
Bab 95
Bertemu Kunti
(POV Author)
Sebulan setelahnya, acara kembali di gelar. Kali ini di Kalimantan sesuai permintaan Pak Abdul. Roy memboyong beberapa keluarganya untuk di ajak kesana. Ada Abi dan Umi, Teguh dan Tya, serta Om Wawan. Hanya saja Rendy dan Nuning tidak bisa ikut karena pekerjaan yang tidak bisa di tinggalkan.
Umi terkesiap melihat bangunan asli rumah orang tua Indah di kampung. Rumah kayu berciri khas rumah melayu dengan kolong besar di bawahnya. Ditambah ukiran-ukiran yang menambah kentalnya adat di sana.
Umi serta Abi dan Om Wawan menginap di rumah besannya. Sedangkan Teguh dan para sepupu menginap di rumah Budi.
Keluarga Roy datang semua sudah siap. Esok harinya mereka menggelar sukuran dengan mengundang tetangga satu kampung itu.
Warga di kampung saling gotong royong, bahu-membahu menyiapkan segala keperluan acara. Pak Abdul sekeluarga tinggal melihat dan duduk manis saja.
Setelah acara selesai esoknya mereka melihat perkebunan milik orang tua Indah yang sekali lagi membuat sang Umi terkesiap. Ternyata di balik tampilan sederhana besannya, Pak Abdul merupakan juragan tanah yang bisa di bilang sebagai orang kaya di kampung itu.
Namun apa yang di tampilkan Pak Abdul sungguh membuat besannya merasa kagum. Dan sikap sederhana Pak Abdul itu menurun pada putrinya Indah.
"Umi betah di sini Roy, sejuk, seger, orangnya juga ramah-ramah." Ujar Umi disaat mereka semua sedang bersantai dan menikmati kue bingke dengan secangkir teh hangat.
"Apa mau pindah kesini Mi?" Tanya Roy.
"Susah juga dengan toko di sana Roy."
"Serahin aja sama Om Wawan, Mi. Umi tinggal nikmatin hasilnya aja."
"Lah toko bangunan Abi mu gimana?"
Roy tampak berpikir.
"Buka cabang aja di sini Mi, tapi ya di kota tepatnya. Kantor tempat Indah bekerja ada cabang disini, pasti nanti Indah bantuin rekomendasi ngambil di toko bangunan Abi." Ujar Indah.
"Nanti deh, di pikirin lagi." Jawab Umi sambil meresap teh hangatnya.
"Ney kita jalan-jalan ke kota yuk!"
"Ikut ya Bang?!" Pinta Teguh.
"Boleh, ajak Tya juga biar Budi aja yang nyetir. Umi sama Abi mau ikut? Atau Om Wawan?"
"Om disini saja Indah, enak disini."
"Benerkan Wan, aku pun suka disini." Sela Umi.
__ADS_1
"Alhamdulillah, semua betah." Ujar Pak Abdul merasa senang dan bangga dengan kampungnya.
"Ini ada singkong rebus dan singkong goreng. Ayok dimakan..." Ujar Ibu Sumi yang keluar dari dalam rumah sambil membawa dua piring berisi camilan siang itu.
"Biar aku keluarin dulu mobilnya sambil menunggu semua bersiap ya?" Ujar Budi.
"Bentar Hon, aku ganti pakaian dulu."
Para lelaki tidak berganti pakaian seperti Indah dan Tya. Mereka cukup dengan apa yang mereka kenakan. Menunggu sekitar 15 menit akhirnya mereka pun berangkat menuju ke kota.
Sepanjang jalan obrolan tak pernah sepi. Apalagi ada Teguh dan Roy yang selalu meramaikan suasana dengan perkelahian kecil mereka.
"Bang, pokok Lo harus dandanin Kak In, Bang. Kasih barang-barang mewah dari atas sampe bawah."
"Tapi aku tidak suka berlebihan Guh." Indah yang menjawab.
"Harus Kak In. Bukan apa, semakin mahal barang yang di pakai istri, smakin menjauh pria yang mencoba mendekati istri. Semakin mahal barang yang di pakai suami semakin banyak kuntilanak mendekati." Ujar Teguh.
Semua terkekeh mendengar apa yang di ucapkan Teguh. Tapi apa katanya itu memang ada benarnya. Pria-pria akan melimpir duluan kalau melihat wanita dengan tampilan cetar membahana dari atas sampai bawah. Pasti mereka berpikir, gaji mereka akan habis duluan untuk barang-barang sang wanita.
Beda dengan sang suami bila memiliki tampilan wah dari atas sampai bawah. Sudah pasti kaum wanita akan berpikir pria itu mampu memberikan apa yang mereka mau.
"Tapi Guh, aku jadi penasaran bagaimana kamu melewati malam dulu itu. Waktu kamu jalani hukumanmu." Tanya Indah, mengingat Teguh yang di minta membereskan masalah yang pemuda itu lakukan terhadap medsos Abangnya.
"Pasti beres Kak In. Yah, walau ada insiden gak enak sih."
Budi, Tya dan Roy hanya mendengarkan keduanya mengobrol.
"Jadi walau aku terpaksa minum obat cuci perut, dan hasilnya di depan mereka aku kentut-kentut. Biarin dah Ilfeel, biar gak di cari-cari lagi."
Semua kembali terkekeh mendengar cerita Teguh.
"Terus kamunya tidak apa-apa?" Kembali Indah bertanya.
"Ya gak apa-apa, cuma dua kali buang aja. Karena begitu lepas dari mereka, aku langsung minum obat peredanya."
Indah menggeleng tak habis pikir dengan kelakuan adik iparnya.
Asik-asik bercerita mereka pun tiba di tepian Alun-Alun Kapuas untuk melepas penat sejenak. Pengunjung yang datang lumayan ramai membawa beserta keluarga mereka. Ada juga yang mojok berdua di bawah pohon besar di teman sosok ke tiga yang tak kasar mata.
Roy, Indah dan Tya duduk bertiga menikmati semilir angin sambil melihat aliran sungai besar yang tidak pernah kering. Sedangkan Teguh dan Budi mencari camilan sambil cuci mata melirik kesana kemari serombongan gadis-gadis yang asik berselfi ria.
"Tya, kamu tidak ikut mereka?" Tanya Roy mengacu pada Teguh dan Budi.
Tya yang pemalu hanya menggeleng.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, disini saja ya Tya." Ujar Indah sambil memeluk Tya dari samping.
Tya hanya mengangguk dan asik melihat pemandangan di sekitar.
"Kak aku kebelet. Toilet umumnya di mana ya?" Tanya Tya.
"Oh, mau aku temani?" Tanya Indah.
Tya mengangguk.
"Hon, aku temani Tya ke toilet dulu ya?" Ijin Indah kepada Roy.
"Pergilah. Aku disini menunggu kalian semua."
Begitu mendapat ijin dari suaminya, Indah dan Tya pun beranjak mencari toilet umum disana.
Kini Roy sendiri. Termenung melihat ke arah sungai yang kini dilewati perahu besar bermuatan.
"Hei, kok melamun aja sih? Beli jualan ku dong..."
Suara seorang wanita menghampiri Roy yang asik duduk sendiri. Roy yang merasa dirinya di sapa melihat ke arah yang menyapa.
Seorang wanita putih cantik membawa keranjang yang berisi berbagai jenis minuman botol dengan berbagai merk yang ia jajakan. Tanpa permisi wanita itu langsung duduk di dekat Roy sambil memijit betisnya yang mulus karena kelelahan.
"Sendiri di sini Mas?" Tanya wanita itu lagi.
"Maaf saya tidak ingin membeli."
Sadar si wanita sepertinya hendak menggoda dirinya, Roy tidak ingin memberikan kesempatan apa pun itu.
"Ih, jahat deh. Beli dong Mas, satuuu... aja. Capek Nih jalan kesana kesini belum ada yang beli. Buat nyambung hidup loh Mas, buat makan." Ujar sang wanita lagi.
Ada sedikit rasa iba di hati Roy mendengar penuturan sang wanita.
"Aku juga bisa mijit loh Mas. Plus enaknya pokoknya." Ujar sang wanita lagi.
Namun mendadak rasa iba Roy menghilang berubah tegang setelah mendengar kalimat berikutnya.
"Mau kan..., pijatan ku hanya pada orang-orang tertentu loh."
Masih mencoba merayu, wanita itu terus mencoba membujuk Roy. Namun suami Indah itu mulai merasa risih dan hendak bangkit dari duduknya.
"Roy!"
Roy menoleh kepada pemilik suara yang memanggil dirinya yang tak lain adalah Indah istrinya. Pria itu langsung berdiri dan hendak mendekati sang istri yang berjalan kian mendekat padanya.
__ADS_1
Tatapan Indah berubah tajam ketika melihat siapa wanita yang bernama Roy selama ia meninggalkan suaminya. Begitu pula sang penjual minuman memutar bola mata jengah begitu bertemu musuhnya.
Bersambung...