
Bab 96
Dunia Memang Sempit
(POV Author)
Indah menatap tajam bukan pada sang suami, melainkan kepada wanita yang mencoba mendekati suaminya yang sangat ia kenal betul, siapa wanita itu.
"Harus ya ketemu kamu terus! Bosen, negg!" Ujar si wanita mencemooh.
"Aku juga tidak berharap ketemu kamu!" Kata Indah yang tampak tidak suka dengan wanita itu.
Roy dan Tya menjadi tegang atas perdebatan antara Indah dan wanita itu. Dalam hati mereka bertanya-tanya, siapa gerangan si wanita hingga sanggup membuat Indah yang pendiam dan terlihat lembut itu menjadi berang mengeluarkan tanduknya.
"Cih, sombong!" Kata wanita itu melihat Indah dari atas sampai bawah.
"Sayang, kamu kenal dia?" Roy bertanya sambil melangkahkan kakinya mendekati sang istri dan kini berada tepat di samping istrinya.
Wanita itu tampak lebih kesal mendengar Roy memanggil Indah dengan panggilan sayang.
"Jadi, masih saja menginginkan milik orang lain?!" Tanya Indah sengit kepada wanita itu tanpa berniat merespon pertanyaan Roy.
"Hei, kalau dia mau bukan salahku dong?! Aku cuma berusaha, kan tidak salah!" Kilahnya.
"Tetap saja salah! Benar-benar tidak punya etika kamu!"
"Kamu sudah hidup enak, apa salahnya berbagi?! Dan gara-gara kamu, hidupku jadi sengsara! Kenapa sih tidak belajar ikhlas saja. Aku yakin orang tuamu pasti mengajarkan itu. Dasar kamunya aja yang tidak punya hati!"
Indah mengeratkan kepalan tangannya, menarik napas dalam dan membuangnya kasar. Belajar dari yang sudah-sudah, berbicara dengan Wina tidak akan pernah berujung damai.
Ya, wanita itu adalah Wina. Setelah di talak cerai oleh Heru dan berpisah dengan Hendra, Wina di usir dari rumah mertuanya.
Berbekal tabungan yang ia simpan selama ini, ia tinggal di kostan sempit seorang diri. Kesana kemari menggaet pria-pria yang tampak mapan, dan berharap menjadi simpanan yang di sayang.
Siapa pun yang mendengar ucapan Wina pasti berang. Tapi Indah yang sudah hafal dengan sifat minus wanita itu memilih untuk segera pergi saja dari sana.
"Ayo sayang, sebaiknya kita pergi saja dari sini!" Ajak Indah kepada Tya dan suaminya.
__ADS_1
Sempat memerah wajah Roy ketika Indah memanggilnya dengan kata sayang bukan Hon.
"Hei, tunggu dulu! Kita belum bertukar nomor telpon?!" Ujar Wina kepada Roy dengan mencoba menahan tangan lelaki itu.
Wina memang bermuka tebal, segala cara ia lakukan demi kehidupannya yang lebih baik.
Roy segera menepis tangan Wina. Menatap tajam wanita yang begitu berani dan tidak tahu diri itu. Indah semakin berang memutar bola mata jengah.
"Mau apa sama suami orang?! Tidak ada kapoknya ya kamu!" Sarkas Indah.
"Kenapa kamu yang sewot? Kalau dia tidak menolak kan tidak apa-apa?!"
"Saya tidak berminat untuk menyakiti hati wanita yang saya perjuangankan untuk mendapatkannya selama ini. Anda salah orang!" Kata Roy tegas sambil meraih tangan Indah dan menggenggamnya.
Mereka pun perlahan beranjak meninggalkan Wina. Tanpa sedikit pun menoleh ke arah wanita itu.
Wajah Wina memerah menahan amarah. Ia sangat kesal di permalukan sedemikian rupa. Dalam hati ia sungguh iri karena Indah selalu mendapatkan lebih dari pada dirinya.
"Ya, bertahan saja dengan wanita mandulmu itu!" Teriak Wina berang.
Indah menghentikan langkahnya dan hendak menghampiri Wina untuk menampar wanita itu. Namun tubuhnya di tahan oleh Roy, dan lelaki itu menggeleng tanda tidak setuju dengan apa yang ada di pikiran Indah.
Indah membuang napas dalam, ia menunduk kemudian mengangguk, menuruti apa kata suaminya.
Mereka pun kembali melangkah menuju parkiran, hendak menunggu Teguh dan Budi disana.
"Hei!! Kamu dengar tidak, dia itu mandul! Dia tidak pantas jadi pendampingmu!"
Masih terdengar teriakan Wina meski mereka semakin jauh.
"Dasar stres! Apa dia wanita itu, Ney?" Tanya Roy sambil tetap melangkah.
Indah mengangguk, lalu mengeratkan genggamam tangannya. Indah tidak mau masa lalunya terulang lagi. Sebisa mungkin ia akan mempertahankan miliknya yang sudah ia cintai hampir sepenuhnya.
Beberapa menit mereka menunggu Budi dan Teguh di dekat mobil, setelah Roy menelpon mengajak pindah lokasi. Kedua pemuda itu pun datang dengan beragam camilan di tangan mereka. Mereka membagi camilan itu kepada Tya, Indah, dan Roy tanpa tahu apa yang baru saja terjadi dengan saudara mereka.
"Tadi mau keparkira Gue ngelihat wanita nangis sendirian, kasihan banget. Apa karena malu jualan minuman botol ya? Apa karena gak laku? Padahal cantik gitu masih bisa kerja di lain." Ujar Teguh memulai cerita ketika mereka sudah di dalam mobil yang melaju menuju sebuah kafe.
__ADS_1
"Wewek gombel itu Bang." Ujar Tya buka suara.
"Dedemit?!" Ulang Teguh memastikan.
"Iya."
"Tapi tadi kakinya napakin tanah. Lagian ini kan masih terang?" Ujar Teguh bingung.
"Wanita itu tadi berkelahi sama Kak Indah, Bang. Aku aja gregetan pengen ku cabe itu mulutnya."
"Serius, Kak In?"
"Dia dulu maduku, istri siri dari mantan suamiku. Aku bercerai karena dia salah satunya, dan karena perlakuan mantan suami juga. Malah jadi curhat ya?"
"Jadi Kak In, janda sebelum sama Abang? Sama kayak Umi dong sebelum sama Abi."
Indah menoleh Teguh untuk memastikan keseriusan pemuda itu atas ucapannya meski ia tidak bertanya.
Melihat reaksi Kakak iparnya, Teguh jadi mengira bahawa Indah baru mengetahui hal itu darinya.
"Abang gak cerita ya?" Tanya Teguh.
Indah menggeleng.
"Maaf, aku lupa Ney. Umi juga sama sepertimu. Hanya saja, suami pertama Umi meninggal waktu mencoba menolong orang saat banjir bandang dulu."
Innalillah..., dalam hati Indah berucap duka. Ada sedikit kelegaan di hati Indah. Bukan karena Umi yang dulunya pernah menyandang status janda. Tapi, setidaknya Umi tahu bahwa status janda tidaklah selamanya buruk. Itu yang ada dalam pikiran Indah, meski wanita itu tidak tahu apa yang ada dalam pikiran Umi kelak bila mengetahui statusnya sebelum menikah dengan Roy.
"Tidak apa Hon." Jawab Indah sambil tersenyum.
Roy merasa tenang kembali setelah senyum istrinya terbit lagi. Dalam hati lelaki itu berupaya keras agar tidak menyakiti hati istrinya lebih banyak lagi sekali pun itu tidak di sengaja atau pun di luar kuasanya.
Ada prinsip yang Roy pegang dalam rumah tangganya yaitu, seorang istri bukanlah asisten rumah tangga. Istri yang memenuhi kewajibannya seperti mengerjakan pekerjaan rumah hanyalah membantu meringankan pekerjaan suaminya.
Lalu seorang istri bagi Roy bukanlah pemuas na*fs*u biologi saja. Ketika istri lelah atas pekerja rumah yang telah ia bantu untuk meringankan pekerjaan suaminya, ia tidak akan memaksa istrinya untuk selalu memenuhi hasratnya.
Dan terakhir bagi Roy, istrinya pantas untuk menjadi ratu dalam hidupnya. Isteri yang akan mendampinginya dalam suka maupun duka. Karena Sang isteri yang berusaha membahagiakan dirinya, maka istri akan menuntunnya ke surganya Allah swt.
__ADS_1
Bersambung...