
Bab 93
Gara-gara DM
(POV Author)
Mendekati hari pesta pernikahan yang belum sempat di gelar membuat Roy dan Indah semakin sibuk. Pasalnya Umi mengubah pesta sederhana yang di inginkan Indah menjadi besar-besaran oleh Umi mereka.
Seluruh sanak keluarga di undang bahkan yang jauh di negeri jiran sana pun di harapkan datang. Maklum saja, ini pesta pernikahan yang pertama kali di gelar untuk anak-anaknya.
Undangan sudah menyebar kemana-mana. Gedung tempat acara sudah mulai di dekorasi. Semua orang sibuk dengan tugas masing-masing yang sudah di bagikan.
Media sosial milik Roy pun banjir DM yang masuk. 90% adalah kaum Hawa yang rata-rata menanyakan kebenaran kabar yang mereka terima bahwa seorang King 3 tahun berturut-turut dari almamater mereka melepas masa lajangnya.
Lalu di malam ini, semua keluarga sedang berkumpul. Tidak ada yang keluar rumah meskipun saat ini malam minggu yang banyak di minat kaum kaula muda untuk menghabiskan waktu keluar rumah. Baik itu jalan-jalan, nongkrong, ataupun kuliner bersama karena hujan sedang turun.
"Berisik banget sih hape Lu Bang...!" Sewot teguh yang duduk bersebelahan menganyam ketupat.
"Biarin aja, paling DM tidak penting." Jawab Roy santai.
"Gue bukan suruh bales Bang, tapi Gue tadi bilang berisik!"
"Sumpel aja telingamu bereskan?!"
"Ck! Sini Gue balesin!"
Tanpa minta persetujuan Abangnya iya apa tidak, Teguh menyambar gawai Roy dan mengetikan sesuatu disana.
Lima menit kemudian mendadak gawai itu senyap seketika. Bahkan kini Roy yang kebingungan kenapa tiba-tiba hapenya bagai TPU.
Roy meraih gawainya, dan memeriksa apa yang Teguh ketik di sana. Mendadak tubuh Roy menegang dan...
"Kampret nih anak!"
Teguh segera ngacir sebelum benda-benda disekitar Abangnya beterbangan mengenai dirinya.
"Umiiiii.......awas Miii!!" Teriak Teguh ketika melihat Umi hendak masuk ke ruangan dimana kedua anaknya di suruh menganyam ketupat untuk dipakai besok.
"Astagfirullah..., kenapa banyak ketupat menjelma UFO?! Roy, apa-apaan ini?!" Tanya sang Umi melihat Roy melempari ketupat-ketupat yang sudah jadi ke arah Teguh yang sudah lari.
"Itu si kiprit Mi, bikin emosi!"
"Kiprit siapa? Disini tidak ada yang namanya kiprit!"
"Itu anak Umi yang satunya!"
"Umi ngasi nama kalian bagus-bagus mana ada nama kiprit?!" Sewot Umi.
"Mana ada Umi ngasi kita nama bagus-bagus Mi, yang ada Ray, Roy, Teguh." Jawab Roy tidak mau kalah.
"Dasar anak sableng!"
__ADS_1
"Umiii ngamuuuuuk...!"
Gantian Roy yang kembali berteriak ngibrit saat Umi nyaris melemparkan sandal rumahan yang tipis nyaris tanpa beban. Maklum, Umi koleksi sandal Hotel tiap kali keluar kota sama Abinya.
Padahal anak-anak sudah melarang, tapi kata Umi "kan sudah bayar." Jadi anak-anak menyerah saja.
"Ck! Gawat kalau begini." Gumam Roy sambil melihat layar gawainya dan tanpa sadar sudah berada dalam kamarnya.
"Gawat kenapa Hon?" Tanya Indah yang tanpa sengaja mendengar ucapan sang suami.
Wanita itu sedang menyisir rambutnya yang baru saja kering oleh hair dryer.
Roy tersentak kaget mendengar suara sang istri. Mendadak tubuhnya termor, panas dingin dan langsung menyembunyikan gawainya di belakang punggungnya.
Lelaki itu takut apa yang sudah di buat Teguh menjadi prahara dalam rumah tangganya.
"Tidak ada apa-apa sayang..." "Ujar Roy menyembunyikan kekhawatirannya.
"Tapi kok pucat gitu. Kamu mau coba bohong Hon?" Tanya Indah dengan wajah kecewa.
"Tidak, aku tidak bermaksud berbohong." Ujar Roy tetap menyembunyikan gawainya.
"Itu kenapa tanganmu begitu? Apa yang kamu sembunyikan Hon?"
"Ck!"
Roy berdecak pasrah. Nanti ia pasti akan membuat perhitungan dengan Teguh sang adik jika sampai Indah marah kepadanya.
Rasa penasaran Indah kian menjadi mana kalah Roy sampai bersumpah demikian. Rasa cemburu di hatinya mulai mengusai walau belum jelas itu apa.
"Boleh aku lihat Hon?"
Dengan pasrah Roy memberikan gawainya. Karena dari awal mereka sudah sepakat, apapun itu tidak akan ada yang di tutupi.
Tubuh Roy mendadak tegang melihat perubahan mimik wajah Indah setelah melihat Story yang di unggah oleh Teguh.
"Ini maksudnya apa Hon? Jangan pada DM kalau tidak mau di hari H nanti dapat cipika-cipiki dari Gue?! Kata Indah membacakan Story yang di unggah oleh akun suaminya.
"Ma*mpu*uskan Gue?!!" Gerutu Roy mengingat kejahilan Teguh sang adik dalam gumamnya.
"Aku bisa jelasin Ney."
"Iya jelaskan, sekarang!"
Roy menarik napas dalam dan menghembuskannya perlahan.
"Jadi itu ulah teguh Ney. Banyak DM yang masuk menanyakan tentang pernikahan kita. Karena berisik, Teguh buat story itu, langsung pada mingkem Ney."
Indah membuang napas kasar. Tentu saja para kuntilanak itu menurut karena mereka akan mendapatkan dorprise dari sang suami.
"Jadi kamu akan melakukannya Hon?!" Tanya Indah menatap tajam Roy.
__ADS_1
Bulu di tubuh Roy meremang.
"Dih, ogah! Mending cipika-cipiki sama kamu sayang." Ujar Roy mendekatkan diri dan langsung memeluk istrinya.
"Aku tidak serendah itu mengobral diriku."
"Benar?!"
"Bener sayang, sungguh!"
Kali ini Indah membuang napas panjang.
"Lalu bagaimana jika menagih?"
"Biar Teguh yang selesaikan. Dia yang buat masalah ini." Ujar Roy yang mulai tenang.
Indah membalas pelukan Roy. Dan itu membuat lelaki itu kembali percaya diri karena sudah pasti sang istri tidak marah lagi.
"Kamu tahu bagaimana rumah tanggaku sebelumnya Hon. Dan aku berharap itu tidak terulang kembali."
Roy mengendurkan pelukannya lalu menatap Indah lekat.
"Jangan ungkit masa lalu mu yang pahit, Ney. Ada aku, masa depanmu yang mempermanis kisah hidupmu."
"Hoak...! Hoak....!" Suara kodok terdengar bersahut-sahutan di luar rumah.
"Sudah aku bilang Hon, kalau mau gombal jangan di saat cuaca habis turun hujan. Hehehe..."
"Ck!"
Decak Roy kesal karena ucapannya di bantah sang kodok.
"Kamu jarang memakai barang-barang yang Umi dan aku belikan ya, Ney?"
"Sayang Hon, baju lamaku juga masih bagus semua."
"Kalau begitu kapan kamu ngasi kesempatan aku buat bahagia kamu Ney? Pakailah Ney, aku bekerja untukmu sekarang. Mintalah apa yang kamu mau selagi aku sanggup dan tentunya bukan permintaan yang aneh-aneh."
"Apa tidak terlalu berlebihan Hon?"
"Tidak lah Ney, aku tahu kamu pasti bisa membedakan sekiranya mana yang berlebihan. Rejekiku akan bertambah bila kamu bahagia menggunakan barang-barang atau uang yang aku berikan."
Indah terharu, baru kali ini ia merasa benar-benar menjadi ratu dalam mahligai rumah tangganya. Matanya berkaca-kaca dan air mata nyaris luruh dari tempatnya.
"Kenapa malah menangis Ney? Apa ada kata-kata ku yang melukaimu?" Tanya Roy sambil mengusap air mata di kelopak mata Indah dengan Ibu jarinya.
Indah menggeleng dan menjatuhkan kepalanya di dada Roy. Tangannya memeluk tubuh atletis pria berkulit putih itu dengan erat dan mencium aroma tubuh sang suami yang bercampur dengan wangi sabun mereka.
Roy mencium pucuk kepala Indah menandakan pria itu tulus mencintai wanitanya.
Bersambung...
__ADS_1