Pembalasan Istri Yang Teraniaya

Pembalasan Istri Yang Teraniaya
Bab 60 Bukan Keinginan


__ADS_3

Bab 60


Bukan Keinginan


"Ku... mohon Indaaah..."


Lagi-lagi Mbak Mira meminta dengan rintihan suara yang memilukan hati. Hatiku yang tak kuasa melihat kesakitan seperti itu sungguh merasa dilema.


Tuhan, aku harus menjawab apa?


Roy mengalihkan pandangan melihat ke luar jendela. Mungkin ia kecewa atau itu hanya perasaanku saja.


Aku menunduk memejamkan mata sesaat. Dalam waktu yang singkat ini aku tidak di ijinkan berpikir lama karena sewaktu-waktu Mbak Mira bisa saja kembali pada-Nya.


"Ber.. janjilah... Indaaah... Ka.. mu akan merrawaat anak... ku jika a... ku harus pergiii.... Ber... janjilah menikkah dengaan Mas... Fanndii..."


Ya Tuhan, aku harus jawab apa? Yang jelas ini bukan keinginan ku menikah dengan Mas Fandi. Aku tidak mencintai lelaki itu. Roy...


Aku melihat kepada Roy, memanggil lelaki itu dalam hati tapi lelaki itu seperti sudah pasrah akan jawabanku meski raut wajahnya tampak kecewa.


Roy tidak bergeming sama sekali, lelaki itu hanya menghembuskan napas kasarnya.


"Kamu akan selamat sayang, aku akan meminta Dokter terbaik untuk menyelamatkanmu dan bayi kita umm...."


Mas Fandi masih berusaha untuk mengalihkan permintaan Mbak Mira secara halus. Aku tahu Mas Fandi juga tidak menginginkan ini.


"Inndaaah...."


Kembali Mbak Mira memanggil namaku dan kali ini suaranya mulai melemah.


Bagaimana ini Tuhan?


Jantungku berdebar semakin tidak karuan. Aku bingung, kalut, dan sedih semua rasa itu bercampur aduk dalam hati dan pikiran.


Di mata Mbak Indah aku mungkin orang yang sangat ia percayai untuk mengasuh dan merawat anak dan suaminya. Tapi, di sisi lain aku juga punya impian dan keinginan yang ingin aku gapai. Haruskah aku berkorban?


Tuhan... Aku pasrahkan semua takdir ku pada-Mu...


...


...


...


"Baiklah..." Jawabku dengan memejamkan mata sesaat.

__ADS_1


Roy mungkin terkejut mendengar ucapanku sehingga ia langsung menoleh padaku. Mas Fandi pun langsung memutuskan panggilan video setelah mendengar jawabanku.


Entah ini keputusan yang salah atau benar, karena aku juga tidak tahu takdir apa yang menanti di depan nanti. Sungguh, ini tidak mudah bagiku.


Sisi wanitaku yang tidak bisa menolak ketika orang yang ku sayangi sedang merintih kesakitan dan meminta pertolongan membuatku lemah tak berdaya. Aku larut dengan pikiranku sendiri setelah mengatakan jawabanku. Aku pasti menyakiti hati Roy yang ku tahu berusaha untuk mendapatkan hatiku.


"Brumm!!"


Mobil tiba-tiba saja bergerak dan membuyarkan lamunanku. Aku terkejut Roy tiba-tiba langsung membanting setir dan melaju dengan kecepatan tinggi.


Kali ini jantungku kembali berdebar tak menentu. Bukan karena Mbak Mira melainkan karena Roy yang membawa mobil seperti pembalap liar. Jalan raya menuju rumah sakit di anggap bagai Sirkuit Internasional Sentul, membuat rasa sedih ku berubah seketika menjadi rasa panik yang luar biasa.


Aku berpegangan pada handel di atas pintu mobil. Sesekali ku lirik Roy yang menatap tajam jalan dengan wajah serius dan diam seribu bahasa.


Apakah Roy sedang marah dan melampiaskankan kekesalannya di jalan dengan kebut-kebutan seperti ini?


Roy, maafkan aku bila telah melukaimu...


Aku mengambil keputusan ini karena mungkin saja itu adalah permintaan terakhir Mbak Mira. Aku takut akan menjadi penyesalan di kemudian hari bila aku menolak permintaannya. Pasti ada sesuatu yang membuat Mbak Mira memintaku meski sudah tahu kalau Roy berusaha mendekatiku. Dan aku pun tidak hubungan yang terikat dengan Roy.


Mobil terus melaju membelah jalan, menyalip kendaraan yang menghalangi dan membunyikan klakson seperti seakan berteriak 'Minggir Kalian'. Hanya dalam 10 menit mobil yang kami tumpangi sampai di pelataran parkir Rumah sakit terdekat yang menampung Mbak Mira dan Mas Fandi. Dengan cepat Roy membuka pintu mobil dan bergegas menghampiri ku yang masih terduduk lemas mengumpulkan nyawa yang nyaris lepas dari tubuhku.


"Ayo..." Ujarnya lembut namun dengan berwajah datar yang baru pertama kali ini aku lihat.


Aku merasa tidak nyaman. Ada apa dengan Roy?


Mas Fandi tampak menunggu dengan raut wajah sedih dan di liputi ke khawatiran di sebuah bangku khusus untuk menunggu pasien. Roy dan aku pun menghampirinya dan menanyakan keadaan Mbak Mira.


"Bagaimana Bro?" Tanya Roy kepada Mas Fandi.


"Mira langsung di operasi karena mengalami pendarahan." Jawab Mas Fandi lemah.


Lelaki itu kemudian menatapku dengan wajah sendu.


"Maafkan Mira, Indah..." Ujar Mas Fandi lagi memohon padaku.


"Jangan dipikirkan soal tadi Mas. Nanti kita bicarakan lagi setelah tahu perkembangan keadaan Mbak Mira."


Mas Fandi mengangguk. Lalu pandangannya kembali menatap pintu ruang operasi yang tertutup rapat.


"Allahu Akbar...., Allaaaaahu Akbar!"


Kumandang adzan maghrib menggema membelah langit mendung yang seakan-akan tahu akan kesedihan Mas Fandi atas apa yang menimpa keluarga kecilnya. Desir angin dingin menerpa tubuh seakan-akan tahu hati sedang butuh penyejuk. Aku memutuskan untuk menghadap sang Khaliq dan mengadu pada-Nya.


"Maaf, saya ke mushola dulu." Ujar ku kepada dua lelaki yang mungkin butuh waktu privasi untuk bicara mengenai keputusanku.

__ADS_1


"Pergilah..." Ujar Roy lembut namun datar seperti tadi.


Mas Fandi memandangku dan mengangguk kepalanya. Aku pun berlalu dari hadapan dua lelaki itu menuju mushola Rumah Sakit. Mengambil wudhu dan memakai mukena yang mudah di bawa kemana-mana yang selalu ada dalam tasku, lalu menunaikan kewajibanku tiga raka'at ku.


***


Mas Fandi dan Roy duduk berdampingan dengan kedua lengan tangan menopang berat tubuh di atas paha mereka masing-masing. Aku mendekati mereka dan ingin tahu bagaimana perkembangannya.


"Apa operasinya belum juga selesai?" Tanyaku pada keduanya.


Roy tidak bergeming tetap memandang lantai rumah sakit yang mungkin lebih menarik dari pada aku. Sedangkan Mas Fandi hanya menggeleng lemah menjawab pertanyaanku.


Aku pun duduk di sebelah Roy dengan jarak satu kursi yang kosong di antara kami. Sejak mendengar jawabanku atas permintaan Mbak Mira, sikap lelaki itu berubah drastis padaku. Entah hanya perasaan ku atau aku yang salah, Roy seperti menjaga jarak padaku.


Sampai sebelum kami mendengarkan permintaan Mbak Mira, sikap Roy padaku masih di penuhi perhatian dan berusaha menguatkan diriku. Tapi kini, dia telah berubah menjadi sosok lelaki cool yang membuat aku merasa seperti ada yang kurang saja.


Aku merenung sambil menunggu kabar dari Dokter yang mengoperasi Mbak Mira. Tidak ada satu pun yang berbicara setelah aku duduk selama 20 menit bersama mereka. Kami larut dalam pikiran masing-masing.


"Keluarga pasien bernama Mira Lestari?"


Mas Fandi, Roy dan juga aku serempak berdiri begitu Dokter keluar memanggil keluarga pasien.


Mas Fandi lekas beranjak menghampiri dokter, dan Aku beserta Roy mengikutinya di belakang.


"Saya Fandi, suami Mira Lestari, Dok."


"Bayinya bisa di selamatkan walau dalam keadaan prematur. Dan sang Ibu masih kritis walau kami sudah selesai mengoperasinya. Berdoa saja agar istri anda bisa melewati masa kritisnya. Kami akan memindahkan istri anda ke ruang ICU."


"Lakukan yang terbaik untuk istri saya Dok."


"Akan kami usahakan Pak." Ujar sang Dokter sambil menepuk pundak Mas Fandi yang mengisyaratkan seakan-akan memberikan kekuatan kepadanya.


"Untuk lebih lengkap mengenai keadaan Ibu Mira, mari... kita bicarakan di ruangan saya."


"Baik Dok. Saya akan ke ruangan anda setelah istri saya di pindahkan." Ujar Mas Fandi.


Sang Dokter pun berlalu pergi menuju ruangannya, meninggalkan kami yang masih di selimuti perasaan cemas karena kondisi Mbak Mira yang masih kritis.


"Mas, sebaiknya di adzan dulu bayinya." Ujar ku mengingatkan.


Mas Fandi mengangguk, lalu segera menuju ruangan bayi untuk melihat anaknya.


Roy pun sepertinya ingin melihat sang bayi dengan melangkahkan kakinya mengikuti Mas Fandi di belakang.


Melihat Roy mengikuti Mas Fandi, aku pun mengejar langkah Roy dan meraih tangannya, hingga langkah lelaki itu terhenti dan ia pun menatapku.

__ADS_1


"Maaf....." Kataku lirih.


Bersambung...


__ADS_2