Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 70 Saingan


__ADS_3

Bab 70


Saingan


(POV Author)


Indah membuka pesan yang masuk ke gawainya. Membaca satu persatu deret pesan yang dikirim oleh seseorang tanpa namanya. Namun dari kata-kata yang di tulis, sepertinya dia tahu siapa pengirimnya.


0812xxxxxxxxx : Pergi dari kehidupan Mas Fandi, atau aku hancurkan hidupmu!


0812xxxxxxxxx : Aku tahu wanita sepertimu hanya mengincar harta Mas Fandi. Butuh berapa? Aku bisa membayarmu!


0812xxxxxxxxx : Balas pesanku hei ja*la*ng!


Indah tidak menanggapi. Karena jika di ladeni, urusannya pasti panjang. Lagi pula ia tidak ingin menjelaskan, karena keputusan pun sudah di ambil dan tentunya rencana-rencana kedepannya yang sudah di buat dan di sepakati antara Indah dan juga Fandi.


"Mau balik lagi ke kantor?" Tanya Fandi kepada Indah.


Indah merasa lebih baik ia pulang sendiri ketimbang satu mobil dengan pria-pria itu yang suka mencandai dirinya.


"Iya Mas. Tapi sebelum itu, aku ada urusan di tempat lain. Jadi aku naik taxi online saja nanti."


"Biar aku antar setelah mengantar Fandi balik ke kantor." Ujar Roy.


"Tapi Roy..."


Indah menggantungkan kata-kata. Tidak mungkin ia mengatakan menghindari dua pria itu karena malu.


"Tapi kenapa? Lebih aman kalau aku yang antar."


Indah menghela napas. Pasti sulit untuk menolak lelaki yang berusaha selalu menempel padanya.


"Takut merepotkan." Kata Indah pelan merasa tidak nyaman.


"Aku tidak merasa repot." Ujar Roy.


"Ya sudah. Aku saja yang naik taksi, kamu antarlah Indah Bro." Ujar Fandi.


Tuh kan..,batin Indah.


"Aku tidak apa-apa kok, lagian aku perlu membeli perlengkapan wanita. Malu rasanya kalau di antar." Ujar Indah berkilah. Ia terpaksa berbohong agar bisa pulang sendiri ke tempat kerjanya.


"Mau beli apa? Aku bisa menunggu diluar." Roy masih tidak menyerah.


"Hehehe, sebaiknya menyerah saja Indah. Kamu tidak akan bisa terus menghindar pria yang sedang bucin." Ujar Fandi yang terkekeh melihat kelakuan dua sejoli itu sambil melirik Roy.

__ADS_1


Roy hanya tersenyum cengengesan menanggapi ucapan Fandi. Sedangkan Indah melirik gemas melihat lelaki yang selalu ingin menempel padanya.


" Ya sudah, tapi jangan protes ya." Ujar Indah mengingatkan.


Roy langsung memasang senyum manisnya kepada wanita pujaan hatinya.


Makan siang pun selesai. Roy mengantar Fandi lebih dulu balik ke kantor. Kemudian setelah itu, ia mengantar Indah ketempat tujuannya.


Kini Indah yang bingung mau kemana dan ngapain. Tadinya itu hanya sekedar alasan untuk menghindari dua pria itu. Tapi sepertinya menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.


"Kita kemana sekarang?" Tanya Roy kepada Indah setelah Fandi turun dari mobil dan berpamitan kepada mereka.


Duh kemana ya? Batin Indah.


Ia kebingungan sendiri mau mengarahkan Roy kemana.


"Ting! Ting! Ting!"


"Sepertinya pesan di hape mu tidak berhenti berbunyi sedari tadi. Apa tidak ingin kamu balas dulu? Siapa tahu itu penting."


"Bukan, ini spam." Ujar Indah.


Indah tahu siapa yang sedari tadi mengirimkan pesan itu sampai akhirnya ia mengatakan bahwa itu spam kepada Roy.


"Jadi, kemana kita?"


Dan akhirnya mobil pun perlahan mulai bergerak menuju plaza terdekat. Roy meraih tangan Indah dan menggenggamnya. Awalnya wanita itu menolak, namun bukan Roy namanya jika menyerah begitu saja.


"Roy, ini di tempat umum." Ujar Indah yang malu di gandeng oleh Roy.


"Biar saja, mereka palingan iri lihat kemesraan kita. Oh ya, tunggu disini sebentar, aku mau ke toilet."


"Hmm." Indah sambil mengangguk.


Roy pun meninggalkan Indah mencari toilet terdekat.


Indah menepi di dekat dinding sebuah outlet. Sambil menunggu Roy, ia memainkan gawainya. Saat sedang asik menjelajahi sebuah aplikasi tiba-tiba tangan Indah di tarik paksa dan di giring ke tempat yang lebih sepi.


Indah terkejut tangannya di cengkeram oleh wanita yang sangat iya kenal. Dan wanita itu juga yang terus mengirim pesan terus menerus kepada Indah hari ini.


"Lepas Siska! Kita bisa bicara baik-baik, jangan kasar begini!" Ujar Indah tidak terima tangannya di seret paksa.


"Perempuan sepertimu yang tidak tahu diri memang harus di kasari! Bukankah aku sudah memperingatkan mu, hah?! Dasar ja*la*ng!"


Siska yang kalap melayangkan tangannya untuk menampar Indah. Namun Indah yang sudah memprediksi akan terjadi hal demikian segera menangkap tangan Siska dan menepisnya.

__ADS_1


Siska sempat sedikit terhuyung ke samping karena Indah yang menepis tangannya dengan kuat.


"Siapa yang kamu sebut ja*la*ng! Apa Mas Fandi itu suamimu? Tunanganmu, atau kekasih mu? Tidak semua dari yang ku sebutkan itukan?! Sadari posisimu! Kamu itu adiknya, jangan meminta lebih jika itu bukan tempatmu!" Kata Indah yang mulai berang karena Siska sudah mulai main kasar kepadanya.


"Sia*lan!" Umpat Siska tidak terima.


Sekali lagi Siska mencoba menyakiti Indah. Namun kali ini ia bukan mencoba menampar melainkan menjambak rambut wanita yang di anggap menjadi saingannya.


"Kau dan si Mira itu sama saja! Selalu menjadi penghalang hubunganku dengan Mas Fandi!!" Geram Siska sampai-sampai giginya gemelutuk.


Secepat kilat tangan Siska menyambar kepala Indah dan menjambak rambutnya. Sungguh naas nasib Indah hari ini. Ia terpaksa harus main jambak-jambakan di tempat umum begitu.


Awalnya tempat itu sepi, namun karena keributan yang di timbulkan oleh dua wanita itu, akhirnya tempat itu ramai di datangi orang-orang yang hanya ingin menonton tanpa melerai.


Terkadang orang-orang negara +62 ini sungguh miris. Bukannya mencoba menisahkan mereka malah sibuk mengeluarkan handphone masing-masing dan mengabdikan pertikaian orang lain untuk kepentingan sendiri. Tidak jarang mereka membuat konten untuk menghasilkan uang dari kesusahan orang lain. Miris bukan...


"Hentikan!!"


Roy yang melihat Indah yang di jambak di antara kerumunan orang-orang langsung menerobos dan memisahkan dua wanita itu.


"Apa-apaan ini?!" Tanya Roy bingung sekaligus kesal melihat Indah yang sudah terlihat berantakan oleh Siska. Tak berbeda dengan wanita itu, Siska lebih berantakan dari Indah.


"Siska kenapa kamu melakukan kekerasan terhadap Indah?!" Roy kembali bersuara.


"Kenapa tanya aku? Tanya wanita itu, apa yang sudah ia perbuat?!"


"Apa yang sudah aku perbuat memangnya?" Tanya Indah kesal.


"Kau sudah merebut Mas Fandi dari ku! Lihat, sudah menggoda Mas Fandi, kau juga menggoda sahabatnya!" Siska melirik tajam ke arah Roy.


"Dia tidak menggodaku tapi aku yang mengejarnya. Dan dia juga tidak menggoda Kakakmu karena itu murni permintaan mendiang istri Kakak mu! Lalu kamu sendiri apa hak mu? Apa yang rugi dari mu? Jangan lupa kalian itu adalah Adik, Kakak!" Ucap Roy berang.


Roy sangat cepat tanggap mengartikan tuduhan-tuduhan yang di lontarkan Siska kepada Indah. Pemuda itu rupanya mendengar perdebatan dua wanita itu sedari awal karena toilet yang ia temukan tidak jauh dari tempat dimana Siska menyeret Indah.


Siska mengeratkan kepalan tangannya mendengar ucapan Roy. Tatapan tajam dan nyalang melihat Roy dan Indah secara bergantian.


Tidak ada lagi yang berbicara di antara mereka. Hanya bisik-bisik orang yang menonton sayup-sayup mulai terdengar dan menyalahkan Siska.


Siska semakin kesal dan akhirnya pergi setelah membuang ludah di depan Indah dan Roy. Penonton pun satu persatu membubarkan diri.


Roy merapikan sedikit demi sedikit rambut Indah.


"Kamu tidak apa-apa?"


"Ya Roy aku tidak apa-apa."

__ADS_1


Bersambung...


"


__ADS_2