Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 81 Nikah Dadakan


__ADS_3

Bab 81


Nikah Dadakan


(POV Author)


Pak Abdul menarik napas dalam, sebelum menjawab permintaan Roy.


"Nak Roy....."


Kalimat Pak Abdul menggantung.


"Bapak harap, Indah tidak sedang di permainkan seperti ini. Entah apa yang sedang kalian rencanakan. Tapi Bapak mohon, pernikahan adalah sesuatu yang tidak boleh kalian permainkan." Ujar Pak Abdul menatap serius Roy maupun Indah.


"Saya tidak main-main Pak. Saya sudah lama menyukai Indah, tapi anak Bapak sulit di dekati. Dan sekarang saya tidak mau kehilangan momen ini, saya ingin menjadikan Indah sebagai istri saya." Jawab Roy dengan mantap.


"Nak Roy datang sendiri?" Tanya Pak Abdul kembali.


"Keluarga saya sedang dalam perjalanan menyusul kesini Pak. Sebentar saya telpon dulu."


Roy beranjak sedikit menjauh untuk menelpon keluarganya. Ia pun mengeluarkan handphonenya dan segera menelpon Teguh, Adiknya. Pasalnya jika Roy menelepon Ibunya, terkadang besok lusa baru tahu ada panggilan tak terjawab.


"Assalamualaikum. Teguh... Umi ada di dekat mu tidak?"


"Waalaikumsalam Bang, ada. Kenapa Bang?"


"Bilang Umi, Abang di grebek warga dan ini mau di nikahkan."


"Hah?! Kok bisa Bang? Wah, selamat ya Bang..."


"Nanti aja selamatnya, Pak Slamet masih jaga parkiran tuh di depan."


"Serius Abang mau nikah ini?"


"Ya serius lah. Buruan bawa Umi sama Abi kesini, Abang share loc tempatnya."


Roy segera mematikan panggilan. Lalu mengirimkan pesan lokasi di mana ia berada kepada Teguh. Setelah itu ia memasukan lagi handphonenya ke dalam sakunya.


Roy melangkah berjalan mendekati tempat dimana ia duduk sebelumnya. Kemudian dengan wajah tersenyum memandang Indah yang sempat meliriknya.


"Ehem. Jadi gimana, Nak Roy?"


"Sebentar lagi mereka akan sampai Pak." Jawab Roy setenang mungkin sementara hatinya grasak grusuk memikirkan bagaimana Uminya mengamuk pada dirinya nanti.


"Baiklah kita tunggu setengah jam lagi." Ujar Pak Abdul.


Sementara itu, di luar rumah.


Fandi, Siska dan Ibunya, serta Bibinya yaitu Adik kandung Bu Naima berada di halaman rumah. Bu Naima dan Adiknya Nurma, menunggu penjelasan dari Fandi dan Siska.


"Cepat kalian jelaskan pada Ibu! Apa maksudnya ini semua?!" Tanya Bu Naima yang darahnya sudah naik ke ubun-ubun.

__ADS_1


"Aku hanya meminta Mas Fandi membatalkan pernikanannya dan bertanggung jawab padaku Bu. Kami sudah tidur bersama."


"Apa?!


Bu Naima yang tadi sempat mendengar apa yang Siska katakan waktu di dalam sana serasa masih tidak percaya setelah wanita itu mengulang kembali kata-katanya.


Wanita tua itu memegang dadanya. Sedikit meringis kemudian ia bertanya lagi.


"Benar itu Fandi? Sejak kapan kalian memiliki hubungan seperti ini?" Tanya Bu Naima dengan raut wajah kecewaan yang terlihat jelas di sorot matanya.


"Kami tidak memiliki hubungan apa-apa Bu, kejadian itu murni tanpa sengaja. Dan saat ini pun, aku masih menyelidikinya. Karena tiba-tiba saja Siska sudah ada di kamarku pagi kemarin. Tolong percaya padaku Bu, Ibu pasti mengenal sifatku." Ujar Fandi menatap sendu Ibunya.


"Apa yang mau kamu selidiki Mas. Aku punya bukti kita tidur bersama. Ini Bu, Ibu bisa lihat sendiri."


Siska mengeluarkan handphonenya dan membuka galeri di ponsel pintar itu. Ia ingin menunjukan pada sang Ibu, momen-momen kebersamaannya dengan Fandi malam kemarin.


Ya, wanita itu sempat mengabadikan dirinya dan Fandi yang berpelukan tanpa pakaian meski tubuh mereka di tutupi selimut hingga ke bahu.


Bu Naima meraih gawai Siska yang di tunjukan padanya. Dengan mata membulat, wanita tua itu melihat kedua anaknya saling merangkul mesra layaknya suami isteri meski mata Fandi terpejam seperti tertidur.


Bu Naima kembali memegang dada bagian jantungnya yang tiba-tiba sakit seperti di tusuk-tusuk. Wanita tua itu mulai terdengar-sengal karena kesulitan bernapas.


"Bu..."


"Mbak..."


"Bu, kenapa Bu?"


Nurma, Siska dan Fandi mendadak panik melihat Bu Naima kesakitan, meringkuk sambil memegang dadanya.


Tubuh Siska menegang dan seketika kaku. Wanita itu terlihat pucat pasi dan panik.


Tepat ketika Roy hendak mengeluarkan mobilnya dari halaman, mobil lain dari arah luar mencoba masuk ke halaman rumah.


Kedua mobil itu sama-sama menurunkan kaca mobil karena Fandi mengenal baik siapa pemilik mobil itu.


"Fandi mau kemana? Roy mana?"


"Maaf Om, aku harus segera membawa Ibuku ke Rumah Sakit. Dan Roy ada di dalam. Lain waktu aku akan menjelaskan kepada Om apa yang terjadi. Maaf Om, bisa aku lewat duluan?"


"Oh, sebentar."


Mobil yang pemiliknya di panggil Om itu, bergerak mundur ke luar halaman untuk memberikan Fandi akses keluar dari halaman rumah itu.


"Tiin!" Suara klakson mobil Fandi menyapa, tanda ucapan terima kasih.


"Tiin!" Si Om pun membalas hal serupa.


Setelah mobil Fandi berlalu, mobil si Om pun terparkir rapi di halaman rumah.


Dua orang pria beda generasi turun di ikuti seorang wanita yang menggunakan gamis dengan jilbab berwarna senada. Mereka segera memasuki rumah yang menjadi titik share loc yang di kirimkan Roy kepada Adiknya, Teguh.

__ADS_1


Mereka sedikit terkejut melihat orang-orang yang ada di sana tampak menggunakan pakaian serba bagus dan rapi bahkan elegan selayaknya baju kondangan. Namun si Om segera menguasai diri mencoba bersikap tenang dan santun menghadapi sesuatu yang belum ia ketahui.


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh ..." Ucap salam pria yang di panggil Om oleh Fandi.


"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh..." Jawab orang-orang yang ada di dalam ruangan.


"Abi, Umi..."


Roy menyapa dan langsung berdiri menyambut kedatangan kedua orang tuanya. Lelaki itu mencium tangan Abinya dengan takjim begitu pula dengan Uminya. Namun tidak hanya itu saja, sambutan hangat pun segera Roy dapatkan dari sang Umi.


"Plak!!"


Punggung Roy di pukul dengan kuat hingga lelaki itu meringis menahan panas yang menjalar di belakang tubuhnya, sakit.


"Umi, Umi tidak sayang sama aku?" Ujar Roy dengan mata sendu dan mulut jebew yang dibuat-buat.


"Sayang kamu bilang Roy? Setelah di gerbek begini kamu masih minta di sayang?!" Sewot Umi kesal.


"Ampun Mi...."


"Wah, Abang enak banget di sayang sama Umi." Celetuk Teguh.


"Sini kamu, cobain di posisi aku, biar tahu rasanya di sayang Umi udah kek kena azab." Ujar Roy membalas celetuk Teguh, adiknya.


"Apa kamu bilang Roy? Azab?!"


"Sudah Umi, sebaiknya kita cari tahu dulu permasalahannya apa." Ujar si Om yang ternyata Abinya Roy.


"Bener kata Abi, Mi... Umi tenang dulu ya, nanti marah-marahnya di rumah aja ya Mi? Bi kenalin ini Pak Abdul, calon besan Abi dan ini, Ibu Sumi, calon Ibu mertua Roy..."


Abi dan Pak Abdul saling berjabat tangan, sedangkan dengan Ibu Sumi, Abi hanya mengatupkan kedua tangan di depan dada.


"Jadi bagaimana kamu akan menjelaskan kepada kami Roy?" Tanya sang Abi dengan pembawaan dirinya yang penuh karisma dan wibawa.


"Bi, Umi... sebelumnya Roy ingin minta maaf. Jadi ceritanya Roy bukan di gerbek, tapi Roy memang ingin menikahi Indah. Ini Mi cantikkan?" Ujar Roy membanggakan Indah yang duduk tidak jauh darinya.


"Lalu kenapa tiba-tiba mau menikah? Apa..."


"Mi, Umi tenang aja. Roy masih suci Mi." Sela Roy langsung memotong ucapan Uminya. "Tenang Mi, Duduk lagi yuk." Ujar Roy lagi mencoba menentramkan hati Umi kesayangannya yang hendak berdiri memukul punggung Roy lagi.


"Mohon maaf, Ibu, Bapak, sebelumnya perkenalkan nama saya Indah Pertiwi. Tadinya saya akan menikah dengan Mas Fandi atas permintaan mendiang istri beliau. Lalu karena insiden sesuatu hal, Mas Fandi sepertinya membatalkan pernikahan ini. Kemudian Roy... dia... " Ucapan Indah terputus sesaat karena merasa canggung dan malu. "langsung meminta saya kepada Ayah saya, untuk di nikahkan hari ini juga. Saya sadar mungkin saya banyak kekurangan. Saya manut saja, bila Ayah dan Ibu saya mengijinkan serta bila Ibu dan Bapak, Roy merestui." Indah buka suara.


Umi, dan Abi Roy tak bisa berkata apa-apa. Masih menunggu kelanjutan penjelasan dari anaknya.


"Jadi Mi, Bi, Roy sudah lama mencintai Indah. Tapi karena permintaan itu, Roy harus melepas Indah lebih dulu. Dan sekarang Roy tidak mau kesempatan ini hilang begitu saja. Dan Roy yakin Indah juga mencintai Roy, benarkan sayang?" Ujar Roy sambil melirik Indah dan tersenyum sambil menaik dan menurunkan alisnya.


"Plakk!"


"Aduh, sakit Mi..." Ujar Roy memelas sekali lagi punggungnya kena pukulan tangan Uminya.


"Bisa-bisanya kamu main genit-genit di depan orang tua, apalagi sama calon besan."

__ADS_1


"Jadi Umi setuju Mi...?"


Bersambung...


__ADS_2