Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 44 Visi Misi Baru


__ADS_3

Bab 44 Visi Misi Baru


(POV Author)


Hari yang cerah menyambut Indah untuk pertama kalinya bekerja di kantor cabang di Makassar. Setelah 4 hari mengenal kota Makassar, Indah berangkat ke kantor dengan sepeda motor inventaris kantor. Disini, Indah diberikan fasilitas mess dan sepeda motor milik kantor. Tidak jauh jarak dari mess menuju tempatnya bekerja, hanya menempuh 6 menit perjalanan santai Indah sudah tiba di kantor tempatnya bekerja.


"Selamat pagi Bu Indah." Sapa karyawan kantor yang menjadi bawahan Indah.


Di pindah tugaskan memberi banyak pengalaman baru bagi Indah. Indah yang semula hanya menjadi sekretaris kini menjelma menjadi wakil divisi lapangan. Begitu besar peran Pak Adam telah merekomendasikan Indah kepada atasan mereka.


Indah di perkenalkan kepada karyawan-karyawan disana. Sambutan hangat dan antusias rekan baru sangat membantu kepercayaan di diri Indah bahwa ia bisa bertahan di tempat baru ini.


Hari-hari berikutnya berjalan lancar dan Indah mulai terbiasa dengan suasana baru. Ia pun memiliki tujuan baru untuk hidup lebih bahagia dari sebelumnya.


***


Di tempat berbeda.


Wina sedang melayani pembeli yang berbelanja di warung Ibu mertuanya. Sedangkan Bu Yarsih menikmati waktu senggangnya dengan menonton acara sinetron di televisi. Ratih jangan di tanya ada dimana, tentu saja gadis itu sedang berdandan cantik karena sebentar lagi akan di jemput oleh sang Papa.


Hendra alias si Papa yang mengaku duda kepada Bu Yarsih langsung mendapat restu dari wanita paruh baya itu untuk mendekati putrinya Ratih. Apalagi Hendra yang seorang pemilik Rental mobil selalu datang dengan mobil yang berganti-ganti, tentu saja membuat Bu Yarsih merasa bangga akan memiliki menantu sepertinya. Padahal usia Bu Yarsih dan Hendra hanya berbeda 6 tahun.


Usia kandungan Wina yang sudah memasuki 4 bulan membuatnya mengalami ngidam dan sesekali morning sick. Lalu di siang itu, kepalanya sedang mengalami pusing, dan ia ingin sekali perutnya di elus pria, seperti yang biasa di lakukan Heru ketika malam menjelang tidur.


Wina menangis, ia merindukan sosok Heru.


"Huuuwuwu...." Wina menangis sesenggukan.


"Beli...!"


"Huuwuwu..."


"Bali...!"


"Huuwuwu..."


"Jual tidak nih?!"


"Berisik! Beli apa sih?!" Jawab Wina kesal karena momentnya mengingat kenangan bersama Heru di ganggu.


"Gula sekilo. Mau jaga warung apa mau nangis sih?"


Wina melirik sinis si pembeli dengan wajah masam. Ia pun melangkah untuk mengambil gula yang sudah ia bungkus tempo hari.

__ADS_1


"Nih!" Ujar Wina kesal sambil menyodorkan sebungkus gula kepada pembeli.


"Tidak di kantongi nih?"


"Kantong mahal, bayar lagi kalau mau pake kantong!" Jawab Wina kesal.


"Penjual kok pelit?! Nih!" Kata pembeli sambil melemparkan uang kepada Wina karena kesal.


"Eh, kok situ nyolot sih?!"


"Situ yang mulai duluan!" Jawab pembeli dan langsung meninggalkan warung.


Wina sangat kesal sambil menghentakkan kaki. Matanya kembali mengembun dengan mulut melebek, ia kembali menangis sambil mengusap perutnya.


Sebuah mobil minibus berwarna hitam keluaran 3 tahun yang lalu parkir di depan rumah Bu Yarsih. Wina masih tidak memprihatinkan karena ia masih menangis sambil memandangi perutnya dan mengusapnya.


"Permisi..."


Suara barito khas laki-laki terdengar di dekat Wina. Wanita itu pun menoleh untuk melihat siapa yang datang ke warung itu.


Seorang pria matang dengan kaca mata hitam memandang ke arah Wina. Air mata Wina yang masih di pipi ia usap perlahan dengan tangannya.


"Kok nangis..." Kata si pria yang tak lain adalah Hendra sambil membuka kaca mata hitamnya.


"Loh kok makin mewek?" Tanya Hendra menangkup wajah Wina dengan ke dua tangannya.


Hendra dan Wina belum pernah bertemu. Kunjungan pertama Hendra waktu itu dibatalkan atas permintaan Ratih, yang ketika itu keluarganya sedang mengalami musibah karena ditangkapnya Heru.


Wajah Wina yang Ayu dengan kulit putih menarik perhatian Hendra dengan mata sembabnya dan bibir mungil yang terus bergetar karena menangis.


Tanpa sadar karena terbawa suasana, Wina meraih tangan Hendra yang menangkup wajahnya, lalu perlahan menggiring tangan itu mengusap perutnya yang membuncit. Tentu saja hal itu membuat Hendra terkesiap. Pria itu baru mengetahui ternyata wanita yang ada di hadapannya itu sedang hamil.


Namun karena tatapan mata Wina yang sendu, yang terus menatap ke arah matanya tanpa berkedip, membuat Hendra terhipnotis dan tidak menarik tangannya hingga pengusapan perut Wina. Hal itu terus saja dilakukan dengan tatapan Intens di antara keduanya.


Tangis Wina mereda. Senyumnya mulai terbit dan dibalas senyum pula oleh Hendra. Senyum Wina yang manis semakin menghipnotis Hendra untuk terus melihat wajahnya. Kedua insan manusia itu sama-sama terbuai oleh tatapan masing-masing hingga beberapa menit berlalu.


"Makasih ya, Mas siapa?" Tanya Wina setelah perasaan dihatinya sudah tenang dan nyaman setelah tangan Hendra tak lagi menyentuh perutnya.


Hendra menjadi salah tingkah ditanya oleh Wina. Ia bingung mau menjelaskan siapa dirinya kepada wanita yang ada di hadapannya. Entah mengapa ia merasa enggan untuk mengaku siapa sebenarnya dirinya dan untuk apa tujuannya datang ke sana.


"Aku, oh.. sedang mencari rumah seseorang." Jawab Hendra kikuk. "Tadi mengapa menangis?" Tanya Hendra lagi yang mulai penasaran.


"Aku rindu sosok suamiku." Jawab Wina tertunduk

__ADS_1


Wina sedang mengalami buah simalakama. Mau mengaku janda tapi ia tinggal di rumah mertua. Mau mengaku gadis tapi ia sedang hamil dan sudah terlihat di depan mata.


"Apa kamu Kakak iparnya Ratih?" Tanya Hendra.


Wina hanya mengangguk sambil tertunduk menjawab pertanyaan Hendra.


Sedikit banyak Hendra sudah tahu masalah yang dihadapi keluarga Ratih dari Ratih sendiri. Ia pun tahu Heru sekarang berada di mana.


"Apa Mas ini tamunya Ratih?" Tanya Wina yang mulai mencerna kata-kata Hendra.


"Iya, Ratihnya ada?"


"Ada Mas, di dalam."


"Kita belum berkenalan secara resmi. Aku Hendra." Ujar Hendra mengulurkan tangannya untuk di jabat.


"Wina." Jawab Wina meraih tangan itu dan menggenggamnya.


Keduanya kembali menatap intens sambil tersenyum. Tangan Hendra bahkan mengusap lembut tangan Wina saat mereka masih berjabatan tangan. Keduanya saling berbalas permainan tangan sambil tersenyum malu.


"Aku kedalam dulu ya?" Ujar Hendra sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Wina.


Wina mengangguk sambil tersenyum. Dalam hatinya ada getaran hangat mengisi ruang hatinya yang kesepian.


Hebat juga itu Ratih nemu ikan kakap begitu. Jangan salahkan aku Ratih kalau dia berpaling padaku. Batin Wina.


Wina mulai bersemangat kembali setelah bertemu dengan Hendra. Ia kini memiliki tujuan baru dalam hidupnya. Lupakan Heru untuk sementara. Toh Heru sudah tidak bisa memberikan kebahagian lagi untuknya.


"Eh, Wina!! Apa-apaan nih gula masa tidak sampai sekilo?! Kamu mau curang ya?!"


Ibu-ibu tadi yang membeli gula balik lagi ke warung dan langsung menyemprot Wina.


Deg,


Senyum Wina mendadak pudar berganti wajah yang mulai menegang.


"Ibu jangan bicara asal ya. Mana ada saya mau berbuat curang." Kilah Wina.


"Eeeeh masih tidak mau ngaku?! Tadi saya coba timbang di warung sana. Gula di sini memang tidak sampai sekilo beratnya."


"Timbangan sana pasti rusak tuh!" Kilah Wina lagi.


"Halah, mana sini timbanganmu?! Kita buktikan siapa yang benar!"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2