
Bab 75
Pulau Lemukutan
Sudah empat hari kami berada di kota kelahiranku. Dan rencananya, besok kami akan kembali ke Makassar. Fandi Dan Roy hari ini di temani Budi mencari oleh-oleh khas Pontianak untuk dibawa ke Makassar, sedangkan aku memilih istirahat saja di rumah karena tubuhku yang sangat lelah serasa rontok tulang dan dagingku.
Bagaimana tidak, kemarin kami menghabiska waktu dua hari satu malam, menginap di Pulau Lemukutan.
Flash Back On
Pulau Lemukutan adalah sebuah pulau yang terletak di Kecamatan Sungai Raya Kepulauan, Kabupaten Bengkayang, provinsi Kalimantan Barat.
Kami memulai perjalanan menuju Pulau Lemukutan. Dari Pontianak menggunakan mobil menuju ke dermaga penyeberangan yang berjarak sekitar 130 Km dengan waktu tempuh sekitar tiga setengah jam. Sampai di dermaga, terlihat kapal-kapal kayu sederhana yang di gunakan untuk mengangkut orang maupun barang dari dan menuju ke Pulau Lemukutan.
Perjalanan dari dermaga menuju Pulau Lemukutan memakan waktu sekitar satu jam. Sepanjang perjalanan, kami disuguhi dengan pemandangan pulau-pulau eksotik yang menggugah rasa penasaran karena sebagian besar pulau tersebut tidak berpenduduk.
Hembusan angin khas lautan diiringi dengan hempasan ombak kecil membuat mata seolah-olah tidak percaya masih berada di Kalimantan Barat yang lebih dikenal dengan kekayaan alam berupa hutan dan sungai
Sesampainya di Pulau Lemukutan, kami langsung disuguhi dengan pemandangan air laut sebening kristal yang tak sanggup untuk menyembunyikan keindahan terumbu karang bawah laut yang masih terjaga dengan baik. .
Tanpa membuang waktu, aku langsung menuju ke pantai untuk menikmati eksotisme pulau ini dan tentu saja Roy mengekori punggungku.
"Cantik sekali tempat yang kamu rekomendasi ini Indah. Aku suka tempat ini." Ujar Roy yang tampak kagum dengan pemandangan sekitar.
Mata kami disuguhkan dengan kerikil halus yang menutupi sebagian besar pantai dan memanjakan kaki ketika kita berjalan di atasnya.
Irama pohon kelapa yang berayun mengikuti hembusan angin diiringi kicauan burung seakan membuat kita berada di sebuah pulau yang jauh dari peradaban manusia.
"Sukurlah kalau kamu suka Roy. Oh, Mas Fandi kemana?"
"Dia meletakkan barang-barang kita penginapan bersama Budi."
"Oh, astaga! Aku lupa dengan barang-barang kita. Duh jadi tidak enak. Tamu pula yang repot."
"Sudah jangan di pikirankan. Sepertinya Fandi juga senang berasa disini. Lihat ke arah sana!"
Tunjuk Roy dengan dagunya, melihat ke arah Mas Fandi dan Budi yang sudah cekakak-sekikikan sambil bermain air di bibir pantai.
Rupanya mereka sudah memulai berenang duluan tanpa mengajakku dan juga Roy. Tapi aku tersenyum melihat ketawa Mas Fandi yang begitu keras. Tidak sia-sia aku mengajak mereka ke tempat ini. Setidaknya Mas Fandi bisa melupakan kesedihannya sesaat. Meski ia tidak pernah mengucapkannya.
"Mau gabung sama mereka?" Tanya Roy yang sepertinya tergiur untuk mencicipi segarnya air laut yang tembus padang ke dasarnya.
Aku tersenyum mengangguk menjawab pertanyaan Roy.
"Tapi, tunggu dulu!"
"Kenapa?"
"Kamu berenang tidak pakai bikini kan?"
__ADS_1
"Haaah? Ya tidaklah! Aku pakai lengging dan kaos oblong hitam ini."
Roy tampak menghela napas lega.
"Kenapa memangnya Roy?"
"Tidak apa-apa. Ku kira kamu bakal pakai bikini. Rasanya aku tidak bisa melihat kamu di pandang orang kalau pakai begituan."
"Hehehe, tidak Roy. Aku tidak pernah pakai bikini kalau berenang. Apalagi disini ini daerah luar kota, pakaian seperti itu masih tabu untuk masyarakat. Alias peradaban masih jauh di bilang modern. Mungkin berbeda jika itu bule-bule yang memakainya. Masyarakat mungkin masih lumrah karena sedikit banyak tahu juga kehidupan luar negeri. Tapi ya.. tetap saja terlihat aneh kalau ada yang pakai bikini."
"Oh, begitu."
"Iya, tapi beda lagi kalau kehidupan di kotanya. Ada juga yang berenang menggunakan bikini. Biasanya sih pengunjung hotel. Dan mereka berenangnya juga di hotel tersebut." Jelasku.
"Berarti adat istiadat di sini masih kental?"
"Kurasa semua tepat juga masih menanam budaya seperti disini. Hanya seberapa banyak yang bandel dan seberapa banyak yang masih menaati."
"Ya, kamu benar."
Aku dan Roy akhirnya sampai di penginapan yang langsung menghadap ke laut. Aku menuju kamarku dan Roy menuju ke kamarnya.
Selang beberapa menit kami pun keluar dari kamar masing-masing dan sudah menggunakan baju yang akan di pakai berenang.
Tapi, aduh...
Mata ini tanpa sengaja melihat tubuh Roy yang mengunakan singlet hitam. Walau masih terbungkus dengan bahu tanpa lengan, tubuh Roy masih terlihat jelas bentuk ototnya yang sepertinya ia rajin olah raga.
Duh, malunya aku...
"Ehem."
Aku segera mengalihkan pandangan, membuang rasa maluku lalu berjalan cepat mendekati bibir pantai.
Roy terkekeh, lalu setengah berlari ia menyusulku.
Ternyata Budi dan Mas Fandi sedang bermain dengan pengunjung lainnya. Mereka melakukan snorkelling menikmati keindahan bawah laut Pulau Lemukutan.
***
Setelah puas bermain air sampai sore hari, disinilah kami ketika malam tiba.
Angin segar malam menerpa wajahku, meliuk-liukan rambut kesana kemari seperti membawanya menari-nari. Memandang lampu perahu nelayan di kejauhan bagian bintang yang berkelap kerlip di atas laut.
Suasana malam di Pulau Lemukutan sangat jauh berbeda dengan yang biasanya di alami diperkotaan. Sebagian besar warga bahkan tidak menutup pintu rumah mereka pada malam hari karena memang mereka sudah mengenal sesama warga yang ada di pulau ini. Senyum lebar para nelayan yang pulang dengan perahu penuh ikan menjadi pemanis malam yang damai di pulau itu.
"Disini dingin, kenapa tidak masuk saja ke dalam menonton televisi?" Ujar Roy yang menyusulku dan duduk di kursi teras di sampingku.
"Nonton televisi bisa dirumah, sayang sekali harus menyia-nyiakan pemandangan malam seperti ini disini."
__ADS_1
"Benar juga." Ujar Roy yang ikut memandang jauh disana.
"Kalian sudah makan?"
"Sudah. Bahkan Fandi sudah berlayar ke pulau lapuknya. Mungkin ia kelelahan seharian ini. Kamu tidak makan?"
"Aku masih kenyang. Maaf aku makan duluan tadi, karena magh ku rasanya mulai kambuh."
"Jangan pikirkan kami. Jika kamu lapar, makan saja dulu. Jangan sampai kesehatanmu terganggu gara-gara kami."
...
Tidak lama keheningan pun menyapa. Baik aku dan Roy sama-sama diam menikmati semilir angin yang berhembus menerpa tubuh.
"Jika mereka meminta mu kembali kepada mantan suamimu, apa kamu akan menerimanya?"
Aku terkejut mendengar pertanyaan Roy, lalu menatap wajah tampan yang terlihat sendu itu.
Roy pun menatapku hingga tatapan mata kami saling memandang dalam.
"Aku sudah punya rencana di hidupku. Bukankah kamu dan Mas Fandi juga ambil andil dalam hal itu? Dan itu tidak akan berubah."
Hening, Roy tidak menanggapi ucapanku. Tetapi tatapan matanya masih memandangku lekat.
"Aku sudah pernah hidup bersama lelaki itu. Dan aku merasa dulu itu adalah sebuah kesalahan. Lalu untuk apa dilakukan, jika harus mengulang kesalahan yang sama." Ujarku kembali.
Roy masih bergeming, namun perlahan senyumnya terbit dan tangannya meraih tanganku lalu menggenggamnya erat.
Jangan ditanya jantungku berdebar atau tidak. Sampai-sampai aku takut detak jantung yang kuat ini terdengar oleh Roy.
"Mbak Indah,... oh maaf." Ujar Budi yang tanpa sengaja melihat Roy menggenggam tanganku.
Sepupuku itu tampak merasa tidak nyaman karena muncul di situasi yang kurang tepat menurutnya, mungkin.
Aku pun buru-buru melepaskan genggamam tangan Roy. Tidak ingin menimbulkan tanda tanya bagi Budi, yang mana sepupu ku ini juga sudah tahu aku akan menikah dengan Mas Fandi.
"Ade ape Bud?"
"Kak In, makan lah dolok. Kak In kan belom makan."
"Iye Bud, sekejap agik."
Budi pun masuk ke dalam meninggalkan aku dan Roy di teras ini. Roy kembali hendak meraih tanganku. Namun dengan cepat aku sembunyikan di belakang tubuhku.
"Tidak enak di lihat orang Roy." Ujar ku.
Roy menghela napas pasrah. Raut wajahnya tampak sedih setelah aku menolaknya.
Flash Back Off
__ADS_1
Bersambung...