
Bab 79
Perdebatan Kakak Dan Adik.
(POV Author)
Siska perlahan mengerjapkan matanya dan mencari sesuatu. Lalu senyumnya terbit secerah mentari pagi ini.
"Mas..."
Fandi tidak menjawab, wajahnya dingin dengan tatapan tajam melihat ke arah Siska yang masih belum paham dengan keadaan.
Fandi teramat kesal, jika saja Siska bukan adik angkatnya sudah pasti Fandi menyeret wanita itu keluar dari rumah itu ke jalan.
"Bagaimana kamu bisa ada di atas tempat tidur ku Siska?! Siapa yang mengijinkanmu?!" Tanya Fandi dengan nada membentak.
Napas Fandi mulai naik turun menahan emosi, wajahnya memerah dan tangannya terkepal hingga kuku-kukunya memutih. Tatapan matanya nyalang memandang Adik angkatnya yang masih terlihat santai saja. Bahkan lebih dari santai, ia terlihat bahagia dengan senyum yang masih terus terukir.
"Untuk apa di permasalahankan Mas, toh kita udah bobo bareng, dan kamu juga sangat menikmatinya loh Mas." Ujar Siska dengan wajah malu-malu dan bersemu.
"Praaang!!"
Fandi meninju cermin di dinding kamarnya hingga pecah berderai. Dan hal itu tentu saja membuat Siska sentak terkejut.
Darah segar di tangan Fandi yang terluka menetes. Fandi tidak peduli bahkan ia seperti tidak merasakan sakit dan terus menatap tajam Siska.
Raut wajah Siska yang tadinya berseri perlahan mulai sirna berganti raut wajah yang tidak nyaman. Kelihatan sekali wanita itu mulai tegang.
"Apa yang kamu lakukan Siska?!" Lagi Fandi bertanya dengan nada membentak.
"Mas! Kamu lupa, kamu sendiri yang mulai duluan."
Siska tidak mau kalah. Sepertinya ia tidak mau melewatkan kesempatan ini begitu saja.
"Kamu yang menarikku dalam dekapan hangatmu. Kamu yang menciumku dengan bibir seksi mu itu lebih dulu. Dan kamu tahu Mas, milikmu sangat perkasa. Aku suka Mas." Ucap Siska kembali tanpa malu-malu.
Kalimat-kalimat godaan yang di ucap Siska terasa menjijikkan di telinga Fandi. Bukan ia membenci Siska seperti wanita mu*raha*n yang menggodanya di luar sana, tetapi Siska yang tadinya di sayangi Fandi sebagai Adik dan ternyata mau melakukan perbuatan gila yang di kononkan rasa cinta bagi wanita itu membuat Fandi ilfeel. Fandi tidak bisa mencintai Siska.
Siska bangun dan duduk di atas tempat tidur. Selimut yang menutup tubuhnya tadi melorot karena tidak di tahan.
Fandi langsung menundukkan pandangannya, lalu melihat ke arah lain dengan kekesalan yang masih menyelimuti diri.
Siska tersenyum melihat Fandi. Ia bahkan dengan sengaja tidak menaikan selimut itu untuk menutupi bukit kembarnya yang terekspos bebas.
"Ambil pakaian mu, dan segera kenakan!" Perintah Fandi.
__ADS_1
"Kamu tidak ingin mengulang lagi Mas, pagi-pagi begini sangat bagus untuk kita berolahraga."
"Pakai, atau aku paksa seret keluar tanpa pakaian!"
"Ck!"
Siska berdecak kesal. Fandi sama sekali tidak menginginkannya. Bahkan ketika ia sudah memperlihatkan tubuh indahnya. Wanita itu turun dari ranjang menampakkan lekuk tubuhnya tanpa sehelai benang pun. Ia tanpa malu memungut pakaiannya dan memakainya di depan Fandi.
"Kamu harus menikahiku Mas! Aku menuntut pertanggung jawabanmu!" Ujar Siska setelah selesai mengenakan pakaiannya seluruhnya."
"Kamu jangan gila, Siska! Aku mana mungkin menikahimu! Pernikahan ku dan Indah sudah di depan mata."
"Batalkan Mas!"
"Aku tidak mungkin membatalkan karena aku sudah berjanji dengan Mira."
"Mira lagi! Mira lagi! Dia sudah meninggal Mas! Sekarang ada aku, dan kamu harus bertanggung jawab padaku!"
"Semua ini salahmu! Kenapa kamu bisa masuk ke kamarku?!" Tanya Fandi penuh selidik dan berang.
"I...itu karena aku mau mengambil gelas Mas. Tapi kamu menarikku dan melakukan itu."
"Bagaimana bisa aku menarikmu sedangkan aku sedang tidur dan kamu pasti berdiri di depan nakas?!"
"I...itu karena aku ingin membetulkan selimutmu Mas."
"Tapi tetap saja kamu harus tanggung jawab, gimana kalau aku nanti sampai hamil Mas?!"
"Haah!!" Fandi mendengus dengan kasar, kesal karena harus menahan emosinya. Lelaki itu mengusap wajahnya dengan kasar dan kembali menatap Siska dengan tajam.
"Kita lihat nanti kamu hamil atau tidak! Yang jelas aku tidak mungkin membatalkan acara besok lusa."
"Jahat kamu Mas!"
Siska berang dan menatap Fandi tajam. Ia tidak menyangka Fandi akan tetap kekeh menikahi Indah padahal rencananya sudah bisa dikatakan berhasil.
Fandi berjalan mendekati tempat tidurnya, lalu menyibak selimut dan melemparkannya ke sembarang arah. Dengan teliti dan saksama lelaki itu mangamati tiap jengkal seprai putih yang melapisi tempat tidur itu. Tidak ada setitik noda darah di sana. Fandi tersenyum seringai.
"Rupanya bukan aku yang pertama kali melakukannya padamu. Baguslah...!"
Siska tersentak, terkejut hingga matanya membulat. Seketika tubuhnya menegang melihat Fandi yang kini mulai tampak tidak sekalut sebelumnya.
"Kamu harus tanggung jawab Mas, harus! Atau kalau tidak, akan aku beberkan perbuatan kita tadi malam!" Ancam Siska yang sudah mulai tidak mampu menahan emosinya.
Baru saja emosinya turun, kini tersulutkan kembali oleh perkataan Siska.
__ADS_1
"Silahkan beberkan dan ingat, aku juga akan mengatakan kalau kamu sengaja memberikan tubuhmu ketika aku dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar!"
"Mas!!!"
"Kenapa?! Aku curiga kamu memang sengaja masuk ke kamarku dengan niat yang tidak aku ketahui. Hentikan keinginan mu itu Siska!"
"Kamu benar-benar jahat Mas! Aku mencintaimu dengan tulus, apa kurangnya aku?!"
"Sudah berapa kali aku katakan aku tidak bisa mencintaimu! Dan sampai kapan pun, ingat itu!!"
"Ughh!!"
Siska berang, dengan amat sangat marah dan kesal sambil menghentakkan kaki ia pergi meninggalkan kamar Fandi.
Fandi terduduk lemah di atas tempat tidurnya. Ia mengusap wajah dengan kasar lalu melihat bekas tempat dimana ia melakukan kesalahan.
"Arggh!! Bodoh! Bodoh! Bodoh!!"
Fandi memukul kepalanya sendiri dengan keras, merasa kesal dan marah akibat apa yang baru saja terjadi. Deru napasnya mendengus bagai banteng yang siap mengamuk. Otaknya terus berpikir kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.
Sampai ia menoleh pada gelas bekas minuman wedang jahe tadi malam. Ia pun berpikir yang aneh-aneh apa mungkin Siska memasukan sesuatu ke dalam minumannya, seperti obat perangsang yang banyak ia temukan di cerita-cerita novel dewasa.
"Mikir apa kamu Fan?!" Fandi berkata sendiri.
Sekali lagi Fandi menoleh pada gelas tersebut. Lalu entah angin apa hatinya begitu kuat ingin memeriksakan gelas tersebut.
Fandi beranjak dari tempat tidur. Ia mengunci pintunya terlebih dahulu agar tidak kecolongan lagi seperti sebelumnya. Kemudian ia kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari sisa-sisa perzinahan yang ia lakukan malam tadi.
Fandi berniat membawa gelas itu pada kenalannya yang bekerja di Rumah Sakit besar di kota itu. Ia ingin mematahkan jika pemikiran salah tentang kandungan minuman yang di buat oleh Siska untuknya.
***
Sementara itu di kamar yang berbeda.
Siska kesal setengah mati akan keras kepalanya Fandi. Ia melemparkan bantal-bantal yang tersusun rapi di atas tempat tidurnya hingga mirip kapal pecah pada akhirnya.
Sedetik kemudian wanita itu tersenyum, terkekeh sendiri mengingat pergulatan panasnya tadi malam.
Wajah Siska memerah seperti tomat, mengingat bentuk dan ukuran milik Fandi yang menerobos goanya hingga ia men*de*sa*h kenikmatan.
"Mas aku semakin menginginkanmu. Milikmu membuatku ingin mengulanginya lagi. Jika lawan pengantinmu tidak ada, kamu pasti akan memilihku bukan? Baiklah Mas, kalau harus bermain kotor sekali lagi, akan aku lakukan agar kita bisa bersama." Siska berbicara sendiri.
Senyum seringai menghiasi wajah Siska yang tampak memikirkan rencana ke depannya agar Fandi menikahinya. Ia yakin kali ini semua akan indah pada waktunya.
Siska lupa bahwa cinta tidak bisa di paksakan.
__ADS_1
Karena sejatinya tidak perlu memaksa seseorang untuk selalu ada di samping kita. Karena yang tulus dan setia akan selalu ada tanpa di minta.
Bersambung...