kamar tamu, sempit. Kasihan Indah nanti."
"Lebih kasihan turun naik tangga Mi, takut kenapa-kenapa. Buat eskalator coba mi, atau lift."
"Kamu pikir Umi sultan Andara duitnya tidak berseri."
"Abi Sultan itu Mi."
"Abi mu memang sultan tapi duitnya tidak banyak."
"Sultan khoirudin, hehehe." Ujar Roy menyebutkan nama lengkap Abi nya seraya terkekeh.
"Coba tanya adekmu, kapan lagi dia bisa pulang ke sini?"
"Video call Mi?"
"Iya, biar tahu keadaannya disana. Muncul panuan apa tidak." Ujar Umi.
"Kenapa begitu Mi?" Tanya Indah bingung.
__ADS_1
"Teguh itu suka bangun siang kalau tidak ada kegiatan Ney. Mandinya sekali sehari jadinya." Jelas Roy.
Indah terkekeh. Kelakuan adik iparnya itu memang selalu mengundang tawa.
Roy pun mengambil gawai dari dalam saku celananya. Kemudian melakukan panggilan video call kepada Teguh, adiknya.
"Assalamualaikum. Ngapain sih Bang video call? Gue masih ngantuk nih?!" Ujar Teguh setelah mengucapkan salam.
"Waalaikumsalam. Umi nanyain kabarmu, kangen sama anak bontotnya." Jawab Roy.
Mata teguh mengerjap perlahan, lalu menatap ke layar gawainya.
"Mana Umi?" Tanya Teguh.
Roy lalu mengarahkan kameranya ke arah Umi.
"Guh, kapan pulang?" Tanya sang Umi.
"Duh, Umi... segitunya kangen sama aku. Jadi terhura ini Mi. Sebentar lagi ya Umi sayang, biarkan anakmu terganteng ini menyelesaikan misinya."
"Misi apa sih Guh? Bukan narkoboy kan?"
"Dih Umi, mana paten begituan. Ngapain sih Mi nyuruh pulang?"
"Biar ada yang bantuin ngasuh Aditya. Apalagi sebentar lagi Kakak mu Indah mau melahiran."
"Kapan Mi, dih nambah saingan aja."
"Kisaran 2 bulan lagi. Nambah saingan opo toh Guh?"
"Hilih. Tidak jelas kamu."
"Dih Umi, nanyain cuma ada maunya." Sungut Teguh.
Umi memperhatikan layar gawang milik Roy.
"Kamu beneran baru bangun Teguh? itu belekan matamu coba dibuang dulu."
"Gak apa-apa Mi. Gak dibuang tetap ganteng kok anak Umi yang satu ini." Jawab Teguh.
"Tidak kuliah kamu?" Tanya Roy.
"Hore ini pere Bang. Besok mau ketemu dosen mau konsultasi bahan seminar ku.
"Wah, cepet juga kamu Guh." Kata Roy yang merasa salut.
"Doain ya Mi, Bang, Kak. Tahun depan aku sudah bisa wisuda."
"Aamiin..." Jawab semuanya serempak.
"Abang kenapa pagi-pagi dah ada di rumah Umi?" Tanya Teguh.
__ADS_1
"Biar saja Kakak mu di sini dulu sampai dia lahiran nanti. Kalau di sana sendirian Abang mu tinggal kerja." Jawab Umi.
"Kak In gak kerja lagi emangnya?" Tanya Teguh melihat ada Indah di samping Abangnya.
"Sudah resign Guh. Tidak di bolehkan sama Abangmu." Kali ini Indah yang menjawab.
"Iya sih. Bang, mau ikut apa udahan aja?"
"Ikut apaan?" Tanya Roy.
"Panggilan alam Bang, udah di ujung nih."
"Dih."
Telpon langsung dimatikan Roy secara sepihak.
Selama memasuki usia kandungan 7 bulan sampe lahiran nanti, Umi meminta mereka untuk tinggal di rumahnya.
Berbeda dengan kehidupan Siska pasca melahirkan dan mengurus anak hasil hubungannya dengan Arjuna yang kini telah menjadi suaminya. Siska harus bergelut dengan waktu, tenaga, dan pikiran karena masih harus menyelesaikan kuliahnya bersama sang suami juga membesarkan anak mereka.
Anak mereka di asuh oleh Mamanya Arjuna. Ketika mereka pulang kuliah, Arjuna akan membantu Papanya mengurus Swalayan sedangkan Siska mengasuh anaknya bersama Ibu mertua.
Siska menerima banyak limpahan perhatian dan kasih sayang dari orang tua Arjuna. Dan Arjuna sendiri baru menyadari perasaannya terhadap Siska.
Setelah tinggal satu atap selama hampir satu tahun, Arjuna merasakan bahwa ia kecanduan terhadap Siska. Walau pun sikap Siska masih sama seperti dulu yaitu biasa saja, namun Arjuna yakin, lama-lama Siska akan terbiasa dengan kehadirannya dan tidak akan bisa hidup tanpanya.
"Sis, Lo gak makan?" Tanya Juna melihat Siska masih bergelut dengan laptopnya, mengerjakan tugas akhir kuliahnya.
"Belum sempat Gue."
"Deva sama siapa? Mama ya?" Tanya Arjuna melihat di box bayi tidak ada anak mereka.
"Iya." Jawab Siska tanpa mengalihkan pandangan dari laptopnya.
"Gue ambilin makan. Gue suapin, Lo makan ya?"
"Hmm."
Juna melirik sekilas Siska yang masih saja fokus pada laptopnya. Kemudian ia pun keluar kamar menuju dapur untuk mengambilkan makan malam untuk Siska.
"Masih sibuk istrimu?" Tanya sang Mama yang melihat anaknya mengambil makanan dan hendak di bawa ke kamar.
"Iya Ma." Jawab Juna.
Juna berjalan menuju kamarnya kembali.
Sang Mama hanya menatap punggung anaknya. Ada rasa bersyukur atas kesalahan yang di buat Arjuna dulu hingga membuat anak lelakinya itu lebih bertanggung jawab.
Ada yang menatap kilas masa lalu sebagai pembelajaran. Namun ada juga yang mengubur masa lalu sebagai bentuk kekuatan untuk menapaki masa depan.
Roda kehidupan terus berputar, dimana kita semua akan merasakan hal yang sama seperti semua orang. Semua merasakan secara bergantian dengan bentuk kebahagian dan penderitaan yang berbeda-beda.
__ADS_1
Yang kita miliki tidak akan selamanya kekal yang kita hadapi tidak selamanya tidak akan berakhir. Semua dijalani dengan proses dan kesabaran yang perlu kita miliki.
Bersambung...