
Bab 99
Almira Sakit
(POV Author)
Dua minggu berlalu sejak kembalinya Roy sekeluarga ke Makassar. Mereka sudah menjalani segala aktifitas seperti biasanya. Roy sudah kembali bekerja di kantornya begitu pula dengan Indah. Teguh sudah kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan kuliahnya karena masa liburan telah selesai. Dan Fandi setiap hari menahan emosi atas kesalahannya menerima Siska di rumahnya.
Pagi itu Almira jatuh sakit, suhu tubuhnya yang naik setiap jamnya membuat Fandi mengurungkan niatnya untuk ke kantor. Siska belum bangun dari tidurnya, sedangkan Nuning masih dalam perjalanan menuju rumahnya.
Fandi mengirimkan pesan ke Nuning agar wanita itu mengubah arah tujuannya menuju Rumah Sakit besar di kota itu. Nuning pun melajukan sepeda motornya setelah menerima kabar yang kurang baik dari Fandi.
"Mbok, Almira aku bawa ke Rumah Sakit. Tidak perlu menyiapkan sarapan untukku, aku akan sarapan di kantin RS saja."
"Baik Pak."
Tolong kemasi beberapa keperluan Almira, aku akan menunggu di mobil. Cepat ya Mbok!"
" Baik, Pak."
Dengan gerak cepat dan gesit Mbok Nah menaiki tangga tanpa menimbulkan keributan. Ia mengemaskan beberapa keperluan Almira ke dalam sebuah tas berukuran sedang. Setelah itu, ia turun menyusul tuannya yang sudah menunggu di mobil dengan Almira yang terbaring di kursi sampingnya.
"Titip rumah ya Mbok."
"Baik Pak, semoga Non Almira lekas sembuh ya Pak."
"Aamiin."
Fandi lalu menutup kaca mobilnya, dan perlahan mobil yang ia kendarai meninggalkan halaman rumah, lalu melaju membelah jalan Ibu kota. Meski panik menghadapi kondisi putrinya yang panasnya terus naik, Fandi mencoba untuk tetap tenang dan berdoa dalam hatinya.
"Ah, si*al!!"
Di tengah jalan Fandi menghadapi kemacetan panjang yang luar biasa. Entah apa penyebabnya hingga mobilnya terpaksa tidak bisa bergerak sama sekali.
Fandi melirik anaknya dengan perasaan cemas. Napas Almira tampak lebih cepat dari biasanya. Fandi memutar otaknya untuk bisa mencapai rumah sakit secepatnya.
Sambil mencari celah mobil bergerak pelan bagai kura-kura. Begitu di kirinya terdapat Market Indoapril yang cukup luas, Fandi menepikan mobilnya, dan memarkirkannya di sana.
Dengan tergesa-gesa ia meraih tas Almira, kemudian menggendong bayi malang itu, lalu mengunci mobilnya.
"Dek bisa tolong saya antar Ke Rumah Sakit? Anak saya segera butuh pertolongan."
Seorang pemuda yang di minta tolong oleh Fandi melihat Almira yang berada dalam dekapan Fandi.
"Boleh Pak, kita lewat jalan tikus saja. Ayo naik, Pak!"
"Terima kasih."
__ADS_1
Fandi berkata, lalu naik sepeda motor pemuda itu.
Pemuda itu cukup lihai dan pandai mencari celah menghindari macet, hingga sepuluh menit kemudian mereka pun tiba di sebuah Rumah Sakit tanpa kendala.
"Bapak!"
Suara seruan Nuning memanggil. Terrnyata ia pun baru saja tiba di Rumah Sakit itu.
"Ambillah, buat ganti bensin kamu. Terima kasih ya..."
"Waah... padahal saya ikhlas menolong, tapi kalau Bapak ikhlas saya juga ikhlas menerima." Ujar pemuda itu memegang uang 200 ribu pemberian Fandi.
"Saya ikhlas, terima kasih ya." Ujar Fandi kepada pemuda itu. "Ning tolong bawakan tas Almira." Pinta Fandi kepada Nuning.
"Baik, Pak."
Nuning segera mengambil tas yang di ulurkan Fandi padanya, kemudian wanita itu mengikut langkah Fandi menuju IGD (Instalasi Gawat Darurat).
Almira mulai kejang-kejang. Fandi semakin cemas melihat putrinya tak berdaya. Beberapa dokter dan perawat dengan sigap memberikan pertolongan kepada Almira. Fandi dan Nuning pun hanya bisa melihat dan berdoa.
Untungnya Almira tidak terlambat di bawa ke Rumah sakit. Setelah kejangnya berhenti dan panasnya mulai turun, Almira di pindahkan di ruang Vip anak.
Sementara itu, di rumah Fandi.
"Mboook Naaah... ?!" Teriak Siska memanggil.
"Mana sarapan? Kok tidak ada?!" Tanya Siska jutek.
"Itu Non, kata Bapak tidak perlu buat sarapan." Jawab Mbok Nah apa adanya.
"Kok gitu? Dia mau calon anaknya mati kelaparan apa?! Buatin sarapan Mbok, aku tunggu 10 menit GPL!!"
"I... Iya Non."
Mbok Nah mau tidak mau segera mengerjakan perintah Siska. Dengan cekatan Mbok Nah memasak bahan-bahan makanan yang ada di dalam kulkas.
Tumisan tauge dengan udang serta ikan goreng sambal matah telah siap di meja makan. Harum masakan mengundang langkah kaki Siska menuju meja makan.
Siska mengisi piringnya dengan nasi, lalu lauk dan sayur kemudian mulai menikmati makanannya.
"Sepi amat, pengasuh itu belum datang ya? Dasar pemalas! Nanti akan aku beri pelajaran dia!"
Mbok Nah hanya mendengarkan gerutunya Siska tanpa berani merespon.
"Mas Fandi berangkat jam berapa tadi Mbok? Kok aku tidak dibangunkan? Lain kali bangunkan aku sebelum Mas Fandi berangkat kerja. Sebagai calon istri yang baik, aku mau mengantarkan Mas Fandi."
Mbok Nah heran melihat perubahan drastis sikap Siska. Padahal sebelum Mira meninggal, Siska pernah tinggal di rumah itu hampir 2 minggu. Dan wanita itu sangat rajin, hingga Mbok Nah sempat kagum padanya.
__ADS_1
Tapi makin kesini Siska semakin berubah. Sifat buruknya mulai keluar satu persatu. Apa ini yang di katakan orang-orang bahwa manusia memiliki topeng yang tidak kita ketahui.
"Bapak tidak jadi berangkat kerja, Non. Tadi Non Almira panas badannya, jadi Bapak bawa ke Rumah Sakit." Jelas Mbok Nah.
"Almira sakit? Bagus deh. Biar calon anakku tidak ada saingannya." Ujar Siska santai.
Astagfirullahaladzim...
Dalam hati Mbok Nah berucap sambil menggelengkan kepala dengan sikap Siska. Padahal Siska tampak menyayangi Almira. Tapi, sepertinya itu hanya cara agar dia mendapatkan simpati dari Fandi.
Handphone milik Siska bergetar di atas meja makan. Tanpa melihat siapa yang menelpon, wanita itu langsung mengangkat panggilan telpon.
"Halo?"
"Sis kesini gak Lo?"
"Males ah, badan Gue remuk semua karena Lo!"
"Hehehe, ntar gak akan terlalu kuat lagi. Gue beli beberapa varian nih?!"
"Telat Lo! Kenapa baru sekarang?! Kemarin-kemarin Lo gak mikir kesana!"
"Hehehe maaf, tapi kan belum tentu punya Gue. Kecuali Lo sama Gue doang. Lah Lo ngaku ngerasain punya Abang Lo juga."
"Ck, udah ah! Gue lagi makan."
"Jadi Lo gak kesini nih? Apa Gue yang nyusul Lo aja?"
"Jangan cari perkara deh. Gue dirumah calon suami!"
"Nah situ boleh juga. Kata Lo dia selalu berangkat kerja pagi. Pasti sepi kan di sana."
"Udah ah, Gue tutup!"
Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Siska menutup panggilan telponnya secara sepihak.
Siska tidak berminat dengan ajakan Juna. Ia merasa sudah nyaris mendapatkan Fandi seutuhnya hingga Juna semakin tidak berarti baginya.
"Di rumah sakit mana Almira, Mbok?" Tanya Siska.
Ia berubah pikiran dan ingin menjenguk Almira agar Fandi semakin melihat kebaikan atas dirinya.
"Kata Bapak Rumah Sakit besar Non."
Sepertinya Siska tahu Rumah Sakit mana yang menjadi tujuan Fandi. Ia pun bergegas menyelesaikan sarapan dan akan menyusul Fandi ke sana.
Bersambung...
__ADS_1
Author mohon maaf yang sebesar-besarnya, bila karakter Fandi tidak sesuai dengan ekspektasi para pembaca. Author hanya ingin alur cerita tidak berubah jauh sesuai judul novelnya. Bila karakter terlalu kuat, mudah membalas, maka tidak akan ada yang namanya Pembalasan istri Yang Teraniaya 🙏. Karena nantinya akan ada Pembalasan dari istri Fandi berikutnya. Untuk yang selalu setia mengikuti, Author hanya bisa mengucapkan terima kasih banyak 😊, tanpa kalian Author bukan apa-apa 🙏😊.