
Bab 47
Ajakan Selingkuh
(POV Author)
Wina sedari tadi mondar-mandir mencari cara bagaimana ia bisa bertemu Hendra siang ini. Ia terus berpikir, mencari alasan yang sekiranya pasti di ijinkan oleh Ibu mertuanya.
"Winaaa!!"
"Duh, sudah teriak aja! Aku harus gimana ya?!" Gumam Wina pada angin.
Wina mengabaikan panggilan Ibu mertuanya. Ia terus berpikir mencari cara agar segera bisa pergi bertemu Hendra.
"Oh!!"
Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala Wina.
"Benar, kenapa aku tidak manfaatkan saja kehamilanku? Aku bisa beralasan mau periksa kandungan kan? Pintar banget aku!" Ujar Wina dengan senangnya memuji diri sendiri.
Ia pun mulai berdandan mempercantik dirinya. Makeup tipis-tipis dipadukan dengan lipmatte berwarna senada dengan bibirnya pun sudah membuat dirinya begitu cantik. Soal wajah Wina memang menang banyak dari Indah dan Ratih.
"Winaaa!!"
Sekali lagi panggilan sang mertua menggema.
Wina segera keluar mendekati Ibu mertuanya yang berada di warung dengan tampilan yang sudah siap untuk pergi.
"Mau kemana kamu?!" Tanya Bu Yarsih melihat Wina dari ujung rambut sampai ke ujung kaki sudah terlihat rapi dan cantik tidak seperti biasanya.
"Bu, aku hari ini mau periksa kandungan. Beberapa hari ini perutku sering sakit. Aku takut kenapa-kenapa sama calon cucu Ibu ini."
Bu Yarsih termenung sesaat. Wanita paruh baya itu tampak sedang berpikir sambil melirik Wina tajam sekilas.
Wina yang menunggu jawaban sambil di perhatikan seperti itu oleh Ibu mertuanya merasa sedikit tegang.
"Ya sudah. Ini ongkos untuk periksa."
Wina melongos melihat Bu Yarsih menyodorkan uang pecahan lima puluh ribu sebanyak 1 lembar kepadanya. Pasalnya, uang segitu hanya cukup untuk ongkos Wina bolak balik dan makan saja.
Mau tidak mau Wina menerima uang itu. Toh, dia juga bukan berniat benar-benar memeriksakan kandungannya. Melainkan uang itu bisa ia gunakan untuk ongkos menemui Hendra.
Wina segera memesan ojol untuk mencapai tempat tujuannya. Selang 4 menit ojol pun datang menghampirinya.
"Sesuai aplikasi ya Bu."
"Iya, cepet bang!" Ujar Wina.
Wina bernapas lega dan tersenyum menghirup udara siang walau sedikit berdebu. Hari ini ia bebas dari pekerjaan hari-harinya yang begitu menyiksa baginya.
Bukan Wina tidak bisa pindah dari rumah itu. Ia bisa saja mengontrak atau tinggal di kosan untuk kenyamanan dirinya sendiri. Namun Wina yang tidak punya penghasilan selain mengharapkan gaji Heru, terpaksa menerima keadaan agar uang di rekeningnya tetap aman tak tersentuh. Apalagi kini Wina pun sudah tidak bisa merasakan gaji itu karena lelaki itu sudah dipecat dari pekerjaannya. Jadi untuk makan dan tempat tinggal, Wina harus bersusah payah menjalani hari-harinya di rumah itu.
__ADS_1
Rumah bernuansa putih model Eropa lama berlantai 1 merupakan titik tujuan dari alamat yang Wina ketik di aplikasi ojol. Wina pun turun setelah membayar ongkosnya.
Jantung Wina berdebar mana kala ada seorang satpam menyambutnya. Karena rasa gugupnya yang melanda hati, menyebabkan bayi di dalam perutnya merespon. Wina pun mengusap lembut perutnya agar dia dan si calon bayi menjadi tenang kembali.
"Ibu Wina?" Tanya Pak, Satpam.
Wina mengangguk mengiyakan.
"Mari, Ibu sudah di tunggu di dalam."
Mendengar penjelasan Pak Satpam, Wina semakin gugup. Padahal dari rumah ia sudah membayangkan apa saja yang akan ia lakukan bersama Hendra.
"Silahkan..." Ujar Pak Satpam ketika ia membukakan pintu utama rumah itu.
Wina melangkah masuk ke dalam rumah. Ia memandang sekeliling dan berhenti pada seseorang yang duduk di sofa ruang tengah rumah itu.
"Sudah datang? Duduklah." Sambut Hendra ketika tatapan mata mereka bertemu.
"Iya Mas."
Wina melangkah mendekat lalu mengambil tempat duduk tidak jauh dari Hendra di sofa yang berbeda.
"Sudah makan kamu Win?"
Wina menggeleng, memang benar ia belum sempat makan karena memikirkan cara untuk keluar dari rumah itu agar bisa menemui Hendra.
Hendra tersenyum lalu mengeluarkan ponselnya.
"Kita pesan makanan saja ya, cuaca panas begini disini lebih enak, adem." Ujar Hendra.
Mereka saling beradu tatapan mata. Baik Wina maupun Hendra tidak ada yang melepaskan ratapan mereka.
"Oh, aku ingin tanya-tanya sedikit tentangmu. Apa boleh kita sedikit menjadi lebih dekat." Ujar Hendra.
Wina beranjak dari duduknya dan langsung berpindah tempat duduk mendekat pada Hendra. Kini mereka sudah duduk bersebelahan.
Pria itu terkesiap dengan aksi Wina. Pasalnya, bukan mendekat seperti itu yang di maksudkan oleh Hendra. Tetapi mendekat dalam artian mengenal Wina lebih dalam. Namun kesempatan itu juga tidak di sia-siakan Hendra. Toh tujuan akhirnya juga tetap sama.
"Jadi apa yang mau Mas tanyakan?" Tanya Wina kembali.
Wina seperti tidak sabar menunggu jawaban dari Hendra.
Hendra yang paham akan sikap Wina tersenyum, lalu terkekeh kecil. Hendra mengalihkan pandangannya sesaat. Kemudian pria itu kembali menatap Wina dengan menggunakan daya tariknya.
"Kamu bahagia bersama suamimu?"
Tatapan Hendra intens menatap Wina, menunggu jawaban wanita itu.
"Tadinya iya, tapi sekarang tidak lagi." Tutur Wina dengan polosnya.
"Kenapa bisa begitu?"
__ADS_1
"Bagaimana bisa orang yang di penjara membahagiakan aku Mas?" Ujar Wina dengan sedikit manja dan mengalihkan pandangannya ke depan.
"Hehehe, benar juga. Apa kamu mau bahagia bersamaku?"
Ucapan Hendra berhasil membuat Wina tampak tersenyum malu dan kembali menatap Hendra.
"Caranya Mas? Kan Mas sudah dengan Ratih." Wina beepura-pura menolak.
"Aku bisa membahagiakan kalian berdua asal kamu mau tentunya."
Tentu saja hal itu tidak akan di tolak Wina karena sudah menjadi tujuannya untuk mencari penopang hidupnya yang baru.
"Aku terserah Mas saja." Jawab Wina malu-malu.
Perlahan tangan Hendra jatuh di pangkuan Wina. Melihat tidak ada penolakan, tangan itu pun mulai mengelus paha Wina yang di bungkus rok panjang.
***
Kita tinggalkan Wina dan Hendra yang memulai asmara mereka. Beralih pada Indah yang siang ini sedang makan sendiri di sebuah rumah makan dengan menu nasi padang tapi buatan warga Makassar.
Duduk sendiri tidak membuat Indah malu untuk datang ketempat ramai seperti itu. Indah sudah mulai terbiasa sendiri sejak Rara berpacaran dengan Dani.
Ya, keduanya akhirnya memutuskan untuk menjalani hubungan yang lebih dekat lagi. Semenjak Rara berpacaran dengan Dani, Indah perlahan memberi ruang kepada dua sahabatnya untuk bersama tanpa dirinya.
"Bu Indah?" Sapa seorang pengunjung yang menegur Indah, saat wanita itu meneguk minuman es teh manisnya untuk memperlancar pencernaannya.
Indah menoleh. Wanita itu sedikit mengerutkan dahinya karena belum banyak orang yang ia kenal dikota itu.
"Maaf siapa ya?" Tanya Indah.
Ia tidak mungkin mengabaikan seseorang, apalagi orang itu tahu namanya. Indah berusaha mengenali orang tersebut dan mengingat wajah yang mungkin pernah ia lihat di suatu tempat.
"Saya Roy, teman Pak Fandi yang waktu itu bertemu anda di lokasi proyek." Jelas pria itu memperkenalkan dirinya secara tidak langsung.
Indah berusaha kembali mengingat orang yang bersama Fandi waktu itu. Kemudian ia pun menoleh kembali ke arah pria itu.
"Sudah ingat? Boleh saya duduk disini?"
Sedikit ragu tapi akhirnya Indah mengangguk karena pria itu sudah duduk di kursi yang ada di hadapannya.
Terlihat sekali Indah merasa tidak nyaman karena orang yang masih asing baginya duduk semeja dengannya.
"Maaf ya, mungkin saya kurang sopan. Tapi saya benar-benar hanya ingin mencoba akrab dengan Bu Indah.
Indah menghentikan suapan sendoknya dan melihat ke arah Roy. Sungguh dalam hatinya merasa tidak terlalu menyukai sikap Roy yang blak-blakan terhadap dirinya.
Apalagi mereka masih asing dan tidak mengenal satu sama lain. Bahkan Indah sedang tidak ingin mencoba akrab dengan seseorang yang disebut pria.
"Pacaran yuk!"
"Klontang!"
__ADS_1
Sendok Indah tanpa sengaja terlepas dari tangannya, ia terperanjat mendengar pengajuan Roy dengan mulut ternganga.
Bersambung...