Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 88 Pengasuh Almira


__ADS_3

Bab 88


Pengasuh Almira


(POV Author)


Indah melepaskan pelukannya kepada kedua orang tuanya yang sudah bersiap akan menaiki pesawat pulang menuju ke Kalimantan. Raut senyum bahagia terpancar di kedua wajah orang tuanya dan juga ke dua pasangan pengantin baru itu.


"Roy, Ayah titip Indah. Jaga baik-baik ya..."


"Siap Yah, Roy akan memberikan yang terbaik buat Indah, semampu yang Roy bisa."


"Nak Roy pun jangan lupa jaga kesehatan." Ujar Bu Sumi menambahkan."


"Iya, Mak."


Berbekal panduan dari Indah tadi malam, Roy pun mulai belajar memanggil Ayah dan Emak seperti Indah memanggil mereka.


"Pulanglah kalian. Roy, hati-hati bawa kendaraan. Kita berpisah disini. Assalamualaikum..."


"Baik Yah, Waalaikumsalam..."


Setelah Ibu, Ayah, Budi dan dua orang lainnya masuk ke gate keberangkatan, baru lah Indah dan Roy pun beranjak pulang.


Mobil pun meninggalkan perlahan meninggalkan bandara.


"Masih libur kan hari ini? Kita jalan-jalan ya Ney sayang?"


"Kemana Hon?"


"Ke tempat yang mungkin kamu suka."


"Oke...."


"Tapi sebelum itu kita singgah ke rumah Mbak Nuning dulu ya."


"Jadi yang ngasuh Almira nanti Mbak Nuning?" Tanya Indah yang sempat mendengar sedikit percakapan suami dan Ibu mertuanya.


"Kata Umi tadi pagi sih gitu. Mbak Nuning kan lemah lembut dan penyabar banget, jadi cocok kayaknya ngasuh Almira."


"Mbak Nuning siapa kamu Hon?"


"Kamu cemburu Ney?"


"Ish, kamu Hon... aku cuma nanya aja." Bantah Indah.


"Beneran cuma nanya Ney?" Tanya Roy terus menggoda. Ia suka melihat Indah yang menjadi salah tingkah.


"Apa sih Hon? Beneran kok..."


"Tapi kok wajahnya manyun gitu?"


"Memangnya Mbak Nuning siapa coba?"


"Tidak apa-apa kok kalau kamu cemburu, aku suka. Itu tandanya kamu sayang sama aku Ney."


"Kalau tidak sayang, tidak mungkin aku mau manggil kamu Hon." Jawab Indah lirih menghadap jendela mobil, tapi masih dapat di dengar oleh Roy.

__ADS_1


"Apa Ney?! Coba ulangi sekali lagi?"


"Apaan sih?!" Kilah Indah tersipu malu, lalu mengalihkan pandangannya.


"Yang tadi itu, barusan kamu bilang apa? Ayo coba ulangi?!"


"Tidak bilang apa-apa kok."


"Aku dengar loh tadi. Ayo sekali lagi sayang, aku mau dengar lebih jelas!"


"Apaan sih?! Aku tidak tahu ah..."


"Kalau tidak aku kecup nih!"


"Haaah?!" Indah langsung menoleh mendengar ancaman mesra suaminya dengan mulut ternganga.


Roy terkekeh geli. Wajah Indah sangat menggemaskan baginya saat ini.


Perlahan tangannya meraih jemari istrinya dan menautkannya.


"Bahaya Hon, hanya menyetir sebelah tangan saja."


"Udah tidak manyun lagi?"


"Apa sih Hon? Aku tidak manyun kok..."


"Tidak apa-apa, jalan sudah mulai lenggang jam segini. Orang-orang sudah pada masuk kantor masing-masing." Terang Roy.


"Mbak Nuning itu anak dari pernikanan ke dua dari Om Wawan, Adiknya Umi. Tapi sudah cerai karena istri kedua Om Wawan menikah lagi di Malaysia setelah menjadi TKI setahun disana. Istri pertama Om Wawan meninggal karena sakit. Dan dari istri pertama, Om Wawan memiliki anak namanya Rendy


. Mas Rendy lebih tua 3 tahun dari Nuning, dan ada adiknya juga namanya Tya di bawah Nuning 2 tahun. Kamu bingung Ney?"


"Umi lebih dulu menikah, dari Om Wawan. Tapi Om Wawan lebih dulu di karuniai anak. Waktu Almarhum Tante Kyra sakit, Mas Rendy masih sangat kecil baru berusia 3 tahun. Karena kewalahan mengurus rumah, anak dan isteri, Om Wawan menikah lagi dengan Tante Marni. Dan lahirlah Mbak Nuning dan Tya. Dan Om Wawan cerai ketika Mbak Nuning tamat SMA."


"Oke, aku mengerti sekarang."


" Sodara Umi tinggal Om Wawan saja. Orang tua Umi sudah tidak ada. Kalau keluarga Abi banyak. Bahkan di Pakistan pun ada. Pelan-pelan nanti akan aku perkenalan kamu dengan semua keluarga Umi dan Abi."


"Tapi aku malu Hon."


"Kenapa malu Ney sayang?"


"Apa kamu sudah bilang tentang statusku pada keluargamu Hon?"


Mendadak Roy terdiam.


"Pasti belum ya." Kata Indah lagi, kali ini wajahnya mendadak berubah sendu.


"Maaf sayang, aku belum sempat bicara yang dalam sama Umi dan Abi. Kita juga baru sah 3 hari. Tapi aku janji, secepatnya akan mengatakan kepada Umi dan Abi. Yuk, senyum lagi yuk! Jangan marah ya Ney sayang..."


Indah pun berusaha tersenyum menghibur suaminya dan dirinya sendiri. Tidak lama kemudian mereka tiba di rumah Om Wawan.


"Tok...Tok... Tok...!"


"Assalamualaikum..."


Roy mengetuk pintu dan mengucapkan salam, kemudian menunggu beberapa saat pintu itu di buka.

__ADS_1


"Waalaikumsalam..., Roy?"


"Ya, Mbak."


"Ayo, silahkan masuk Roy. Duduk dulu ya, mau minum apa? Biar Mbak buatkan."


Roy dan Indah mengikuti langkah Nuning masuk ke dalam rumah, kemudian duduk di kursi ruang tamu rumah itu.


"Tidak usah repot, Roy cuma sebentar. Roy ada perlu sama Mbak Nuning."


"Oh begitu. Ada apa Roy? Ini siapa?" Tanya Mbak Nuning ramah dan tersenyum kepada Indah.


Wanita yang terkesan anggun dan lembut di mata Indah itu ikut duduk tidak jauh dari mereka.


"Ini istri Roy, namanya Indah."


"Loh, dadakan. Kok tidak ngabarin mau nikah? Malah sudah nikah sekarang."


"Iya nih, pas ketiban durian runtuh jadi buru-buru di pungut sebelum di ambil orang. Hehehe..."


"Bisa saja kamu. Tapi ini benaran tidak mau minum. Indah, kamu mau minum apa?"


"Tidak usah Mbak, tadi di rumah sudah cukup sarapan dan minumnya." Tolak Indah halus.


"Jadi tidak enak ini, tamu datang malah tidak di suguhkan apa-apa. Tunggu sebentar ya, ada camilan di dapur."


Wanita bernama Nuning itu beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya ke menuju dapur. Beberapa menit kemudian dia kembali dengan sebuah nampan di tangan yang berisikan dua gelas air minum serta sepiring camilan.


"Duh, sudah di bilang jangan repot." Ujar Roy.


"Repot apanya Roy, air tinggal ruang, kue juga tinggal sajikan. Yuk silahkan di cicipi"


Roy pun meneguk sirup dinginnya lalu meletakkan gelas itu kembali.


"Mbak, kata Umi Mbak Nuning sedang cari kerja ya?"


"Iya Roy, tapi yang sesuai dengan ilmu yang Mbak peroleh. Sebelumnya Mbak kerja di sekolah Paud, tapi karena sekolah itu terus kekurangan murid, akhirnya sekolah itu tutup." Tutur Nuning menjelaskan.


"Jadi gini Mbak, temenku minta cariin orang buat ngasuh anaknya yang berusia 5 bulan. Ibunya sudah meninggal, jadi anak itu seharian tidak ada yang menjaga."


"Oalah kasihan ya Roy."


"Kalau Mbak mau, nanti aku kasih tahu dia. Dan soal gaji Mbak tenang saja, insyaallah sesuai. Mbak hanya mengasuh, urusan rumah sudah ada orang lain mengerjakan."


"Mbak mau Roy. Sistem bekerjanya bagaimana? Apa pulang pergi atau harus menginap?"


"Sepertinya hanya pulang pergi. Kapan mulai nanti aku konfirmasikan lagi beserta alamatnya. Nanti Mbak tinggal datang dan langsung ngasuh Almira."


"Oke, namanya anaknya Almira ya. Nama yang cantik."


"Kalau begitu aku pamit ya."


"Cepet banget Roy, habiskan dulu minumannya."


Roy mengangguk. Lelaki itu pun meneguk minuman ya hingga tandas, begitu pula Indah yang menyisakan sedikit.


Setelah itu mereka pun pamit meninggalkan rumah itu.

__ADS_1


Bersambung...


.


__ADS_2