
Bab 35
Terciduk
(Pov Author)
Rambut Ratih masih terlihat berantakan dengan keringat yang belum juga sepenuhnya hilang, kini berganti keringat dingin yang mulai keluar dari lubang pori-porinya.
Jantungnya berdebar keras, wajahnya memucat, dan ujung-ujung jarinya mulai dingin.
Selama ini, tidak pernah ada orang yang mengusik mereka ketika dia dan sang Papa bertemu. Tapi kali ini, suara gedoran pintu terdengar keras di tambah suara barito teriakan laki-laki terdengar begitu menakutkan baginya.
"Pa... Gimana ini?" Rengek Ratih kepada si Papa.
"Tenanglah, jangan gugup." Ujar pria yang nyaris mendekati paruh baya itu mencoba menenangkan kekasihnya.
Pintu pun di buka. Terlihat 4 orang pria berbadan tegap berdiri di depan pintu dengan wajah garang. Dua di antaranya menggunakan baju biasa dan dua lainnya menggunakan baju seragam Kepolisian.
"Selamat malam Pak, bisa tunjukan kartu identitasnya?"
Si Papa mengeluarkan dompetnya dari saku celana di belakang dan mengambil kartu identitas untuk di tunjukkan kepada Polisi itu.
"Ini siapa?" Tanya seorangnya lagi menunjuk Ratih yang terdiam ketakutan.
Dua dari mereka langsung masuk ke kamar tanpa ijin. Mereka memeriksa setiap sudut dan semua barang-barang ya ada.
"Dia adik saya." Kata si Papa yang terlihat sedikit gugup.
"Oh adik, ketemu gede kayaknya ini ya?! Bisa tunjukan KTPnya?" Tanya si petugas kepada Ratih.
Gadis itu pun dengan tangan sedikit gemetar mengeluarkan kartu tanda pengenalnya untuk di tujukan kepada petugas Kepolisian.
Polisi itu memperhatikan Ratih dari atas sampai ke bawah. Ada yang menarik perhatiannya ketika melihat bagian bawah pakaian Ratih.
Rok putih motif bunga-bunga itu di pakai terbalik. Sepertinya ia tergesa-gesa hingga tidak menyadari akan kesalahan dalam pemakaiannya.
Kecurigaan polisi semakin kuat ketika ditemukannya jejak air kenikmatan di atas seprai serat bekas pengaman yang tergeletak begitu saja di lantai.
"Silahkan ikut kami ke kantor!"
Keduanya tampak menegang, apalagi Ratih yang sangat ketakutan hingga wajahnya memucat dan tubuhnya gemetar. Kakinya seakan-akan tak bertenaga, melemah untuk melangkah mengikuti arahan petugas Kepolisian.
__ADS_1
Ratih melirik sekitar sambil menunduk malu. Ada beberapa pengunjung lain yang bernasib sama dengannya. Yaitu terciduk saat berbuat mesum. Masih di untung dirinya sempat mengunakan kembali pakaiannya. Yang sedang ia lirik saat ini malah sedang memacu ke puncak asmara dan harus kandas saat pintu di buka paksa.
Para pelaku mesum itu digiring menaiki mobil truk dengan bak yang diberi penutup terpal berwarna gelap, dan di bawa ke kantor Polisi setempat.
Ratih yang termasuk didalamnya sudah sangat ketakutan dan mencari cara bagaimana dia bisa bebas dari jeratan hukum.
Si Papa yang melihat Ratih sangat ketakutan mencoba untuk membuat gadis itu sedikit tenang dengan menggenggam tanganya sambil berbisik.
"Jangan takut, ikuti saja permainanku."
Ratih mengangguk, ia yakin si Papa sangat mencintainya dan akan menolong dirinya meski si Papa juga sedang tertangkap bersamanya.
Tiba di kantor polisi, satu persatu dimintai keterangan oleh petugas Polisi. Ada yang di datangi oleh istri dan juga suami yang pasangannya adalah mereka yang berbuat mesum.
Saat giliran si Papa dan Ratih , si Papa tampak berusaha tenang untuk menguasai keadaan.
"Pak Hendra, ada hubungan apa anda dan saudari Ratih Puspita?"
"Saya hanya memakainya semalam saja Pak."
Ratih tampak terkejut mendengar penuturan Si Papa yang bernama Hendra ini. Ia di anggap Psk yang menjajakan diri demi sesuap nasi. Kendatinya apa yang ia lakukan memang mirip dengan apa yang sang Papa ucapkan. Tapi menurut Ratih, dia bukanlah seorang Psk karena hubungannya didasari oleh rasa cinta menurutnya.
"Apa benar begitu saudari Ratih?"
"Apa saudari Ratih memiliki organisasi yang menampung para pekerja seperti anda?"
"Maksudnya gimana Pak?" Tanya Ratih polos tidak mengerti.
Gadis berusia 22 tahun itu tidak mengerti apapun mengenai Psk. Yang ia tahu, ia hanya mencintai Si Papa yang selalu memanjakannya dengan materi.
"Kami hanya berkenalan tanpa sengaja di medis sosial Pak. Karena dia butuh uang, makan saya membelinya pelayanannya satu malam ini saja." Tutur Hendra.
"Apa Bapak sudah menikah?"
"Sudah." Jawab Hendra tertunduk.
"Apa saudari Ratih sudah menikah?"
"Belum Pak." Jawabku Ratih juga tertunduk.
Polisi pun akhirnya memberikan pembinaan kepada keduanya atas perbuatan mereka yang melanggar asusila, serta norma agama. Beruntung tidak ada laporan dari pihak keluarga Hendra, terutama sang istri, hingga kasus itu hanya berakhir dengan memberikan pembinaan kepada keduanya.
__ADS_1
Banyak yang salah paham dalam menanggapi hal ini. Pasal 415 RKUHP tentang perzinahan dan Pasal 416 RKUHP tentang hidup bersama sebagai suami istri di luar perkawinan/kohabitasi (kumpul kebo), akan di proses hukum bila mana diadukan oleh suami/istri bagi mereka yang terikat perkawinan atau orang tua/anak bagi mereka yang tidak terikat perkawinan. Maka, tidak akan pernah ada proses hukum tanpa adanya pengaduan dari yang berhak dan dirugikan secara langsung. (di kutip dari Juru Bicara Tim Sosialisasi RUU KUHP Albert Aries)
Penggrebekan yang di lakukan oleh pihak Kepolisian di Hotel tempat kedua insan itu bertemu dilakukan sesuai prosedur KUHP atas pelaporan sejumlah warga sekitar yang merasa resah hotel di sekitar kawasan tempat tinggal mereka menjadi tempat perzinahan.
Dua jam lamanya Ratih dan Hendra yang mendapat pembinaan akhirnya di bebaskan untuk pulang. Karena malam telah begitu larut Hendra berencana mengantarkan Ratih sampai di rumahnya.
Hendra lalu memesan taxi online untuk mengantar mereka kembali ke Hotel dan mengambil mobil Hendra yang tertinggal disana.
***
Sementara itu, di rumah keluarga Heru. Bu Yarsih sedari tadi mondar mandir karena sudah jam 11 malam, Ratih masih belum bisa di hubungi. Anak gadisnya itu sebelumnya hanya pamit pergi ingin malam bersama teman-teman dia ujung jalan rumah mereka.
"Duh kemana ini anak?! Kalau pulang aku bakal sembat kamu pake sapu lidi!!" Bu Yarsih mengomel pada angin dengan geramnya.
Tidak lama kemudian terdengar suara mobil yang berhenti tepat di depan rumah. Bu Yarsih mengintip dari balik tirai jendela. Matanya langsung membelalak dan bibirnya tersenyum merekah melihat anak gadisnya turun dari sebuah mobil berwarna merah.
"Waah, ternyata anakku pandai pencari teman. Temannya itu pasti sangat kaya. Tapi temannya cewek apa cowok ya?" Tanya Bu Yarsih pada angin.
Ratih berjalan pelan mengendap-ngedap bagai pencuri agar tindak menimbulkan suara setelah mobil yang mengantarnya pergi.
Dengan perlahan ia memutar kunci pintu, dan membuka pintu itu. Lalu melangkah masuk dan menutup kembali pintu serta menguncinya.
"Dari mana kamu jam segini baru pulang Ratih?!"
Ratih terkejut dan terdiam melihat sosok Ibu yang duduk manis di sofa sambil memperhatikan dia dirinya.
"I.. Itu Bu, habis jalan-jalan sama temen." Jawab Ratih tertunduk ketakutan.
"Lain kali kasih Ibu kabar, dan jangan matikan handphone mu."
"Iya Bu handphone Ratih kehabisan baterai. Ibu tidak marah?" Tanya Ratih yang mendengar cara Ibu berbicara tidak ketus malah biasa saja.
"Kamu pinter cari teman yang kaya. Sudah sana masuk kamar."
Ratih tergamam. Ternyata sang Ibu tidak marah dengan perbuatannya. Bahkan Ibunya tampak tersenyum sebelum melangkah masuk ke kamarnya."
Bersambung...
*Baca juga novel ku yang berjudul LYSAA, GADIS PENAKLUK bagi yang suka kisah gadis kuat yang tangguh dengan romansa percintaan yang mengundang gelak dan tawa. **
Atau CINTA AKU SEIKHLASMU bagi yang menyukai kisah penuh haru biru. Terima Kasih 🙏
__ADS_1
Note : jangan lupa untuk selalu like dan komen setiap bab ya, karena jejak kalian sangat berharga bagi Author. Terima kasih 🙏😊