Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 87 Siska Lagi


__ADS_3

Bab 87


Siska Lagi


(POV Author)


Lelah seharian berbelanja bersama Roy, Indah tidak menyangka suaminya malah membeli perabot rumah yang seperti sudah mau pindahan saja. Dari mulai sofa, tempat tidur, lemari, buffet, meja makan bahkan sampai ke peralatan dapur.


Mau di taruh di mana semua barang-barang itu? Sedangkan rumah Uminya pun sudah komplit dan nyaris penuh.


Indah bingung sendiri melihat suaminya lebih ingin berbelanja dari pada keinginannya. Bahkan tidak hanya itu saja, Uminya kerap kali menelpon untuk membeli ini dan itu dan di iya kan oleh suaminya.


Dan Indah pun semakin bingung, kemana barang-barang yang segitu banyaknya di beli tapi tidak satu pun di kirim ke rumah Uminya.


Malam pun tiba, setelah mandi lalu sholat bersama, mereka pun menikmati makan malam terakhir bersama keluarga Indah yang besok akan pulang ke Kalimantan di penerbangan pagi.


Niat untuk bekerja sama dengan toko bangunan milik Abi pun Indah utarakan, dan untunglah Abi juga setuju untuk bekerja sama.


Setelah makan mereka bersantai semua di ruang keluarga.


"Indah Nak Roy, bile ade waktu pulanglah sebentar ke Kalimantan. Ayah pon rencane nak buat sukoran untuk pernikahan kalian. Supaye tetangga kite pon tahu dan merase bahagie."


"Baik Ayah. Roy pun sudah punya rencana untuk itu." Ujar Roy menyanggupi.


"Jika perlu tambahan biaya, kabari saja kami besan. Jangan sungkan karena kita sekarang adalah keluarga." Ujar Umi menambahkan.


Roy menatap Indah dan tersenyum. Meraih tangannya dan menggenggamnya. Ada rasa senang tapi juga malu jadi terlihat di wajah wanita yang kian merona.


Keluarga mereka menyatu dengan kebersamaan yang hangat. Dan itu membuat kedua pengantin baru itu semakin tampak bahagia.


"Genggam aja teros, udah kek TKI lagi nunggu antrian naik ke kapal aja." Sindir Teguh nyinyir.


"Sirik!" Balas Roy.


Teguh memanyunkan bibir bawahnya ke depan.


"Iya deh yang baru tahu rasanya jatuh cinta. Kemana aja sih Bang selama ini?"


"Tidak kemana-mana, hanya menunggu bidadari Abang datang sendiri menyapa." Balas Roy namun tatapannya terus terpana memandang Indah.


"Jangan di lihat terus Bang, entar Kak In luntur Abang pula yang ngenes."


"Kamu kira Kakak ipar mu kayak baju cerah membahana kena sabun colek sakndulit langsung luntur?!" Sela Umi sewot.


"Dih Umi, kapan aku di bela dan disayang Umi, salah mulu."


Walau pun ada perdebatan kecil antar keluarga itu, namun mereka tetap akur dan tertawa bersama.


***


Saat keluarga Roy dan keluarga Indah saling bercengkerama, di tempat berbeda Fandi sedang berdebat dengan seseorang. Siapa lagi lawannya kalau bukan Siska.

__ADS_1


Wanita itu duduk dengan manis di teras rumah Fandi walau pemilik rumah belum pulang. Dan memesan beberapa jenis makanan lewat drive online hingga sampahnya memenuhi meja teras.


Fandi yang baru saja memasuki halaman rumah mulai berdenyut pening melihat wanita yang bikin emosinya meninggi sudah berdiri menyambut kehadirannya.


Senyum manis pun ia pamerkan agar Fandi luluh padanya. Namun siapa sangka, Fandi malah memutar mobilnya dan hendak pergi meninggalkan kediamannya.


"Mas, berhenti!!"


Siska berusaha mencegah kepergian Fandi. Ia terus mengetuk pintu kaca mobil beberapa kali. Merasa Fandi tidak akan merespon dirinya, wanita itu segera bergerak menuju depan mobil, merentangkan tangannya dan bersiap jika harus di tabrak oleh Fandi.


Fandi kesal dan memukul stir mobilnya. Ia segera turun dan membanting pintu mobil hingga Siska tersentak kaget. Takut juga dia rupanya.


"Apa-apaan sih kamu?! Mau apa lagi?!"


"Sampai kapan pun aku akan minta pertanggung jawaban mu Mas!" Ujar Siska dengan keinginannya.


"Atas dasar apa? Keperawanan? Hamil? Bukan aku yang menyentuhmu pertama kali bukan?! Dan belum terbukti kamu sedang hamil. Dan juga kamu yang lebih menikmati hasil permainan mu sendiri!" Kilah Fandi yang sudah kesal setengah mati.


"Oh ya, tapi kamu juga menikmatinya Mas?! Bahkan sampai menyemburkannya ke dalam." Sarkas Siska.


"Jangan mimpi. Itu karena aku sedang memimpikan istriku. Jika aku sadar dan terbangun kamu yang sedang bersamaku entah masih bisa bangun atau tidak milikku."


"Jahat kamu Mas!!"


"Apa yang kamu harapkan dari ku? Apa tidak cukup kasih sayang dari seorang Kakak? Bahkan kamu sudah kehilangan untuk itu sekarang!" Ungkap Fandi.


"Jahat! Jahat! Jahaatt!!" Teriak Siska penuh emosi.


"Pergilah dari sini, ini bukan rumah Ibu! Kamu tidak aku terima disini! Dan ingat kalau kamu nekat berbuat ulah aku tidak segan-segan melaporkanmu!"


"Kamu pasti jatuh cinta sama wanita itu kan Mas?!"


Fandi memutar bola mata tengah mendengar lontaran yang di tuduhkan Siska padanya.


"Omong kosong apa lagi kamu! Jangan ganggu dia!" Ancam Fandi.


"Aku yakin kamu pasti jatuh cinta sama wanita tidak tahu malu itu!"


"Jangan menuduhnya macam-macam! Aku sama sekali tidak memiliki perasaan apa pun padanya."


"Kita lihat saja Mas, akan aku buktikan omongan ku ini!"


"Silahkan buktikan sampai ke ujung dunia, kamu tidak akan menemukannya karena pikiranmu sudah salah!"


Fandi melangkah masuk ke dalam mobilnya, mengunci pintu mobil dan bersiap meninggalkan rumahnya untuk sementara. Lelaki itu sudah jengah menghadapi Siska yang kepala batu.


"TIIIIIIIIINNN!!"


Klakson panjang dan nyaring menyentakkan tubuh Siska hingga wanita itu pun akhirnya menepi dengan wajah menahan kesal.


Dengan gerakan melesap cepat, Fandi keluar dari halaman rumahnya dan melaju membelah jalan ibu kota.

__ADS_1


Padahal malam itu Fandi sudah sangat lelah. Ia ingin beristirahat di rumahnya. Mandi, lalu tidur untuk menghadapi lagi jadwal kegiatan esok harinya.


Kedatangan Siska membuatnya terpaksa menginap di hotel malam ini. Hanya hotel bintang 3 yang cukup menjamunya dengan kasur dan ukuran kamar yang tak seberapa untuk melepas lelahnya.


Fandi menghempaskan bobot tubuhnya begitu kamar telah ia sewa untuk satu malam. Tak ada baju ganti, bahkan ia pun sampai lupa mengisi perutnya sendiri.


Fandi teringat Almira buah hatinya yang seharian ini tidak ia lihat tumbuh kembangnya. Ia pun berencana untuk mencari baby suster untuk merawat anaknya di rumahnya saja.


Selama ini Almira di asuh Siska dan Bibi serta Ibunya secara bergantian. Ia tidak mau Almira kenapa-kenapa setelah ia menolak Siska dengan keras.


"Assalamualaikum Bro, maaf aku menggangu malam pengantinmu." Salam Fandi dan permintaan maafnya yang saat ini sedang menelpon Roy.


"Waalaikumsalam, belum mulai Bro. Ada apa? Aww!!"


"Kenapa Bro?"


"Tidak apa-apa. Aku digigit ratu lebah. Hehehe..."


"Oh, si Honey..."


"Yups. Hehee...ada apa Bro?"


"Apa kamu bisa mencarikan aku baby suster untuk Almira?"


"Nanti aku coba tanya sama Umi. Apa ada kriteria khusus yang kamu cari?"


"Aku tidak masalah dengan umur. Yang penting dia ke ibuan dan tahu bagaimana merawat bayi dengan baik. Dia hanya cukup mengasuh anakku. Soal kerjaan rumah, sudah ada Mbok Sayem."


" Baiklah. Kapan kamu butuh?"


"Secepatnya kalau bisa. Aku tidak ingin Almira terlalu lama di asuh Siska."


"Oke Bro. Besok pagi akan aku bicarakan dengan Umi. Saat ini mungkin beliau sudah tidur."


"Baiklah, dan terima kasih Bro. Sekali lagi maaf aku mengganggu waktu mu."


"Santai saja Bro. Telpon aku kapan saja bila butuh bantuan."


"Baiklah. Thanks.


Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Fandi pun menutup telponnya setelah Roy membalas salamnya di seberang sana. Setidaknya ia sedikit lega ada sahabat yang bisa membantunya.


Roy menjadi sahabatnya sejak masih duduk di bangku menengah pertama. Sahabat yang selalu setia menemani disaat susah maupun senang, serta sahabat yang ringan tangan jika di mintai bantuan. Sebesar itu kepercayaan Fandi terhadap Roy. Sampai urusan bisnis pun mereka bagi hasil bersama.


Fandi kemudian memesan makanan lewat aplikasi online untuk mengisi perutnya malam ini.


Biarlah malam ini ia tidur hanya berbalut handuk. Toh, ini adalah hotel dan ia pun telah memastikan pintunya telah terkunci dengan benar.

__ADS_1


Insiden Siska menjadi pelajaran bagi Fandi untuk tidak bersikap ceroboh. Dan ia pun mewanti dirinya agar sama sekali tidak memberikan harapan apapun pada wanita itu.


Bersambung...


__ADS_2