Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 63 Kabar Duka


__ADS_3

Bab


Kabar Duka


Pagi masih berkabut embun ketika aku selesai menunaikan 2 raka'atku. Semilir angin dingin sepoy-sepoy menyelinap masuk di antara celah dan ventilasi rumah mess kantor yang aku tinggali membuat tubuhku sedikit mendingin.


Awan berwarna kelabu perlahan bergeser dan merapat antara satu dan yang lainnya. Bersiap menumpahkan tetesan-tetesan air yang akan jatuh membasahi bumi.


Aku berencana datang ke kantor sedikit terlambat hari ini. Entah kenapa tubuhku terasa kurang nyaman sedari tadi.


Beranjak ke dapur aku ingin membuat kopi susu untuk ku nikmati dengan kue bolu pandan bikinan tetangga yang aku beli kemarin sore.


Tetangga yang sedang kesulitan ekonomi itu masih mau berusaha dengan menggunakan keahliannya untuk membuat kue guna menghidupi keluarganya. Aku salut dengan orang-orang yang pantang menyerah dan masih mau berusaha dari pada meminta-minta.


Tidak jarang ku temui keadaan yang masih segar bugar menadahkan tangan terutama di lampu merah jalanan. Apalagi mereka terkadang membawa anak kecil di panas terik matahari.


Aku pun lalu mengambil nampan untuk meletakkan secangkir kopi dan sepiring bolu pandan yang telah ku iris rapi. Tetapi, tiba-tiba...


"Praang!!"


Cangkir gelas kopi tak sengaja tersenggol dan jatuh berderai ke lantai ketika aku hendak mengambil nampan.


Perasaan tidak nyaman kembali melanda, rasa cemas dan gelisah yang tidak ku mengerti apa penyebabnya. Jantung ku berdebar-debar tak menentu. Seakan ada sesuatu yang ganjil tapi tidak tahu itu apa. Aku mengusap dadaku pelan, berharap bisa mengusir sedikit kecemasan yang tidak aku mengert itu.


"Ya Allah, ada apa ini?" Gumamku.


Pikiran ku menerawang kepada Ibu dan Ayah yang berada di kampung beserta sanak saudara. Juga sahabat dan orang-orang terdekatku disana. Lalu teringat Mbak Mira yang masih terbaring di rumah sakit.


"Semoga saja bukan seperti apa yang aku pikirkan." Gumamku lagi.


Aku berjongkok memungut pecahan cangkir yang terjatuh tadi.


"Triiing...! Triiing...!"


Disaat bersamaan gawaiku juga berbunyi di atas meja ruang tamu di tempat aku duduk tadi.


"Aww! Aduh..."Aku meringis.


Tanpa sengaja pecahan cangkir menggores ujung jariku hingga mengeluarkan darah. Hatiku semakin tak karuan dengan rasa gelisah yang semakin kuat melanda.


Aku berdiri membersihkan luka di jari dengan menyiramkan air di ujung jariku di wastafel. Lalu kemudian bergegas menuju ruang tamu untuk mengangkat panggilan telpon yang sejak tadi berdering tanpa henti.


Tertera nama Roy memanggil di layar gawaiku membuat keningku berkerut.


"Ada apa ya Roy menelpon sepagi ini?" Tanya ku pada angin.


Karena rasa penasaran, apalagi dibarengi dengan hati yang terus berkecamuk, aku pun mengangkat panggilan telpon itu.

__ADS_1


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam Indah. Bersiaplah, aku sedang dalam perjalanan untuk menjemputmu sekarang."


Tanpa basa basi Roy mengatakan tujuannya padaku.


"Ada apa Roy? Kenapa mendadak?" Tanyaku bingung.


"Bersiap saja. Nanti aku jelaskan di jalan."


"Baiklah."


Telpon langsung di tutup oleh Roy ketika aku menyetujuinya. Namun sebelum aku menuruti perintah Roy, aku terlebih dahulu menyelesaikan membersihkan pecahan cangkir yang sempat tertunda tadi. Barulah setelah itu aku berganti pakaian yang untungnya aku sudah mandi sebelum melakukan kewajiban subuhku.


"Tin! Tin!"


Klason mobil Roy menyapa tanda ia sudah tiba di depan pintu mess kantorku.


Aku mengambil tas, lalu menutup pintu rapat-rapat dan menguncinya. Kemudian masuk ke dalam mobil Roy yang terparkir tepi jalan depan mess kantorku.


"Iya, aku sedang menjemputnya. Oke, baiklah."


Rupanya Roy sedang menelpon seseorang di dalam mobil.


"Pakailah selt belt mu." Ujar Roy dengan lembut ketika melihat aku telah duduk di sampingnya.


"Kita mau kemana?" Tanyaku sambil memandang wajah Roy yang terkesan sendu.


"Rumah Fandi."


Ada acara apa di rumah Mas Fandi? Apa Mbak Mira sudah sembuh dan pulang ke rumah? Tapi semalem...


Deg,


Pikiranku langsung kemana-mana begitu Roy menyebutkan kata 'Rumah Fandi'.


Sekali lagi ku tatap wajah Roy dengan serius mencari jawaban yang bisa menjawab pikiranku meski ia tidak mengatakan apapun.


Roy melirik ke arahku, lalu lelaki itu meraih tanganku dan menggenggamnya.


"Kuatkan hatimu."


Apa maksud Roy berkata demikian. Jangan-jangan Mbak Mira...


Jeder!!


Mataku langsung mengembun dengan sempurna dan menumpahkan cairan bening hangat yang meleleh di pipi.

__ADS_1


"Roy...." Kataku yang tak sanggup bertanya lebih jauh.


Lelaki itu hanya menganggukkan kepala seolah-olah tahu apa yang hendak aku katakan sembari tetap fokus menyetir memandang jalan di depan, namun tangannya masih tidak lepas menggenggam tanganku.


"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un. Huwuuwuu.... Huwuuwuu...."


Seketika tangisku pecah tak terbendung. Aku tergugu menangis dengan suara yang tak sanggup lagi aku tahan.


Rasa sesak menghimpit di dada, dengan pilu-pilu yang menyayat hati akan kesedihan di tinggal pergi orang yang aku sayangi. Tubuh ku bergetar menahan duka kehilangan seorang sahabat yang ku anggap bagai kakak sendiri.


Padahal baru kemarin aku melihat Mbak Mira yang tampak cantik meski masih terbaring koma. Tapi ternyata Tuhan punya rencana lain.


"Kapan? Hiks...."


Dalam tangis kesedihan aku bertanya kapan Mbak Mira menutup mata.


"Tadi malam, aku pergi menjenguk ke Rumah Sakit. Mira sempat sadar dan membuka matanya pada jam 11 lewat. Ia ingin melihat putri kecilnya dan akhirnya meninggal sambil mendekap Almira setelah memberikan ASI pertamanya."


Hatiku runtuh mendengar apa yang dikatakan oleh Roy.


Mbak Mira seakan-akan bangun karena mendengar ucapanku untuk melihat Almira.


"Mbak Mira.... "Ucapku lirih dalam tangis.


"Kita langsung ke rumah duka. Jenazahnya sudah dibawa kesana."


Aku hanya menurut tanpa sanggup bicara apa-apa. Air mata masih terus meleleh walau aku tidak mengeluarkan suara. Sampai di sebuah rumah bendera kuning berkibar terkena hembusan angin. Orang-orang mulai ramai berdatangan satu persatu untuk melayat.


Lagi-lagi aku meneteskan pemandangan yang seketika membuat kakiku lemah untuk melangkah. Aku sempat terhuyung kebelakang dan nyaris jatuh jika Roy tidak sigap menahanku.


Dengan langkah perlahan Roy membimbingku berjalan semakin mendekat. Disana, di sebuah ruangan yang sudah dihadiri banyak orang dengan duduk bersila maupun bersimpuh mengelilingi jenazah yang tertutup kain batik panjang dan yang telah terbujur kaku.


Rasa tidak percaya bahwa yang terbaring di sana adalah Mbak Mira. Aku semakin mendekatinya lalu memeluk tubuh yang sudah dingin itu.


Aku teringat lagi permintaan Mbak Mira beberapa hari lalu. Permintaan semasa hidup yang akhirnya menjadi permintaan terakhirnya.


Mbak Mira, ternyata Mbak sudah sangat yakin akan jadi seperti ini. Maafkan aku yang mungkin kelak masih banyak kekurangan dalam mengasuh Almira.


Aku beranjak pindah posisi duduk setelah menciumi kening Mbak Mira, dan mengucapkan kata beribu maaf atas kesalahan yang mungkin pernah aku perbuat hingga menyakiti hatinya. Serta memaafkan Mbak Mira atas permintaannya yang sempat memberatkan diriku.


Ku ambil buku Yasin yang disediakan di dekat jenazah dan mulai melantunkan ayat-ayat Allah untuk Mbak Mira.


Banyak orang yang menangisi kepergian Mbak Mira, namun ada juga yang terlihat biasa saja. Satu persatu aku mengamati orang-orang yang ada disana. Dalam hati mengira-ngira yang mana keluarga Mas Fandi dan yang mana keluarga Mbak Mira.


Lalu mataku tertuju pada seorang wanita yang sempat aku lihat di Rumah Sakit ketika Mbak Mira masih di rawat. Wanita itu menggendong Almira dalam pangkuannya. Ada yang aneh ku tangkap dari delagatnya. Walau pun wajahnya kelihatan bersedih, tapi sorot matanya berkata lain.


Siapa dia sebenarnya?

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2